Sepertinya dewi fortuna masih enggan menghampiri Arka. Lagi-lagi ia kembali dengan tangan kosong. CCTV di area tangga darurat dan lorong sekitar unit Zee tidak merekam apa pun. Sungguh aneh, karena file rekaman pada saat itu hilang tanpa jejak. Bahkan petugas yang menjaga pun baru menyadari hal itu setelah Arka bertanya. Mereka pun kalang kabut kebingungan harus memberikan laporan seperti apa nantinya pada pengelola apartemen.
Arka menghela napasnya panjang di luar pintu ruang kontrol. Sekali lagi ia meraup wajahnya dengan kasar, lalu meninggalkan tempat itu dengan berat hati. Langkahnya lunglai, tak tahu lagi harus mencari dimana. Namun satu yang pasti, ia belajar dari kejadian ini.
“Lain kali gue gak boleh sendirian, harus ngajak orang lain yang dipercaya meskipun ke acara pribadi,” putus Arka pasrah.
Meskipun semalam banyak orang yang ia kenal bahkan cukup dekat dengannya, tetapi mereka tidak cukup peduli dan perhatian pada kondisi Arka. Katakanlah seseorang berhasil memberinya obat secara terselubung, tetapi jika ada orang yang peduli, ia pasti akan diselamatkan. Setidaknya dibawa pergi dari tempat itu agar bisa menghindari hal-hal yang tak diinginkan seperti semalam.
“Gue jadi ngerasa berengsek banget. Padahal udah ngerusak dia, tapi malah bersyukur cewek yang gue tidurin Mbak Zee,” keluh Arka dalam perjalanan pulang.
Bibirnya memang mengeluh, tetapi ia tak bisa menghentikan senyum geli di wajahnya. Di satu sisi ia senang Zee tidak akan menuntutnya dan menganggap tak pernah terjadi apa-apa, disisi lain ia benar-benar dihantui oleh rasa bersalah. Pria baik-baik dimanapun berada pasti akan merasakan beban tak nyaman itu, tak terkecuali Arka.
Perasaan itu terus terbawa hingga keesokan harinya saat ia kembali bekerja. Tiba di lokasi syuting, hal pertama yang ia cari adalah keberadaan Zee. Walau tidak mengucapkannya, tetapi ia ingin melihat wanita itu baik-baik saja.
“Syukurlah,” gumam aktor itu seraya menghela napasnya panjang begitu mendapati Zee yang baru memasuki lokasi syuting.
Sepertinya wanita itu telah datang sejak tadi, tetapi entah melipir kemana hingga baru terlihat sekarang. Gerak tubuhnya terlihat baik-baik saja, tak lagi menahan nyeri seperti kemarin saat Arka melihatnya di gedung apartemen. Wajahnya pun terlihat lebih segar, tak sepucat kemarin.
Semakin diperhatikan, Arka baru menyadari jika penulis naskah film itu cukup manis juga. Walaupun usianya telah menginjak kepala tiga, tetapi ia masih terlihat seperti pertengahan dua puluhan. Bahkan jika Zee disandingkan disebelah Arka, wanita itu tak seperti terlihat lebih tua darinya.
Arka mendengkus kasar. Bisa-bisanya ia memikirkan dirinya dan Zee disandingkan. Seperti yang pernah ia ucapkan pada sutradara Fauzan saat di Yogyakarta kemarin, rumah bisa hancur kalau mereka bersama. Pikiran konyol itu harus dibuang jauh-jauh dari kepalanya.
“Kenapa, sih?” tanya seseorang menyenggol bahu Arka.
“Eh? Kenapa?” Arka mengalihkan pandangan dari yang semulai terus memperhatikan gerak-gerik Zee menjadi menatap orang disebelahnya, Baim, sang manager.
“Ngelihatin apa, sih?” tanya Baim penasaran, tetapi ia tidak juga mengetahui kemana arah pandangan aktor binaannya tersebut.
“Enggak, gak apa-apa,” jawab Arka belum ingin membagi cerita tentangnya yang melibatkan Zee.
“Kayak gak fokus, lo,” komentar Baim menegur.
“Fokus, Bang! Gue fokus,” sahut Arka yang telah sepenuhnya memperhatikan naskah ditangannya. “Mulai sekarang fokusnya,” tambah aktor tampan tersebut.
Baim memutar kedua bola matanya malas. Terkadang, Arka bisa terlalu menggampangkan pekerjaannya yang butuh keseriusan.
“Syuting tinggal dua minggu lagi, jangan sampai mengecewakan semua yang sudah percaya sama lo,” ujar Baim mengingatkan.
Arka dengan cepat menatap managernya tersebut dengan mata menyipit. “Serius cuma dua minggu lagi?”
Entah mengapa ia merasa belum rela harus menyelesaikan proses pengambilan gambar film ini.
“Itu sudah molor, Ka! Harusnya malah minggu ini selesai,” sahut Baim.
Pemuda itu menghela napasnya panjang. “Iya juga, sih! Yang di Jogja kemaren kelamaan.”
“Setelah ini selesai, lo ada beberapa proyek iklan yang syuting di Jepang. Dua bulan setelahnya mulai syuting mini seri. Gue harap itu cukup buat lo ngelepasin karakter Galang dan masuk lagi ke karakter selanjutnya,” pesan Baim penuh harap.
“Jangan khawatir, Bang! Gue pasti bisa eksekusi semuanya semaksimal mungkin,” sahut Arka yakin.
“Harus!”
Beberapa saat kemudian, Arka telah memasuki set dan syuting pun dimulai. Sama seperti hari-hari sebelumnya, performa Arka dalam memainkan sosok Galang yang religius, kalem, sekaligus tegas itu tergambar dengan sempurna. Bahkan pria itu juga tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan scene demi scene.
Disamping sang sutradara, beberapa kru ikut memonitor akting Arka melalui layar kamera. Salah satunya adalah Zee yang terus lekat monitor. Ia tak banyak berkomentar. Arka memainkan sosok Galang dengan sangat sesuai seperti yang ia inginkan. Wanita itu pun mengakui kualitas seorang Arka dan cukup menyesal hampir menolak pria itu memerankan tokoh kesayangannya.
Saking seriusnya menatap monitor, Zee sampai tidak menyadari saat kru yang bertugas memegang mikrofon berjalan mundur hingga menabraknya.
“Aawwshh,” pekik wanita itu bersamaan dengan tubuhnya yang jatuh ke lantai cukup keras.
“Mbak!”
Arka yang mendengar rintihan Zee dari set yang tak terlalu jauh itu langsung berseru keras. Tak hanya menengok hingga sutradara memotong scene yang sedang berjalan, Arka juga melompat mendekat pada Zee. Pria itu berjongkok dan meraih bahu Zee yang masih terduduk di lantai sambil meringis. Mata Arka memindai seluruh tubuh Zee, mencari-cari apakah ada yang terluka?
“Mbak gak apa-apa?” tanya pria itu dengan suara yang bergetar.
Setiap pasang telinga yang mendengar nada bertanya Arka secara refleks mengernyitkan dahi. Pemandangan itu sungguh tak biasa.
Zee yang merasa canggung dan tak enak dengan cepat melepaskan tangan Arka dari bahunya. Namun, pria itu sepertinya tidak menyadari pandangan aneh yang kini tertuju padanya. Ia malah kembali menyentuh Zee dan membantunya berdiri.
“Aku gak apa-apa,” lirih Zee supaya hanya Arka yang mendengar. “Cepetan balik ke set! Kamu dilihatin orang-orang,” tegurnya.
Dahi Arka mengernyit bersamaan dengan kepalanya yang menengok pada sekitar. Benar saja, suasana begitu hening saat ini, memperhatikan refleks Arka yang terlihat berlebihan dimata mereka. Bahkan saat pandangannya bertatapan dengan Baim yang berada tak jauh darinya pun ia kembali mendapatkan teguran serupa melalui tatapan serta gerak bibir pria berusia tiga puluhan tersebut.
Arka menghela napasnya kasar, lalu menatap kru yang tadi menabrak Zee. “Hati-hati, Mas!” tegur Arka mengabaikan pandangan orang.
“Iya, Mas,” sahut kru tersebut sambil menundukkan kepala. “Maaf, Bu Zee.”
“Tidak apa-apa,” balas Zee dengan tangan yang agak mendorong Arka menjauh.
“Sudah! Ayo kita mulai lagi!” seru sutradar Fauzan memecah keheningan.
Arka pun tanpa basa-basi lagi kembali ke tengah set, dimana Freya lawan mainnya menunggu disana.
Wanita yang memainkan peran gadis berhijab itu menyenggol bahu Arka sambil tersenyum jahil. “Lebay banget, Mas!” selorohnya.
“Cuma nolongin, apanya yang lebay? Daripada orang lain yang cuma ngeliatin aja, gak mau nolong,” sahut Arka sambil merapikan pakaiannya sebelum dimulai take.
“Oh, pahlawan,” goda Freya belum juga berhenti. “Kalau gue yang jatuh begitu, lo mau nolongin juga, gak?”
“Tergantung,” sahut Arka tak acuh.
“Tergantung apaan?” tanya Freya memancing.
“Tergantung ada orang lain yang nolongin atau enggak? Kalau udah gak ada lagi yang mau nolong lo, ya terpaksa gue tolongin,” jawab Arka sekenanya.
“Kok gitu?” protes Freya. “Padahal tadi kalau lo gak buru-buru kesana, pasti ada orang lain yang nyamperin.”
“Udah, lupain! Jangan sampek molor lagi,” tegur Arka bersiap.
Freya mencibir dengan bibirnya, tetapi tidak mengungkapkan. Ia kembali mengatur ekspresi seperti yang tertulis pada naskah, begitu juga dengan Arka yang telah siap. Begitu sutradara Fauzan mengisyaratkan mereka untuk beraksi, keduanya pun mulai berakting dengan baik.
Sepertinya itu bukanlah reaksi refleks Arka yang pertama dan terakhir. Di hari-hari selanjutnya, ia juga tanpa sadar hampir melakukan hal yang serupa. Beruntung di saat-saat tertentu ada Baim atau lawan mainnya yang mencegah refleks Arka mendekati Zee. Jika dibiarkan, orang-orang pasti akan mulai curiga dan menerka-nerka. Pada akhirnya, hal itu akan membuat Zee semakin tidak nyaman.
“Kenapa ceroboh banget, sih?” gerutu Arka saat dari jauh melihat Zee yang lagi-lagi terkena masalah. Entah tersandung, kertas-kertas yang dibawanya jatuh, bahkan saat makanan atau minuman Zee yang tak sengaja berceceran.
Tanpa disadari, matanya selalu mencari keberadaan Zee dan akan gelisah jika wanita itu tak ada dalam jarak pandangnya. Terlebih di hari terakhir syuting, ia mendapati Zee yang terlihat lesu hingga beberapa kali keluar masuk toilet. Karena tidak tahan dengan rasa penasarannya, Arka pun menemui wanita itu saat sedang istirahat.
“Mbak Zee sakit?” tanya pria itu langsung pada intinya saat menemui Zee di depan toilet perempuan.
Zee yang masih menyeka peluh di dahi dan lehernya itu segera menatap Arka begitu mendengar suaranya. Ia tak langsung menjawab seperti biasanya dan terlebih dahulu membuang tisu bekas pakai ke tong sampah.
“Kamu ngapain disini?” wanita itu balik bertanya dengan suara seraknya.
“Mbak gak kelihatan baik-baik saja,” balas Arka tanpa menjawab. Pria itu bahkan tanpa permisi menyentuh kening Zee dan cukup terkejut saat merasakan hawa panas yang menguar dari tubuh wanita itu.
Zee berjengkit kaget dan menampik telapak tangan Arka, lalu memandangnya dengan mata menyipit. “Cuma demam biasa, gak usah berlebihan!”
“Sudah periksa? Sudah minum obat? Mbak istirahat saja kalau sakit! Syuting juga sudah hampir selesai,” racau Arka dengan pertanyaan serta saran.
Wanita itu mendengkus lalu menatap tidak nyaman pada Arka yang jelas menunjukkan raut khawatirnya.
“Jangan membuatku tidak nyaman, Ka!” pinta Zee terdengar dingin.
“Ayo ke dokter!” seru aktor itu lagi-lagi tak mendengarkan permintaan Zee. Sungguh ia khawatir wanita itu kenapa-kenapa.
“ARKA!” Zee menyentak, tetapi segera memejamkan matanya, menahan kepalanya yang terasa pening setelah sedikit berteriak.
“Mbak gak baik-baik saja. Ayo periksa ke dokter! Aku takut Mbak hampphh,”
Buru-buru Zee membekap mulut Arka sambil memperhatikan sekitar dengan waspada. Setelah yakin tak ada siapa-siapa, ia kembali menatap Arka dengan nyalang.
“Hati-hati kalau bicara, jangan buat skandal! Kamu gak lupa permintaanku, ‘kan?” tegur Zee mendesis. “Dan enggak, aku gak seperti yang kamu pikirin. Aku sudah minum obat dari dokter, berapa kali lagi harus kujelaskan?”
Arka melepas tangan Zee yang menutup mulutnya. Tak hanya dahi, bahkan tangan wanita itu pun terasa panas dalam genggaman Arka.
“Aku cuma khawatir, Mbak,” ungkap pria itu jujur.
“Cuma demam biasa, jadi gak usah setakut itu,” balas Zee mengingatkan. “Dan kalaupun yang kamu takutkan terjadi, aku pasti bakalan bilang. Aku juga gak bakalan mau nanggung sendirian.”
Arka mengendurkan ketegangan yang sempat mendominasi dirinya. Wanita itu memang telah berkali-kali mengatakan untuk tidak khawatir, tapi tetap saja Arka tidak bisa mengontrol kewaspadaan yang membuatnya gelisah tersebut. Namun, ia juga harus percaya, bahwa Zee mengatakan yang sesungguhnya.
“Bener ya, Mbak, kalau kenapa-kenapa langsung bilang! Jangan disembunyiin apalagi dibawa kabur,” peringat Arka sungguh-sungguh.
“Kamu pikir ini novel yang dengan sembrononya kabur? Aku belum segila itu,” dengkus Zee masih dengan suara serak dan kepalanya yang pening. “Sudah, jangan banyak bicara! Kepalaku semakin pusing kalau kamu nuduh yang enggak-enggak!”
“Udah minum obat?” tanya Arka kemudian.
“Sudah,” jawab Zee singkat seraya berjalan meninggalkan Arka.
Pria itu masih terdiam di depan area toilet, menenangkan dirinya berusaha kembali biasa-biasa saja. Ini benar-benar aneh. Biasanya para perempuanlah yang lebih gelisah setelah mengalami tragedi seperti yang menimpa Zee, tetapi dalam kasus ini justru Arka, pihak prialah yang merasa hidupnya tidak tenang. Apakah cara kerja dunia benar-benar telah berbalik?