Three

4293 Kata
Mereka nongkrong-nongkrong di warung Ma'e sambil becanda, itung-itung menghibur sheila yang sedang sedih. "Reyhan bolos yuk." Ucap Sheila. "Lah mau ngapain bosen ntar, enak di sini rame lagian juga baru jam 11." Jawab Reyhan heran "Kita latihan balapan, kan kemaren gagal tuh." "Hm...oke." Reyhan pun menyetujui ucapan Sheila. "Kalian ikut ngga?" Ajak Sheila kepada teman-teman yang lainnya. "Kita nyusul ntar pulang sekolah aja." Ucap Rizki. "Hooh siap, markas biasa." Ucap sheila kepada teman-temannya. "Ayok Rey, tapi lo anterin gue ke apart dulu kan gue ngga bawa motor." Ucap Sheila sambil mereka melangkahkan kakinya ke tembok belakang biasa. "Lah emang lu kesini naik apaan Sheil." "Bareng Faqih." Ucap Sheila datar. "Kenapa tiap gue denger tentang Faqih dari mulut Sheila kok anu gitu ya."  Batin Reyhan. "Oh iya rey motor lo taro dimana?" Tanya sheila. "Warung." Jawab Reyhan. "Oh." Memang anak-anak Celopatra sering memarkirkan motornya di warung luar sekolah, karna kalau mereka ingin membolos, itu akan mempermudah mereka. Sekarang di hadapan mereka ada tembok yang menjulang tinggi berwarna biru langit. "Lo duluan Sheil." Ucap Reyhan. "Lo balik badan gih kan gue pake rok." "Iya-iya." Reyhan pun segera membalikan badannya. "Jangan ngintip." Ucap Sheila "Iya Sheil ngga." "Awas aja kalo ngintip." "Enggak Sheila Cantik." Sheila pun segera memanjat tembok tersebut tidak butuh waktu lama, ia pun sekarang sudah berada di luar sekolahnya. "Reyhan cepet." Ucap Sheila dari balik tembok tersebut. Reyhan yang mendengar itupun segera membalikkan badannya dan mengikuti Sheila yaitu memanjat Tembok belakang. Sekarang mereka sedang menuju ke arah warung tempat Reyhan memarkirkan motornya. Karna di situ juga ada motor Faqih jadilah Sheila mengambil helm miliknya dan memakainya. Butuh waktu 20 menit untuk sampai ke apartement Sheila. "Rey yuk masuk." Reyhan dan Sheila pun masuk ke apartement itu. "Rey duduk dulu, lo mau minum apa?" Tawar Sheila. "Ah ngga usah repot-repot Sheil Jus jeruk aja." "Ye lu mah kebiasaan." Ucap Sheila sambil terkekeh. Setelah itu Sheila langsung pergi ke dapur untuk membuatkan Reyhan minuman dan membawakannya beberapa cemilan. "Rey di minum dulu nih." Ucap sheila sambil meletakan jus jeruknya di meja. "Iya." Jawab Reyhan. "Mm..Rey bentar gue mau ganti baju dulu, ngga enak lah masa pake rok." Sheila terkekeh. "Iya, jangan lama-lama nanti gue lumutan." Setelah itu Sheila langsung pergi ke kamarnya untuk mengganti bajunya.     Clana Jeans panjang warna putih, kaos oblong warna putih, jaket jeans warna biru dan sepatu adidas menjadi pilihannya kali ini. Setelah selesai mengganti pakaiannya Sheila pun keluar kamarnya dan menghampiri Reyhan "Yuk." Ajak Sheila. "Ayok." Jawab Reyhan. Mereka pun mengendarai motornya masing-masing dan sampai 20 menit kemudian mereka sampai di markas. Dan merekapun membuka helmnya dan turun dari motornya masing-masing. "Sheil, lo mau pake motor lo apa pake motor Drag yang kita buat?"  Tanya Reyhan Iya selain hobi balapan, Cleopatra juga hobi otak-atik motornya. Sedangkan motor Drag itu motor yang biasa buat balapan 201M "Pake motor gue aja Rey." Jawab Sheila mantap. "Lo yakin?" Tanya reyhan. "Ya, motor ini yang akan jadi sejarah gue balapan untuk terakhir kalinya." Ucap Sheila sambil memandang motor itu. Ia teringat ketika dulu memenangkan balapan dan ia mendapatkan hadiah ini. Ini akan jadi akhir dari sejarahnya balapan sejak umur 13 tahun. "Yaudah sini kuncinya, biar gue cek dulu keadaan mesinnya." Sheila pun memberikan kunci motornya ke Reyhan. Setelah kunci motor itu di tangan Reyhan, Reyhan segera menaiki motor Sheila dan mencoba memainkan pedal gas yang ada di tangannya itu. Setelah di rasa cukup, Reyhan turun dari motor Sheila dan mengecek keadaan mesinnya. "Ini mah tarikan gas nya kurang nih sama oli nya harus di ganti." Gumam Reyhan sambil menatap mesin itu. "Ya terus Gimana?" Tanya Sheila. "Ini harus di bongkar, bentar gue ngambil peralatan di dalem." "Oke." Reyhan pun segera masuk ke markasnya mengambil peralatan untuk membongkar motor Sheila. Setelah itu Reyhan langsung membongkar Motor Sheila "Reyhan boleh gue bantuin?" Tanya Sheila. "Ngga usah nanti kotor." Jawab Reyhan. "Yah... padahal gue pengen bantuin biar bisa." Ucap Sheila merajuk. "Yaudah liatin aja jangan ikutan nanti kotor." "Siap pak ketu." Ucap sheila dengan Semangat. Mereka berdua pun segera melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda itu, sesekali Sheila menanyakan bagian-bagian yang ada di motornya kepada Reyhan dan reyhan pun menjawabnya dengan rinci.        "Bahagiaku sederhana, cukup kamu tetap berada di sampingku apapun yang terjadi"                                                                              ~Reyhan~ Di lain tempat.... Laki-laki itu memasuki ruang kelas nya,  seluruh siswa menatap kehadiran lelaki itu. Lelaki itu tak memperdulikan tatapan seluruh siswa termasuk guru yang menerangkan pelajaran di depan, ia langsung duduk di bangkunya. "Hey kamu! Apa kamu ngga sadar ini jam berapa? Ini jam 8 dan kamu baru masuk! Terus kamu juga ngga ada sopan santunnya, ucapkan salam dulu, baru masuk bukannya langsung masuk aja!" Teriak guru itu dengan nada tinggi. Lelaki itu tak memperdulikan teriakan tersebut. "Kamu Budeg apa nggak denger!" Teriak guru itu lagi. "Lah bu budeg sama nggak denger kan sama." Celetuk salah satu siswa di kelas itu. Dan seketika tawa seluruh kelas pecah karna ucapan siswa tadi. "Diam!" Teriak guru itu lagi. Guru itu pun mendekati Faqih "Kamu ini nggak sopan banget ya sama guru!" Guru itu pun murka. Sedangkan Faqih hanya menatap guru itu dengan malas. "Sekarang juga kamu ke ruang BK!!!." Perintah guru itu sambil menunjuk faqih dengan jari telunjuknya. Kemudian Guru itupun menjewer telinga Faqih dan membawanya ke ruang BK. "Pak Anton dia terlambat masuk pada pelajaran saya dan dia tidak sopan kepada saya." Jelas guru itu. "Yasudah bu saya akan tangani anak ini." Jawab pak Anton. "Baik kalau begitu saya permisi pak." Setelah mengucapkan itu Guru itu pun pergi dari ruang BK. "Faqih sini duduk." Perintah pak Anton. Faqih pun segera duduk tanpa mengucap Terimakasih. Faqih memang malas mengucapkan terimakasih. "Kamu dari mana emangnya faqih sampe masuk kelas terlambat?" Tanya pak Anton lembut. "Kantin." Jawab Faqih datar. "Kamu tau kan kalau sekolah kita jam 7 sudah harus masuk kelas?" Tanya pak Anton lagi. "Tau." Jawabnya masih dengan nada datar. "Terus kamu kenapa ada di kantin pada jam masuk kelas?" Tanya pa anton lagi. "Pengen." Jawab faqih datar. Pa anton pun hanya membuang nafas kasar . Pak Anton guru BK yang paling sabar menghadapi murid-murid bermasalah, Pak Anton juga sudah bosan melihat dan menasehati Faqih,Sheila dan teman-temannya ketika mereka keluar masuk BK terus. Pak anton sangat mengenal sikap Faqih yang tidak sopan dan kalau di ajak berbicara dan ia selalu menjawabnya dengan singkat. "Dan kenapa kamu tidak sopan kepada ibu guru tadi?" Tanya pak Anton lagi, lagi dan lagi. "Males." Jawab Faqih. Pak Anton menghela nafas kasar. Memang sangat susah bicara dengan Faqih ketimbang bicara dengan teman-temannya. "Yasudah kamu boleh keluar dan masuk kelas, kamu juga harus minta maaf kepada ibu guru tadi." Jelas pak Anton dan hanya mendapat anggukan dari Faqih. Faqih keluar dari ruangan BK tersebut dan melangkahkan kakinya menuju ke kantin. Ia tidak peduli kepada Guru tadi. Faqih duduk di kursi yang berada di warung Ma'e. *Rame* itulah yang menggambarkan warung tersebut sekarang. Faqih merasa dia tidak melihat Sheila dari tadi. "Apa Sheila masuk kelas? Apa di Rooftop?" Fikir Faqih. Bel istirahat pun berbunyi nyaring sehingga siswa siswi di sekolah ini mengakhiri pelajarannya untuk memuaskan dahaga maupun perutnya. Faqih gelisah, sekarang ia merasa bersalah karna telah membentak Sheila, bola matanya terus mencari sesosok gadis cantik itu. Hingga pandangannya terjatuh pada dua orang yang sedang memakan makanannya. Faqih pun mendekati meja tadi. "Eh tau Sheila ngga? Tanya faqih. Yang di tanyai itupun seketika menghentikan acara makannya. "Lah Sheila nggak masuk kelas hari ini." Ucap salah satu dari mereka. Dan Faqih segera pergi dari hadapan dua perempuan tersebut. Dan berlari ke arah Rooftop. Dilihatnya Rooffop itu kosong tanpa ada satu orang pun. "Sheil, lo dimana." Batin Faqih sambil berlari meningalkan tempat itu. Faqih memutuskan untuk menanyakan ini kepada teman-temannya. "Eh Ki." Faqih memanggil nama Rizki. Rizki yang merasa namanya di panggil pun menengok ke sumber suara itu. "Apaan?" Tanya Rizki. "Sheila mana?" Tanya Faqih. "Setelah lo buat Sheila nangis, sekarang lo nyari dia, Hebat!" Ucap Rizki bertepuk tangan sambil tersenyum sinis. memang, ketika sheila pagi tadi menangis karna faqih, ia ada disana, menyaksikan semuanya. Faqih tercengang. Apakah benar Sheila menangis karna kata-katanya? Sekarang Faqih semakin merasa bersalah kepada Sheila. "Sheila kemana!?" Ucap Faqih dingin. "Lo ngga perlu tau Sheila kemana." Ucap Rizki tak kalah dingin. "b*****t!." Umpat Faqih. Faqih segera meninggalkan warung Ma'e dan memanjat tembok belakang sekolah. Pikirannya benar-benar kalut. "Sheila maaf." Gumam Faqih selama perjalanan pulang. Setelah sampai di apartement Sheila, Faqih segera membuka pintu apartement itu, kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana. Faqih segera keluar apartement itu sambil mencari-cari keadaan Sheila sampai ia tiba di sebuah taman yang kemarin ia dan Sheila datangi. Faqih duduk di salah satu bangku taman tersebut Ia mengusap wajahnya kasar. "Argh!!!" Teriak Faqih Frustasi. "Sheil lo dimana." Gumam Faqih lemas.      "Kehilangan seseorang yang kamu sayangi karna ulah kamu sendiri itu adalah suatu kesalahan besar."     ~Faqih~ *Markas*  Tempat itu tiba-tiba terlintas di Fikiran Faqih. Tanpa Fikir panjang Faqih segera melajukan motornya menuju tempat itu. Tidak butuh waktu lama untuk sampai pada tempat itu, buktinya sekarang ia sudah berada di tempat ini. Faqih membuka Helmnya dan turun dari motornya, baru beberapa langkah ia melihat sesuatu yang membuat hatinya sakit, Sangat sakit. Ia hanya bisa tersenyum getir             "Penyesalan memang berada di akhir maka merelakan adalah satu-satunya jalan bangkit dari keterpurukan." Ketika kita mencintai seseorang tetapi terkadang seseorang itu menjauh karna sikap keanak-kanakan kita." ....... "Kalo lo lebih bahagia sama dia, gue bisa apa." Gumam Faqih. Dan setelah itu ia urungkan niatnya untuk menghampiri Sheila. Sheila sedang tertawa terbahak-bahak melihat wajah Reyhan yang cemong karna ia poleskan bekas oli-oli  membersihkan motor tadi ke wajah Reyhan. "Parah muka lu njir." Ucap Sheila di sela tawanya. "Awas lo ya gue bales ntar." Jawab Reyhan. "Sini maju kalo berani." Tantang Sheila masih dengan tawanya. "Awas ya. Oh iya nih cobain gih motornya, tadi udah gue coba sih enak tarikan gas nya." Ucap Reyhan sambil memberikan kuci motor itu ke Sheila. Sheila mencoba motornya itu bolak-balik ke sana kemari sesekali ia juga melakukan aksi-aksi yang ringan tapi bisa membahayakan dirinya kalau ia tidak berhati-hati. "Hore Reyhan pinter deh benerin motornya." Ucap sheila sambil bertepuk tangan dalam keadaan motor masih melaju. "Ati-ati Sheila." Reyhan was-was. Karna ia tau Sheila adalah perempuan yang nekad. "Oke." Setelah mencobanya, Sheila turun dari motornya dan menghampiri Reyhan. "Reyhan istirahat yuk, sini biar gua bersiin mukanya." Tawar Sheila. "Ngga usah Sheil, gue bisa sendiri kok." Tolak Reyhan. "Sheila ngga nerima penolakan." Ucap Sheila. Sheila langsung membawa Reyhan untuk cuci muka, Sheila juga membersihkan muka Reyhan yang cemong-cemong karna ulahnya tadi dengan tisu. Setelah membersihkan mukanya, kedua orang tadi sekarang duduk di teras markas ini. "Rey laper." Ucap Sheila sambil memegang perutnya. "Cari makan yuk." Ajak Reyhan. "Mager....." tolak Sheila. "Lo mah hidup tuh ngga mau di bikin ribet banget sih." Ucap Reyhan gemas. "Bodo amat. Oh iya kan Rizki sama temen-temen mau kesini pulang Sekolah, sekalian nitip makan aja ya Rey." Ucap Sheil. "Iya-iya bentar gue Telfon dulu Rizkinya." Reyhan pun menelfon Rizki  menitipkan makanan untuknya dan untuk Sheila. "Halo ki."  Ucap Reyhan. "Yo ada apa Rey?" "Lo jadi kesini pulang sekolah?" "Nggak ppp...." "Lah kenapa?" Reyhan memotong omongan Rizki. "Makannya ada orang ngomong dengerin sampe selesai ngapa pak ketu." Ucap Rizki. "Iya-iya sorry, jadi lanjutkan nak." "Nggak pulang sekolah maksudnya mah pak ketu. Kita mau kesana sekarang karna gerbang udah di buka soalnya guru-guru pada kondangan."  Jelas Rizki panjang Lebar. "Oh." Jawab Reyhan. Rizki menghela nafas kasar. Udah ngomong panjang lebar cuman di jawab oh doang? Nih ketua lagi pms mungkin. Batin Rizki. "Jadi ada apa gerangan pak ketu menelfon saya." Ucap Rizki sok dramatis. "Jadi gue mau nitip Makanan buat gue sama Sheila, tolong bawain." "Astagfirullah, itu doang? "Iya, cepetan."     Setelah iti Reyhan mematikan sambungan Telfonnya secara sepihak. "Udah gue pesenin, mereka sebentar lagi kesini." Ucap Reyhan. "Lah ini kan masih jam setengah 2 siang sedangkan pulang jam 3." Jawab Shiela heran. "Guru-guru pada kondangan katanya." "Oh." Beberapa menit kemudian, motor-motor sport itu memasuki markas ini. "Horeee.... Rizki bawa makanan." Teriak Sheila girang. "Nih buat sheila yang cantik Rizki bawa makanan banyak." Ucap Rizki sembari menentengkan plastik kresek berisi makanan itu. Mereka semua memakan makanannya dengan lahap. "Hmmm.... kenyang." Ucap sheila sambil menepuk-nepuk perutnya. "Seneng kan udah kenyang mah?" Tanya Reyhan. "pasti Rey." Sheila terkekeh. "Gimana persiapan balapan lo Sheil?"tanya Rizki. "Tadi cuman benerin mesin motor doang sih." Ucap Sheila. "Oh iya tadi Faqih kesini nggak Sheil?" Tanya Rizki lagi. "Nggak tuh." Jawab sheila. "Oh kirain kesini, soalnya tadi dia nyariin lu." "Biarin aja." Ucap Reyhan tak suka. "Apa bener Faqih nyariin gue."  Batin Sheila. Mereka pun menghabiskan waktunya di markas ini, sudah terlalu nyaman. "Eh pulang yuk udah jam 8  malem." Ajak Sheila kepada teman-temannya. "Bokap, nyokap gue ngga ada Sheil. Jadi gue disini dulu." Ucap Rizki. "Yaudah gue pulang duluan ya." Ucap Sheila. "Ati-ati Sheil." Ucap Rizki dan teman-teman yang lainnya. "Oke." Sheila melangkahkan kakinya menuju motor sportnya, baru beberapa langkah, langkahnya harus terhenti akibat suara orang itu. "Sheil gue ikut." Ucap Lelaki itu. "Oke Rey." Jawab sheila menyetujui pernyataan reyhan. Reyhan menyetarakan langkahnya dengan Sheila. "Gue anter lo dulu, setelah lo masuk apart baru gue pulang." Ucap Reyhan tiba-tiba. "Lah kan kita sama-sama bawa motor." "Gue ntar ada di belakang lo Sheila, masa motornya mau di tumpuk jadi satu." "Oh gitu." Sheila menganggukkan kepalanya paham. Sheila dan Reyhan menaiki motornya sendiri-sendiri, berperang dengan angin malam yang sangat menusuk kulit. "Makasih Rey. Gue masuk dulu, BTW  ati-ati di jalan." Ucap Sheila setelah berada di depan Apartementnya. "Iya Sheil sama-sama." Setelah Sheila masuk ke dalam Apartement itu Reyhan melajukan motornya menuju Rumahnya. "Lo kemana aja." Suara itu tiba-tiba mengagetkan Sheila yang baru membuka pintu apartementnya. Dilihatnya ada seorang laki-laki yang duduk di sofa dan memunggunginya. "Lo tadi kemana!" Suara itu meninggi. "Gu...guee...abis..saamaa Reyhan." Ucap Sheila gugup sambil menundukan pandangannya "Lo pacaran sama Reyhan?." Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari mulut Faqih. "Nggak, kita cuman temen." Bantah Sheila. "Temen?" Lelaki itu berdiri dari duduknya dan menghadap Sheila. "I..iyaa.. lo sama Reyhan itu temen gue." Ucap Sheila ketakutan. Deg! Deg!   "Ketika gue pengen di prioritasin disitulah gue lupa, gue siapa?" ~Faqih~ Faqih menatap Sheila yang sedang menunduk itu, Faqih memegang pipi Sheila mengangkat wajah Sheila untuk menatapnya. Tatapan nereka bertemu hati Faqih sakit melihat Sheila yang ketakutan Lagi- lagi karna ulahnya.  "Maaf." Ucap Faqih lirih dan segera memeluk Sheila. Tangis Sheila pecah setelah berada di pelukan Faqih. "Maaf Sheil." Ucap Faqih berulang ulang. Sheila mengurai pelukan mereka. "It's okey. Maafin Sheila juga udah buat Faqih kesel." Sheila tersenyum tulus meski sisa-sisa air matanya masih terlihat. "Qih gue mau ke kamar dulu, ntar abis itu kita nonton pacar gue ya di TV." Ucap Sheila girang. "Emang punya pacar?" Tanya Faqih meledek. "Punya dong. Ganteng lagi." Ucap Sheila bangga. "Iyain biar cepet." Sheila langsung berlari ke kamarnya untuk membersihkan dirinya. Setelah itu Sheila memakai piama nya dan kembali ke ruang TV. Mereka duduk di sofa sambil melihat tayangan Badminton yang sedang berlangsung di salah satu TV Nasional. "Jojo is mineeeeeee." Teriak Sheila kagum. "Bang Jojo ganteng ga nahannnn." Teriak Sheila lagi. "Gantengan juga gue." Ucap Faqih datar. "Pedeeeeee." "Dih fakta ya." Faqih tidak terima karena ia merasa bahwa ia lebih tampan dari Jojo. "Pokoknya Jojo ganteng titik." Ucap Sheila kemudian ia serius lagi ke acara Badminton tadi. Dan skor terakhir dari permainan jojo adalah 19-21, 21-19 dan 21-17. Yes pacar gue menangggg bang Jojo gue makin cintaaaaa...." Teriak Sheila heboh. Faqih hanya memutar bola matanya malas. "Sheil cari makan yuk." Ucap Faqih tiba-tiba. "Males." Jawab Sheila. "Ayok Sheilll...." ucap Faqih sembari menarik-narik tangan Sheila suapaya ia bangun dari duduknya. "Pemaksaan." Ucap Sheila. "Bodo amat. Ayok Sheillll." Ajak Faqih lagi. "Iya-iya bentar gue ambil jaket, dingin." Sheila pun segera mengambil jaketnya dan memakainya. "Yuk." Ajak Sheila. Mereka pun mencari makanan menggunakan motor Faqih, tidak butuh waktu lama, sekarang mereka sedang mengantri untuk mendapatkan makanan tersebut. "Yeay soto nya udah datengg..." ucap Sheila girang karna sudah lama ia mengantri dan akhirnya ia mendapatkan soto tersebut. Soto yang mereka makan ini terletak di pinggir jalan. Tenang makanan ini higienis kok. Setelah mereka menghabiskan masing-masing porsi makanan itu Faqih segera membayar makanan tersebut dan mereka pulang ke apartement Sheila. "Good night Sheila nice dream." Ucap Faqih setelah mereka memutuskan untuk melanjutkan malam ini dengan Tidur. "Too, ice prince." Jawab Sheila. Mereka pun segera memasuki kamar masing-masing untuk pergi ke alam mimpi. . . "Aku ingin pisah." Ucap seorang wanita kepala tiga itu.   Seorang pria kaget dengan apa yang di ucapkan istrinya itu  "Tapi kenapa?." Tanyanya heran.     "Aku sudah mencintai pria lain." Deg!   Seketika pria itu menampar pipi kanan istrinya dan semua barang di rumah itu pecah dan tidak beraturan.      "KAMU MAU NINGGALIN SHEILA HAH!!." Ucap pria itu emosi.   "Aku ngga bermaksud ninggalin anak kita tetapi aku sudah nyaman dengan pria lain." Ucap wanita itu dengan airmata yang mengalir deras di pipinya. Dan tamparan ke dua pun melayang ke sisi kiri pipi wanita itu. Dan seketika pria itu meninggalkan wanita yang menangis tersedu-sedu. . . "MAHHH!!!!PAH!!!." Teriak Sheila histeris dan segera bangun dari tidur nya. Mimpi itu. Mimpi itu yang menghantui malam Sheila, mengganggu pikirannya. "Hikksss...hikss...." sheila menangis sambil menutup wajahnya. "Kenapa mamah, papah harus pisah hikss.." "Mamah, papah ngga cari Sheila saat sheila jauh dari kalian." Sheila duduk dan memeluk kedua lututnya, menyembunyikan wajahnya di tangannya. "Apa mamah, papah benci sama Sheila?" "Apa segitu hina-nya Sheila mah, pah?" "AKU BENCI KALIAAANNNN!!!!" Teriak Sheila histeris sambil menjambak rambutnya sendiri dan menangis tersedu-sedu. ....... AKU BENCI KALIAAANNNN!!!!" Teriakan itu menyadarkan faqih dari tidurnya. Jam menunjukan pukul 2 pagi. Dan suara itupun kembali terdengar di telinga Faqih. "Hikkkss...hikksss... aku benci mamah, papah." Suara itu terdengar kembali di telinga Faqih. "SHEILAAAAA...." Teriak Faqih dan segera berlari ke kamar Sheila. Saat Faqih ingin membuka pintunya sialnya pintu tersebut di kunci. "AKU BENCI KALIAANNN, AKU BENCI KELUARGA, AKU BENCIII!!!!!"  Teriakan Sheila benar- bear membuat Faqih panik bukan main. "SHEIL BUKA PINTUNYAA!!" Teriak Faqih dari luar. "SHEILA BUKA PINTUNYA!!" Teriak Faqih lagi. Tidak ada respon apapun dari dalam kamar Sheila. Yang ada hanya teriakan dan tangisan Sheila yang terdengar sangat menyakitkan. BRAKKKK!!!! Faqih mendobrak pintu kamar Sheila dan dia langsung berlari ke arah Sheila. Faqih memeluk Sheila yang sedang memeluk lututnya "Sheil... tenang ya..." ucap Faqih lembut sambil mengelus puncak kepala Sheila dengan Sayang. Isakan demi isakan keluar dari bibir Sheila, seakan menggambarkan betapa pedihnya kehidupan yang ia alami. "Sheila masih ada gue disini, gue akan selalau ada di samping lo saat terpuruk maupun saat bahagia jadi ngga ada alesan buat ngga bahagia." Ucap Faqih menenangkan. "Bahkan bukan hanya gue Sheil. Ada Reyhan, Rizki, Cleopatra, Amel sama Shela. Mereka bakalan tetep ada di samping Shiela saat Sheila terpuruk." "Sheil gue bakal ajak lo keluar dari kehidupan gelap lo menuju kehidupan yang lebih berwarna." Sheila terus menangis dan sampai-sampai ia tertidur karna kelelahan menangis. Faqih yang menyadari Sheila tertidur pun segera mengangkat tubuh Sheila dan membaringkannya di kasur Queen size nya. Di tatapnya Sheila yang tertidur dengan damai. "Sheil gue janji gimana pun caranya gue bakal buat lo bahagia." Faqih tersenyum. "Bahkan gue rela gue yang harus menderita asal gue masih bisa liat lo tersenyum." "Iya tersenyum bukan buat gue. Asal lo bahagia, gue pasti ikut bahagia kok." Setelah itu Faqih beranjak dari kamar Sheila dan melanjutkan tidurnya. ....... "Barang-barangnya udah semua kan? Tanya sheila. "Udah kok." Sheila dan Faqih merencanakan Weekend ini Sheila akan ikut Faqih ke rumah nya. Ya alasannya karna Faqih tidak mau jadi anak durhaka dan tidak mau merepotkan Sheila lagi. Terbukti sekarang jam 8 pagi mereka sudah rapih dengan Celana Jeans nya dan kemeja nya. "Qih apapun yang terjadi lo harus terus tegar okey?" Ucap Sheila setelah mereka selesai memakan sarapannya. "Siap Sheila yang cantik." Faqih terkekeh. "Lagi pula gue udah sadar kok ini takdir Tuhan, gue ngga mau ninggalin mamah sendirian pas mamah lagi ada di bawah. Gue merasa jadi anak durhaka yang ninggalin mamah sendirian pas lagi susah." Faqih tersenyum kecut. "Husssttt... udah ah, sekarang lo harus buktiin ya bahwa anak Broken home itu nggak selamanya akan terus terpuruk karna keadaan, ada saatnya kita bangit dan buktiin sama yang ngerendahin anak Broken Home bahwa kita bisa bangkit walaupun keluarga kita udah hancur." Ucap Sheila sambil tersenyum walau di hatinya sangat sakit. "Siap Sheil. Buktiin sama yang ngerendahin anak Broken Home bahwa kita bisa bangkit walaupun keluarga kita udah hancur." Faqih mengulangi kata-kata yang di ucapkan Sheila. "Yahhhhh..nanti nih apart sepi." Ucap Sheila lusuh. "Tenang aja ntar gue bakal sering-sering kesini kok." Faqih menyakinkan. "Janji?" Sheila mengangkat jari kelingkingnya. "Janji!" Ucap Faqih sambil menyatukan jari kelingking mereka. "Berangkat yuk! Gue mau ketemu sama mamah lo deh." Ucap Sheila girang. "Hmm..." Faqih hanya menjawabnya dengan gumaman. Mereka menaiki motor Sport milik Faqih dan butuh waktu 35 menit untuk sampai di rumah Faqih. Sekarang ia sudah berhadapan dengan Rumah yang sudah ia tinggalkan beberapa hari ini. Rumah ini sama masih bergaya klasik dengan cat putihnya. Saking sibuknya ia melamun sampai ia tidak menyadari sudah berapa lama kah ia memandangi rumah ini. "Faqih!" Ucap Sheila kesal. "Hah? Apa sheil?" Tanya Faqih cengo. "Kapan kita masuk, lo dari tadi diem mulu." "Iya-iya." Ucap faqih sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Kemudian mereka melangkahkan kakinya menuju pintu rumah tersebut. Langkah Faqih semakin memberat saat mereka semakin dekat dengan pintu rumah tersebut. Berbeda dengan Sheila yang nampaknya sangat antusias sekali. "Tokkk....tok....tok..." Sheila mengetuk pintu rumah tersebut. "Ya sebentar." Jawab suara wanita di dalamnya. Deg! Saat pertama kalinya lagi ia mendengar sura itu lagi. Detak jantung Faqih tidak beraturan, ia semakin merasa bersalah telah meninggalkan wanita yang ia sangat cintai ini. Wanita paruh baya itu membuka pintunya dan.... "Mah....." ucap Faqih lirih. Wanita paruh baya tersebut membeku, kemudian ia tiba-tiba menitihkan air matanya. Anaknya kembali? Apakah benar ini Faqih? Apakah pengelihatannya salah? Apakah Faqih akan pergi lagi? Persetan dengan itu semua, wanita paruh baya itu segera memeluk Faqih dan menangis di dalam pelukan itu. "Maafin Faqih mah udah ninggalin mamah sendirian." Ucap Faqih lirih. "Maafin Faqih mah. Faqih ngga seharusnya ninggalin mamah." Wanita itupun mengurai pelukannya dan menyeka air matanya ia sangat-sangat terharu, bahagia, perasaannya saat ini campur aduk. Sheila? Bahkan anak itu sudah meneteskan air matanya. Seandainya Sheila bisa ketemu mamah, apakah mamah masih sangat menyayangi Sheila? Seandainya Sheila ketemu mamah, apakah mamah akan ngajak Sheila buat tinggal bareng sama mamah? Seandainya mamah udah punya keluarga baru apakah mamah masih nganggep Sheila sebagai anak mamah? Seandainya Sheila tau mamah dimana... Sheila tersenyum miris mengingat keluarganya yang hancur, hancur sangat hancur sampai anak kecil yang tumbuh menjadi dewasa ini tidak mendapatkan kasih sayang ibunya maupun ayahnya. "Masuk yuk sayang. Kasian pacar kamunya masa berdiri terus." Ucap mamah Faqih mencairkan suasana. "Mamah tau aja." Faqih terkekeh. Sedangkan Sheila menyenggol lengan pria di sampingnya ini karna saat ini dia malu. Sedangkan pria itu hanya memasang cengiran tanpa dosanya. Mereka pun memasuki rumah Faqih yang tergolong mewah itu. Mereka pun duduk di ruang tamu. "Nama kamu siapa nak?" Tanya mamah Faqih kepada Sheila. "Sheila tante." Ucap Sheila gugup sambil mencium tangan Mamah Faqih tersebut. "Panggil mamah Dian aja ya biar enak." "Mm...iya tan..eh..mah." Sheila meruntuki kebodohannya. Ia benar-benar malu sekarang. "Berapa lama pacaran sama Faqih? Faqih anaknya bandel ngga? Kamu satu sekolah ya sama Faqih? Apa satu kelas? Faqih sama kamu ya pas Faqih ngga tinggal disini? Dia macem-macem ngga sama kamu? Dia masih ke club nggak? Dii....." "Mah kasian Sheila nya haus itu, masa tamunya ngga di kasih minum." Ucap Faqih menyela pertanyaan-pertanyaan mamahnya. Mamah Faqih menepuk jidatnya. "Aduh mamah lupa, kamu mau minum apa sayang?" Tanya mamah Dian pada Sheila. "Mm...air putih aja mah." "Yasudah ntar mamah bawain ya." Wanita itupun beranjak dari duduknya dan menuju ke dapur. "MAMAH MASA ANAKNYA NGGA DI TANYAIN DI BUATIN KEK SEKALIAN GITU..." teriak Faiqh dari kejauhan masa cuman Sheila doang yang di buatin minuman sedangkan dia nggak? Kan ngga adil. "BUAT SENDIRI..." Teriak mamahnya juga. Sheila terkekeh sekaligus miris mengingat keluarganya Damn it! Sheila benci keluarganya. "Kenapa saat Sheila hancur bukan keluarganya yang menolong dan menenagkannya? Kenapa harus Alkohol dan Rokok?" Batin Sheila. "Hey Sheil jangan ngelamun." Ucap Faqih sembari menggerakan tangannya di depan wajah Sheila. "Hmmm...apa? Nggak kok." Elak Sheila. "Lo lagi mikirin apa?" Tanya Faqih. "Nggak ada apa-apa." "Sheil jujur." Faqih memposisikan duduknya menatap Sheila. Oke Sheila akui ini sulit. "Gue iri sama keluarga lo. Lo masih punya ibu yang sayang banget sama lo sedangkan gue? Gue ngga tau mamah masih nganggep gue ada atau nggak di dunia ini." "Hey... liat gue." Faqih memegang pipi Sheila untuk menatapnya. "Lo nggak boleh sedih, mamah gue itu mamah lo Sheil." Ucap Faqih sambil menatap manik mata perempuan ini. Wanita paruh baya itu mendengar semua yang mereka bicarakan. Hatinya sakit sangat sakit mengetahui gadis yang baru saja ia kenal itu ternyata anak Broken Home. Ntah apa yang ada di pikiran orang tua Sheila saat ini dan yang pasti wanita paruh baya itu berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menyayangi Sheila seperti anak kandungnya sendiri, berusaha membuat Sheila merasakan hadirnya seorang ibu di hidupnya. Wanita paruh baya itu berjalan menuju ruang tamu dan meletakkan air putih, orange jus, dan beberapa cemilan ringan di meja yang ada di ruang tamu tersebut. Kemudian wanita paruh baya itu berjalan dan duduk di samping Sheila. Ia memeluk Sheila erat. " mulai sekarang Mamah Faqih itu mamah kamu sayang, mamah ngga akan biarin kamu sendirian, kalo ada apa-apa cerita ke mamah, kamu juga bisa tinggal disini." Detik itupun Sheila langsung membalas pelukan mamah Faqih yang sudah di klaim menjadi mamahnya juga. "Makasih mah.." hanya itu yang dapat Sheila ucapkan. Ia bahkan terlalu bahagia sekarang mengingat ia mempunyai tempat untuk mengadu walaupun ia tau bahwa ia bukan anak kandungnya. Faqih tersenyum. "Gue janji akan buat lo bahagia Sheil."  Batin Faqih. "Sheila sayang bantuin mamah yuk bikin kue ntar biar Faqih beresin barang-barangnya dulu." Ucap mamah Faqih. "Lets go mah.." jawab Sheila antusias.      "Tuhan tau apa yang terbaik untuk umatnya, terkadang di balik kesedihan Tuhan menyiapkan rencana yang sangat istimewa bagi umatnya yang sabar. ~Sheila Yanuar Gilbert~                                                                                 tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN