Deru mobil memasuki pelataran rumah berlantai dua yang cukup luas. Waktu telah menunjukkan pukul delapan pagi saat mobil sport itu terparkir dengan sempurna di garasi, bersebelahan dengan dua mobil lainnya.
Sebagai seorang aktor yang sudah berkecimpung di dunia entertainment selama hampir sepuluh tahun, rumah itu sebenarnya cukup biasa-biasa saja jika dibandingkan rumah-rumah rekan seprofesi Arka yang lain. Bukan tidak mampu dan tidak ingin menempati hunian lebih besar dan mewah, tetapi bundanya selalu menolak saat diajak pindah, sementara Arka sendiri tidak ingin tinggal terpisah dari sang bunda.
Kedua kaki berbalut sepatu putih itu berjalan tanpa sangat menuju pintu utama. Penampilan Arka masih begitu acak-acakan, karena tadi ia buru-buru diusir oleh Zee. Lagipula, otaknya juga masih belum mampu menerima apa yang semalam terjadi padanya. Itu benar-benar mengejutkan.
“Alhamdulillah, akhirnya kamu pulang, Nak!” seruan seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah bunda Arka menyambut kedatangan pemuda itu.
Tampak sekali raut khawatir wanita berwajah lembut tersebut. Kegelisahan yang sejak semalam dirasakannya sirna sudah. Buru-buru ia menghampiri putra sulungnya yang kini justru terpaku di ambang pintu.
“Kamu bikin Bunda dan adik-adik khawatir aja! Gak biasanya nginep tanpa ngabarin dulu ke rumah,” tegur Mutia, bunda Arka.
“Iya, mana di telepon hpnya mati mulu,” tambah seorang gadis remaja dengan rambut sebahu, adik Arka yang bernama Luna.
“Kakak darimana, sih?” todong gadis remaja lain yang rambutnya lebih panjang, Stella.
Luna dan Stella adalah remaja delapan belas tahun yang saat ini duduk di bangku kelas tiga SMA. Keduanya adalah saudara kembar yang hanya berjarak delapan menit, dengan Luna yang terlahir lebih awal. Nama keduanya diambil dari bahasa Italia yang berarti bulan dan bintang. Keduanya sangat dekat dengan Arka, meskipun waktu kebersamaan mereka sebenarnya cukup minim, mengingat kesibukan Arka yang sangat padat.
Tanpa banyak berkata, Arka dengan wajah sendu dan bersalahnya segera merentangkan kedua tangan. Ia membawa ketiga perempuan kesayangannya itu masuk dalam dekapannya dan memeluk mereka erat-erat. Salah satu kebahagiaan Arka adalah melihat mereka dalam keadaan baik-baik saja seperti saat ini. Namun, jika mengingat tragedi yang menimpanya dan melibatkan Zee semalam, rasa takut itu kembali menghantuinya. Jangan sampai adik-adiknya bertemu dengan pria dengan perilaku sama sepertinya yang dengan mudah merebut kesucian seorang gadis tak bersalah.
“Maaf, Bun, Dek! Ada sedikit masalah, jadi gak sempat ngabarin,” ujar pria itu penuh penyesalan.
“Terus, masalahnya sudah selesai?” tanya Mutia sambil mendongakkan kepala, karena putra sulungnya itu jelas lebih tinggi darinya.
Arka tak langsung menjawab. Ia justru merapatkan bibirnya sambil berpikir keras. Apakah masalahnya dengan Zee bisa dianggap selesai? Meskipun rekan kerjanya itu dengan keras menolak pertanggung jawaban yang Arka tawarkan, tetapi rasanya hati Arka masih berat untuk melupakan seolah tak terjadi apa-apa. Belum lagi dengan dalang dari kejadian tersebut. Arka juga masih belum mengetahui apa pun tentang hal itu.
Pada akhirnya, ia hanya menunjukkan senyum terbaik, mengisyaratkan agar sang bunda tidak khawatir. Arka yakin, ia pasti akan mampu mengatasi permasalahan ini beberapa hari kedepan.
“Insya Allah selesai, Bun,” jawab Arka.
Mutia meskipun belum cukup puas dengan jawaban tersebut, tetapi ia tidak menuntut. Putranya selalu bisa mengatasi masalahnya, ia hanya perlu percaya kali ini Arka juga akan mampu melakukannya.
“Syukurlah kalau sudah selesai,” balas Mutia dengan senyum teduhnya.
“Kak, Kak Arka belum mandi, ya?” tanya Luna yang hidungnya telah mengkerut.
“Iya, ih. Kakak tumben baunya gak enak,” tambah Stella mengompori.
Pemuda itu membelalakkan matanya lebar-lebar sambil mengendus tubuhnya yang terasa lengket. Tentu saja ia masih bau dan berantakan. Zee tidak memberinya kesempatan untuk membersihkan diri pasca kejadian semalam.
“Iya, sih! Baru inget kalau terakhir mandi kemarin sore,” sahut Arka seraya terkekeh, karena adik-adiknya langsung berjingkat lepas dari pelukannya.
Mutia menggelengkan kepala tak habis pikir, lalu meminta putra sulungnya itu untuk segera membersihkan dirinya. Arka pun menurut dan segera beranjak menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
Sampai di kamar dan pintu telah kembali tertutup sempurna, Arka menyandarkan punggungnya pada kayu berwarna putih tersebut. Kedua tangannya menangkup wajah seraya menyugar rambut pendeknya dengan kasar. Ia menghela napasnya dengan kasar dan bayang-bayang perbuatan buruknya semalam kembali menghampiri kepalanya.
Sejujurnya Arka masih belum terlalu jelas setiap detail kejadian tersebut. Ia hanya ingat tengah dikejar-kejar seorang gadis dan beberapa pria yang sayang wajahnya tak terlalu ia kenali. Hal itu benar-benar membuatnya frustrasi. Seandainya ia ingat, Arka akan segera memprofokasi gadis itu bahkan sampai menuntutnya ke jalur hukum. Ia sangat yakin jika gadis itulah pelaku utama dari hilangnya kesadaran Arka semalam.
“Gue harus kejar dia sampai kena,” tekat Arka bulat. Namun, sebelum itu ia harus menyegarkan tubuh dan pikirannya terlebih dahulu.
Saat hendak melepas kaos hitam ketat yang melekat di tubuhnya, Arka baru teringat jika ia melepas jaket denimnya di penthouse saat merasa kepanasan. Sepertinya hal itu justru akan berguna dan bisa ia manfaatkan untuk memulai penyelidikannya.
Mumpung masih hari libur dan Arka juga tidak memiliki pekerjaan lain, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke penthouse setelah makan siang. Sebelumnya ia juga telah menghubungi Freya, orang yang mengundangnya semalam agar diizinkan naik keatas. Alasannya tentu adalah jaketnya yang tertinggal.
Sekitar pukul tiga sore, ia telah kembali berada di gedung itu. Melalui resepsionis, ia diberi kartu akses untuk naik ke lantai teratas. Freya masih ada disana, belum pulang sejak semalam, dan sekali lagi menyambut kedatangan Arka yang baru keluar dari lift.
“Sebenernya gue bisa bawain jaket lo waktu syuting besok, gak perlu buru-buru ngambil juga,” ujar Freya sambil mengajak Arka memasuki ruang tengah.
“Dibeliin adek gue, sayang kalau sampai hilang,” balas Arka yang diangguki oleh lawan main dalam film terbarunya tersebut.
Tempat itu keadaannya masih belum rapi. Kaleng-kaleng bir masih terlihat di beberapa tempat, bahkan kartu permainan mereka semalam juga belum disimpan. Di sofa ruang tengah tempat Arka bercengkerama dengan teman-temanny semalam, ia melihat jaket denimnya pun masih tersampir di punggung sofa. Pria itu pun segera mengambilnya.
“Oh ya, Fre, gue mau nanya,” ucap Arka kembali bertatapan dengan gadis dua puluh empat tahun tersebut.
“Apa?” tanya Freya memusatkan perhatiannya pada Arka.
“Semalem, sekitar jam sebelasan lo ada dimana?” Arka mengutarakan pertanyaannya tanpa basa-basi.
“Ya disinilah, dimana lagi? Kan gue yang punya acara, masa’ gak ada disini, sih?” seloroh Freya dengan kekehan renyahnya.
“Maksud gue, lo ikut nimbrung di ruangan ini juga gak, sama temen-temen yang lain?” kejar Arka.
“Jam sebelas, ya?” Freya memastikan yang diangguki Arka.
Gadis itu tampak berpikir, mengingat-ingat kejadian semalam. Setelah beberapa saat, ia kemudian tertawa kecil.
“Lagi nemenin laki gue. Lo tahu dong maksud gue nemenin yang gimana?”
Ya, Arka tak perlu memperjelas. Ia tahu pasti maksud lawan mainnya tersebut. Freya memang sudah banyak dikenal sepak terjangnya dalam hal itu dan tak pernah malu atau menutupi hubungan gelapnya dengan para pria dewasa tersebut. Sayangnya, jawaban itu tidak bisa membantu penyelidikan Arka sama sekali.
“Selain lo, siapa lagi cewek yang pakai dress hitam semalem? Dia ada disebelah gue kalau gak salah,” tanya Arka sekali lagi.
“Yang disebelahnya itu elo, bukan gue. Kenapa malah nanya gue?” Freya balik bertanya masih dengan kekehannya tak habis pikir.
“Ya kalau gue inget gak bakalan nanya kali, Fre,” dengkus Arka malas.
“Memangnya kenapa sih lo nyari dia? Naksir? Terus cewek lo si Jova-Jova itu udah kelar lagi?” tanya Freya penasaran.
Pertanyaan itu justru seperti pukulan untuk Arka. Ia sama sekali tidak mengingat tentang Jova sejak bangun di ranjang Zee pagi tadi. Bahkan ia juga sama sekali tidak merasa bersalah pada kekasihnya tersebut. Padahal bisa dikatakan jika saat ini ia telah mengkhianati gadis blasteran Indonesia Jerman tersebut.
“Jawab aja kenapa, sih?” sahut Arka kemudian dengan nada tidak suka.
“Oke, oke,” Freya kembali serius. “Ada beberapa yang pakai gaun hitam juga, tapi gue gak yakin siapa yang disebelah lo. Ada asisten gue, si Pink yang penyanyi pendatang baru itu juga pakai gaun hitam, mirip lagi modelnya sama gaun gue. Terus ada ceweknya Guntur juga. Gak hafal juga sih gue ada berapa?”
“Boleh lihat CCTV? Asli, gue penasaran banget. Semalem dia nawarin sesuatu gitu, cuma gue lupa. Jadi pengen mastiin,” desak Arka tanpa membeberkan dengan jelas.
Sekali lagi Freya tertawa, “Di lantai ini gak ada CCTV, karena yang boleh masuk juga terbatas banget.”
“Serius gak ada? Kalau misalnya ada kejadian tidak terduga?” Arka masih belum percaya.
“Penthouse ini sebenarnya jarang dipakai, sih, Ka. Laki gue lebih sering di rumah sama bininya. Jadi ya gak perlu pasang CCTV juga,” jelas Freya meyakinkan.
Mau tidak mau Arka harus percaya. Mungkin akan ada cara lain lagi untuk mencari tahu. Secara tiba-tiba sebuah ide muncul dalam benaknya.
Semalam, gadis itu ikut mengejarnya melalui tangga darurat sampai ke lorong unit Zee berada. Jika tempat ini tak memiliki CCTV, seharusnya tempat-tempat itu memiliki pengaman yang sejenis. Ya, mungkin saja Arka bisa mendapatkan bukti darisana. Untuk itu, ia harus segera keluar dari tempat ini.
Setelah berpamitan pada Freya, Arka kembali turun. Sepengetahuannya, ruang kontrol CCTV ada di lantai dasar, karena itulah ia akan menuju ke tempat itu.
Namun, begitu ia keluar dari lift di lantai dasar, sekali lagi ia bertemu dengan sosok yang membuat rasa bersalahnya kembali mendominasi. Sosok yang tak lain adalah Zee itu terlihat baru saja dari luar dan tengah menenteng sebuah paper bag ditangannya. Pandangan keduanya bertemu dan untuk sesaat mereka sama-sama terdiam. Hanya saja Zee segera memutuskan pandangan tersebut dan melanjutkan langkah menuju lift yang akan membawa ke unitnya.
Saat Zee berjalan, Arka dengan jelas melihat langkah kaki wanita itu yang terganggu. Agak terseok dan itu membuat Arka buru-buru menghampirinya dengan khawatir.
“Mbak Zee sakit?” tanya Arka begitu ia meraih lengan wanita itu dan membuat mereka kembali bertatapan.
Respon Zee masih selalu sama, datar dan dingin. Ia bahkan tak segera menjawab yang semakin membuat Arka was-was.
“Menurut kamu?” Setelah beberapa saat, wanita itu bersuara, tetapi justru dengan balik bertanya.
“Gara-gara yang semalem?” Arka memastikan dan jelas sekali nada penyesalan dalam suaranya.
Zee melepas pegangan tangan Arka di lengannya lalu kembali menatap lift dihadapannya. Kali ini ia benar-benar tidak menjawab, bahkan mengabaikan keberadaan Arka.
“Maaf, aku gak sengaja dan gak sadar,” ungkap Arka sekali lagi.
“Sudah kubilang, anggap saja tidak pernah terjadi. Aku juga sudah minum obat dari dokter tadi,” balas Zee tak ingin ambil pusing.
“Apa semalam aku kasar sampai Mbak susah jalan begini?” Arka tak bisa mengabaikannya.
Zee menghela napasnya panjang lalu kembali menatap Arka dengan raut datarnya. “Yang pertama pasti sakit, entah kamu kasar ataupun enggak. Setidaknya itu yang aku tahu dari temen-temenku yang udah nikah. Jadi, gak perlu diperpanjang. Berhenti sampai disini saja!”
“Maaf, Mbak, aku benar-benar gak bisa ngontrol diriku sendiri,” sesal Arka tak ingin mendengarkan.
“Stop, Arka! Jangan dibahas lagi atau kamu malah bikin aku makin gak nyaman,” tegas Zee lebih keras.
“Maaf,” kembali Arka mengucapkannya, tetapi lebih lirih.
Tepat bersamaan dengan itu, lift di depan Zee terbuka. Wanita itu melenggang begitu saja tanpa berpamitan pada Arka yang masih menatapnya penuh penyesalan. Pintu lift pun segera tertutup dan mereka kembali berpisah.
Tanpa disadari Arka menghela napasnya panjang lalu mengusak rambutnya. Rasa bersalah ini benar-benar menggerogoti dirinya, tetapi Zee tampak sama sekali tidak terganggu. Padahal jika dipikir-pikir, wanita itulah yang lebih banyak kehilangan daripada dirinya. Sungguh keadaan yang aneh, pikir Arka.
Tak ingin terpaku disana, Arka kembali melangkah, merealisasikan tujuan utamanya. Ia segera menuju ruang kontrol yang ada di gedung apartemen ini.