Setiap perjalanan terkadang berjalan lancar, tetapi tidak jarang juga yang memiliki cukup banyak halangan. Setelah satu bulan lamanya berada di kota pelajar, rombongan kru serta pemeran film Akasia Merah akan kembali ke Jakarta. Proses syuting belum usai, tetapi mereka mengambil jeda selama satu minggu sebelum kembali pada rutinitas tersebut di lokasi yang baru.
Selama di Yogyakarta sebenarnya banyak juga hari-hari yang tidak terisi untuk pengambilan gambar, karena itulah prosesnya cukup molor hingga beberapa hari. Sudah barang tentu hal ini juga akan berdampak pada semua orang yang sudah memiliki jadwal pasti dalam pekerjaannya, tak terkecuali Arka yang memang selalu memiliki jadwal padat. Ia bahkan pernah menumpahkan kekesalannya pada biang keladi tertundanya jadwal tersebut, salah satunya adalah lawan mainnya, Freya.
Gadis itu terlihat merasa begitu bersalah pada Arka dan juga tim lainnya. Maka dari itu, untuk menebus kesalahan tersebut ia mentraktir mereka semua jamuan di hari terakhirnya di Yogyakarta ini.
“Sorry ya, Ka! Sungguh gue gak tahu kalau bakalan sering sakit dan kerjaan kita jadi sering ketunda,” ujar Freya entah sudah keberapa kalinya pada aktor tampan itu.
“Hmm,” sahut Arka singkat dan tanpa kata, hanya deheman yang terdengar kesal dan dingin.
Sungguh bukan sikap yang biasa ditunjukkan oleh Arka, mengingat pria itu begitu banyak bicara dan aktif dalam kesehariannya.
“Sebagai permintaan maaf, gimana kalau weekend ntar lo hadir ke pesta gue?” pinta Freya semakin merasa bersalah. “Bukan pesta juga sih sebenernya, cuma kumpul-kumpul saja, tapi lo gak bakalan nyesel deh kalau dateng,” ralatnya.
“Apa jaminannya kalau gue gak bakalan nyesel?” tanya Arka meminta kepastian.
Freya menggeser duduknya hingga tak berjarak dengan Arka lalu mendekatkan bibirnya pada telinga pria itu. “Teman salah satu sponsor gue adalah produser di Hollywood, pesta itu untuk menyambut kedatangannya. Siapa tahu lo bisa memperlebar karir acting lo sampai kesana,” bisiknya.
Arka mengernyit ragu bersamaan dengan Freya yang memperlebar jarak wajah mereka. Merambah karir hingga ke pusatnya industri perfilman tentu sangat menggiurkan. Semua artis bertalenta pasti ingin sampai pada tahap itu. Kecuali mereka-mereka yang terkenal hanya karena sensasi dan minim prestasi. Tak perlu sampai ke Hollywood, bisa terus menjadi headline di media sosial pun mereka sudah puas, meskipun selalu panen hujatan.
“Memangnya siapa produsernya?” tanya Arka memastikan. Ia tentu tidak akan serta merta percaya pada Freya, karena memang begitulah industri hiburan berjalan. Penuh muslihat.
Sekali lagi Freya mendekat pada Arka dan berbisik, “Hugo Garcia yang pernah pegang film-film original netfliks.”
“Serius?” sekali lagi Arka memastikan hingga tampak jelas wajah penasarannya.
Freya mengangguk yakin. “Makanya cuma orang-orang tertentu saja yang diundang. Lagipula ini bukan acara resmi dan hanya ramah-tamah.”
“Siapa saja yang diundang?”
Arka benar-benar harus yakin sebelum memastikan dan Freya pun menyebutkan beberapa nama yang juga dikenal oleh pria itu. Setelah beberapa bujukan, pada akhirnya Arka pun setuju untuk menghadiri acara pribadi yang diselenggarakan di penthouse milik salah satu sponsor Freya. Mungkin itu hanyalah satu dari keuntungan memiliki sponsor, Freya bisa mendapatkan akses dan informasi mengenai dunia hiburan dengan lebih cepat. Bahkan gadis itu terkadang juga menggunakan koneksinya untuk mendapatkan pekerjaan yang ia inginkan.
Di hari yang sudah dijanjikan, Arka sedang bersiap-siap untuk menghadiri acara pesta yang dikonsep santai tersebut. Celana denim abu-abu gelap dengan aksen robek pada bagian lutut, kaos ketat berwarna hitam, dipadukan dengan jaket denim biru serta sepatu kets putih. Benar-benar gaya santai yang terlihat sangat cocok dengan usia dan kepribadian seorang Arka.
Karena ini adalah acara pribadi, maka ia akan berangkat sendiri tanpa ditemani oleh Baik, managernya. Namun, agar tidak terlalu sendirian, ia sudah membuat janji dengan teman yang lain untuk berangkat bersama-sama.
Sekitar pukul sembilan malam, Arka dan dua orang temannya sampai di lokasi. Tempat itu merupakan sebuah apartemen dengan puncaknya berupa penthouse yang dimiliki oleh pemilik gedung ini. Tedapat beberapa kelas hunian yang disesuaikan dengan harga jualnya. Di lantai-lantai paling bawah biasanya memiliki harga sewa paling terjangkau karena memiliki pemandangan yang sangat biasa dan tipe kamar yang ditawarkan hanyalah studio. Semakin keatas, harga pun semakin meningkat yang sepadan dengan fasilitas yang di dapatkan.
Arka memasuki area lobi sambil bersenda gurau dengan kedua teman sesama artisnya. Namun, atensi pria itu sempat teralihkan saat melihat seorang perempuan dengan pakaian rumahan yang berada di depan lift. Matanya menyipit untuk memastikan sosok yang terlihat tak asing tersebut.
“Zee?” gumam pria itu lirih dan menerka.
Gedung ini memiliki beberapa lift yang terletak bersisihan. Arka dan teman-temannya yang akan menuju penthouse tentunya berdiri di depan satu-satunya lift yang bisa mencapai area tertinggi itu. Dari tempatnya berdiri saat ini, Arka bisa memastikan bahwa pandangannya tidak salah. Bahkan perempuan yang tak lain adalah Zee itu sempat menoleh pada rombongan Arka, tetapi segera kembali menatap pintu lift lain yang akan di tujunya.
Kedua rekan kerja itu tak saling menyapa, bahkan terkesan tidak saling mengenal satu sama lain. Sepertinya ini adalah buntut dari seringnya mereka berdebat di lokasi syuting selama di Yogyakarta kemarin. Namun, mereka sama-sama tak ambil pusing.
Ting
Ting
Kedua pintu lift terbuka bersamaan dan keduanya memasuki balok besi yang berbeda. Pertemuan tanpa sengaja itu berakhir dengan sangat singkat. Hanya saja, hal itu masih menyisakan tanya dalam benak Arka.
“Apa dia juga punya acara di tempat ini? Atau mengunjungi teman?” batin Arka menerka-nerka.
Namun, sedetik kemudian ia menggelengkan kepala dan mengenyahkan pemikiran tersebut. Tidak ada gunanya mempedulikan hal itu. Ia malah akan tampak aneh jika memikirkan seseorang yang selalu berhasil memancing emosinya tersebut.
Tak butuh waktu lama, lift khusus itu sampai di lantai teratas yang langsung terhubung dengan penthouse. Suara musik telah terdengar menggema memenuhi seluruh lantai teratas gedung apartemen ini. Beberapa orang yang telah terlebih dahulu datang meskipun belum terlalu ramai. Daripada sebuah pesta untuk kalangan borjuis, acara ini lebih mirip seperti pesta ala mahasiswa saking santainya suasana.
“Kalian sudah sampai rupanya!” seru seorang perempuan yang tak lain adalah Freya.
Gadis itu menyambut ketiga tamunya dengan antusias lalu memeluk satu persatu para pria itu dengan hangat. Tak lupa pula kecupan di pipi kanan dan kiri ia berikan, tetapi Arka dengan sopan menolaknya. Ia hanya kurang menyukai kebiasaan tersebut dan semua orang yang mengenal Arka memakluminya.
“Ayo ke ruang tengah! Pak produser udah ada disana,” ajak Freya antusias.
“Kami telat?” tanya Arka tidak enak jika sampai didahului.
“Baru lima menit yang lalu sampai, gak apa-apalah,” sahut Freya memaklumi.
Syukurlah ini bukan acara resmi, sehingga hadir lebih lambat daripada produser itu tidak akan mempengaruhi citranya dimata pria asing tersebut. Arka dan kedua temannya mengikuti Freya yang berjalan lebih dulu di depan.
Sesampainya di ruang tengah, memang benar sudah ada beberapa bule yang terlihat menikmati waktunya disana. Beberapa rekan dari industri hiburan tanah air juga sudah ikut berkumpul di ruangan itu. Namun, Freya tetap menepati janjinya untuk mengenalkan Arka pada produser rumah produksi kenamaan tersebut.
“Senang bisa berkenalan dengan anda, Mr. Garcia,” ujar Arka sambil menjabat tangan pria berusia sekitar empat puluhan tersebut.
“Seharusnya aku yang mengatakan hal itu. Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan salah satu aktor terbaik di negeri ini,” seloroh Garcia yang membuat senyum Arka semakin lebar. “Semoga suatu hari nanti kita bisa bekerjasama.”
“Silakan hubungi saya jika ada peran yang sesuai, saya pasti akan langsung terbang ke negara anda,” sahut Arka yakin.
“Aku suka ambisimu,” balas Garcia dengan senyum berwibawanya. “Sebagai tanda perkenalan, ayo kita bersulang!”
Garcia mengulurkan sebuah gelas tinggi berisi anggur merah pada Arka.
Pria itu pun menerimanya lalu menumbukkan gelas itu hingga menimbulkan suara nyaring. Saat Garcia meminum cairan merah itu hingga tandas, Arka hanya berpura-pura meminumnya sebagai sopan santun. Walau sudah cukup lama berkecimpung dalam dunia entertainment yang dekat dengan minuman berlakohol, tetapi sampai sejauh ini Arka bisa dikatakan hampir tidak pernah meminumnya. Ia tentu tidak ingin mengecewakan sang bunda dengan berperilaku hedon seperti rekan-rekan yang lain.
Setelah perkenalan tersebut, Arka juga membaur dengan teman-temannya yang lain. Setiap orang membawa gelasnya masing-masing yang kesemuanya berisi alkohol berbagai jenis. Hanya Arka sendiri sepertinya yang belum tergoda untuk menyentuh benda itu. Wine yang diberikan oleh Garcia tadi juga telah ditinggalkannya entah dimana.
“Arka,” panggil seseorang.
Si empunya nama pun menoleh. Disampingnya telah ada Freya yang tengah menyodorkan jus jeruk untuk Arka.
“Gue tahu lo satu-satunya yang gak bisa minum alkohol. Ini, daripada kehausan,” ujar Freya menawarkan.
“Thanks,” balas Arka menerima gelas tersebut.
Benar kata Freya, Arka yang sejak tadi hanya bisa memakan camilan memang merasa kehausan. Sayangnya, sepanjang mata memandang Arka hanya mampu menemukan alkohol. Maka tidak heran jika ia begitu lahap meminum jus buah berwarna kuning tersebut.
Kedua rekan kerja yang itu kembali larut dalam perbincangan bersama rekan-rekannya. Gelak tawa diiringi obrolan-obrolan seru mendominasi pertemuan tersebut. Tak lupa juga mereka memainkan game untuk menambah keseruan.
Saking serunya, Arka merasa udara di dalam penthouse itu sampai meningkat. Ia melepas jaket denim biru yang dikenakannya hingga mengeskpos tubuhnya yang dibalut kaos hitam ketat serta lengannya yang atletis. Hanya saja, hal itu masih belum bisa menurunkan suhu tubuh Arka.
“Lo gak apa-apa?”
Sapaan disertai sentuhan pada lengan Arka yang tak tertutup kain menghadirkan sensasi seperti ada aliran listrik yang menyengat. Pria itu pun berjengkit bersamaan dengan napasnya yang memendek. Secara tiba-tiba tubuhnya menjadi gelisah dan ia menginginkan sentuhan yang lebih. Hanya saja, Arka tidak ingin menuruti godaan dalam otaknya tersebut.
“Gue kenapa?” gumam Arka yang ternyata hanya di dengar oleh seseorang yang ada disampingnya.
Gadis itu tersenyum lembut lalu kembali menyentuh lengan Arka. Sensasi sentuhan tersebut tak bisa ditolak oleh Arka yang tanpa sadar melenguh.
“Lo gak apa-apa, kok! Cuma butuh sedikit bantuan gue,” jawab gadis disebelah Arka seraya beranjak dan menarik lengan pria itu.
Bak kerbau yang dicucuk hidungnya, Arka pun mengikuti si gadis yang membawanya pergi. Teman-temannya tak ada yang mencegah, karena tak berpikir ada sesuatu yang akan terjadi.
“Kita mau kemana?” tanya Arka masih berusaha mengendalikan tubuhnya yang terasa semakin tidak bisa dikontrol.
“Aku mau bantuin kamu biar rileks,” jawab gadis itu yang telah sampai di depan sebuah pintu.
Melalui sisa-sisa logika yang masih dimilikinya, Arka mulai sadar dengan yang terjadi pada dirinya. Ia menghempaskan tangan gadis itu lalu tanpa permisi segera beranjak pergi.
“Ka, lo mau kemana?” tanya gadis itu sambil mengikuti Arka.
Langkah Arka terseok karena kepalanya yang terasa pusing. Namun, ia berhasil meninggalkan gadis itu dan sampai di depan pintu lift. Sayangnya, gadis itu terus mengikuti. Pintu lift belum kunjung terbuka, sementara gadis itu jaraknya semakin dekat.
Arka melihat tanda pintu darurat dan ia memasuki berniat kabur menggunakan pintu yang langsung terhubung dengan tangga darurat tersebut. Entah sudah berapa banyak anak tangga yang ia pijaki, tetapi ia tidak ingin terjebak dengan gadis yang masih mengejarnya tersebut. Apalagi dibelakang gadis itu kini juga terlihat beberapa orang pria yang seperti juga tengah mengejar Arka.
“Arka, berhenti! Lo bakalan makin kesakitan kalau menghindari gue!” pekik gadis itu terus mengejar.
Tak peduli ia sudah sampai di lantai berapa, Arka keluar dari tangga darurat dan mencari perlindungan dengan cara lain. Ia meraih setiap gagang pintu apartemen yang dilewatinya, berharap ada satu yang terbuka dan bisa ia masuki. Tubuh Arka sudah hampir menyerah, tetapi tak kunjung ada pintu yang terbuka. Sampai kemudian di ujung lorong, ia melihat sebuah sinar mengintip dari balik pintu sebuah unit.
Brakk, pintu terbuka dan Arka memasuki unit itu tanpa permisi lalu menutupnya rapat-rapat.