07 Khawatir

1392 Kata
Waktu libur selama beberapa hari yang diberikan oleh manajemen dimanfaatkan oleh gadis itu untuk mengisi ulang energinya. Satu bulan berada di tengah-tengah tim produksi tentu sangat menguras stamina seorang Zeanissa Danurdara. Ia hanyalah seorang gadis rumahan yang tidak terlalu menyukai berinteraksi dengan orang lain. Benar-benar seorang introvert sejati yang akan merasa tertekan saat berada di tengah kerumunan. Namun, demi pekerjaan ia harus menekan kuat-kuat rasa tidak nyaman tersebut. Maka dari itu, ketika hari libur itu datang, Zee tidak menyia-nyiakannya. Berdiam diri di dalam kamar sepanjang hari menjadi pilihannya. Ada kalanya juga ia pergi keluar hanya untuk sekedar membeli atau mengambil makanan yang dipesan secara daring. Tak terkecuali akhir pekan ini. Zee yang seringkali mengabaikan jadwal makannya akhirnya memilih untuk memesan secara daring makan malamnya. Sekitar pukul sembilan malam ia baru keluar untuk mengambil makanan tersebut di lobi. Namun, saat akan kembali naik ke unit apartemennya, tanpa sengaja ia melihat aktor yang akhir-akhir ini sering berdebat dengannya, Arka. Setali tiga uang dengan sikapnya yang seperti orang asing, Arka pun mengabaikan keberadaannya. “Tumben gak kepo,” gumam Zee tepat setelah ia memasuki lift yang berbeda dengan Arka. Namun, ia segera mengedikkan bahu dan tak acuh kembali. Gadis itu tahu, Arka dan dua temannya yang juga sesama public figure hendak menuju lantai teratas gedung ini. Karena lift tempat mereka menunggu tadi adalah lift khusus yang tak bisa sembarangan digunakan. Bahkan lift itu tidak bisa berhenti di lantai manapun, kecuali lantai teratas. Selesai dengan makan malamnya, Zee yang sedang beristirahat dari rutinitas menulisnya itu memilih untuk menonton film melalui siaran berbayar di laptopnya. Selain untuk mengisi waktu luang, tayangan seperti itu juga dimanfaatkan Zee untuk mendapatkan inspirasi serta mengasah skillnya. Dua jam berlalu dengan cepat dan film pun telah berakhir sejak beberapa menit yang lalu. Zee bahkan telah menyegarkan tubuhnya dengan mandi sebelum berniat untuk tidur. Ia baru saja keluar dari kamar mandi dan telah mengenakan piyama bermotif smurf kesayangannya. Sebelum naik ke atas ranjang, terlebih dahulu ia duduk di depan meja rias untuk mengeringkan rambut sebahunya yang basah serta mengenakan skincare malam. Namun, secara tiba-tiba unit apartemennya terbuka dan seseorang masuk begitu saja tanpa permisi. Zee menengok dengan cepat sekaligus terperanjat was-was. Degup jantungnya meningkat tajam, takut kalau-kalau ada orang jahat yang sedang mengancamnya. Namun, setelah mengenakan kacamata minusnya ia akhirnya mengenali sosok yang kini mengunci pintu unitnya tersebut. “ARKA!” pekik gadis itu tak habis pikir. Degup jantung serta deru napasnya semakin memburu kala pria itu berjalan terburu-buru menghampirinya. Sungguh Zee sangat ketakutan saat ini, apalagi Arka dengan segera membekap bibirnya dan membuat tubuh mereka menempel seperti berpelukan. “Hmmppp!” Gadis itu berusaha berontak tetapi Arka buru-buru mendesis, mengisyaratkan agar ia diam. Tak lama setelahnya, Zee mendengar deru langkah beberapa orang diluar unit apartemennya yang membuat kedua bola mata gadis itu membola. “Jangan bersuara!” bisik Arka dengan suara serak dan beratnya. Zee yang mulai memahami situasi pun perlahan mengendurkan ketegangannya. Arka pun melepaskan bekapannya setelah merasa gadis itu tidak akan berteriak, tetapi kedua tangannya masih bertahan di bahu Zee. Gadis itu terdiam dalam dekapan Arka yang sebenarnya membuat Zee tidak nyaman berkat tubuh mereka yang menempel. Apalagi saat ini pakaian yang membalut tubuh mereka sama-sama begitu tipis, bahkan Zee baru teringat jika ia tak lagi memakai apa pun dibalik piyamanya. Begitulah kebiasaan gadis itu saat akan tidur. Ia jadi was-was sendiri memikirkan Arka yang mungkin saja bisa merasakan keadaan polosnya tersebut. “Ss-sudah sepi,” ujar Zee saat tak ada lagi suara keributan diluar. Gadis itu mengangkat tangannya lalu menyentuh lengan Arka ingin dilepaskan. Sayangnya, ia tidak tahu jika kondisi Arka saat ini pun sudah diujung tanduk. Saat Zee mengangkat pandangannya, barulah ia melihat kilat mendamba dari mata Arka. “Kk-Ka,” panggil Zee terbata sekaligus waspada sekali lagi. “Mbak, tolongin aku,” ujar Arka yang merasa suhu tubuhnya semakin membara. “Aa-apa maksud kamhhmmpp,-” Kalimat Zee tertahan bersamaan dengan Arka yang telah menumbukkan bibir mereka lalu melumatnya dengan menggebu. Tangan Zee mengepal, memukul-mukul bahu Arka yang enggan melepaskannya. Zee hampir kehabisan napas, tetapi Arka masih terus menciumnya seolah siap memakan bibir Zee kapan saja. “Ka! Lep-arrgghh,-” Arka benar-benar tak memberi kesempatan pada Zee yang melayangkan protesnya. Pagutan itu hanya terlepas sesaat sebelum ia kembali menyerang Zee lebih ganas. Bahkan tanpa ragu ia mengangkat tubuh Zee yang meronta lalu melemparnya keatas ranjang. “Arka, sadar! Jangan begini! Aarrghh!” seru Zee mencoba beringsut menjauh. Namun, Arka kembali berhasil menarik lengan Zee dan membuat gadis itu terkurung di bawahnya. Tangan Zee terus mencoba melawan, tetapi Arka menguncinya. Pria itu benar-benar telah dikuasai oleh keinginan menggebu yang tak tertahankan dan terus melancarkan aksinya. Zee yang awalnya terus berontak, lama kelamaan tenaganya pun terkuras habis. Pada akhirnya ia hanya pasrah saat Arka menyentuh setiap bagian tubuhnya yang belum terjamah oleh pria manapun. Telapak tangan Zee mengepal, begitu pula dengan rahangnya yang mengetat menahan sakit yang menghampiri jiwanya. Air matanya pun luruh seiring dengan peluh yang semakin membasahi tubuh keduanya. “Sorry,” ujar pria itu setelah menumpahkan seluruh keinginannya dan jatuh diatas tubuh Zee. Arka memeluk Zee lalu perlahan kesadarannya menghilang. Ia tertidur karena kelelahan. Zee masih bertahan pada posisinya. Berat tubuh Arka tak lebih berarti dari rasa kehilangan yang ia rasakan. Usianya mungkin tak lagi muda, tetapi kesucian yang selama ini ia jaga dan banggakan terenggut sudah. Hanya saja menyesal tidak akan mengambalikan keadaan seperti semula. Meskipun berat, Zee menggulingkan tubuh Arka hingga terlelap di sampingnya. Ia terus memandangi sosok yang baru saja menggaulinya tersebut. Sekali lagi air matanya luruh melihat betapa damainya Arka saat ini. Namun, Zee segera menghapus air matanya itu dengan kasar. “Setidaknya dia bukan pria dengan penyakit menular,” gumam Zee kemudian. Dalam keadaan apa pun, gadis, oh tidak, Zee bukan lagi gadis karena telah resmi menjadi wanita malam ini. Seburuk apa pun keadaan yang sedang dihadapi wanita itu, ia selalu bisa mencari sisi positifnya. Lagipula, ia juga sudah berniat untuk menganggap bahwa hal ini tidak pernah terjadi. Ia dan Arka tentunya paham jika ini hanyalah sebuah kesalahan semalam dan Zee tidak berniat untuk menuntut pertanggung-jawaban. Mengenai kemungkinan ia akan hamil setelah Arka menumpahkan benih ke rahimnya, Zee sudah memiliki jalan keluar. Ia pernah membuat riset dalam sebuah karyanya, sehingga ia sedikit banyak paham tentang hal semacam ini. Terdapat waktu sekitar tujuh puluh dua jam atau tiga hari sebelum benih Arka berkembang menjadi zigot dalam rahimnya. Zee masih memiliki kesempatan untuk melindungi dirinya dari kehamilan yang tidak direncanakan. Namun sebelum itu, ia butuh istirahat. Arka sungguh membuat tenaga Zee habis. Begitulah malam panjang itu berakhir. “Aku benar-benar harus memperbaiki kebiasaan yang tidak pernah memeriksa pintu sampai benar-benar terkunci,” gumam Zee sesaat sebelum menyusul Arka ke alam mimpi. Keesokan paginya, Zee terbangun lebih awal. Mungkin masih ada sisa efek obat dalam tubuh Arka sehingga pria itu terlihat sama sekali tidak terganggu saat Zee kepayahan turun dari atas ranjang. Tubuh gadis itu terasa remuk hingga ia kesulitan berjalan menuju kamar mandi. Bahkan ia sampai memekik kesakitan saat rasa nyeri itu tak lagi tertahankan. Suara itulah yang akhirnya membangunkan Arka. Setelah perdebatan cukup alot di pagi itu, Arka buru-buru meninggalkan unit apartemen Zee. Sebelum benar-benar pergi, ia memperhatikan lokasi unit tersebut dan menghafalnya. Walau Zee menolak ia bertanggung jawab dan ia juga menyerah saat membujuk, tetapi hati Arka sama sekali tidak tenang. Ia yakin jika beberapa hari kedepan pasti akan datang lagi ke tempat ini, meskipun tidak tahu kapan. “Sialan! Siapa yang berani ngasih gue obat? Awas aja lo kalau sampai ketemu,” gerutu Arka seraya menaiki lift untuk turun. Arka begitu yakin jika ia telah dijebak. Sayangnya ia tidak tahu darimana obat itu berasal. Semalam ia cukup banyak memakan sajian yang dihidangkan di pesta, begitupula dengan teman-temannya. Bedanya, ia hanya sama sekali tidak mengkonsumsi alkohol, tetapi justru menjadi yang paling lepas kendali. Akibatnya, hilang sudah keperjakaannya. Walau Arka sering gonta-ganti kekasih semudah mengganti pakaian, tetapi ia tidak pernah berbuat sejauh itu. Ia selalu ingat bahwa dirinya adalah kepala keluarga dengan bunda dan kedua adik yang merupakan perempuan. Arka hanya takut jika ia sampai menodai perempuan, hal itu akan menjadi karma buruk untuk keluarganya. “Aaarrgghhh!” Arka mengacak rambutnya yang telah acak-acakan sambil mengerang keras. Mengingat bunda dan adik-adiknya membuat rasa cemasnya meningkat. Apalagi ia baru saja menodai Zee seperti yang ditakutinya selama ini. “Ya Allah, maaf. Aku gak sengaja. Tolong lindungi bunda dan adik-adik, Ya Allah,” doanya frustrasi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN