05 Kulkas

1356 Kata
Proses reading seluruh jajaran pemain berlangsung dengan lancar, sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Bahkan mereka semua juga saling mengakrabkan diri pada kesempatan tersebut. Banyak pemain baru yang tergabung dalam produksi film tersebut. Mungkin tak sampai separuh yang merupakan pemain yang sudah veteran, salah satunya adalah Arka. Namun, aktor tampan itu bisa melihat bahwa orang-orang baru itu juga memiliki potensi yang tak bisa disepelekan. Sangat wajar jika mereka terpilih untuk mengisi peran-peran penting lainnya. Konferensi pers pun dilakukan sehari setelahnya yang secara langsung beritanya menjadi konsumsi masyarakat secara luas. Seperti yang Arka perkirakan, barisan fansnya yang paling banyak berkontribusi dalam memperkenalkan film tersebut ke sosial media. Ini bisa dianggap sebagai promosi terselubung, mengingat managemen sama sekali tidak mengeluarkan biaya untuk memperkenalkan karya tersebut. Sudah tentu hal ini dimanfaatkan oleh Arka untuk membanggakan dirinya dihadapan Zee yang sempat menolaknya. Aktor berusia dua puluh tujuh tahun itu mengukuhkan kualitas sekaligus harga dirinya dihadapan sang penulis yang perfectionist. Sayangnya, Zee tak terlalu menanggapi sikap pamer Arka tersebut. “Coba kalau aku gak terlibat, pasti gak akan sebooming ini beritanya,” sindir Arka pasca konferensi pers. Ia berpapasan dengan Zee yang akan menuju ruang kerjanya di kantor Maluwa. Hanya ada mereka berdua di dalam lift, karena yang lainnya telah berpencar sendiri-sendiri sejak beberapa saat yang lalu. “Jangan lupa kalau diatas langit masih ada langit,” balas Zee mengingatkan, tetapi dengan nada datar. “Ya, tentu saja! Aku cuma mau pamer sama Mbak Zee aja kok, gak ke orang lain,” seloroh Arka tanpa canggung. Meskipun Zee selalu bersikap mengambil jarak, tetapi Arka seolah tidak melihat batas tersebut. Pada dasarnya pria itu memang sangat mudah bergaul dengan orang lain, sehingga ia juga semudah itu menanggalkan kecanggungannya pada Zee. Namun, bukan berarti ia bersikap kurang ajar dan tidak sopan. Zee sendiri merupakan tipe gadis yang tak banyak bicara. Bahkan ia hanya akan bersuara saat sedang benar-benar diperlukan saja. Seperti saat ini. Ia merasa tidak perlu untuk menanggapi candaan Arka, sehingga tak ada balasan apapun yang terucap dari bibirnya. Bahkan pandangannya pun masih menatap lurus pada tembok besi dihadapannya yang memantulkan bayangan dirinya sendiri dan juga Arka. Baru gadis itu sadari, bayangan Arka memperlihatkan bahwa pria itu sedang menatap lekat pada Zee yang satu langkah didepannya. Begitu lekat, hingga membuat Zee sangat tidak nyaman. “Kenapa kamu selalu menatapku seperti itu?” tanya Zee menyuarakan keberatannya. “Seperti itu bagaimana?” Arka balik bertanya tanpa mengubah sedikit pun caranya memandang sang penulis. “Ya seperti yang kamu lakukan sekarang,” jawab Zee setengah malas. Arka berkedip lalu mengalihkan pandangnnya kearah lain. Sebenarnya ia juga tidak terlalu sadar saat melakukannya. Itu terjadi begitu saja dan Arka baru menyadari setelah diingatkan. Entahlah, Zee yang begitu pendiam dan terlihat misterius seperti memiliki magnet yang selalu menarik atensinya untuk memandang lekat gadis itu. Jika dikatakan tertarik, sebenarnya tidak juga. Tak ada getaran apa pun yang terjadi pada dirinya. Ah, sepertinya Arka juga lupa. Bahkan pada kekasih dan deretan mantan kekasihnya pun belum ada yang benar-benar membuatnya bergetar. Ia menjalin hubungan dengan mereka juga atas dasar penasaran. Maka dari itu tidak pernah bertahan lama. Secara fisik, para gadis itu menarik dan memiliki pesonanya masing-masing. Jova misalnya. Gadis blasteran Jerman itu memiliki paras yang sudah pasti menawan. Tutur katanya tertata rapi dan lugas. Jova juga akrab dengan keluarganya. Namun, tetap saja hal itu tidak membuat Arka merasa Jova adalah yang paling spesial. Ia hanya menjalani semuanya seperti air yang mengalir. “Kalau boleh tahu, Mbak Zee sekarang sudah punya pasangan atau belum? Pacar, mungkin? Atau malah sudah menikah?” tanya Arka berbasa-basi. “Itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, aku tidak perlu menjawabnya,” jawab Zee tidak ingin berbagi. “Sepertinya masih single,” tebak Arka dengan bibir yang tersungging kecil. “Kenapa kamu menyimpulkan seperti itu?” tanya Zee tak habis pikir. “Kalau Mbak punya pacar, pasti gak akan sekaku ini,” jawab Arka seraya memberikan penawaran. “Mau kukenalkan seseorang? Aku ada teman yang mungkin cocok sama Mbak. Oh ya, managerku juga masih single loh, Mbak! Seumuran lagi sama Mbak Zee.” Gadis itu memutar kedua bola matanya malas. Diwaktu yang bersamaan, lift berhenti bergerak dan pintu pun segera terbuka. Sebelum melangkah keluar, Zee menengok ke belakang hingga atensinya bertumbukan dengan Arka yang juga menatapnya. “Urus saja masalah cintamu sendiri, tak perlu ikut campur urusan orang lain,” peringatnya seraya berlalu terlebih dahulu. Arka terkekeh tak habis pikir dengan tangan yang berkacak pinggang. “Dasar kulkas, pantes jomlo!” lirihnya gemas. Berbicara dengan Zee tak pernah mudah. Keduanya benar-benar memiliki pola pikir yang berseberangan. Namun anehnya, hal itu justru membuat Arka tertantang untuk menaklukkan gadis berusia tiga puluh tahun tersebut. Satu minggu berselang, seluruh kru dan talent telah sampai di Kota Yogyakarta. Pengambilan gambar film ini memang dilakukan di beberapa kota berbeda dan Yogyakarta adalah pemberhentian pertama. Selama proses shooting berlangsung, seluruh kru dan pemain tinggal di sebuah villa yang disewa oleh Managemen Maluwa. Semua orang begitu profesional dan memberikan yang terbaik walau tetap saja halangan itu selalu ada. Salah satunya adalah pemeran Fatimah yang tak lain adalah Freya. Gadis yang mendapatkan peran utama itu kerap kali menunda shooting dengan alasan sakit, karena kesulitan beradaptasi. Hal ini tentu mengulur jadwal yang sudah ada, apalagi Arka memiliki scene paling banyak dengan gadis itu. Maka tidak aneh jika beberapa kali mood Arka memburuk akibat jadwalnya yang menjadi tak menentu. Belum lagi dengan aturan yang dibuat oleh Zee yang Arka rasa agak berlebihan. Gadis itu melarang cukup banyak improvisasi yang hendak Arka lakukan. Padahal, sutradara Fauzan yang sudah lebih banyak makan asam garam di dunia perfilman tak merasa keberatan. “Apalagi sih, Mbak? Bukannya di awal aku sudah bilang kalau mau banyak improvisasi biar kelihatan natural? Kenapa gak boleh lagi, sih?” keluh Arka di sela-sela break shooting. “Aku gak masalah kalau kamu improvisasinya masih sesuai sama karakter Galang, tapi kamu sudah melenceng,” sanggah Zee membela diri. “Melenceng gimana? Aku cuma nambahin gerakan peluk saja, loh, biar emosi pedulinya Galang ke Fatimah nyampek,” Arka tak ingin kalah. “Gak bisa! Seperti yang aku tekankan sejak awal casting, Galang itu religius. Mana ada orang religius yang sangat menjaga agamanya bisa tiba-tiba main peluk Fatimah meskipun Fatimahnya lagi sedih?” tanya Zee menjelaskan. "Dan kalimat improvisasimu juga kadang-kadang terlalu kasar untuk diucapkan Galang! Aku gak suka." Teguran Zee itu tak hanya sekali dilontarkan. Ia yang selalu melihat proses shooting dari dekat selalu menghentikan pengambilan gambar setiap kali Arka akan membuat gerakan tambahan yang sekiranya terlalu intim dalam kamus Zeanissa. Memang benar, genre film ini merupakan romance dengan sedikit bumbu religi. Wajar pula ia tidak menginginkan adanya kontak fisik antara pemeran utama. Namun, sepertinya Arka berpendapat lain. Unsur religi dalam film ini tidak terlalu kental, sehingga menurutnya tidak masalah jika ada kontak fisik sebatas berpegangan tangan atau berpelukan. Hanya saja, perdebatan antara dirinya dan Zee terus terjadi, sementara tak ada yang memihak pada salah satu dari keduanya. Sutradara hanya menengahi dan meminta keduanya untuk sepakat. “Bukannya bantu cari solusi, malah ketawa sih, Pak?” protes Arka setelah mengadu pada sang sutradara. “Ya karena lucu lihat kalian gak pernah akur dari awal. Selalu ada saja yang didebatkan, padahal kalau ada yang mau ngalah, gak bakalan bertengkar juga,” sahut Fauzan sang sutradara sambil menahan tawanya. “Gimana mau ngalah kalau sama-sama keras kepala,” dengkus Arka sambil menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. “Kalian itu sudah kayak pasangan yang nikah lima tahun tahu, gak?” Arka melirik pada pria berusia empat puluhan itu tidak suka. Jangankan menikah, berdamai dengan Zee saja akhir-akhir ini rasanya hampir tidak pernah saking seringnya mereka beradu mulut. “Kamu tuh kayak suami yang lagi gak peka istrinya cemburu gara-gara keseringan deket-deket sama cewek lain,” lanjut Fauzan yang semakin membuat Arka mendengkus kesal. “Amit-amit punya istri kayak kulkas gitu, Pak! Yang ada rumah hancur kalau tiap hari berantem,” bantak Arka sambil mengetukkan buku jarinya pada kursi yang ia duduki. Fauzan semakin tertawa. “Jangan amit-amit dulu, siapa tahu kalian berjodoh!” “Sudah, Pak, jangan diterusin! Bisa mimpi buruk aku lama-lama,” tukas Arka seraya beranjak dari duduknya diiringi suara tawa Fauzan yang masih belum juga reda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN