Mata Afifah membulat memandang Barra. Ia menoleh sumber suara Barra. "Barra..." Barra berjalan mendekati dengan tatapannya yang begitu tajam. Hati serasa panas, seperti ada suatu yang membakar, hingga tampak wajah sangat cemburu. Ini bukanlah pertemuan pertama Barra dan Arya. Sebelumnya mereka sudah pernah bertemu disekolah Fara. Dokter Arya pun seketika menoleh, ia tersenyum. Lelaki itu sama sekali tidak mengetahui tentang siapa Barra. "Anda ayahnya Reisya kan. Mau jemput Reisya?" Tanya Dokter Arya pada Barra. "Iya.. sekalian ingin mengajak Fara jalan-jalan." Jawabnya dengan wajah datar Barra. "Bolehkan, Fah." Menahan amarah itu seperti kerikil yang tersumbat dengan batuan besar. Itulah yang Barra rasakan, amarahnya tertahan, ia menggepal kedua tangannya. "Iya.. Boleh--" Belum juga

