Setelah puas menangis, Sheila pun meminta Faqih mengantarkannya pulang ke apartement yang berada di tengah ibukota tersebut. Sekarang mereka ada dalam perjalanan menuju pulang ke ibukota. Lagi-lagi Sheila memandang ke arah luar jendela. Bukan lagi memikirkan bagaimana ia nanti bertemu mamahnya, tetapi memikirkan bagaimana bisa sikap mamahnya berubah 360° bukan seperti yang ia kenal. Bukannya hubungan batin seorang anak dan mamahnya itu sangat kuat? Tetapi ia tak mau larut dalam kesedihan, ia tak mau larut dalam kepedihan. Semua skenario di hidupnya sudah di atur oleh Tuhan, tidak ada gunanya ia marah pada keadaan, tidak ada gunanya ia membenci mamahnya. Sekarang ia hanya perlu berdo'a supaya mamahnya akan mengingatnya. Tidak, ia tidak perlu memikirkan nasibnya, ada mamah dan tidak ada m

