Agasta mengintip notifikasi dari ponselnya. Untung dia sudah meminta Irfan mengirimi chargernya. Ia mengambil handphone tergeletak disamping nakasnya, lalu membuka pesan dari Ranum. Mata Agasta membulat saat membaca pesan itu, darahnya seakan mendidih terbakar. Bagaimana mungkin Ranum menyerah dengan hubungan mereka, padahal selama ini Ranum terus bertahan. Bahkan dengan sikap cueknya. "Om Agas.." Pintu ruangan Agasta terbuka menampakkan Intan berlari menghampirinya. "Kok Om Agas disini, padahal Intan udah tungguin om pulang." Protesnya. Athala tersenyum gundah, kalau bukan Intan merengek dia tak mungkin menyusuli Agasta di rumah sakit. "Maaf gue nyusul kesini. Tadi Intan ngerengek mau ketemu lo." Jelas Athala berjalan dibelakang Intan. Agasta langsung membiarkan Intan duduk samping

