Eight

3802 Kata
"Eh lo kok ada di sini?!" Ucap Sheila kaget dan reflek menengok orang itu. "Hayo kaget yaaaa..... hahaha..." tawa orang itu. "Ngga lucu kampret." Ucap Sheila cemberut. "Dih gitu aja ngambek, dasar baperan." "Dih gimana ngga ngambek ya gue udah sayang-sayang eh die nye kek bangsat." "Serem ye lu kalo marah." "Ya lu bayangin ae ki gimana rasanya jadi gue." Ucap Sheila dengan nada prihatin. "Yang sabar ya." Ucap Rizki sambil memakan coklat itu. "Ih... kok di makan sama lo sih, katanya buat guee...." ucap Sheila marah. "Dih katanya lo ngga mood."  "Lo ikhlas ngga sih ngasihnya." Sheila menampilkan wajah cemberutnya.  "Tadinya sih ikhlas. Tapi lo katanya ngga mau, jadi yaudah lah ya buat gue aja." Ucap Rizki kemudian ia melahap coklat itu lagi. "Bodo ah." Ucap Shiela kemudian memalingkan wajahnya dan melipat kedua tangannya di d**a. "Lo ngga mau nanya gitu kenapa gue bisa ada di sini?" Tutur Rizki. "Nggak." Jawab sheila singkat dengan masih memalingkan wajahnya.  "Oh yaudah." Mereka pun fokus pada pekerjaannya masing-masing. Sheila yang memikirkan sesuatu dan Rizki yang sibuk dengan coklatnya. Tiba-tiba Reyhan berjalan tergesa-gesa dan menghampiri Sheila dan Rizki yang sedang duduk itu. Reyhan membungkuk dan memegangi lututnya kemudian ia menyeka keringatnya. Rizki yang menyadari bahwa ketuanya itu habis di kejar setan "nafas dulu bang." Ucapnya. Reyhan pun mengatur nafasnya "HUH."  Reyhan mengeluarkan nafas kasar. Rizki bangkit daei duduknya. "Why?" Tanya Rizki kepada Reyhan. "Anak Cakrawala tadi nelfon gue, nah mereka minta balapan di majuin jadi besok malem. Lo gimana Sheil? Udah siap?" Tanya Reyhan. "Hm." Jawab Sheila dengan gumaman. "Eh lu apain Sheila woy!" Tanya Reyhan kepada Rizki.  "Itu Rey dia minta coklat." Jawab Rizki enteng sambil terus melahap coklat tersebut. "Lah terus ini apa?" Sambil mengambil alih coklat itu dari tangan Rizki ke tangannya. "Kan gue bilang ini buat Sheila, kok malah lo yang makan sih."  "Sheila ngga mau katanya." Ucap Rizki kemudian mengambil lagi coklat yang di tangan Reyhan kembali ke tangannya.  Sheila berdiri dan menyilangkan tangannya ke d**a. "Dia nya masa ngga mau ngebujuk gue buat  nerima coklat itu sih rey.." rajuk Sheila sambil menggandeng lengan Reyhan dan bersandar di bahu nya. "Calm Rey... lo ngga boleh kebawa perasaan." Batin Reyhan. "Ya udah ntar gue beliin lagi yang banyak, jadi gimana lo mau kan Sheil balapan sama anak cakrawala besok malem?" Tanya Reyhan lagi. "Janji ya beliin coklat yang banyaaaakkkkk? " Ucap Sheila sambil mengangkat jari kelingkingnya, otomatis Reyhan penyatukan jari kelingkingnya ke kelingking Sheila. "Janji." Ucapnya. "Tapi hari ini lo harus beresin motor gue ya Ki..." "Lah... kok gue sih?" Ucap Rizki tak terima. "Suruh siapa makan coklat yang aslinya buat gue." Kemudian Sheila langsung menggandeng Reyhan pergi dari tempat itu. "Ayok Rey, disini panas." Sheila dan Reyhan pun pergi dari tempat tersebut. "Bang iki ikutttt....." kemudian Rizki langsung berlari mengejar Sheila dan Reyhan yang cukup jauh di depannya. Ketika langkah mereka sudah setara Rizki langsung mengomel. "Dih maen tinggal-tinggal aja." Ucap Rizki dengan nada kesalnya. Sheila melirik ke samping. "Lo siapa?" Tanya nya. "Temen sendiri kok ngga di aku, sedih dede bang." Jawab Rizki dengan ke lebay an nya. "Bentar-bentar." Ucap Sheila memberhentikan langkahnya. "Emang lo temen gue ya?" Tanya Sheila lagi. Sedangkan Reyhan sudah hampir tidak bisa menahan tawa nya, seorang Rizki di bully sama cewek? Wtf. "Kok lo nyakitin ya." Jawab Reyhan sambil mengelus d**a. Sheila pun berjalan lagi untuk menuju kelas nya di ikuti Reyhan dan Rizki pastinya. Ketika sampai di persimpangan kelasnya, kelas Reyhan, dan kelas Rizki. Kelas Reyhan dan Rizki belok ke kiri sedangkan kelas Sheila lurus. "Kita pisah di sini aja." Ucap Sheila. "Yakin lo ngga mau di anter sampe kelas Sheil?" Tanya Reyhan. "Jangan pisah sih, aku tuh ngga mau jauh dari kamu, nanti Rindu." Ucap Rizki yang langsung mendapat toyoran dari Reyhan. "Iya gue ngga papa kok Rey, yaudah gue duluan." Sheila langsung berjalan menuju kelasnya. Saat Sheila sudah mulai jauh, Reyhan mengajak Rizki untuk kembali ke kelas masing-masing. "Ayuk ah ki balik ke kelas." Ucap Reyhan. Ketika Reyhan sudah menghadapkan tubuhnya ke kiri Rizki mengucapkan sesuatu. "Bentar-bentar Lo yakin dia ngga kenapa-kenapa Rey?" Ucap Rizki. "Lagian dia nya kenapa? Ngga mungkin di ganggu setan juga." Jawab Reyhan. "Kalo misalkan dia ketemu Faqih terus Faqih nya lagi pelukan ama yang laen gimana lo hayo..." ucap Rizki asal. Tanpa di sadari, kaki Reyhan dengan Reflek berlari untuk mengejar Sheila. "Dasar bucin." Gumam Rizki kemudian ia pun menyusul Reyhan. * Betapa kagetnya saat Reyhan melihat Sheila yang di depannya yang sudah menangis. Reyhan langsung mempercepat lari nya dan langsung memeluk Sheila. Reyhan mengusap rambut Sheila, sedangkan Sheila sudah ter isak... "Dia jahat Rey.." ucap Sheila lirih. Demi apapun Reyhan benci dirinya sendiri yang gagal menjaga Sheila. Reyhan masih terus mengusap Rambut Sheila supaya Sheila tenang. Reyhan menatap orang di depannya dengan amarah besar. "Dia ngga pantes buat lo cintain Sheil.." gumam Reyhan dalam hati. . "Dia jahat Rey...hiks...hiks.." Sheila masih terisak di pelukan Reyhan. "Udah yuk ah jangan di sini." Reyhan membawa Sheila pergi dari situ, tetapi ia masih memeluknya. Reyhan meng kode Rizki untuk membelikan air mineral dan coklat untuk Sheila. Rizki menadahkan tangannya, bermaksud "mana duitnya?" "Pake uang lo dulu aja." Ucap Reyhan. Tanpa basa basi Rizki langsung berlari menuju ke kantin untuk membelikan air mineral dan coklat untuk Sheila. Ia tau di posisi seperti ini  ia tidak mau debat karna masalah 'uang'. Sahabat no 1 kan? Reyhan membawa Sheila ke Rooftop. Selama perjalanan ke Rooftop semua pandangan siswa dan siswi SMAN 1 PELITA itu mengarah ke Sheila dan Reyhan. Lihatlah pandangan mereka itu berbeda-beda dan mereka itu mulai membicarakan Sheila dan Reyhan. "Ini bocah kok murahan banget ya." "Eh... Sheila jadian sama Reyhan ya?" "Sheila sungguh teganya dirimu teganya yayang menduakanku." "Haha murahan mah murahan aja, ngga usah pake peluk-pelukan." "Perusak generasi SMAN 1 PELITA aja nih." Ingin sekali Reyhan melemparkan batu ke mereka satu-satu tapi ia tau bahwa Sheila sekarang lebih penting dari mereka. Reyhan dan Sheila sampai di Rooftop. "Duduk Sheil." Ucap Reyhan. Sheila pun duduk melamun sambil menatap lurus ke depan.  Sedangkan Reyhan posisinya berlutut di depan Sheila. Ia memperhatikan wajah Sheila yang penuh dengan kekecewaan dan tekanan karena nya. Tak berapa lama pun Rizki membawakan Air mineral dan Coklat yang tadi Reyhan suruh. Rizki memberikan air mineral itu ke Reyhan dan Reyhan pun memberikan Air mineral itu ke Sheila. "Minum gih." Ucap Reyhan. Sheila pun meneguk air mineral yang di berikan oleh Reyhan. Di rasa cukup tenang akhirnya Reyhan bertanya ke pada Sheila. "Why Sheil?" Tanya Reyhan. "Nggak." Jawab Sheila. "Gue tau kok Sheil."  Batin Reyhan. "Jujur aja, nggak papa kok. Lagian kita kan sahabat ya ga?" Ucap Reyhan lagi sambil memperlihatkan cengirannya. Sedangkan Rizki diam-diam  mengabadikan moment tersebut dengan handphone nya tanpa mereka ketahui. "I'm fine Rey." Ucap Sheila sambil menyeka air matanya yang terus mengalir. Reyhan menurunkan tangan Sheila yang sedang di pipinya sendiri, Reyhan menyeka air mata Sheila. "Ngga boleh nangis, gue pengen liat lo senyum." Ucap Reyhan tulus. Dan karna ucapan Reyhan Sheila pun tersenyum. Walaupun Reyhan tau bahwa senyum Sheila di paksakan it's okey berarti Sheila masih menghargai dirinya. "Lo ngga boleh sedih. Disini gue mati-matian buat ngga ngecewain lo, jangan buang air mata lo sia-sia cuman karna dia yang ngga nganggep lo berarti dalam hidupnya Sheil." Reyhan beralih posisi yang semula berlutut di depan Sheila kini duduk di samping Sheila. Reyhan mengeluarkan coklat dari sakunya yang tadi sengaja Rizki belikan untuk Sheila "Mau?" Tanya Reyhan. Kemudian Sheila pun menerima coklat tersebut dan melahapnya. Reyhan pun menyenderkan kepala Sheila ke pundak nya, mengusap rambut Sheila dengan sayang. "Lo tau apa yang bisa buat gue bahagia?" Tanya Reyhan kepada Sheila. Sheila diam mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Reyhan. "Senyuman lo setiap hari, tawa lo setiap hari, bahagia lo setiap hari. Dengan lo senyum, lo ketawa, itu udah nandain bahwa lo baik-baik aja. Kalo gue bisa minta sama Tuhan, gue bakal minta semua kesedihan lo, ke kecewaan lo buat gue aja, biar gue yang nanggung itu. Dan gue mau minta sama Tuhan setiap hembusan nafas lo, lo harus bahagia. Terkesan lebay emang cowok ngomong kayak gini, tapi kalo gue udah sayang sama lo gimana dong hehe..." ujar Reyhan panjang lebar sambil masih terus mengusap-usap rambut Sheila. Detik itu juga Sheila menyadari. Untuk apa menangisi orang yang sudah tidak memperdulikannya? Toh tanpa ia sadari banyak orang yang peduli padanya, salah satunya Reyhan. "Rey..." gumam Sheila. "Ya?" "Kalo seandainya Cakrawala curang dan gue ngga selamet gue mohon sampein ke Faqih bahwa gue selalu sayang sama dia." Ucap Sheila. "Ngga boleh ngomong kaya gitu, gue percaya bahwa Tuhan pasti ada di samping lo dan ngelindungin lo." Ucap Reyhan menyemangati Sheila. Ketika Sheila berbicara bahwa ia akan selalu sayang pada Faqih detik itu juga Reyhan ingin marah tapi tidak bisa, ia tau bahwa ia tidak punya hak untuk marah. Rizki pun selesai merekam moment untuk mereka. "Hay Sheil..." sapa Rizki tiba-tiba.  "Lo dari mana ki?" Tanya Reyhan. "Kepo." Ucap Rizki. Rizki pun segera bergabung duduk di kursi panjang dengan Sheila dan Reyhan. Mereka pun menghabiskan jam pelajarannya untuk duduk di Rooftop, ngerokok. Hanya rokok yang bisa membuatnya lebih tenang dari sebelumnya. "Kantin ayok, gue laper." Ucap Sheila. Akhirnya mereka pun pergi ke kantin. Ketika sampai di gerbang kantin Sheila lagi-lagi melihat Faqih dengan cewek itu. Ingin sekali ia mengumpat tapi ia teringat kata-kata Reyhan, ia tak mau membuat Reyhan kecewa lagi. "Tadi peluk-pelukan, sekarang gandeng-gandengan, besok cium-ciuman ya Qih." Ucap Sheila berbisik di telinga Faqih dan kemudian Sheila melanjutkan lagi langkahnya dengan angkuh dan senyum miringnya. Reyhan terkejut dengan Sheila yang bisa berkata seperti itu tetapi ia menahan rasa penasarannya. . "Sheil..." ucap Reyhan ketika mereka sudah berada di warung Ma'e. Sheila yang sedang bercanda dengan Rizki itu seketika menghentikan bercandanya. "Ya?" Jawab Sheila. "Duduk deh sini." Ucap Reyhan sambil menepuk-nepuk tempat duduk di sampingnya. Kemudian Sheila pun berjalan mendekati Reyhan dan duduk di sampingnya, "Ada apa?" Tanya Sheila. "Soal yang tadi lo ketemu Faqih itu, lo ngomong apa?" Tanya Reyhan penasaran. "Oh itu. Gue cuman bilang kan dia tadi pagi peluk-pelukan tuh ama si  KIREINA yang sok kecakepan, yang kalo ke sekolah pake bedak dan mungkin tuh bedak abis semua dalam sekali pake, kalo pake bedak nih ya muka nya beda ama leher + tangan, dan kalo pake lipstik sampe kek orang makan bayi.  Nah terus kan tadi gue liat lagi si Kireina ama si Faqih gandeng-gandengan yaudalah ya gue bilang aja sekalian besok-besok mereka ciuman aja." "Lo waras ga sih?" Ucap Reyhan tak percaya sampai ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Sheila. Sheila menepuk-nepuk lengan Reyhan. "Ih apaan sih Rey." Sheila membetulkan poni-nya yang berantakan. "Ya gue waras lah. Lagian juga gue sadar buat apa kita berharap ke orang yang ngga nge harapin adanya kita di kehidupan dia." "Cuman buang-buang waktu doang itu." Lanjut Sheila sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Reyhan mengacak rambut Sheila "adek gua udah pinter." Ucapnya. "Dih emang dari dulu juga gue udah pinter yak." Ucap Sheila. "Yayaya terserah lo." Ucap Reyhan. "Rey markas yuk." Ucap Sheila. "Ngapain?" Tanya Reyhan. "Ngadem." "Yaudah. Ki markas." Ucap Reyhan mengajak Rizki. "Tanggung lah rokok gue belum abis ini." Jawab Rizki. Kemudian Sheila mendekati Rizki dan mengambil rokok tersebut kemudian menginjaknya. "Yah Sheillllaaaaaaa...." Ucap Rizki dengan lemas. "Udah abis kan? Ayok ke markas." Ujar Sheila sambil menarik lengan Rizki. "Anjir padahal masih panjang itu Sheil." Gumam Rizki. "Bodo." Ucap Sheila acuh. Terpaksa Rizki harus bangkit untuk mengikuti kemauan Sheila. Sheila dan Rizki sejajar berjalan untuk menuju gerbang belakang. Reyhan mengambil insiatif untuk menipu pak satpam karena motor Reyhan di parkirkan di parkiran sekolah tadi pagi. Mereka juga tidak usah repot-repot untuk mengambil tas mereka karna ya sedari tadi tas mereka masih menempel di punggung mereka masing-masing. "Balik badan gih lo." Suruh Sheila kepada Rizki. You know lah apa sebabnya. "Yaelah Sheil pake balik badan segala. Manjat mah tinggal manjat aja kali." Ucap Rizki.  "Oh lo mau gue bogem heh?" Ucap Sheila sambil memamerkan kepalan tangannya. "Yaelah bercanda kali bu. Jangan di anggep serius." Ucap Rizki. Ia tak mau lagi kena apes. Cukup rokoknya saja tadi, dirinya mah jangan.  Rizki pun membalikkan badanya. Dan Sheila pun berhasil melewati tembok tinggi itu dengan sempurna. Kemudian Rizki pun menyusul melewati tembok tinggi itu. Sheila dan Rizki pun berjalan menuju parkiran luar sekolah, tempat biasa geng nya buat bolos.  Sedangkan Reyhan kini berjalan santai untuk menuju parkiran sekolahnya, mengeluarkan motor sportnya dengan santai. Ia juga memakai helm nya dan membawa helm full face milik Sheila di tangannya mengingat motor Reyhan yang Sport jadi susah untuk menaruh helm Sheila di motornya. "Tin...tin..." bunyi klakson motor Reyhan pun menyita perhatian pak satpam. Pak satpam itupun langsung bangun dari duduknya. "Heh kamu mau kemana!!" Ucap pak satpam dengan nada keras. "Mau keluar pak. Saya juga udah izin sama wali kelas saya." "Siapa wali kelas kamu?" Tanya pak satpam lagi. "Ibu Pipit tercatik sejagad raya." Jawab Reyhan. Pak satpam pun membuka kan pagar itu untuk Reyhan. Ketika Reyhan ingin melajukan motornya tiba-tiba pak satpam menahan motornya. "Eh bentar!!" Ucap pak satpam sambil menahan motor Reyhan. Otomatis Reyhan mematikan mesin motornya dan membuang nafas kasar. "Apa lagi sih pak???" Tanya Reyhan. "Siapa nama kamu?" Tanya pak satpam lagi. "Bapak sebenernya mau apa? Kok nanya nya macem-macem. Jangan-jangan bapa mau dukunin saya ya? Biar saya mau sama anak bapa? Maap-maap aja nih ya pak, saya udah ada calon." Jawab Reyhan panjang lebar. "Kamu ini lagian juga siapa yang mau sama kamu. Liat tuh baju ngga ada rapih-rapih nya." Jelas pak satpam. "Lah yaudah hidup-hidup saya kok bapak yang repot." Setelah mengatakan itu Reyhan pun menyalakan kembali mesin motornya dan melaju melewati pak satpam. "Dasar anak jaman sekarang." Gumam pak satpam. Sedangkan Reyhan sudah tertawa puas karna berhasil mengerjai pak satpamnya itu. "Gampang banget anjir ngibulin nye." Ucap Reyhan di dalam helm helm full face itu. . Reyhan pun sampai di parkiran luar sekolah untuk menemui Rizki dan Sheila. Mengingat jarak parkiran luar sekolah dengan sekolah itu dekat. Makannya Reyhan melajukan motornya dengan santai. "Lama lo nyet." Ucap Rizki. "Biasa pak satpam." Ujar Reyhan. Reyhan dan Rizki pun sudah menaiki motornya masing-masing. "WOY GUE NGGA BAWA MOTOR WOY YAELAH.." Ucap Sheila kesal. "Baper-baper..." ucap Reyhan. "Naik gih. Oh iya Ki, kita ke apartement Sheila dulu." Lanjut Reyhan. Reyhan memberikan helm itu kepada Sheila dan Sheila menerimanya kemudian memakainya. Sheila menaiki motor Reyhan, dan mereka pun melaju membelah jalanan ibu kota yang ramai Menit demi menit pun berlalu kini Sheila, Reyhan, dan Rizki sudah berada di area parkir apartement Sheila. Sheila Turun dari motor Reyhan. "Gue langsung ganti baju aja ya, terus ambil motor, takut nantinya buang-buang waktu kalo lo pada masuk ke apartement gue mah." Ucap Sheila dengan senyumannya yang di tanggapi malas oleh Rizki. Untuk mempersingkat waktu Sheila langsung bergegas ke kamarnya dan mengganti bajunya dengan celana jeans, kaos, dan kemeja kotak-kotak.  Setelah itu Sheila langsung mengeluarkan motornya dan bergabung dengan mereka. "Nyok.." ajak Sheila kepada Reyhan dan Rizki. "Bentar-bentar." Ucap Reyhan. "Sheil lo pake motor gue aja, biar gue pake motor lo. Supaya gue tau apa kekurangan di motor lo, nanti kita beresin bareng-bareng." Ucap Reyhan. "Oh oke."  Sheila pun menyetandar motornya dan turun dari motornya untuk menaiki motor Reyhan. Mereka pun kini siap untuk menuju ke markas. Rizki pertama melajukan motornya, di susul oleh Sheila, dan terakhir Reyhan. Mereka melajukan motornya dengan santai sampai mereka terpaksa berhenti karna geng motor yang ada di depannya berhenti tepat di depan mereka. Geng motor itu ada 10 orang dengan 5 motor, mereka memakai jaket berwarna hitam. "CAKRAWALA." Gumam Rizki. Mereka yang Rizki sebut Cakrawala itu melepas helm full face nya dan turun dari motornya. Otomatis Rizki, Reyhan, dan Sheila pun melepas helm full face nya dan turun dari mereka masing-masing. Rizki dan Reyhan pun maju sejajar. "Lo diem di sini aja Sheil." Bisik Reyhan kepada Sheila yang di angguki oleh Sheila.  Salah seorang di antara mereka maju paling depan. "Halo.. Reyhan, Masih kenal gue?" Tanya orang itu. Reyhan pun hanya menampilkan senyum miringnya. "Mau apa lo!?" Tanya Rizki dengan nada yang sedikit keras. "Wih...... santai dong, gue cuman mau bilang kalo lo inget kan balapan di majuin jadi besok malem?" Tanya nya kepada Reyhan. "Ya." Ucap Reyhan. "See you next time Cleopatra." Ucapnya sambil tersenyum meremehkan. Dan ia pun segera membalikkan badanya untuk menuju motornya, tetapi ia tiba-tiba mengatakan sesuatu yng membuat Rizki dan Reyhan emosi. "Cewe lo cantik Rey. Boleh buat gue? Lumayan buat koleksi mah haha. Atau kita jadiin taruhan buat besok malem?" Ucap orang itu sambil tertawa. Otomatis Reyhan dan Rizki pun tersulut emosinya. "ANJING!!!" umpat Reyhan. Sheila sudah tidak kuat lagi. "Rey ayok pulang." Ucap Sheila sambil memegang lengan Reyhan. Tetapi karna Reyhan dalam keadaan emosi makannya dia tidak merespon ucapan Sheila. "BUGHH!!!" Reyhan memukul pria tersebut tepat di sudut bibirnya. Otomatis Sheila mundur ke belakang, ia tidak bisa melihat perkelahian. Pria itu mengusap sudut bibirnya yang berdarah. "Haha... lu sayang sama dia? Lu pengen milikin dia? Sayangnya sebentar lagi dia pasti milik gue." Ucap orang itu optimis. "BUGHH!!!" Pukulan ke dua pun mendarat di pipi kanan orang itu akibat pukulan Rizki. Akibat mereka yang sama-sama tersulut emosi. Terjadilah perkelahian antara 2 lawan 10. Sheila lari menjauh dari tempat itu, ia duduk dan menangis. Suara tamparan, pukulan, petir, benda pecah. Ia sangat trauma pada suara-suara itu. Itu mengingatkannya akan kejadian mamahnya yang di tampar, mamahnya yang di pukul, papah yang memecahkan seluruh peralatan rumah, petir yang mengingatkan akan kesendiriannya dulu, saat orang tuanya tak lagi peduli padanya dan hanya peduli kepada dunia nya masing-masing. Suara adu pukul itu masih terdengar jelas di telinganya. "AAARRRGGGHHH!!" Sheila menjambak rambutnya sendiri dan menutup telinga nya se kencang mungkin supaya ia tak bisa mendengar suara tersebut. Ia trauma, kejadian yang dulu seakan kembali terputar oleh memori otaknya. Air mata Sheila mengalir deras di pipinya.  Tiba-tiba ada yang mendekat dan mengecup keningnya. "Jangan nangis." Kemudian orang itu berlari se kencang-kencangnya untuk membantu Reyhan dan Rizki. Tak berapa lama pun suara keributan itu berganti dengan suara motor yang melaju pergi jauh meninggalkan tempat itu. Sheila membuka matanya. Ia kaget dengan kondisi Reyhan dan Rizki yang menahan kesakitan. Otimatis Sheila langsung berlari untuk menolong mereka. . "Reyhann..... lo kenapa bisa gini sih hiks..hiks..." tangis Sheila benar- benar pecah saat itu. Melihat dua orang sahabatnya yang terluka parah karna ingin membela nya? Arghh... Sheila tidak bisa bicara apa-apa sekarang untuk mengungkapkan rasa yang saat ini ia rasakan. "Biar gue telfon Ambulance." Ucap Sheila. Sedangkan Faqih sedang menolong Rizki. Dan untungnya Rizki masih bisa berjalan, walaupun sedikit-sedikit. "Ngga usah Sheil. Lagian ini cuman luka kecil doang kok." Ucap Reyhan duduk sambil tersenyum dan menahan sakitnya. "Nggak-nggak. Luka lo parah Rey." Ucap Sheila. Air mata Sheila itu tidak bisa berhenti mengalir. Ah sudahlah. "Hey.. lo kenapa nangis?" Tanya Reyhan sambil mengusap air mata Sheila. "Kan gue udah bilang, gue ngga mau liat lo nangis." Lanjut Reyhan. "Tapi Rey... lo luka hikss..." "I'm fine. Gue ngga papa. Gue bersyukur lo nggak papa." Ucap Reyhan sambil mengelus pipi Sheila. Tanpa panjang lebar Sheila langsung mengalungkan tangan Reyhan ke bahu nya dan membawa Reyhan dari jalan raya tersebut. Sheila menduduk kan Reyhan di Toko yang sudah tutup dan tidak terpakai itu. "Rey..." gumam Sheila lagi. Reyhan hanya tersenyum. Faqih juga membawa Rizki ke tempat yang sama dengan Reyhan membawa Sheila. Sheila bangkit dari duduknya. "Qih.. gue boleh minta tolong sama lo?" Tanya Sheila kepada Faqih. Faqih mengatur emosinya. Arghh kenapa ia merasa kasihan saat ini kepada Sheila. "Apa?" Tanya Faqih dingin. "Lo bisa bantu bawa motor mereka ke markas? Biar ntar gue sama mereka ke markas naik taksi." Ucap Sheila. "Iya." Jawab Faqih singkat. Kemudian karna kasihan. Faqih mencarikan taksi untuk Sheila, Reyhan, dan Rizki tumpangi. Setelah Faqih mendapatkan taksi itu, ia langsung membantu Reyhan dan Rizki untuk masuk ke taksi dan di susul Sheila. "Makasih." Ucap Sheila ketika akan menaiki taksi tersebut dan hanya mendapatkan anggukan oleh Faqih. Sheila, Rizki, dan Reyhan melesat menuju markas dengan menggunakan taksi tersebut.  Sheila duduk di antara mereka berdua. "Rey, Ki, lo kuat." Ucap Sheila gemetar karna melihat sahabatnya yang terluka parah. "Gue nggak papa kok Sheil. Luka gue nggak se parah Reyhan." Ucap Rizki dengan Suara lemah dan memegang lengannya yang berdarah. "Rey, gue percaya lo kuat." Batin Sheila sambil menggenggam tangan Reyhan. Sheila menangis. Kenapa harus orang yang ia sayangi lagi yang terluka? Kenapa Tuhan selalu mengukumnya dengan kesedihan? Ya Tuhan, kalau misalkan ia tidak boleh bahagia, biarkan orang-orang yang ia sayangi hidup bahagia. Sementara Faqih? Ia tidak tau apa perasaan nya sekarang. Ketika ia melihat Sheila lebih peduli kepada Reyhan? Arghhh... Faqih tidak mau terlalu memikirkan masalah itu. Ia langsung mengabari anggota Cleopatra untuk membawa motor Sheila, Reyhan, dan Rizki ke markas. Tak beberapa lama pun Mereka yang di suruh oleh Faqih datang. "Mereka kenapa Qih?" Tanya anak-anak Cleopatra. "Ga tau. Tanya ke mereka." Ujar Faqih kemudian meninggalkan 6 orang itu. Memang ada 6 anggota Cleopatra di sini. Dengan 3 sepeda motor, 3 lagi nya mereka akan menaiki sepeda motor Sheila, Reyhan, dan Rizki. Faqih melangkahkan kakinya menuju minimarket yang sedikit jauh di sebrang jalan. Ia memasuki mini market tersebut untuk membeli air mineral. Setelah membelinya ia pun keluar dan duduk untuk meneguk air mineral itu. "Cih.. b*****t emang." Ucap Faqih dalam hati. Kemudian ia pun langsung menaiki motornya dan melaju menuju markas mereka. Selama perjalanan menuju markas itu, Faqih selalu memikirkan sesuatu, tapi ia tidak tau sesuatu apa yang sedang di pikirkannya itu. "HUHH." Faqih menghela nafas kasar ber ulang kali. Hati nya ini kenapa? Fikirannya ini kenapa? Sesampainya di markas. Faqih langsung di suguhi pemandangan yang membuat hatinya sakit. "Kenapa lo cuman bisa buat gue sakit tanpa pernah buat gue bahagia, anjing!" Batin Faqih dengan rahang yang mengeras. Tetapi ia tetap melangkahkan kakinya menuju ke dalam markas tersebut. Faqih duduk di sofa yang tak jauh dengan Sheila. Reyhan meringis saat dirinya di obati oleh Sheila. "Maaf-maaf." Ucap Sheila. "Lo pada bisa gini kenapa sih?" Tanya seorang anggota Cleopatra. "Haters biasa." Ucap Rizki santai. "t*i lo ki, serius ngapa." Ucap orang itu lagi. "Lah gue kan bener. Haters cuman kerjaannya sirik doang, mereka tuh sebenernya pengen punya wajah tampan kek gue aja tapi sayang nya mereka gengsi ngungkapinnya jadi ya gitu deh, iya ngga Rey?" Tanya Rizki. "Nah.." jawab Reyhan. "Bodo Ki... gue ngga percaya." Ujar angota cleopatra lagi. "Lah.. emang gue nyuruh lo percaya sama gue? Ngga kan? Jangan percaya ke manusia, apalagi gue, ntarnya jadi musrik." Ujar Rizki. "Terserah lo." Ucap Pria itu pasrah. Ketika Sheila mengeluarkan kain kasa dari kotak P3K nya itu Reyhan tiba-tiba berbicara "jangan pake itu, nanti luka nya ngga kering-kering, lama." Ujarnya. Terpaksa Sheila pun menaruh kembali kain kasa itu di tempatnya. Akhirnya Sheila selesai mengobati  Reyhan. Lihatlah sekarang, tubuh Reyhan benar-benar penuh dengan memar. Pipinya, sudut bibirnya, tangan, kaki, semuanya memar dan merah. Sekarang ia pun mulai membersihkan luka Rizki. Belum apa-apa pun Rizki langsung meringis. "Jangan kenceng-kenceng Sheil, sakit." Ucap Rizki. "Belom goblok." Gumam Reyhan. Faqih pun hanya memperhatikan Sheila. "Apakah cinta itu masih ada?" Batin Faqih.                                                                             Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN