Persis seperti yang Arka perkirakan sebelumnya, proses penandatanganan kontrak bisa diselesaikan dengan cepat. Jadwal untuk reading hingga shooting pun telah ditetapkan. Minggu depan adalah pembacaan naskah yang pertama sekaligus pertemuan pertama untuk seluruh kru dan talent yang akan membintangi film Akasia Merah ini. Arka benar-benar tidak sabar untuk menantikan hari itu tiba.
Setelah menandatangani kontrak tersebut, Arka diarahkan untuk menuju ruang kerja Zee yang ada di sebelah ruang rapat. Sebenarnya ruang kerja itu adalah ruang serbaguna yang digunakan oleh para penulis naskah untuk bekerja, para penulis itu lebih banyak bekerja secara remote. Mereka hanya saat akan mengerjakan proyek besar saja, termasuk Zee.
Arka mengetuk pintu kaca yang membatasi ruangan tersebut. Tampak Zee masih berada di dalam sana, bergelut dengan laptopnya meskipun hari telah menjelang petang.
Gadis itu mengangkat kepala dan pandangannya segera bertemu dengan Arka yang tengah tersenyum manis dibalik pintu. Masih dengan rautnya yang datar, ia mempersilakan aktor tampan itu untuk masuk. Tangannya kemudian meraih tumpukan kertas dan mengambil satu bendel dengan sampul bertuliskan Akasia Merah diatasnya.
“Ini naskah lengkap yang sudah diperbaiki. Ada beberapa perubahan scene dan dialog dari naskah yang kamu punya,” ujar Zee menyerahkan kopi terbaru naskah skenario ditangannya pada Arka.
“Kayaknya lebih tebal daripada yang waktu itu, Mbak,” komentar Arka sambil menerka-nerka.
“Sedikit. Ada tambahan beberapa detail yang gak ada di naskah sebelumnya,” jelas Zee.
“Masih ada ruang buat improvisasi ‘kan?” tanya Arka menelisik.
“Masih. Bahkan mungkin selama pengambilan gambar, beberapa scene juga bakalan di cut kalau sekiranya gak terlalu berpengaruh sama jalan cerita,” jawab Zee.
“Oke! Sip, gak masalah,” balas Arka setuju.
Jika ada penggemar Arka yang melihat ekpresi Zee saat ini, mereka mungkin akan mengutuk Zee yang sama sekali tidak mempedulikan senyum manis yang tak pernah lepas dari wajah tampan Arka. Gadis itu sejak awal selalu menatap Arka dengan tatapan yang sama, yaitu datar.
“Sebelum kamu keluar, boleh aku minta tolong sesuatu?” tanya Zee dengan sedikit nada penekanan dalam kalimatnya yang mengisyaratkan ketegasan.
Sebelah alis Arka menukik dengan dahi yang berkerut. “Apa?” tanyanya kemudian.
Zee yang masih dalam posisi berdiri disamping meja kerjanya itu bersedekap. Pinggulnya bersandar pada ujung meja dan kepalanya sedikit mendongak, mengingat Arka yang beberapa belas senti lebih tinggi darinya.
“Sampai film dirilis, tolong jangan buat skandal,” pinta Zee serius. “Seperti yang kamu tahu, ini adalah debutku dalam industri film, jadi aku ingin semuanya lancar tanpa ada kendala.”
Arka melepaskan kekehannya. Permintaan itu memang wajar dan cukup sederhana. Bahkan untuk penulis yang senior pun pasti akan menginginkan yang terbaik untuk karya-karya mereka. Namun, permintaan yang diucapkan secara langsung itu terasa begitu menggelitik untuk Arka.
“Permintaan itu membuatku menjadi seperti tukang buat onar,” komentar Arka belum menyetujui.
“Setidaknya begitulah imej kamu dimataku yang kamu bilang masih awam ini,” sahut Zee membela diri.
“Kapan aku pernah bilang gitu?” tanya Arka yang memang tidak mengingatnya.
“Sudahlah, gak penting kapan kamu bilang itu,” sahut Zee seraya kembali menegakkan tubuhnya. “Yang pasti, hindari saja skandal. Itu untuk kebaikan kita semua.”
“Apa Mbak juga membuat permintaan ini pada semua pemain?” Arka masih belum puas.
“Tentu saja,” jawab Zee lugas.
“Pada Freya juga?”
Pelipis gadis itu berkerut dengan kedua alis yang hampir bertaut. Matanya yang menyipit memperlihatkan rasa penasaran yang kuat.
“Tanpa diperingatkan pun Freya pasti akan menjaga dirinya,” sahut Zee kemudian yang justru kembali mengundang kekehan Arka.
“Sepertinya Mbak memang harus ganti kacamata, jangan lihat kami dari depan layar saja, tapi lihat juga bagaimana kami di balik layar,” pesan Arka.
“Maksud kamu?”
“Jelas, tidak ada maksud tersembunyi,” Arka mengedikkan bahunya. “Dalam dunia entertainment, banyak sekali orang-orang yang bermuka dua, mungkin aku termasuk salah satunya. Jadi, Mbak Zee jangan terlalu percaya imej yang ditampilkan seorang public figure. Banyak sudut pandang lain yang bisa dilihat.”
“Terima kasih atas peringatannya,” balas Zee tak ingin ambil pusing. “Jadi bagaimana tentang permintaanku tadi?” tanyanya kembali pada pembicaraan awal.
Sebenarnya gadis itu memang tidak terlalu menyukai berbicara panjang lebar dengan siapa pun. Selama inti dari yang ingin disampaikannya bisa tersalurkan, itu sudah cukup. Maka dari itu ia akan segera mengakhiri pembicaraan saat ia merasa lawan bicaranya mulai terbawa arus.
“Jika skandal yang Mbak maksud adalah tentang saya yang sering gonta-ganti pacar, sepertinya tidak perlu dikhawatirkan. Aku dan pacarku sedang dalam kondisi baik-baik saja,” jawab Arka menyetujui.
“Baguslah kalau begitu,” balas Zee seraya kembali duduk di kursi kerjanya.
Perhatian yang semula ia tujukan pada Arka kini kembali beralih pada layar laptop yang tengah terbuka dihadapannya. Tak ada lagi pembicaraan, tetapi entah mengapa Arka tak kunjung berbalik dan pergi meninggalkannya. Hal ini membuat konsentrasi Zee terganggu. Ia pada dasarnya memang tidak bisa bekerja saat ada orang lain yang memperhatikan, sehingga tak butuh waktu lama sampai ia kembali menatap Arka.
Namun, kalimat yang akan ia lontarkan harus tertelan kembali saat atensinya bertumbukan dengan Arka yang ternyata tengah menatap lurus padanya. Entah apa yang aktor tampan itu perhatikan, tetapi hal itu membuat Zee semakin tidak nyaman. Gadis itu merasa ditelanjangi oleh tatapan tajam Arka yang hampir tidak berkedip tersebut.
“Kk-kenapa kamu melihatku seperti itu?” tanya Zee beberapa saat kemudian.
Arka berkedip, memutus tatapan mata mereka. Disaat yang bersamaan, senyumnya kembali terbit yang kali ini mampu membuat Zee goyah.
“Hanya penasaran saja, bagaimana bisa penulis yang sekaku Mbak Zee bisa membuat karakter sehangat dan seceria Galang?” ungkap Arka jujur.
Tak ingin terlalu menanggapi, Zee kembali menundukkan pandangannya lalu menimpali, “Apa kamu tidak ada pekerjaan lagi? Atau acara lain?”
“Kenapa? Mbak Zee mau aku temani kalau aku lagi senggang?” tanya Arka dengan jahilnya.
Zee memutar kedua bola matanya malas. Tentu saja bukan itu maksudnya.
“Pintu ada di belakangmu kalau kamu lupa jalan keluar,” sahut Zee tanpa mengangkat kepalanya dan terlihat tak acuha.
Arka berdecih. Ternyata gadis itu hanya berniat untuk mengusir. Sepertinya memang tidak mudah menarik perhatian seorang Zeanissa. Padahal Arka hanya ingin lebih akrab dengan penulis itu. Siapa tahu juga di masa depan mereka akan bekerjasama kembali, sehingga menjaga hubungan tetap baik selalu menjadi prioritasnya. Namun tak apa, ia bisa mencoba kembali lain kali.
“Wah, baru kali ini aku diusir,” kekeh Arka. “Baiklah, kalau begitu sampai ketemu saat reading. Selamat bekerja dan jangan kebablasan, sebentar lagi Maghrib, Mbak!”
“Ya, terima kasih sudah mengingatkan,” balas Zee sambil mengangguk.
Arka pun mau tidak mau berbalik untuk meninggalkan gadis itu di ruangannya sendirian. Dibalik pintu sudah ada Baim yang setia menunggunya. Keduanya pun beranjak menuju lift yang tak jauh dari sana.
Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan yang terjadi diantara keduanya. Mungkin sama-sama menghemat tenaga, mengingat setelah ini Arka juga masih ada pekerjaan lain untuk menjadi bintang tamu di sebuah acara talk show yang tayang secara langsung.
Sudah sangat biasa untuknya memiliki jadwal yang bertumpuk-tumpuk setiap hari. Sebenarnya sang bunda sudah mengingatkan Arka untuk tidak terlalu memaksakan diri dan menjaga kesehatannya, tetapi pola pikir Arka berbeda. Selama ia masih dibutuhkan di industri ini, ia akan memanfaatkan sebaik-baiknya. Semua orang tahu bahwa karir seorang aktor selalu naik dan turun. Tidak ada yang bisa menjamin Arka akan selalu ada di atas dan dibanjiri job. Untuk itulah ia ingin memaksimalkan potensinya saat ini.