“Pah gimana udah ada kabar dari Helena belum?” tanya Ayu pada Leon ayah Helena.
“Boro-boro ada kabar mah, hpnya aja ini gak aktif.”
“Lhoh terus Helena kemana pah? Itu anak kok akhir-akhir ini susah banget to di hubungi,” keluh Ayu pada suaminya.
“Yaa … namanya juga anak kuliahan mah, pasti lagi seru-serunya main sama teman kuliah itu.”
“Tapi pah, dulu-dulu Helena gak kaya gini lho pah. Sesibuk sibuknya Helena ia bakal mencoba untuk menghubungi kita pah,” jelas Ayu.
“Ya udah mah, namanya juga masih anak muda. Kita dulu waktu masih muda kan juga sukanya main terus.”
“Terus ini enaknya gimana pah? Masa kita terus menunggu Helena disini?”
“Kita tunggu di mall aja mah, tadi papah udah sempet bilang sama Helena kalau kita bakal nungguin dia di mall.”
“Oalah ya udah kalau gitu ayo pah kita ke mall sekarang, siapa tahu Helena sudah menunggu kita di mall.”
.
.
“Len, kita mau pergi kemana ini?” tanya Eljo sambil ia mulai menyalakan mesin mobil miliknya.
“Ke amplas Jo,” jawab Helena dengan singkat sambil ia mengaca dan memperhatikan penampilannya apakah sudah oke atau belum.
“Oke, kalau gitu kita ke amplas sekarang ya,” ucap Eljo sambil menancap gas mobil secara perlahan.
Tanpa di sadari ternyata Elizabeth sempat melihat Eljo keluar dari rumah sakit miliknya dan ia bertanya-tanya sedang apa putranya datang ke rumah sakit, karena setau dia putra semata wayangnya itu adalah orang yang paling anti dengan bau rumah sakit.
Semata kecil karena kesibukan kedua orang tua Eljo untuk mengurus bisnis keluarga membuat Eljo merasa kesepian dan akhirnya membuat dirinya sering jatuh sakit dan akhirnya membuat Eljo kecil sering bolak balik keluar masuk rumah sakit.
Sejak saat itu Eljo mulai membenci bau rumah sakit dan saat ia di minta untuk berkuliah di fakultas kedokteran dengan mentah-mentah Eljo menolak permintaan kedua orang tuanya. Menurutnya rumah sakit itu adalah tempat yang sangat mengerikan karena di sanalah ia kehilang kasih sayangdari kedua orang tuanya dan di rumah sakitlah ia melihat banyak orang yang tersakiti karena di tinggal pergi oleh orang terkasih.
“Eljo,” panggil Helena dengan lembut.
“Ya Len kenapa?” tanya Eljo sambil ia menengok ke arah Helena.
“Gak jadi deh,”
“Lhah kenapa kok gak jadi?”
“Tiba-tiba aku lupa dengan apa yang ada di dalam kepalaku,” jawab Helena dengan polosnya.
“Yakin kamu benaran lupa dengan apa yang ada di dalam kepalamu?”
“Yakin lah masa aku berbohong.”
“Oke deh kalau gitu. Owh iya Len ngomong-ngomong ada acara apa kok kedua orang tuamu datang ke Jogja?” tanya Eljo sambil ia melirik ke arah Helena.
“AKu juga gak tahu Jo kenapa kedua orang tuaku tiba-tiba di Jogja. Semoga aja Cuma main aja ya Jo, aku takut kalau kedua orang tua aku tau dengan kebenaran ini.”
“Lalu mau sampai kapan kamu akan menyembunyikan kehamilanmu? Ingat lho Len semakin lama perutmu akan semakin besar lho.”
“Iya Jo aku juga tahu kalau semakin lama aku menyembunyikan kebenaran ini maka akan ada saatnya kebenaran ini akan terungkap. Tapi aku belum siap kalau kebenaran ini akan terungkap sekarang Jo. Aku ingin mencari Yoga terlebih dahulu dan meminta pertangung jawabanya,” jelas Helena dengan lirih.
“Kamu yakin akan menunggu Yoga untuk bertangung jawab dengan kehamilanmu?”
“Tentu saja aku yakin lah Jo, anak yang aku kandung ini adalah anak Yoga darah dagingnya jadi dia harus bertangung jawab dengan apa yang telah ia lakukan kepadaku Jo. Aku tidak ingin anaku tumbuh tanpa figure seorang ayah, aku ingin anak aku tumbuh dengan limpahan kasih sayang,” ucap Helena sambil ia mengusap-ngusap perutnya.
“Apapun keputusan yang kamu ambil, aku akan selalu mendukungmu. Semangat ya Len, kamu pasti bisa” ucap Eljo sambil ia tersenyum dengan begitu manis kepada Helena.
Tak lama akhirnya mereka sampai juga di amplas
“Jo kamu yakin gak mau makan dulu sama orang tua aku? Kamu dari tadi pagi belum makan lho,” ajak Helena pada Eljo yang sedari tadi belum makan dan ia yakin kalau saat ini ELjo pasti kelaparan.
“Gak ah Len, aku nunggu kamu disini aja. Lagi pula gak enak lah kalau aku ikutan acara keluargamu, yang ada nanti situasi di dalam keluargamu akan terasa begitu canggung. Udah sana buruan, kasihan orang tua kamu sudah menunggu kamu,” ucap Eljo
“Jo … ayo lah makan bareng sama aku. Aku gak enak lah kalau kamu nungguin aku di pakiran kaya gini. Udah ayo jangan malu-malu to.”
“Gak usah Len gak apa-apa. Lagi pula aku juga merasa ngantuk banget jadi lebih baik aku tidur aja di mobil.”
Krucuk … Krucuk … bunyi perut Eljo yang menandakan ia sedang Manahan lapar.
“Tu kan kamu lapar. Udah lah ayo ikutan aku makan aja,” kata Helena sambil ia menarik tangan Eljo agar ia mau keluar dari mobil dan mengikutinya untuk makan di resto yang sudah di pesan oleh kedua orang tua Helena.
“Tapi Len.”
“Udah gak ada tapi-tapi, ini permintaan ibu hamil. Jadi kamu harus menurutinya,” renggek Helena pada Eljo.
Sambil menghela nafas yang begitu dalam akhirnya Eljo memutuskan untuk ikut pergi makan bersama dengan kedua orang tua Helena.
“Len, aku harap kamu akan segera menemukan kebahagianmu. Aku kangen dengan senyumanmu, dengan kecerewetanmu di pagi hari. Aku merindukan semua hal yang ada pada dirimu dan aku harap hal-hal yang ada pada dirimu akan muncul lagi dan semua permasalahan yang sedang menimpamu akan segera berakhir dan berganti dengan kebahagian yang tidak akan pernah hilang di telan oleh waktu,” harap Eljo dalam hati
Mungkin inilah yang dinamakan Cinta tidak harus memiliki, tetapi ia akan selalu ada di dalam hati kita. Ia akan selalu membuat hati kita merasakan apa itu manis pahitnya kehidupan.
Terkadang apa yang kita inginkan, yang kita perjuangkan tidak bisa kita miliki, tidak bisa kita raih. Bukan karena kita tidak berusaha untuk meraihnya namun, hal itu memilih untuk pergi meninggalkan kita sebelum kita mulai memperjuangkannya.
“Jo itu kedua orang tuaku,” ucap Helena yang membuat Eljo kembali tersadar dari lamunanya.
Mendengar hal itu membuat Eljo langsung melihat kea rah dua orang pasangan paruh baya yang melihat kea rah kedatangan dirinya dan Helena.
Entah kenapa tiba-tiba saja Eljo merasa begitu grogi, ia merasa takut kalau ia salah berbicara dengan kedua orang tua Helena dan hal itu akan membuat ia di pandangn buruk oleh kedua orang tua Helana yang ia kenal sangat kental dengan sopan santuan yang ada di wilayah Jogja dan sekitarnya.