“Mau kemana itu mereka berdua?” ucap Eljo yang sedari tadi menunggu di depan kos Helena.
“Wah, gak beres itu,” ucap Eljo sambil ia menyalakan mesin mobilnya dan ia mulai mengikuti Helena dan Yoga. Entah kenapa Eljo merasa kalau akan terjadi suatu hal yang kurang enak yang akan terjadi pada Helena.
.
.
“Yoga kita mau kemana?” tanya Helena yang langsung di suruh Yoga untuk masuk ke dalam mobil tanpa di beritahu tempat tujuan yang akan mereka kunjungi.
“Nanti kamu akan tahu sendiri dimana tempat yang akan kita datangi,” jawab Yoga dengan nada suara yang terdengar cuek dan acuh tak acuh dengan Helena.
“Kamu tidak akan melakukan hal-hal yang aneh kan Ga?” tanya Helena sambil ia menelan salivanya. Ia takut kalau ia akan di bawa ke suatu tempat yang mengerikan dan ia takut kalau Yoga akan melakukan kesalahan lagi dalam hidupnya.
Akhirnya setelah satu jam perjalanan, mereka pun sampai di sebuh desa yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan.
“Yoga, kita mau kemana? Kenapa kita berhenti disini?” tanya Helena pada Yoga yang memakirkan mobilnya di bawah sebuah pohon besar.
“Kamu akan tau nanti, udah ayo turun. Semakin cepat kita kesana maka semakin cepat juga permasalahan yang ada dalam hubungan kita selesai.”
“Maksud kamu apa? Jangan bilang kalau kamu ingin melenyapkan buah cinta kita,” tanya Helena dengan suara yang terdengar serak dan berat.
Mendengar hal itu membuat Yoga terdiam untuk beberapa saat, ia tidak tahu harus mengatakan hal apa lagi kepada Helena. Sejujurnya ia juga tidak tega melenyapkan buah hatinya sendiri tetapi ia juga tidak ingin masa depannya hancur karena ketidak tegaannya pada buah hatinya tersebut.
“Yoga jawab aku! Apa benar kamu membawa aku kesini itu untuk melenyapkan buah cinta kita? Yoga jawab aku!” pekik Helena sambil ia memukul bahu Yoga dengan tenaga yang ia miliki.
“Ayo kita turun dari mobil sekarang,” ucap Yoga dengan tatapan lurus kedepan dan ia mencoba untuk tidak mempedulikan tangisan Helena
“Aku gak mau. Aku ingin pulang sekarang Yoga, anterin aku pulang sekarang! aku gak ingin melenyapkan janin ini. aku gak mau ngelakuin dosa yang sangat berat Ga.”
“Apa kamu bilang? Dosa? Kamu ingin membahas dosa denganku? Apa kamu tidak ingat dengan apa yang telah kita lakukan? itu juga sudah berdosa Len, jadi buat apa lagi kita memikirkan dosa toh kita itu pendosa,” bentak Yoga yang mulai merasa jengkel dengan sikap Helena yang kekeh dengan pendiriannya untuk mempertahankan janin yang sedang ia kandung.
“Aku tahu kalau kita adalah pendosa tetapi apa salahnya janin ini? ia masih suci Yoga, dia tidak tahu dengan apa yang telah kita lakukan dan dia juga mempunyai hak untuk melihat dunia, dia mempunyai hak untuk hidup!” kata Helena sambil ia memegangi perutnya yang telah berisi dengan jiwa yang suci.
“Lalu bagaimana dengan hak kita untuk menjalani kehidupan ini dengan baik? Apa kamu tidak memikirkan masa depan kita? Apa kamu tidak memikirkan tentang study kita? Kenapa kamu bisa se-egois ini sih Len?”
“Ap kamu bilang? Aku egois? Kamu itu yang egois Ga. Kamu hanya memikirkan kehidupanmu sendiri tanpa kamu memikirkan bagaimana dengan nasib aku. Aku juga terluka Ga dengan kehamilan ku ini, tapi bukan berarti dengan kehamilanku dan pernikahan muda kita akan membuat kita terpuruk. Aku mohon Yoga jangan lakukan hal ini kepadaku, aku tidak bisa membiarkan anak aku di bunuh di depan mata aku sendiri. aku ini seorang ibu Ga, aku tidak akan bisa melihat anak aku di bunuh dengan cara yang begitu keji seperti itu,” hardik Helena pada Yoga.
“Len, tidak semudah itu untuk menikah dengan kondisi kita yang seperti ini. aku juga masih ingin melanjutkan studyku ke jenjang yang lebih tinggi lagi. aku tidak bisa Len untuk menikahimu di usia yang sekarang.”
“Ga, kamu sadar gak sih dengan apa yang kamu katakan kepadaku? Kamu tidak bisa menikahiku setelah apa yang kamu lakukan kepadaku? Terus selama ini apa makna hubungan kita di hidupmu? Aku benar-benar kecewa sama kamu Ga. Aku gak nyangka ya kamu bisa sejahat itu dan setega itu kepadaku,” ucap Helena sambil ia keluar dari mobil.
Hatinya terasa begitu sakit mendengar apa yang telah di ucapkan oleh Yoga pria yang selama ini ia kenal begitu baik dan bertangung jawab. Ia juga tidak menyangka kalau Yoga akan melakukan hal yang begitu fatal kepada dirinya dan pada calon buah hatinya.
“Yoga, kenapa kamu melakukan hal ini kepadaku? Kenapa kamu tega ingin membunuh darah dagingmu sendiri, kenapa kamu malakukan hal ini kepadaku dan buah hati kita? Dimana hati nurainimu Ga?” isak Helena sambil ia terjatuh di samping mobil sedan milik Yoga.
Tubuhnya terasa begitu lemas dan tidak berdaya untuk berjalan meninggalkan Yoga dengan pikiran jahatnya.
“Len, ayo ikut aku sekarang,” bentak Yoga tanpa ia memikirkan kondisi Helena yang terlihat begitu lemas dan tak berdaya.
“Aku gak mau Yoga! Aku gak mau untuk melakukan hal keji itu. Aku tidak bisa Yoga. Aku mohon lepaskan aku, aku mohon Yoga lepaskan aku,” renggek Helena pada Yoga yang terus menariknya dengan begitu kasar.
Sedangkan Eljo yang baru saja datang dan melihat perlakukan Yoga yang begitu kasar kepada Helena membuat darah pada diri Eljo mulai mendidih dan ia pun langsung berlari ke arah Helena dan Yoga.
“Wow!” teriak Eljo pada Yoga dan hal itu sontak membuat Yoga dan Helena membalikkan badannya.
“Eljo,” panggil Helena dengan lirih.
“Kamu ngapain kesini?” tanya Yoga dengan pandangan yang sinis.
“Aku yang seharusnya tanya sama kamu. Apa yang kamu lakukan di tempat seperti ini? kenapa kamu memperlakukan Helena seperti itu?”
“Itu bukan urusanmu, lebih baik sekarang kamu pergi dari sini. Ini urusanku dan Helena jadi selagi aku masih baik denganmu maka kamu pergilah dari sini dan jangan pernah terlibat lagi dalam urusanku dan Helena,” Bentak Yoga pada Eljo
“Urusan Helena adalah urusanku juga, lagipula Helena juga gak mau ikut sama kamu jadi seharusnya yang pergi itu kamu bukan aku!” bentak Eljo sambil ia memegangi Helena yang terlihat begitu pucat dan lemas.
“Jangan pernah kamu menyentuh kekasihku! Kamu pergi dari sini atau aku akan melakukan sesuatu hal yang akan membuatmu cacat seumur hidupmu!” ancam Yoga pada Eljo.
“Aku akan pergi dari sini tetapi aku harus membawa Helena pergi bersamaku!” balas Eljo sambil ia membantu Helena untuk berjalan.
“Lepaskan Helena!” teriak Yoga sambil ia memukul kepala bagian belakang milik Eljo dengan begitu keras dan Bukk …
“Eljo …” teriak Helena ketika ia melihat Eljo jatuh tersungkur
“Apa yang kamu lakukan Yoga? Apa yang kamu lakukan kepada sahabatmu sendiri?” maki Helena pada Yoga yang dengan tega memukul sahabatnya sendiri.