Dua minggu berlalu sejak pertemuan terakhir Arka yang membujuk Zee. Tak ada kabar apa pun bukan berarti Arka merelakan peran yang diincarnya itu jatuh ke tangan aktor lain. Melalui sutradara Fauzan, ia tahu jika belum ada yang bisa membuat Zee yakin. Tanpa banyak berinteraksi, Arka pun mulai menyimpulkan bahwa wanita yang tiga tahun lebih tua darinya itu memiliki kepribadian yang perfectionist. Jika nanti ia bisa mendapatkan peran tersebut, Arka harus menyiapkan dirinya. Bekerjasama dengan sosok perfectionist dan keras kepala tidak pernah mudah.
Hari ini, aktor dua puluh tujuh tahun itu tengah menjalani syuting untuk iklan terbarunya. Tak hanya ditemani oleh manager serta staffnya, seorang wanita cantik yang beberapa bulan ini dekat dengan Arka juga ikut menemani. Jovanka Ilona namanya, seorang presenter olahraga dengan jumlah penggemar yang tak kalah banyak dari Arka. Meskipun orang-orang menebak jika hubungan keduanya tidak akan bertahan lama, tetapi Arka dan Jova tak terlalu banyak memikirkannya. Malah mereka terlihat selalu menikmati kebersamaannya.
“Sayang, mau nambah lagi gak ayamnya?” tawar Jova yang membawakan Arka bekal makan siang.
“Udah, ini kamu bawainnya banyak banget lagi. Kalau badanku melar gimana?” tolak Arka bercanda.
“Ya aku tinggal cari pacar baru,” seloroh Jova yang membuat Arka mengerucutkan bibirnya.
Merasa ekspresi itu sangat lucu, Jova mencubit pipi Arka dengan gemas. Arka pun meringis dibuat-buat.
Ting
Denting ponsel Jova mengalihkan perhatian mereka. Wanita itu pun segera memeriksa pesan tersebut. Tak lama kemudian ekspresinya berubah mendung dengan tatapan mata bersalah.
“Aku harus cabut sekarang deh, Sayang. Udah dicariin manager,” sesal Jova.
“Tapi ini rantang kamu?” Arka tak keberatan.
“Nitip ya, nanti kalau sempet aku ambil ke rumah kamu,” ujar Jova seraya merapikan tasnya.
“Ya udah, kalau gitu hati-hati di jalan! Maaf gak bisa nganterin,” balas Arka.
“Gak apa-apa. Aku pergi, ya!” pamit Jova seraya memberikan kecupan kecil di pipi pria itu.
Arka hanya melihat kepergian sang kekasih hingga tubuh semampai itu menghilang di balik pintu mobilnya.
Bersamaan dengan itu, Baim sang manager datang menghampiri. Ekspresi wajahnya yang berseri membuat rasa penasaran Arka meningkat. Apalagi senyum lebar itu sama sekali tidak mengendur saat Baim mengambil duduk dihadapannya sambil mencomot sepotong paha ayam goreng yang dibawakan oleh Jova tadi.
“Kenapa senyum-senyum gitu?” tanya Arka seraya melanjutkan makan siangnya yang tinggal separuh.
“Gol,” sahut Baim cepat dan bersemangat.
“Ada yang main bola?” seloroh Arka.
“Ck, bukanlah,” sanggah Baim. “Audisi lo akhirnya gol, Ka!”
Arka menaikkan sebelah alisnya. “Akasia Merah? Serius?” tanyanya seolah tak percaya.
“Memangnya lo audisi di berapa tempat, eh?” timpal Baim.
“Fix beneran dapet peran Galang nih gue?” sekali lagi Arka memastikan dengan mata yang berbinar.
“Iyalah!”
“Kok bisa?”
“Ya gak ada lagi yang memenuhi ekspektasi semua orang, sementara jadwal syuting sudah semakin dekat. Gak ada pilihan selain lo,” jelas Baim yang sesungguhnya sedikit tidak bisa diterima oleh Arka.
“Berasa performa gue buruk banget gini ya sampek jadi pilihan terakhir,” keluh Arka. “Padahal alasannya penulis itu kayak gak profesional banget gitu rasanya.”
“Lagian siapa suruh ganti pacar udah kayak ganti daleman,” canda Baim.
“Seleksi itu namanya, Bang! Sebelum nemuin yang terbaik, gak ada salahnya mengenal sebanyak mungkin,” sahut Arka membela diri. “Jadi, sekarang gue harus gimana?”
“Nanti setelah syuting ini, kita ke Maluwa buat bahas masalah kontraknya. Setelah deal, minggu depan langsung reading,” jelas Baim.
“Secepat itu?”
“Lo denger yang gue bilang tadi gak, sih? Jadwal syuting mereka itu sudah mepet, makanya mau gak mau lo yang dilolosin,” papar Baim.
Arka memutar kedua bola matanya malas, lalu menggerutu, “Berasa kayak lagi memulai karir gue, Bang! Dijadiin cadangan.”
“Anggap saja sebagai pengingat biar lo gak lupa diri setelah ada di atas. Gak ada salahnya bintang besar ikut proses seperti aktor-aktor baru,” ujar Baim membesarkan hati Arka. “Oh ya, lo tahu gak siapa pemeran utama ceweknya?”
Arka menggeleng dan bertanya, “Siapa?”
“Freya Admaja.”
Kedua bola mata Arka membola, memamerkan iris coklat gelapnya yang berkilat memantulkan cahaya. “Yang bener?”
Baim mengangguk yakin. “Sutradara Fauzan sendiri yang bilang.”
“Kok bisa lolos seleksinya si penulis itu? Padahal Freya itu lebih parah daripada gue. Namanya bisa melambung dengan cepat juga gara-gara dia pake’ sponsor,” protes Arka.
“Itu cuma gosip yang beredar diantara kita. Publik tahunya dia bersih dan penulis Zeanissa itu ‘kan belum terlalu kenal sama banyak talent. Dia beneran pakai kacamata awam buat proses seleksi kemarin,” jelas Baim.
Arka melengos. “Coba saja dia tahu, gak mungkin peran Fatimah dikasih ke Freya.”
“Tapi lo gak masalah beradu peran sama dia?” tanya Baim meyakinkan.
“Gue pro, Bang. Mau siapa pun lawan main gue, gak ada masalah. Selama dia gak baper aja,” kekeh Arka.
Setelah Arka selesai dengan makan siangnya dan jam istirahat juga telah usai, ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Proses syuting iklan biasanya tidak membutuhkan waktu sampai berhari-hari dan jumlah bayarannya juga cukup tinggi. Tidak heran jika Arka jauh lebih menyukai pekerjaan seperti ini. Sebelum rasa bosan datang menghampiri, pekerjaan itu sudah selesai dan digantikan pekerjaan lain dengan suasana yang berbeda.
Sekitar pukul empat sore, proses pengambilan gambar untuk beberapa format iklan itu selesai dilakukan. Arka mengulet dan merenggangkan ototnya yang kaku tepat setelah sutradara mengakhiri proses tersebut. Bersamaan dengan kru yang mulai berbenah, pria itu juga menyapa setiap orang dengan ramah. Itulah salah satu kelebihan Arka yang banyak di sukai orang-orang di industri ini, ia supel dan mudah bergaul.
“Hasilnya bagus, seperti yang diharapkan dari seorang Arkatama,” puji sutradara iklan saat Arka ikut melihat hasil rekaman di kamera.
“Mujinya kurang banyak, Pak, biar aku sekalian terbangnya makin tinggi gitu,” seloroh Arka yang dihadiahi tepukan bangga di bahunya serta menghasilkan gelak tawa.
“Tapi beneran, Ka. Kalau sama kamu, kita hampir gak pernah pulang telat. Syuting bisa cepet selesai,” puji sutradara itu sekali lagi. “Cuma sayangnya gak semua brand sanggup bayar kamu.”
“Ya harga sesuai sama kualitas lah, Pak! Sama-sama untung,” sahut Arka yang juga disetujui sutradaranya.
Ia memang salah satu public figure dengan bayaran tertinggi di tanah air. Namun, semua itu tentu sepadan dengan totalitas dan kualitas yang Arka berikan. Sejak memulai karirnya di dunia entertainment beberapa tahun silam, hampir tak ada yang kecewa dengan hasil kerja Arka. Maka tak heran jika namanya cukup cepat melejit hingga bisa disandingkan dengan pekerja seni lain yang sudah lebih senior.
Setelah Arka dan Baim berpamitan pada semua orang yang ada di lokasi syuting, keduanya segera beranjak menuju jadwal selanjutnya, yaitu menuju gedung Maluwa Entertainment. Agenda yang hanya akan membahas masalah kontrak diperkirakan tidak akan memakan waktu yang lama. Hal itu dikarenakan Maluwa sudah cukup sering bekerjasama dengan Arka, sehingga mereka tahu apa yang selalu Arka syaratkan dalam kontraknya. Begitupula sebaliknya. Arka paham dengan cara kerja Maluwa. Selama tidak ada perubahan regulasi secara mendadak, semua pasti akan berjalan dengan lancar.
Tepat setelah mobil van Arka berhenti di depan lobi rumah produksi, ia dan Baim segera turun, meninggalkan sopir yang akan mencari tempat parkir. Suasana hati Arka sore ini sedang baik sekali. Syutingnya berjalan lancar, sang kekasih sempat datang menjenguk, lalu peran incarannya akan segera berada dalam genggaman. Rasa membuncah itu terlihat jelas dari ringannya langkah kaki Arka.
Rumah produksi itu berada di lantai empat belas. Arka dan Baim tengah menunggu lift saat seseorang yang baru datang juga melakukan hal yang sama. Awalnya Arka tak acuh, tetapi Baim terus menyenggolnya, mengisyaratkan agar ia menengok pada sosok tersebut.
Meskipun keberatan, Arka pun menengok. Namun, kekesalannya langsung sirna begitu yang ia dapati dihadapannya kini adalah sosok ibu penulis yang galak dan perfectionist dimatanya, Zeanissa.
“Sore, Bu,” sapa Arka ramah.
Zee balas menatap Arka. Namun, ia tidak membalas sapaan tersebut dan hanya mengangguk singkat sebelum kembali menatap balok besi yang masih tertutup.
Bibir Arka menganga, tak percaya ada orang yang bisa secuek itu pada keberadaannya. Padahal biasanya dimanapun ia berada, orang-orang selalu mengerubutinya. Wanita yang akan segera bekerja sama dengannya ini sepertinya memang tak bisa disamakan dengan orang-orang kebanyakan di luar sana.
“Akhirnya ucapan saya yang benar ‘kan, Bu? Tidak ada yang lebih cocok untuk peran Galang selain saya,” ujar Arka mencairkan suasana.
“Sayang sekali,” timpal Zee tanpa menatap Arka dan diakhiri dengan senyum yang hanya tampak di satu sudut bibirnya.
“Anda tidak akan menyesal, Bu! Saya pasti akan bisa menghidupkan karakter Galang dengan sempurna,” balas Arka percaya diri.
“Saya akan menantikannya,” tukas Zee bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.
Ketiganya segera memasuki ruangan kecil dan tertutup tersebut beriringan. Sepertinya tujuan mereka sama. Jemari Zee tergantung di udara dan segera diturunkan kembali saat melihat Baim memencet angka empat belas.
“Kalau begitu, saya harap kerjasamanya,” ujar Arka lagi sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman, sekaligus tanda damai.
Zee menurunkan pandangannya dan menatap datar tangan Arka yang masih tergantung diudara. Sedetik kemudian ia menyambut uluran tangan itu. Niatnya hanya sekilas untuk formalitas, tetapi Arka justru menggenggamnya dengan erat. Tak ayal Zee pun melemparkan tatapan herannya pada aktor muda tersebut.
“Sebagai tanda kerjasama, bagaimana kalau kita menanggalkan bahasa formal? Agak kaku rasanya kalau terus berbicara seperti ini,” tawar Arka dengan sunggingan senyum terbaiknya.
“Apa anda selalu seperti ini dengan kru lain saat bekerjasama?” tanya Zee memastikan.
“Ya, supaya lebih akrab,” jawab Arka lugas. “Menanggalkan bahasa formal bukan berarti tidak bersikap sopan, bukan? Hanya menjadi lebih santai.”
Zee terdiam sesaat lalu menghela napasnya panjang. Atensinya kembali menatap Arka lurus pada iris coklat gelap pria itu.
“Oke, gak masalah,” putus Zee menyetujui.
Arka yang masih menyalami tangan Zee itu pun menghentakkan genggaman tangan mereka sebagai tanda setuju. Tak lupa pula senyum terbaik yang menghiasi wajah tampannya juga ia persembahkan. Biasanya senyum itu selalu bisa membuat para gadis menjerit kegirangan, tetapi Zee berbeda. Penulis itu hanya menatapnya datar.
“Gitu, dong, Bu! Kan sama-sama nyaman,” ujar Arka puas.
“Tapi jangan panggil aku ibu, Zee saja sudah cukup,” pinta wanita itu setelah melepas genggaman tangan mereka.
Arka menaikkan sebelah alisnya. Perubahan yang begitu cepat menurutnya, tapi sepertinya itu lebih baik. Mereka membutuhkan hal ini saat harus sering-sering berinteraksi selama syuting nanti.
“Dari profil yang kulihat, aku lebih muda. Jadi, biar gak kurang ajar, aku pakai tambahan Mbak saja, gimana? Atau Teteh, Empok, Uni,-”
“Mbak! Sudah itu saja,” sela Zee sebelum Arka menyebutkan lebih banyak kata lagi.
Arka terkekeh, begitu juga dengan Baim yang melihat raut kesal Zee oleh candaan Arka sebelumnya.
“Oke, Mbak Zee, mohon kerjasamanya,” setuju Arka.
“Aku juga mohon kerjasamanya,” pungkas Zee bersamaan dengan mereka yang telah sampai di lantai tujuan.