TERIMA KASIH

1086 Kata
“Jo, makasih ya udah menemani aku selama aku di rumah sakit dan maaf ya untuk kejadian tadi waktu di restoran Mama aku keppo banget sama hubungan kita,” ucap Helena sebelum ia keluar dari mobil Eljo dan masuk ke dalam kos-kosannya. “Iya sama-sama Len, dan untuk kejadian di restoran tadi menurut aku wajar sih namanya juga seorang ibu pasti jiwa ke ingin tahuannya itu tinggi banget,” jelas Eljo pada Helena. “Ya wajar sih wajar Jo, tapi untuk kasus Mamaku tadi udah gak wajar,” ucap Helena sembari ia ketawa dan hal itu membuat Eljo menjadi senang, karena ia bisa melihat senyuman pada diri Helena lagi setelah beberapa hari ini ia terlihat begitu murung. “Len terima kasih ya,” ucap Eljo sambil ia tersenyum kepada Helena. “Terima kasih untuk apa Jo?” tanya Helena yang tidak tahu dengan maksud perkataan ELjo padanya. “Terima kasih karena kamu mau tersenyum kembali dan aku merasa begitu bahagia bisa melihat senyumanmu lagi,” ucap Eljo yang membuat Helena tersenyum tipis. Ia bisa tersenyum hari ini bukan karena Helena sudah bisa melupakan permasalahannya tetapi ia tidak ingin membuat orang di sekitarnya menjadi iba dengan apa yang sedang Helena alami. Rasa sedih itu masih ada dan Helena yakin kalau rasa sedih dan rasa sakit yang diberikan oleh Yoga padanya akan terus ada sampai ia menutup usianya. Cinta yang ia pikir begitu tulus dan murni ternyata hanya semu semata karena perasaannya kini di rundung oleh kesedihan yang begitu mendalam. Helena bingung bagaimana caranya untuk bisa tetap bertahan hidup dengan kondisinya yang sedang berbadan dua seperti ini. bagaimana caranya untuk menyembunyikan perutnya yang semakin lama akan semakin membesar dan hal itu tidak akan bisa ia tutupi lagi. Rasa ketakutan akan stigma masyarakat pada dirinya yang hamil di luar nikah sukses membuat kepala Helena terasa begitu berat. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi jika hal yang tidak ia inginkan terjadi. Yoga laki-laki yang selalu mengatakan aku cinta padamu, aku janji akan selalu menemanimu, laki-laki yang selama ini di percayain oleh Helena dengan sadar dan dengan tega meninggalkan Helena dengan calon buah hatinya. Entah terbuat dari apa hati Yoga sampai ia tega menelantarkan wanita yang sedang mengandung buah hatinya. Apa ia tidak pernah berpikir kalau ia terlahir dari seorang wanita, apa ia tidak memikirkan bagaimana beratnya menjalani kehidupan sebagai single mom. Seorang single mom harus memikul beban yang terasa begitu berat seoran diri, ia akan berusaha dengan sekuat tenaganya untuk menghidupi anak-anaknya. Selain beban yang begitu berat pada pundaknya, ia juga harus memiliki telinga yang begitu tebal karena hinaan dari masyarakat sangat pedas sehingga bisa menjatuhkan mental seorang single mom. “Jo,” “Ya Len kenapa?” “Jo berjanjilah padaku kalau kamu gak akan membongkar rahasiaku kepada siapa pun,” ucap Helena dengan lirih. “Kamu tenang saja, rahasiamu akan terjaga.” “Ya udah kalau gitu aku masuk dulu ya Jo,” pamit Helena sambil ia keluar dari mobil milik Eljo. “Len, hati-hati ya dan kalau kamu butuh sesuatu jangan sungkan untuk memintanya kepadaku ,” ucap Eljo pada Helena. Sedangkan Helena yang mendengar hal tersebut hanya tersenyum dengan begitu tipis. Sesampainya ia di dalam kos, ia langsung di hampiri oleh sahabatnya yang bernama Maya. “Len,” panggil Maya yang sedari tadi duduk di ruang tamu yang ada di kosan mereka. Mendengar namanya di panggil Helena dengan refleks langsung melihat ke sumber suara tersebut dan di lihatnya Maya sedang berdiri di ruang tamu. “Aduh, kenapa harus ada Maya disini?” gumam Helena dalam hati, bukan karena ia tidak menyukai Maya tetapi ia belum siap bertemu dengan siapapun. Karena saat ini Helena membutuhkan waktu untuk sendiri untuk memikirkan solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang menimpanya. “Kamu dari mana aja?” tanya Maya dengan to the point. “Aku habis pulang dari Karanganyar May jadi beberapa hari ini aku gak ada di kosan,” jelas Helena sambil ia memegang leher belakangnya. “Kamu yakin kamu habis pulang dari Karanganyar?” tanya Maya lebih mendalam lagi. “Tentu saja aku habis pulang dari Karanganyar,” jawab Helena dengan raut wajah yang ia buat setenang mungkin. “Terus kamu naik apa? Bukannya motor kamu ada di kosan bukan, lalu gimana caranya kamu bisa pulang ke Karanganyar?” tanya Maya yang memiliki perasaan kalau sahabatnya ini telah menyembunyikan sesuatu dari dirinya, dan hal itu membuat Maya merasa tidak nyaman dengan hal itu karena bagaimanapun juga ia adalah sahabatnya Helena jadi ia harus tahu dengan semua hal yang sedang di alami oleh Helena. “Aku naik kereta, terus sampai di Solo aku minta di jemput sama saudara aku.” “Tumben kamu ke Karanganyar naik kereta.” “Iya e May, aku malas banget rasanya untuk mengendarai motor sendirian ke Karanganyar.” “Terus kenapa kamu tadi di antar sama Eljo dan bukan pacar kamu si Yoga itu?” “Oh, itu tadi kebetulan aja aku gak bisa menghubungi Yoga jadi aku minta tolong aja sama Eljo. Awalnya aku minta tolong ke Eljo untuk memberitahu Yoga untuk menjemputku, tapi ternyta si Yoga gak ada ya udah deh akhirnya si Eljo menawarkan diri untuk menjemputku,” jelas Helena dengan intonasi suara yang dibuat se tenang mungkin. Mendengar hal itu hanya membuat Maya mengangguk-anggukan kepalanya tanda kalau ia menerima alasan Helena. “May, aku ke kamarku dulu ya. aku ngantuk banget ini,” ucap Helena sambil ia menunjuk ke arahh kamarnya. “Oke kalau gitu, aku juga mau naik ini,” ucap Maya yang saat itu juga ingin kembali ke kamarnya yang terletak di lantai dua. . . Saat Eljo ingin pergi meninggalkan kediaman Helena, tiba-tiba saja ia melihat sebuah mobil sedan berwarna hitam mulai memasuk area pakir yang ada di kediaman Helena. Eljo yang melihat mobil sedan itu mulai merasa kalau mobil itu familiar dan ia merasa seperti kenal dengan orang yang berada di dalam mobil sedan tersebut. “Yoga!” pekik Eljo ketika ia melihat seorang pria bertubuh tegap keluar dari dalam mobil sedan tersebut. “Ngapain itu bocah datang kesini? Apa dia belum puas menyakiti Helena dan membuat Helena mempunyai permasalahan yang begitu pelik seperti ini,” gerutu ELjo dengan niatan ingin berjumpa dengan Yoga dan memukulnya karena ia merasa begitu jengkel dengan tingkah laku Yoga yang sangat tidak bertanggung jawab. Saat Eljo ingin melangkahkan kakinya keluar, tiba-tiba saja ia teringat dengan wajah lugu, polos Helena sehingga, membuat Eljo mengurungkan niatnya untuk memberikan pelajaran pada Yoga. Ia takut kalau ia gegabah dalam mengambil keputusan maka hal itu akan menjadi boomerang sendiri untuk dirinya dan Helena.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN