Four

3918 Kata
Sheila benar-benar menghabiskan waktu seharian nya di rumah Faqih hingga jam menunjukan pukul 8 malam. Sampai-sampai ia pun harus makan, dan membersihkan dirinya di rumah ini. Lihatlah sekarang ia memakai dress warna biru langit milik mamah Faqih jaman dulu. Sekarang ia dapat merasakan bahagianya punya ibu, bahagianya  punya keluarga, bahagianya bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu. "Faqih..." panggil Sheila. Mereka sekarang ada di taman belakang Rumah Faqih. Memang rumah ini terbilang cukup luas dengan taman belakang di belakannya, 3 kamar, ruang tamu dan ruang keluarga yang luas. "Faqih..." ucap Sheila lagi. "Ya ada apa?" "Pengen ke markas." Ucap Sheila. "Ngapain?" "Pengen latihan buat persiapan balapan. Kan sebentar lagi acaranya Qih." "Maaf gue ngga bisa ikut, gue mau nemenin mamah." "Nggak papa kok." Wait Balapan? Berarti ada Reyhan? Oke Faqih harus bisa menahan emosinya dan tetap harus terlihat tenang di depan Sheila. "Lo udah hubungin Reyhan?" Tanya Faqih memastikan. "Belum." "Yaudah hubungin dulu, kali aja dia ada di rumah." "Yaudah iya bentar gue hubungin Reyhan dulu." Shela mengambil ponsel di sakunya dan menghubungi Reyhan. "Halo Rey." "Iya Sheil ada apa?" "Lo ada di markas?" "Gue di rumah, gimana?" "Gue pengen latian balapan Rey, tapi ngga bawa motornya." "Yaudah lo dimana biar gue jemput." "Di rumah Faqih. Yaudah gue tunggu ya." "Lagi-lagi hati gue kek gimana gitu denger tentang Faqih lagi dari mulut Sehila." Batin Reyhan Sambungan Telfon itu pun terputus. "Gimana?" Tanya Faqih. "Reyhan mau kesini." "Lah kok kesini." Faqih heran. "Kan gue ga bawa motor jadi Reyhan kesini buat jemput gue dan nganterin ke apart buat ambil motor." Jelas Sheila. "Gue juga bisa nganterin lo Sheil." "Nggak. Gue udah banyak ngerepotin lo hari ini." "Tapi gue merasa nggak di repotin." "Dan faktanya gue ngerepotin banget." "Tapi gue ngga merasa di repotin." "Yayaya terserah." Sheila mengalah. Susah memang bicara sama ice prince yang sudah mencair di tangannya ini. Ting! Tiba-tiba suara notifikasi dari handphone Sheila berbunyi menandakan ada sebuah pesan masuk disana. Kemudian Sheila merogoh sakunya untuk mengambil Handphone tersebut. From : Reyhan "Gue ada di depan rumah Faqih." "Qih. Reyhan udah ada di depan, gue mau pamitan dulu sama mamah." "Maaahhhh...." panggil Faqih. Dan mamahnya pun segera menghampiri kedua insan tersebut. "Mah Sheila mau pulang dulu." Ucap Shila. "kamu nggak mau nginep disini sayang?" "Mungkin lain kali mah." "Oh yaudah, kamu pulang sama siapa?" "Sheila pulang sama temen Sheila mah." "Nggak di anterin Faqih aja?" Tanya mamah "Nggak usah Ngerepotin Faqih juga mah lagian temen Sheila udah nunggu di luar." "Yaudah hati-hati ya." Sheila segera mencium tangan mamahnya dan segera melangkahkan kakinya keluar dari rumah tersebut. "Qih gue pulang ya." Ucap Sheila setelah mereka sampai di depan pintu itu dan faqih hanya mengangguk mengiyakan. "Maaf Rey lama." Ucap Sheila setelah ia naik ke mobil Reyhan. Reyhan yang melihat sheila memakai dress warna biru langit itu ia melihat sheila yang lebih cantik, bahkan sangat cantik. "Rey?" Ucap Sheila menyadarkan Reyhan dari lamunannya. "Kok ngga jalan-jalan?" Tanya Sheila yang aneh ketika Reyhan tidak menjalankan mobilnya. "Eh iya." Jawab reyhan salah tingkah. Iya Reyhan bawa mobil, alasannya supaya Sheila tidak kedinginan. Setelah itu Reyhan langsung menancap gas nya meninggalkan Rumah mewah tersebut. "Semoga lo bahagia." Gumam Faqih menatap kepergian mobil itu. "Cie yang cemburu." Goda mamahnya Ntah datangnya dari mana, mamahnya ini sudah berada di belakangnya. Jadi ia juga melihat bahwa Sheila di jemput lelaki? "Apaan sih mah nggak." Elak Faqih. "Udah deh bilang aja cemburu gitu, susah banget." Mamah terkekeh. "Ngga ada hak juga Faqih cemburu mah, Sheila cuman Sahabat Faqih." Ucap Faqih lirih. "Kalau kamu bener-bener cinta, kejar dong. Masa anak mamah gitu aja putus asa." Ejek mamahnya. "Oke mamah tersayang... Faqih bakal buktiin Faqih bisa dapetin hati Sheila." Ucap Faqih dengan yakin lalu terkekeh. "Yuk ah masuk, dingin Qih." Mereka pun masuk ke dalam rumah tersebut dan menghabiskan malamnya dengan banyak bercerita tentang kehidupan Faqih selama jauh dari mamahnya dan pastinya tentang Sheila juga. "Rey lo ngga papa nganterin gue dulu ke apart?" Tanya Sheila. "Iya ngga papa." Setelah itu pun mereka kembali hening  dengan Sheila yang sibuk dengan Fikirannya dan Reyhan yang fokus menyetir. Selama perjalanan mereka hanya di temani oleh lagu yang mengalun menghasilkan nada-nada yang indah. "Sheil udah nyampe." Ucap Reyhan. "Lah ni anak tidur." Reyhan terkekeh. Ia pun segera mengangkat tubuh Sheila dan membawanya menuju apartemennya. Beruntungnya Reyhan sudah mengetahui pin apartement Sheila karna Reyhan salah satu orang yang Sheila percaya. Setelah memasuki apartement Sheila, Reyhan pun segera membaringkan tubuh Sheila ke king size nya, melepas sepatu Sheila dan tak lupa juga Reyhan menyelimuti Sheila sampe batas d**a. "Good night cantik." Ucap Reyhan lalu beranjak dari apartement itu menuju ke markas. Senyum Reyhan tak luntur sedikitpun ntah kenapa ia merasa bahagia sekarang. "Senyum-senyum muluuukkk di sangka gila baru tau rasa." Ucap Rizki menyambut kedatangan pak ketu nya ini yang dari tadi senyumnye kaga luntur-luntur. Reyhan tak menghiraukan ucapan Rizki dan terus melangkahkan kakinya menuju anak-anak yang sedang nongkrong sambil menikmati makanannya. Tiba-tiba Reyhan menyomot makanan itu tanpa memintanya terlebih dahulu. "Pak ketu modal dong." Ucap salah satu anggota Celopatra. "Tenang-tenang, gue ngeluarin uang mah satu dunia bisa gue beli." Ucap Reyhan dengan bangganya. "WOY COBA CEK BADANNYA PANAS NGGA?" Teriak Rizki dari kejauhan. Lelaki tadi tangsung menempelkan punggung tangannya ke dahi Reyhan setelah itu ia tempelkan ke p****t nya. "Wah ini mah panas." Ucap lelaki itu. Reyhan masih tetap tersenyum bahkan senyumnya ini sudah bisa di bilang overdosis. Rizki pun menghampiri Reyhan. Ia bergidik ngeri melihat Senyum yang di tampilkan Reyhan malam ini. "Njir... lo jangan senyum kek gitu lah Rey gue jadi takut nih." Ucap Rizki jujur. Dan apa yang di lakukan Reyhan? Ia malah menambah lebar senyumnya. "WOY AIR WOYYYY!!!" Ucap Rizki panik. Dan teman yang tadi langsung menyerahkan sebotol air mineral itu ke Rizki. Dan Riski langsung membasuh wajah Reyhan dengan air mineral itu. "Saha maneh." Ucap Rizki sambil memegang kepala Reyhan.     (Saha maneh=siapa kamu) "Aing maungg." Ucap Reyhan dengan suara berat dan seram.      (Aing maung=saya macan) "Anjir anjir nih anak kesurupan beneran... WOY PANGGIL PAK USTAD DEPAN KOMPLEK CEPET." Ucap Rizki benar-benar panik. "Hahahahaaa Goblok." Reyhan tertawa terpingkal-pingkal sambil menggebrak meja di sampingnya lalu memegangi perutnya Rizki cengo otaknya benar-benar lambat untuk merespon ini. "Yakali gue kesurupan, adanya juga lo nih harus di Ruqyah." Ucap Reyhan sambil membasuh muka Rizki dengan air mineral tadi. Shit! Rizki paham sekarang ia di permainkan. "Anjir gue kira beneran lo, abis tadi senyumnye kek orang kesurupan sih." "Muka lo kek orang gila depan komplek njir ." Reyhan masih tertawa karena hal tadi. "Bacot." Ucap Rizki merajuk. Reyhan meninggalkan tempat itu dan mengambil gitar yang ada di dalam markasnya dan mulai memainkannya. Reyhan menyanyikan lagu Dia yang di nyanyikan oleh Anji.  Di suatu hari Tanpa sengaja kita bertemu Aku yang pernah terluka Kembali mengenal cinta Hati ini kembali temukan Senyum yang hilang Semua itu karena dia Oh Tuhan, ku cinta dia Ku sayang dia, rindu dia Inginkan dia Utuhkanlah rasa cinta di hatiku… Hanya padanya, untuk dia Jauh waktu berjalan kita lalui bersama Betapa di setiap hari, ku jatuh cinta padanya Dicintai oleh dia ku merasa sempurna Semua itu karena dia Oh Tuhan ku cinta dia Ku sayang dia, rindu dia Inginkan dia Utuhkanlah rasa cinta di hatiku Hanya padanya, untuk dia "Kok gue kek denger suara-suara apa gitu ya dari tadi." Gumam Rizki. "Anjir gue juga." Ucap seseorang di sebelah Rizki yaitu temennya. "WOY DIEM WOY." Rizki mengintrupsi agar anak-anak di sekitarnya diam. Rizki memejamkan matanya dan menajamkan pengengarannya. Oh Tuhan ku cinta dia Ku sayang dia Rindu dia Inginkan dia Utuhkanlah rasa cinta di hatiku Hanya padanya, untuk dia. "Kampret... badut Ancol nyanyi nih gini suaranya sumbang." Gerutu Rizki. "Nyesel gue udah dengerin." Gerutu Rizki lagi. Reyhan meletakkan gitarnya di tempat semula setelah menyelesaikan lagu nya. "Halo everybody." Ucap Reyhan sambil melambaikan tangannya untuk menyapa. "Nah kan orang gila depan komplek dateng." Celetuk Rizki. "Lah lu ngga liat segini kembarannya Zayn malik gantengnya." Ucap Reyhan Pede. "Apa kembaran?? Kembaran dari Hongkong!." Rizki benar-benar di buat kesal oleh manusia ini. "Lah lu ngga liat segini muka kita satu duanya." "Apa satu dua?? Sampe bapak biskuit khong guan ketemu juga kaga bakal tuh muka mirip." "Emang dasarnya lo iri sih sama kegantengan gua, jadi gitu deh." "Ya ampun Rey...  muka kek p****t  panci gitu di banggain?"ucap Rizki tak percaya. "Heh p****t panci dari manannya? Orang Zayn juga mengakui kok kalo gua mukanye mirip ama dia." "Ngaca woy ngacaa... lo mah pantesnya di sandingin ama orang gila depan komplek noh baru cocok." Ucap Rizki mengejek. Ketika Reyhan ingin menjawab ucapan Rizki tiba-tiba suara seseorang di samping Rizki mengganggu perdebatanannya itu. "WOY lu umur udah pada tua-tua masalah kayak gini doang di perpanjang pake bawa-bawa abang gua lagi." What!!?? Abang?? "Zayn malik itu abang gua ya dia mewariskan ke tampanannya buat gue jadi lo-lo pada jangan ngarep buat dapetin ketampanan abang gue." Ucap lelaki itu dengan pedenya. "PEDEEEEE." Ucap Reyhan dan Rizki secara bersamaan. "Udah-udah jangan berteman, mari berantem." Ucap lelaki itu sambil tertawa. "Kampretttt..."ucap Rizki. Sheila mengerjapkan matanya akibat sinar matahari yang masuk melalui celah-celah hordeng kamarnya "Engghhhhh...." Sheila mengerang. Sheila tersadar akan sesuatu. "Yah pake hari senin lagi." Ucapnya lusuh.   Sheila langsung beranjak dari kamarnya, mengambil handuk dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.  20 menit berlalu ia pun sudah selesai dengan ritual mandinya dan memakai seragam putih abu-abu lengkap dengan dasi dan topi.  Tak lupa juga ia memoleskan make up tipis ke wajahnya itu dan menggerai rambut indahnya.  Sheila melirik arloji di tangannya. "Yah masih jam 7 lagi." Ucap Sheila kecewa. Sheila berjalana menuju keluar apartementnya, Setelah itu ia langsung mengambil motornya di garasi dan mengendarainya. Dalam waktu 15 menit ia pun sudah sampai di depan gerbang SMAN 1 PELITA ini.  Sheila turun dari motornya dan membuka helm Full face yang di pakainya "Pakk... bukain dong pagernya." Teriak Sheila dari luar pagar.  "Kamu lagi kamu lagi. Kamu ngga kapok-kapok ya telat mulu." Ucap pak satpam kesal. "Yaaa... suka-suka saya dong pa, Yang telat saya kok bapak yang sewot." Ucap Sheila. "Kamu itu ngelawan aja sama orang tua." Jawab pak satpam memarahi. "Bodo amat lah, bukain gerbangnya pak." "Awas aja kamu kalau telat lagi." Ucap Pak satpam menggerutu sambil membuka kan pintu gerbangnya.  Merasa mendapat aba-aba dari pak satpam, Sheila pun segera menaiki motornya dan melalui gerbang tersebut dengan aman, nyaman, damai, dan tentram. Setelah memarkirkan motornya dengan rapih, Sheila turun dan bergegas menuju siswa-siswi yang sudah berbaris rapih menggunakan seragam putih abu-abu yang sedang megikuti upacara bendera di lapangan.   Seketika langkahnya mendadak terhenti saat ia hendak memasuki barisan. "Kamu lagi, kamu lagi!!"ucap Pak Syarif marah sambil menunjuk ke arah Sheila.  Sheila hanya menatap datar orang yang sedang berbicara di depannya.  "Liat jam berapa ini!" Sambil menunjukan jam yang melingkar di tangan kirinya. "07.20" ucap Sheila datar.  "Itu artinya kamu telat 20 menit. Liat yang lain sudah berbaris rapih dan mengikuti upacara bendera, sedangkan kamu? Enak-enakan dateng siang!" "Ya terus?" Jawab Sheila. "Kamu itu sama guru ngga ada sopan-sopannya ya!" Ucap guru itu marah. "Sopan? Buat apa? Anda siapa? Orang tua saya juga bukan kok minta di sopan-in" jawab Sheila masih datar. PLAAAKKKKK!!! Tamparan itu mendarat di pipi kiri Sheila. Dan karena itu semua pasang mata tertuju padanya termasuk guru-guru dan pembina yang ada di situ dan upacara pun mendadak terhenti karna perihal itu. "Kamu sudah kurang ajar sama guru! Guru itu untuk di hormati dan di hargai! Bukannya untuk di lawan!"  Seketika rasa panas dan perih menjalar di pipinya. Sheila masih terlihat santai di depan orang yang sudah menamparnya tadi.  "Saya ini guru, saya patut di hormati di sini dan kamu berani-berani nya ngga sopan sama guru!! Orang tua kamu ngajarin apa hah!!! Pasti orang tua kamu malu punya anak kaya kamu!!." Ucap pak Syarif Dengan nada tinggi. "Udah?" Tanya Sheila datar. "Kamu bener-bener ngga sopan sama guru!! Pasti ibu kamu ngga mau ngakuin kamu anaknya kalo kamu ngelakuin hal kayak gini, malu-maluin orang tua tau ngga!!" Sheila menghiraukan ucapan guru itu dan dia segera pergi dari tempat itu untuk menenangkan fikirannya.   "KENAPA UPACARANYA BERHENTI!!!." Teriak pak Syarif. Dan seketika Protokol  itu melanjutkan bacaannya. "Sheil gue tau lo kuat"  batin Reyhan. "Sheila ada gue." Batin Faqih "Sheil Cleopatra di samping lo." Batin Rizki. Semilir angin itu menerpa wajah cantik Sheila, Asap itu terus ber hembus dari bibir mungil Sheila dan Earphone yang menyumbat telinganya menghantarkan sang pendengar agar lebih Relax dengan nada-nada slow yang di hasilkannya. Sheila tertawa miris.  "Pantes orang tua gue ngga nyari gue ternyata mereka malu punya anak kek gini." Sedangkan di lapangan upacara? Mereka tidak bisa membuat upacara itu lebih khitmat sebab kejadian tadi membuat mereka kaget dan tercengang. Siapa yang tidak kenal Sheila? Gadis cantik primadona di SMAN 1 PELITA ini selalu menjadi sorotan di sekolahnya dan di luar sekolahnya apalagi kejadian tadi terjadi di tempat umum otomatis berita tersebut menggemparkan SMAN 1 PELITA dan sekolah lainnya. "Calon bini gue kena tampar woy." "Yayang Sheila yang sabar ya beb." "Sheila your a stronger." "Udah telat, ngga sopan pula pantes dapet tampar juga." "Gila-gila Sheila kuat banget. Di marahin aja masih santai kek gitu." "Udah nakal bisanya cuman cari gara-gara pula." "Norak." Itulah sebagian dari gumaman anak SMAN 1 PELITA. Setelah upacara Selesai Reyhan dan Faqih pun segera mencari keberadaan Sheila sekarang.  "Kira-kira di mana ya Sheila?" Tanya Reyhan kepada Faqih. "Ma'e." Jawab Faquh datar. Mereka pun melangkahkan kakinya menuju warung nya Ma'e.  "Ma'e tadi sheila sempet ke sini nggak?" Tanya Reyhan. "Nggak tuh Rey, emang Sheila kemana?"  "Mm... yaudah Ma'e makasih ya."  Ucap Reyhan dan segera pergi dari warung tersebut bersama Faqih.  "Kemana lagi Qih?" Tanya Reyhan lagi. "Perpus." Jawab faqih asal. Walaupun ia tau Sheila tidak mungkin berada di perpus. "Emang lo yakin? Anak itu ke perpus? Tanya Reyhan meyakinkan. "Ya." Mereka pun menyusuri perpustakaan yang luas itu demi mencari-cari Sheila. Dan.... nihil! Sheila tak ada di situ.  "Qih kemana lagi?" Tanya Reyhan lagi, lagi, dan lagi. "Taman belakang." Sekarang Reyhan hanya bisa menuruti kemanapun saran Faqih karna ia juga sudah pusing memikirkan keberadaan Sheila.  "Duduk dulu, capek." Ucap Reyhan yang di dapati anggukan dari Faqih.   "Dia kuat ya Qih." Ucap Reyhan tiba-tiba dengan tatapan lurus.  Seketika Faqih menegok ke Reyhan. Apa maksud ucapannya tadi?  "Gue kagum sama dia." Ucap Reyhan lagi. "Dia itu cantik." Puji Reyhan tanpa sadar. "Baik, solid sama temen, penyayang." Kini Reyhan tersenyum membayangkan gadis itu. "Gue baru nemuin cewek kayak dia." Ucapnya lagu. Shit!s**t! "Dugaan gue bener." Batin Faqih. "Bersaing secara Sehat." Ucap Faqih dingin. What? Sekarang Reyhan tidak mengerti apa maksud dari ucapan Faqih. "Maksud lo?" Tanya Reyhan bingung.  "Bersaing secara Sehat." Faqih mengulang kata-kata itu dan ia segera bangkit dari duduknya dan meninggalkan Reyhan yang nampaknya bingung dan heran. "Maksudnya apaan?" Gumam Reyhan. Faqih melangkahkan kakinya menuju Rooftop untuk meredakan emosi yang di buat Reyhan tadi.  Ketika Faqih sudah berada di Rooftop, ia tersenyum. Gadis yang ia cari rupanya ada di sini. Faqih melangkahkan kakinya ke arah Sheila dan Faqih tiduran dengan bantalan kepalanya adalah paha Sheila.  Sheila yang mendapatkan Faqih tiduran di pahanya itu terlihat kaget dan aneh atas sikap Faqih ini.  Sheila melepas Earphone yang menyumbat telinganya itu tetapi asap rokok yang ia hembuskan belum juga selesai. "Gue cari-cariin dari tadi." Gumam Faqih sambil menatap ke langit "Lo nyariin gue?" Tanya Sheila. "Ya iyalah, cape tauuu." Ucap Faqih sambil menyeka ketingatnya.  (Padahal kaga ada keringet Qih Faqih:v) Author nimbrung ae:v "Ohhh...jadi cape?" Tanya Sheila sambil mengusap-usap dahi Faqih. "Iyaaa.." "Di suruh siapa nyariin?" Tanya Sheila. "Mmm...ngga di suruh siapa-siapa sih." Ucapnya sambil berfikir. "Terus kenapa masih nyariin?" "Kan khawatir gituuu... masa ngga tau sih." Ucap Faqih gemas.  Deg!deg! Ritme jantung Sheila tidak beraturan karna kata-kata itu. "Sheil mana bungkus rokoknya?" Tanya Faqih. "Nih." Sheila memberikan Bungkus rokok yang masih ada rokok di dalamnya itu kepada Faqih. "Lo bawa satu bungkus?" "Iya." "Lo udah ngabisin setengah dari satu bungkus rokok hari ini, ga baik." Ucap Faqih sambil melihat isi bungkus rokok Marlboro itu.  "Cuman 3 doang Kan itu isinya 16." Ucap Sheila. "Tetep aja ngga baik dan gue ngga suka."  "Lo juga sama kan ngerokok." "Gue ngga mau lo kenapa-napa." "Kok jantung gue gini sih." Batin Sheila "Sheil." Ucap Faqih kemudian bangkit untuk duduk di samping Sheila. Dan Faqih juga mengambil rokok yang Sheila gengam dan membuangnya kemudian menginjaknya. "Y..yaa." ucap Sheila gugup.  "Gue mau ngomong." Ucap Faqih sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Sheila. "Ngg...ngomong apa..aan" ucap Sheila gugup.  "Gue mau ngomong serius."  "Ngg...ngomong apaan?" Ritme jantung mereka berdua sudah tidak beraturan. Faqih semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Sheila. "Kue bikinan lo kemaren enak." Ucap Faqih tepat di depan wajah Sheila, Faqih terkekeh kemudian kembali ke tempat semulanya dan berusaha menormalkan detak jantungnya. "Ehh..iya, gue kira apaan." ucap Sheila salting.  "Gue pikir gue mau di tembak." Batin Sheila. "Ng..nggak." ucapnya. "Hayo apa?" Tanya Faqih gencar.  "Apaan si Qih nggak." Sheila memalingkan wajahnya berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya.  "Kok muka lo merah gitu sih." Ucap Faqih berniat menggoda Sheila.  Mendengar ucapan Faqih itu, Sheila segera menutup mukanya dengan tangan.  "Jangan di tutupin, cantik kok." Ucap Faqih serius. "Bacot." Ucap Sheila sambil terus menutup wajahnya. "Serius... coba deh liat mukanya." Ucap Faqih sambil memegang kedua tangan Sheila untuk menurunkan tangan itu.  Setelah tangannya turun, wajah Sheila benar-benar merah padam. "Tuh kan cantik kek ikan buntal." Ucap Faqih setelah itu ia berlari. "FAQIHHHHHHHH...." Sheila bangkit dan mengejar Faqih.  Dan jadilah mereka kejar-kejaran. "Jadi ini yang lo maksud Qih." Pria itu menatap pemandangan yang menggores hatinya.  "Gue pasti bisa dapetin Hati Sheila." Ucap pria itu yakin, setelah itu ia meninggalkan Rooftop itu. "Sheil udah Sheil capek." Ucap Faqih memegang lututnya.  "Ye suruh siapa ngatain"  "Iya deh janji ngga ngatain lagi." "Percuma janji tapi ntar ngulangin lagi." Ucap Sheila malas. "Kalo gue ngulangin lagi ntar gue janji lagi."  "Ihh.....Faqihhhh." ucap Sheila sambil mencubit perut Faqih. "Ampun sheil ampun, sakit ini." Ucap Faqih sambil memegangi perutnya yang tadi di cubit Sheila. "Bodo amat." Ucap Sheila meninggalkan Faqih dan mengibaskan rambut panjangnya. "Yah.... Sheila tungguin." Faqih mengejar Sheila yang sudah turun dari Rooftop.  Faqih mengejar Sheila untuk menyetarakan langkahnya.  Ketika posisi mereka sudah setara, Faqih menautkan tangannya ke tangan Sheila.  Damn! Kenapa jantung Sheila bekerja lebih cepat dan tidak normal. Pulang sekolah ia harus cek up ke spesialis jantung.  "Faqih apaan sih." Sheila risih dengan tatapan orang-orang di sekitarnya apalagi ini jam istirahat Sheila berusaha melepaskan genggaman tangan mereka.  "Yaudah sih biarin." Faqih mengeratkan genggaman tangan mereka.  "Bini gue selingkuh njir." "What!! Tadi kena tampar, sekarang udah gandeng-gandengan aja." "Ice prince gueeeeeeee." "Faqih kenapa kamu selingkuh sih beb." "Kok Faqih sama Sheila cocok ya." "Ice prince gandengan tangan wow!."  "Tuh pipi ngga papa yang?"  "Bad is always bad." Yayaya netijen-netijen sekolah SMAN 1 PELITA ini ngga ada habis-habisnya kalau soal ngomongin orang.  Tiba-tiba sebuah suara yang mengganggu masuk ke indra pendengaran Faqih dan Sheila. Langkah Faqih tiba-tiba terhenti, otomatis Sheila juga berhenti. Rahang Faqih mengeras tidak terima dengan ucapan orang itu.  Faqih menghadap orang yang ada di depannya dan mendekat ke wajahnya. "COBA LO NGOMONG LAGI ANJING!" Teriak Faqih tepat di wajah lelaki itu dengan nada emosinya. seketika semua perhatian dan oandangan siswa siswi yang berada di sekitar area itu tertuju pada Faqih. "Sekolah itu bukan buat mesum." Ucap orang itu datar.  "b*****t!" Umpat Faqih emosi. "Udah lah Qih mending kita ke kantin yuk." Ajak Sheila kepada Faqih sambil memegang lengan Faqih berusaha meredakan emosinya. "Urusan kita belum selesai Rey." Ucap Faqih kemudian meninggalkan Reyhan. "Udah Qih ngga usah di ambil hati." Ucap Sheila saat mereka menuju ke kantin. "Ya tetep aja Sheil gue ngga suka." Jawab faqih dengan nada keras kepalanya. "Yang penting kita ngga ngelakuin itu kan? Jadi udah lah ya." Sheila berusaha menenangkan faqih. "Hm." Gumam Faqih. "Ma'eeee." Ucap Sheila girang ketika mereka sudah berada di warung ma'e. "Eh Sheila baru dateng?" Tanya ma'e. "Hehe iya." Jawab Sheila di sertai cengirannya. "Yaudah mau pesen apa?" Tanya ma'e. "Qih lo mau apa?" Ucap Sheila kepada Faqih. "Mie." Jawab faqih datar. "Ma'e mie rebus 2 ya kasih telor minumnya air putih aja." Ucap Sheila kepada ma'e. "Iya sebentar ya." Setelah itu ma'e pun sibuk dengan aktivitas memasaknya. Sheila dan Faqih pun duduk di bangku yang ada di warung ini. Tatapan Faqih masih menyorotkan kemarahan dan emosi, rahangnya mengeras mengingat kejadian tadi.  "Hey." Ucap Sheila sambil melambaikan tangannya ke wajah Faqih. "Hm?" Tanya Faqih. "Yaelah gue di anggurin muluk." Ucap Sheila merajuk. "Ngga kok Sheila." Jawqb faqih menenangkan Sheila. "Sheil ini mie nya sama minumnya." Ucap ma'e sambil meletakkan makanan dan minuman itu di meja yang di tempati Sheila dan Faqih. "Makasih ma'e." Ucap Sheila sopan. Mereka menikmati makanannya dalam diam.  "Sheil." Ucap Faqih setelah mereka menyelesaikan makannya.  "Ya." Jawab Sheila. "Hari ini masuk kelas yuk." Ajak Faqih kepada Sheila. Sheila menempelkan punggung tangannya ke dahi Faqih. "Ngga panas." Ucapnya. "Sheila serius." Ucap Faqih dengan wajah seriusnya. "Gue dua rius." Jawab Sheila tak kalah serius. "Gue tiga rius Sheil." "Gue ber rius-rius Qih." "Iya deh terserah lo Sheil. Tapi hari ini masuk kelas yuk." Ajak Faqih lagi kepada Sheila. "Kalo lo mau masuk kelas ya tinggal masuk aja apa susahnya." Ucap Sheila setelah itu ia meneguk  kembali minumannya hingga tandas. "Ya kan gue pengennya bareng lo." "Lah lo pikun ya? Kan kelas kita beda lo IPA gue IPS." "Ya kan apa salahnya jadi anak baik." Tawa Sheila pecah seketika. "What anak baik?? Sejak kapan lo tobat Qih?" "Sejak kurang dari 1 menit yang lalu." "Wih-wih nih anak dapet hidayah." Ucap Sheila kagum. "Iya dong gue harus bisa bahagiain mamah." Ucap Faqih yakin. "Iya-iya yang udah ngga jadi anak durhaka mah beda aja." Sheila terkekeh. "Iya dong dari pada lo ngga punya mamah." Ucap Faqih bercanda. Sheila mendadak diam otaknya mencerna apa yang di katakan Faqih tadi. "Hidup gue miris!" Batinnya "Terkadang hal buruk di masalalu yang tidak ingin lagi untuk kita dengar malah di jadikan lelucon bagi  mereka." ~Sheila Yanuar Gilbert~ "Sheil." Ucap Faqih. "Sheil...." Faqih menepuk pundak Sheila. "Eh apa Qih?" Tanya Sheila. "Yaelah ngelamun mulu." "Hehe." Sheila hanya memasang wajah tanpa dosa nya. "Jadi ngga nih ke kelas?" Tanya Faqih. "Males." "Ayo dong Sheil yaa plisss." Faqih memohon. "Nggak." "Sheila cantik, manis, imut, lucu masuk kelas yuk." Rayu Faqih kepada Sheila. Sheila memutar bola matanya malas. "Giliran ada maunya doang muji-muji." "Yayaya mau ya.. ntar besok gue jemput deh." Tawar Faqih kepada Sheila. "Tawaran yang tidak menggiurkan." Faqih berfikir keras untuk mengajak Sheila masuk kelas dan mengikuti pelajaran di kelasnya. "Gue traktir ice cream sama gue anter jemput sekolah deh 1 minggu gimana?" Tawar Faqih lagi. Seketika mata Sheila berbinar senang. "Are you Seriously?" Tanya Sheila. "Iya-iya gue serius." "Tumben baik." "Iya deh terserah lo. Jadi gimana mau ngga?" "Hmmm.... iya deh." "Deal?"tanya Faqih sambil menjulurkan tangan kanannya. "Deal." Ucap Sheila sambil menjabat tangan Faqih. "Mm...tapi cuman hari ini doang kan?" Tanya Sheila. "Nggak. 1 minggu." Ucap Faqih datar. "What! Nggak-nggak." Ucap Sheila menolak. "Terserah, kan udah deal." "Ngga mauuuu." "Ngga boleh ngelanggar perjanjian." Ucap Faqih santai. "Tapi lo tau sendiri kan gue tuh paling males masuk kelasss." Faqih menghiraukan protesan-protesan yang di layangkan Sheila. "Maa'eeee." Panggil Faqih. Ma'e pun menghampiri Faqih "Iya Qih." Ucapnya. Faqih merogoh sakunya, mengeluarkan uang 20 ribuan dan langsung menyerahkannya ke ma'e. "Makasih nak Faqih." "Yuk Sheil." Faqih menggengam tangan Sheila untuk meninggalkan kawasan kantin tersebut. "Ih Faqih ngga mauuuuu..." Sheila terus merengek dan berusaha melepaskan genggaman itu. "Faqih ngga mauuuuu...." "Ngga mauuu Faqih....." Faqih terus mengenggam tangan Sheila sampai mereka tiba di kelas XI IPS 2. Faqih pun melepaskan genggaman tangannya. "Faqih kejam, laknat." Ucap Sheila kesal. "Belajar yang bener." Ucap Faqih sambil mengacak rambut Sheila lalu meninggalkan Sheila yang masih membeku dan kaget atas perlakuannya. "Jantung gueeeeee..." Batin Sheila sambil memegang jantungnya.                                                                                              tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN