“Len, kata dokter kalau kondisimu seperti ini terus maka besok udah boleh pulang,” jelas Eljo sambil ia membukakan buah jeruk untuk Helena.
“Jo, kita gak ada kesempatan untuk menunggu besok. Kita harus pulang sekarang Jo,” ucap Helena dengan mimik wajah terlihat begitu tegang.
“Kenapa? kamu mau cari Yoga lagi? aku kan udah bilang sama kamu kalau kamu udah sembuh aku bakal membantu kamu untuk mencari Yoga, tapi untuk saat ini kamu gak bisa cari Yoga dulu,” jelas Eljo sambil ia terus mengupas kulit jeruk.
“Ini bukan masalah Yoga Jo, tapi ini orang tuaku ke Jogja dan ini baru di acara nikahan temannya Papahku. Gimana ini Jo?” kata Helena dengan penuh ketakutan.
“Serius kamu kalau papah mamah kamu ada di Jogja?”
“Serius Jo, ini lihat pesan dari Mamah aku. Mati aku Jo, mati ini aku Jo. Gimana ini Jo,” tanya Helena sembari ia mengigiti kuku tangan miliknya.
“Ya udah kalau gitu kita pulang sekarang aja gimana dan tanya sama mamah kamu mau ketemu dimana, jangan sampai kedua orang tua kamu mampir di kosan kamu,” usul Eljo pada Helena.
“Why? Mereka orang tua aku Jo, kenapa mereka tidak boleh mampir di kosan aku?” tanya Helena.
“Len … kamu ingat gak kalau di kosan kamu itu ada penjaga kosan yang mulutnya lemes banget. Dia bakal bilang sama orang tua kamu kalau kamu tidak ada di kosan selama beberapa hari dan kamu tau kan si penjaga kosan mu itu kalau bicara suka banget di lebih-lebihkan,”
“Asli … aku lupa Jo kalau aku punya penjaga kosan yang mulutnya lemes banget. Ya udah kalau gitu aku siap-siap dulu ya dan aku minta tolong ya sama kamu untuk mengantarku ketemu sama kedua orang tuaku,” pinta Helena sambil ia langsung membuka selimutnya.
“Oke siap, kalau gitu aku akan mengurus administrasimu dulu.”
“Owh iya Jo, kartu atm aku ada di dalam dompet aku ya, kamu bisa gunain kartuku untuk membayar biaya pengobatanku,” ucap Helena sembari ia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.
Setelah Helena masuk ke dalam kamar mandi, Eljo langsung bergegas untuk menyelesaikan masalah administrasi milik Helena.
Tetapi tanpa ia sangka saat Eljo sedang berjalan di lorong rumah sakit, tiba-tiba saja ia melihat kedua orang tuanya yang saat itu keliatan sedang memeriksa kondisi rumah sakit milik keluarga Eljo.
“Kenapa ada mama dan papa disini? Arghh … bukannya mama dan papa masih ada di Singapura terus kenapa mereka pergi ke sini?” gerutu Eljo sambil ia langsung berlari masuk lagi ke dalam kamar Helena dan ia langsung menutup pintu kamar Helena.
Kring … kring … bunyi ponsel pintar milik Eljo.
“Ngapain mama telpon?” ucap Eljo pada dirinya sendiri sambil ia terus memandangi layar ponsel miliknya.
“Eljo! Kamu udah selesai yang ngurus administrasiku?” tanya Helena yang sudah siap untuk pergi menemui kedua orang tuanya.
“Len .. len … sebaiknya kita perginya nanti aja,” ucap Eljo dengan gugup.
“Kenapa memangnya? Ini mamah papahku juga mau selesai lho acaranya tapi aku ngajak mereka untuk bertemu di resto kenanga,” jelas Helena sembari ia menunjukkan pesan dari Ayu.
“Yan anti saja, aku susah untuk menjelaskannya,” ucap Eljo yang tidak ingin Helena atau siapa pun tahu dengan jati dirinya.
Ia tidak ingin menjadi bahan perbincangan di kalangan mahasiswa kalau ia adalah penerus crazy rich yang ada di Pulau Jawa. Ia tidak ingin orang-orang tahu kalau ia adalah orang yang berasal dari keluarga yang cukup berada.
Ia tidak ingin kalau ia memiliki teman atau oran yang ia percayai mulai melihat dirinya sebagai seorang miliader dan bukan sebagai Eljo yang selalu semangat dalam segala hal.
Ia tidak ingin image anak kolongmerat dan suka semena-mena dengan orang biasa akan melekat pada dirinya seperti waktu ia masih duduk di bangku sekolah dasar.
“Jo kenapa sih Jo?” tanya Helena yang mulai curiga dengan tingkah laku aneh yang dimiliki oleh Eljo.
Saat Eljo ingin menjawab Helena tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintu kamar Helena dan dengan segera Eljo langsung masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar Helena. Ia takut kalau orang yang mengetuk pintu tersebut adalah rombongan keluarganya yang sedang melakukan sidak mendadak terhadap rumah sakit yang terpandang yang ada di kota Jogja.
“Hollo, selamat siang ibu,” sapa seorang wanita paruh baya yang terlihat begitu angun dengan dressnya yang berwarna putih tulang.
“Selamat siang Bu,” sapa Helena sambil ia tersenyum dengan begitu manis.
“Ibu perkenalkan saya Elizabeth dari tim manajemen rumah sakit Miracle. Mohon maaf jika saya menggangu wantunya dalam beristirahat.”
Menengar hal tersebut langsung membuat Helena bertanya-tanya, kenapa tim manajemen rumah sakit Miracle datang menemuinya. Apakah ia melakukan sebuah kesalahan sehingga membuat tim manajemen rumah sakit Miracle datang untuk menemuinya.
“Iya bu, ada apa ya bu? apa saya melakukan sebuah kesalahan pada rumah sakit ini? tapi saya tidak pernah memposting hal-hal yang aneh tentang rumah sakit Miracle,” jelas Helena sembari ia mengaruk-garu kulit kepalanya yang tidak terasa gatal.
Mendengar hal itu membuat Elizabeth tersenyum kecil dan ia pun mulai menjelaskan maksud dan tujuannya menemui Helena.
“Tentu saja bukan hal seperti itu bu yang membawa saya dan tim ke sini. Tapi kami hanya menyapa pasien yang dirawat di rumah sakit kami karena ini adalah agenda bulanan pada rumah sakit kami.”
“Oalah … aku pikir apa bu,” ucap Helena sambil ia menundukkan kepalanya sambil tertawa kecil.
“Kalau begitu saya permisi dulu ya bu, dan semoga ibu segera lekas sembuh. Selamat siang,” pamit Elizabeth pada Helena.
“Baik bu, selamat siang,” balas Helena sambil ia tersenyum dengan begitu ramah pada Elizabeth.
Mendengar langkah kaki tim manajemen mulai pergi dari kamar Helena membuat Eljo memberanikan diri untuk keluar dari dalam kamar mandi dan sontak hal itu langsung membuat Helena bertanya dengan tingkah laku Eljo yang menurutnya cukup aneh itu.
“Jo, kamu kenapa sih?” tanya Helena dengan penuh tanda tanya.
“Ah, gak apa-apa sih Len,” jawab Eljo sambil ia mentapa arah pintu
“Kalau gak ada apa-apa kenapa kamu langsung lari ke dalam kamar mandi?”
“Tadi perut aku rasanya sakit sekali, makannya aku langsung lari ke kamar mandi,” jelas Eljo sembari ia berjalan mendekat ke arah Helena.
“Kamu sakit perut? Kok bisa? Kamu pasti makan makanan yang tidak bersih kan,” tanya Helena dengan kawatir dengan kondisi sahabatnya itu.
“Sakit perut biasa kok Len,”
“Yakin kalau ini Cuma sakit perut biasa? Kalau kamu memang sedang tidak enak badan lebih baik kita memeriksanya Jo biar kita tahu apa yang sebenarnya terjadi pada perut kamu,” jelas Helena sambil ia memegang tangan Eljo.