Seven

4478 Kata
Pria itu berjalan mendekati Rizki dan Faqih dengan penuh emosi di dadanya. "Sheila itu cinta sama lo." Ucap pria itu sambil menunjuk Faqih dengan jari telunjuknya. faqih tersenyum miring, "Cinta? Sama gue? Lalu apa maksudnya saat lo pelukan sama Sheila, Rey!" Faqih tertawa hambar. Jiwa es Faqih sudah benar-benar memuncak, emosimya tak terkendali. "Jadi lo liat?" Tanya Reyhan dengan wajah cemas. "Menurut lo?" jawab faqih dengan nada datar dan alisnya yang terrangkat satu. reyhan menjelaskan apa yang terjadi seenarnya kepada faqih. "Lo tau Qih? Dia cerita gimana yang dia rasain saat ada di deket lo, dia jatuh cinta sama lo! Dia nolak gue dan dia ngomong bahwa dia itu Cinta sama lo!" Reyhan sengaja menekan kata 'cinta' agar jiwa dingin di depannya ini faham. "Haha cinta? Sampah!" Ucap Faqih dengan senyum miringnya. Reyhan mencengkram kerah baju Faqih "kalau lo ngga mau bahagiain dia, jangan pernah lo sakitin dia njing! Gue siap kapan pun ada di samping dia dan gue rela ngorbanin segalanya buat dia!" Ucap Reyhan setelah itu ia menghempaskan tubuh Faqih sehingga Faqih mundur beberapa langkah dan kemudian Reyhan beranjak pergi dari markas itu. Rizki mendekati Faqih dan berbicara tepat di wajah Faqih. "Gue tau lo juga cinta sama dia Qih, gue harap lo bisa buat dia bahagia Qih." Rizki menepuk pundak Faqih, setelah itu ia pergi dari markas itu. Fikiran Faqih benar-benar kalut. Di satu sisi ia cinta kepada Sheila dan di sisi lain? Ah ntahlah. "Arrrgghhhh!!" Faqih menjambak rambutnya Frustasi. Kemudian ia meninggalkan markas tersebut dengan perasaan yang campur aduk. "Woy Qih, lo mau kemana? Tadi si Reyhan pergi, Rizki pergi, sekarang lo pergi juga." Teriak salah satu anak Cleopatra yang tidak tau akan kejadian tersebut. Tetapi Faqih tidak memperdulikan teriakan tersebut, ia segera menaiki kuda besi nya dan pergi dari tempat tersebut. Ia tidak tau kemana tujuan perginya ia sampai ia pun tiba di sebuah apartement. Faqih mengetuk pintu apartement tersebut. Seorang laki-laki membukakan pintu untuk Faqih. Setelah pintu itu terbuka, Faqih langsung masuk ke dalam apartement itu dan berjalan menuju sebuah kamar. Dilihatnya wanita cantik itu sedang tertidur. Faqih berjalan mendekati wanita yang sedang tertidur itu dan duduk di dekat ranjang. Faqih tersenyum simpul dan membelai rambut wanita itu dengan sayang. "Cepet sembuh." Ucap Faqih. Setelah itu ia mengecup puncak kepala wanita itu lama sambil memejamkan matanya. Faqih berdiri dan beranjak dari duduknya. Ketika ia berbalik hendak meninggalkan kamar wanita itu, di lihatnya pria yang tadi membukakan pintunya berada di ambang pintu kamar wanita tadi. Faqih tetap berjalan melewati pria itu, tapi suara pria itu membuatnya menghentikan langkahnya. "Gue tau lo suka dia kan?" Ucapnya menebak, kemudian sang pria itupun membalikkan badanya. Faqih pun membalikkan badannya dan menampilkan wajah datarnya. Sekarang posisi mereka saling berhadapan. "Kalo lo sekali aja nyakitin dia." Ucap pria itu sambil menunjuk wanita yang sedang tertidur itu. "Lo berurusan sama gue." Lanjutnya. Mendengar ucapan pria tadi, Faqih pun segera membalikkan badanya lagi dan meninggalkan apartement itu. "Engghhh." Wanita itu mengerang dari tidurnya. Seketika pria tadi mendekati wanita itu dan tersenyum simpul. "Lo disini Rey?" Tanya wanita itu. "Nggak." Ucap Reyhan. Sheila bangkit untuk duduk, karna kondisinya juga sudah mendingan.  "kalo mau duduk bilang, biar ue abntuin." ucap reyhan.  "Lah terus dimana?" tanya sheila tanpa memperdulikan pernyataan reyhan tadi. "Di hati lo." Ucap Reyhan spontan. Sheila terdiam. Ia mengingat kejadian kemarin yang membuat dirinya seperti ini. Tapi Sheila memikirkan bukan sepenuhnya salah Reyhan, toh memang fakta bahwa dirinya broken home kan? "Rizki mana?" Tanya Sheila sambil matanya mencari-cari rizki. "Tadi pulang dulu. Nyokapnya nyariin." Terang Reyhan. Sheila mengangguk paham. "Sheil." Panggil Reyhan. Kemudian Reyhan duduk di tepi ranjang Sheila. Reyhan menggenggam tangan Sheila "Gue minta maaf soal kemarin, gue salah Sheil, gue ngga seharusnya ngomong gitu sama lo, gue bener-bener minta maaf." Ucapnya. "Nggak papa kok, yang lo omongin juga fakta." Sheila tersenyum simpul sambil berusaha menahan tangisnya.  "Gue minta maaf Sheil." Reyhan menunduk menyesal. "Selo aja kali." Sheila tertawa hambar. "Gimana kalo sebagai permintaan maaf gue, gue ajak ke stadion?" tawar reyhan. "Serius lo!???" Ucap Sheila dengan semangat. "Serius, lo mau pertandingan lawan apa?" Tanya Reyhan. "Persib dong." ucap sheila mantap. "Oke. Kebetulan 3 hari lagi Persib main sama Persija." ucap reyhan. Sheila bersorak ria. "Horeee... Reyhan baik..." ucap Sheila senang sambil mengangkat kedua tangannya bersorak gembira. Siapa yang tidak mau ke stadion kan? Walaupun ia tinggal di ibu kota tetapi kalau ia cinta Persib ngga ada masalah dong. "Makannya cepet sembuh." Ucap Reyhan sambil mengacak rambut Sheila. "Siap pak bos!" Sheila mengangkat tangannya hormat layaknya ia hormat kepada Jendral. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar Sheila. "Rizki comeback..." ucap Rizki sambil memamerkan bungkus makanan. "Wih apaan tuh ki?" Tahya Sheila. "Martabak manis spesial rasa keju. Gue sengaja sih minta ke abang yang jualannya kejunya di banyakin." Terang Rizki sambil berniat menggoda sheila. "Lo tau aja makanan kesukaan gue ki." Sheila tersenyum karna ia merasa di perhatikan oleh Rizki. "Siapa yang ngomong ini buat lo?" tanya rizki.  seketika senyum di bibir sheila luntur. "Lah jadi itu bukan buat guee???" tanya sheila. "Bukan." Ucap Rizki datar. "Yahhh..." Senyum Sheila luntur seketika. Tiba-tiba Rizki tertawa padahal tidak ada yang lucu menurut Sheila. "Ini buat kita Sheil. 1 bungkus buat lo, 1 bungkus lagi buat gue sama Reyhan." Ucap Rizki sambil menyodorkan martabak manis itu kepada Sheila. "Makasih ki.." Sheila langsung membuka bungkus martabak tersebut dan memakannya. "Iya-iya. Tuh makan juga buah-buahannya, jangan martabak muluk." "Siap." Merekapun memakan makanan yang di bawa oleh Rizki. Setelah selesai memakan makanannya, Rizki membuka suara. "Eh Rey, main PS nyok." Ajak Rizki. "Ayok." "Lah masa gue ngga di ajak." Protes Sheila. "Ngga boleh, lu kan masih sakit." Tolak Rizki. "Segini udah sembuhnya." Elak Sheila. "Nggak, lu masih sakit." Rizki tetap tegak dengan pendiriannya bahwa Sheila itu tidak boleh bermain PS (play station) karna ia masih sakit. "Gue udah sembuhhhhh....." "Lo masih sakit, ayok kita maen Rey." Ucap Rizki kemudian ia mengambil dua stik PS itu dan satunya ia berikannya kepada Reyhan. Mereka duduk di karpet bawah dan memainkan Stik PS 4 tersebut. "Tendang g****k nah nah si botak nih jagoan gue nah iya kotak... yaaaaa tendang...  arrgghhh!! Ngga masuk lagi." Rizki mendumel karna jagoannya si botak tidak bisa memasukkan bola itu ke gawang milik Reyhan. Memang mereka sedang bermain permainan sepak bola dalam PS 4 milik Sheila tersebut. "Yah gabut." Ucap Sheila karna ia sedari tadi hanya memperhatikan Rizki dan Reyhan memainkan play station miliknya. Reyhan melirik ke belakangnya. Kemudian ia bangkit dari duduknya dengan masih membawa stik PS tersebut. Reyhan membisikkan sesuatu yang di setujui oleh Sheila. "Yah g****k-g****k anying... oper g****k nah si botak yang bener dong lo! Anying Reyhan lo jangan nyerang kek.. Reyhan anjing b*****t gawang gue kebobolan kan Arghhh!! Lu mah..." Rizki marah besar karna Reyhan bisa memasukan bola ke gawangnya. Otomatis skor saat ini 0-1 satu untuk Reyhan dan 0 untuk Rizki. Sedangkan di belakang Reyhan dan Sheila hanya bisa tersenyum senang karna gawang Rizki kebobolan. Permainan pun berlanjut hingga selesai dan skor Akhir permainan mereka adalah 9-0. 9 untuk Reyhan dan 0 untuk Rizki. Selama permainan itu pun Rizki selalu mengumpat Reyhan dengan kata-k********r. Apalagi saat Reyhan bisa memasukkan bola itu ke gawangnya tetapi Rizki sangat sulit memasukkan bola itu ke gawang Reyhan untuk menambah point. "Oke gue nyerah Rey." Rizki mengangkat kedua tangannya pertanda bahwa ia menyerah. "Lah kok lu ngga ada nyet." Ucap Rizki heran ketika lawan main di sampingnya tidak ada. Seketika Rizki membalikkan badannya. "Anjing!!!" Rizki mengumpat lagi untuk ke sekian kalinya. "Hahahaha....." Reyhan dan Sheila tertawa terbahak-bahak karna melihat wajah Rizki yang sudah memerah karna di penuhi amarah. Siapa yang tidak kesal ketika lawan mainnya sangat-sangat pintar dalam bermain segala permainan di play station? Dan Rizki pun sangat mengindari pemain ini. "Lo kalah lagi ke 258 kali dari 258 kali permainan lawan gue hahaha." Sheila pun tertawa karna ia selalu bisa mengalahkan Rizki dalam urusan bermain play station. "Kita musuhan ya Sheil." Ucap Rizki dalam nada marahnya. "Yaudah lo sono pulang yang jauh, jangan balik lagi kesini ya." Ucap Sheila santai. "Yah..... Sheila mah.... sebenernya orang marah tuh di bujuk kek, apa kek gitu, ini mah malah di usir lagi." Rizki merajuk. "Lo siapa gue nyet?" Tanya Sheila. "Babu lo." Ucap Rizki dengan nada malas. "Unncchhh pinter deh." Sheila tersenyum dan mencubit pipi Rizki. Sedangkan Rizki hanya memutar bola matanya malas. Sheila mencoba bangkit untuk mengambil handphone nya di nakas tempat tidur. "Mau ngapain?" Tanya Reyhan saat melihat Sheila yang bangkit dari tidurnya. "Ambil Handphone." Ucap Sheila. "Lo diem aja di situ ntar biar gue ambilin." Setelah mengatakan itu, Reyhan segera bangkit dan mengambilkan handphone Sheila. "Nih." Ucap Reyhan sambil memberikan Handphone itu ke Sheila. "Thanks Rey." "Yaelah gue ngga di ajak ngobrol nih?" Tanya Rizki. "Males." Ucap Sheila datar kemudian ia membuka handphone nya dan mengetikkan sesuatu di layar ponselnya. "Rizki pulang nih." Ucap Rizki merajuk. "Pulang sono b*****t!"  Kali ini bukan Sheila yang menjawab pernyataan Rizki, melainkan Reyhan. "Eh njir... biasa ae ngga usah ngegas gitu. Lagian gue cuman bercanda kali." "Lo ngeselin nyet." Balas Reyhan. "Ngeselin apa ngangenin mas Rey?" Tanya Rizki dengan nada menggoda. "Lo sekali lagi gitu gue bunuh ya Ki!" Kali ini Reyhan membentak Rizki. "Apaan sih lo berdua mengganggu ketenangan gue aja." Sheila melerai perdebatan mereka. "Maaf nyai kondang." Ucap Rizki sembari merapatkan kedua tangannya, kedua ibu jarinya di letakkan di atas hidung, bermaksud meminta maaf. "Bacot lo ki." Jawab Reyhan. "Dih apaan sih.. kan gue minta maaf sama penguasa nih apartement, nanti gue di usir gimana? Ntar Sheila ngga nganggep gue temen gimana? Kan ngga ada temen yang baiknya kayak Sheila, ya walaupun Sheila jarang bayarin gue makan di warungnya ma'e tapikan dia sering bantu gue saat susah gitu. Lagian juga Sheila kan jago balapan noh, nah setiap dia juara juga sering banget gue kecipratan duitnye. Semoga aja dah balapan lawan si Cakrawala kali ini Sheila menang lagi, supaya gue dapet cipratan duit dari Sheila lagi. "Oh iya BTW hadiahnya apaan sih?" Ucap Rizki panjang lebar. "B A  C O T." Umpat Sheila tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponselnya. "Eh tapi seriusan deh hadiahnya apaan sih?" Tanya Rizki kepada Reyhan serius. "Kepo lo." Ucap Reyhan. "Tok...tok...tok..." suara ketukan pintu itu menhentikan percakapan mereka. "Ki bukain gih." Suruh Sheila kepada Rizki. "Kenapa harus guee..." gumam Rizki. "Lu kan paling ganteng disini ya." Ucap Reyhan. "Tau aja lu Rey." "Iya tapi boong." "Kampret." Umpat Rizki. Kemudian Rizki bangkit dari duduknya dan membukakan pintu untuk tamu Sheila. Rizki membuka pintunya dan terkejut. Lihatlah siapa yang datang ke apartement Sheila. "Hhh....hheeyy...." ucap Rizki terbata-bata karena masih terkejut dengan tamu yang datang ke apartement Sheila. "Hay ki, lo disini?" Tanya seseorang dari mereka. "Mm...ii...iya...Shel..." ucap Rizki sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Lo kenapa ki?" tanya shela. "Mmm....nggak." elak Rizki. "Yaelah ini kapan masuknya sih, ngobrol muluk." Ucap Amel. Ya siapa lagi teman perempuan Sheila selain mereka? "Eh... iya silahkan masuk." Rizki menggaruk tengkuknya lagi, s**t! Ia merasa bodoh di depan Shela. "Sheilaaaaaa........" Shela dan Amel berlari dan langsung memeluk Sheila dan Sheila langsung membalas pelukan mereka. "Eh lo pada belum pulang kerumah?" Tanya Sheila setelah mereka mengurai pelukannya. "Belum hehe." Jawab Shela dengan cengiran andalannya. "Senyuman Shela kok manis ya." Gumam Rizki yang masih bisa di dengar oleh mereka. "Ekhem...ekhemm... kek nya ada yang mau jadian nih." Ucap Sheila menggoda. "Pipi lo kok merah Shel?" Tanya Amel menggoda Shela. "Lo pada apaan sih." Elak Shela sembari menyembunyikan rona merah di pipinya. Sedangkan Rizki lagi-lagi meruntuki kebodohannya. "Kenapa gue bisa keceplosan sih." Batin Rizki. "Eh iya Sheil BTW  lo kenapa bisa sakit kek gini sih?" Tanya Shela mengalihkan pembicaraan mereka. "Jangan ngalihin pembicaraan Shel." Sheila tertawa dan Sheila masih terus menggoda Shela. "Gue nanya serius." Shela memutar bola matanya malas. "Kenapa ya?" Sheila menaruh jarinya di dagu dan berfikir "gue ngga tau." Sheila mengangkat kedua bahunya tanda bahwa ia tidak tau. Tapi sebenarnya ia teringat kembali akan petir-petir yang berhasil membawanya ke masalalunya. "Tapi gue kemarin nggak sengaja kek liat lo di halte bus gitu Sheil, duduk sendirian keknya lo ketakutan banget pas itu. Gue mau berenti pas itu tapi gue takut itu bukan lo, jadi itu lo atau bukan?" Tanya Amel panjang lebar. Pernyataan Amel tadi seketika membuat Sheila dan Reyhan membeku. "Mm...lo salah liat kali." Tutur Sheila. "Iya sih mungkin gue salah liat." Fikir Amel. Akhirnya Sheila merasa lega karna Amel dan Shela tidak membahas ini terlalu dalam. Tetapi berbeda dengan Reyhan yang nampak masih was-was. Sekarang hatinya di penuhi lagi dengan rasa bersalah. "Oh iya Sheil, tadi gue beli buah-buahan buat lo." Shela memberikan satu kantung plastik penuh berisi buah-buahan itu kepada Sheila. "Tumben baik, BTW makasih hehe." Ucap Sheila. "Oh iya, lu pada mau minum apa? Ntar biar Rizki yang bikinin." Lanjut Sheila. "Lah kok gue lagi." Ucap Rizki dengan nada kesalnya. "Yaelah ki, sekali-kali ngapa. Sekalian Gue juga bikinin yak." Tutur Reyhan. "Boro-boro mau bantu ye lo Rey." "Mau ya ki? Yayaya?" Tanya Sheila. "Iya." Jawab Rizki dengan nada yang tidak ikhlas. "Jadi lo mau minum apa nih Mel?Shel?" Tanya Rizki. "Gue mau jus jeruk aja ki." Ucap Reyhan dengan santai. "Gue kaga nanya lo nyet." Ucap Rizki. "Samain aja sama Reyhan." Jawab Shela. "Huuuhhh..." Reyhan menyoraki Rizki. Rizki pun segera bangkit dan menuju dapur untuk membuatkan mimum untuk mereka. Setelah beberapa saat Rizki kembali dengan nampan yang berisi jus jeruk dan beberapa cemilan lainnya. "Makasih Rizki..." ucap Reyhan. "Hm." Jawab Rizki dengan gumaman. "Sok di minum Mel, Shel." Ucap Sheila. Merekapun larut dalam keseruan yang di ciptakan oleh Rizki sampai matahari pun beranjak meningalkan bumi. Tiba-tiba ponsel salah satu dari mereka berdering. "Eh handphone siapa tuh?" Tanya Rizki. "Handphone gue." Jawab Shela. Shela melihat nama yang tampil dalam layar handphonenya. "Yah nyokap nelfon lagi." Gumam Shela. kemudian Shela mengangkat telfon tersebut disitu, otomatis semula yang semuanya brisik menjadi diam seketika. "Assalamualaikum." Ucap Shela di telfon. "Iya-iya Shela pulang mah." Setelah mengatakan itupun Shela memutuskan sambungan telfonnya. "Nyokap lo nyuruh pulang Shel?" Tanya Sheila. "Iya nih... padahal gue masih pegen disini." "Yaudah lah ngga papa, udah sore juga." Lanjut Reyha. "Ki anterin gih." Ucap Sheila. "Gue lagi nih?" Tanya Rizki. "Ya terussss...." tanya Sheila lagi "Ya ngga papa sih." "Yaudah sono anterin." "Iya-iya." Rizki bangkit untuk mengambil kunci mobilnya yang ada di nakas tempat tidur Sheila. "Ayok Shel." Rizki menggenggam tangan Shela untuk mengajaknya pulang. "Udah maen gandeng-gandengan aja nih." Ucap Sheila lagi. "Bacot lo ah, gue duluan." Rizki pun keluar dari apartement Sheila untuk mengantarkan Shela. Selama menuju mobil Rizki di area parkir, Rizki tetap menggenggam tangan Shela dan enggan melepasnya. Itu membuat ritme detak jantung Shela berubah. * Dan di dalam apartement tersebut tersisa Sheila, Amel, dan Reyhan. Tapi tiba-tiba suara notifikasi terdengar dari salah satu handphone mereka. "Sheil..." panggil Amel. "Ya?" "Supir gue udah ada di bawah, jadi gue harus pulang dulu. Tadinya gue ngomong cuman sebentar sih hehe." "Jadi mau pulang nih?" Tanya Sheila. "Iya. Gue duluan ya." Amel bangkit untuk meninggalkan apartement tersebut. "Iya mel, ati-ati." Ucap Sheila sambil melambaikan tangannya ke arah Amel. "Oke Sheil." Amelpun melambaikan tangannya ke arah Sheila. Dan di ruangan ini, hanya tersisa Sheila dan Reyhan, berdua. Dengan langit yang mulai menjadi gelap. Reyhan bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Sheila. "Mau kemana Rey?" Tanya Sheila. "Ambil pisau, sekalian nyalain lampu apartement lo." Jawab Reyhan sambil berjalan. "Emang paling pengertian." Ucap Shiela keras. Tidak lama kemudian Reyhan membawa pisau itu. "Mau buah apa? Ntar gue kupasin." Ujar Reyhan. "Apellll.... " ucap Sheila antusias. Dan Reyhan pun segera mengupas apel pemberian Amel dan Shela tersebut. "Rey." Sheila memanggil nama Reyhan. "Hm?" Jawab Reyhan dengan gumaman. "Faqih mana sih?" Tanya Sheila. "Hah?" Tanya Reyhan kaget, otomatis Reyhan menghentikan acaranya mengupas buah apel tersebut dan reflek menengok ke arah Sheila. "Reyhan!" Ucap Sheila membentak sebab Reyhan menampilkan ekspresi cengo nya dan memikirkan sesuatu. "Eh apaan?" Tanya Reyhan. "Tau ah, kesel." Ucap Sheila cemberut sambil menyilangkan kedua tangannya di d**a. "Seriusan deh, apaan?" Tanya Reyhan lagi. "Nggak, nggak jadi." Ucap Sheila kesal. "Yaudah." Reyhan kembali menekuni mengupas buah apel itu. "Ih Reyhaaaaannnnn...." ucap Sheila. "Apaan lagi sih? Tadi seribu, Sekarang dua ribu." "Dih receh." "Nggak papa receh yang penting sayang." "Belajar darimana bang?" Tanya Sheila. "Dari mata membuat ku jatuh, jatuh terus jatuh kehati..." Reyhan malah menyanyikan lagu Jazz-Dari mata. "Receh sumpah Rey." "Bodo amat, nih buah nya." Reyhan memberikan buah yang sudah di kupas dan di potong itu kepada Sheila. "Makasih."  Sheila menerima buah itu dan langsung melahapnya. "Oh iya Sheil, Di kulkas lo ada apa aja? Gue pengen masak." Tanya Reyhan. "Lo bisa masak Rey?" "Bisa. Masak aer doang." Ucap Reyhan. "Lah kok masak air tapi lo nanyain bahan-bahan di kulkas gue sih?" Tanya Sheila heran. "Lo sejak sakit jadi bloon ya Sheil, ya kali gue mau masak aer doang." "Oh iya-iya gue lupa, di kulkas tinggal pilih lo mau masak apa aja ada." "Oke." Setelah mengatakan itu Reyhan langsung bangkit menuju dapur untuk membuatkan mereka makanan. 15 menit berlalu, Reyhan kembali dengan 2 piring nasi goreng di tangannya. "Nih makan." Ucap Reyhan sambil meberikan sepiring nasi goreng itu kepada Sheila. "Makasih Reyhan baikk... tapi jarang." Reyhan memutar bola matanya malas. Mereka memakan makanannya dalam diam. "Siniin piringnya,udah abis kan?" Tanya Reyhan. "Iya." Jawab Sheila. Setelah itu Reyhan bangkit untuk mencuci piring bekas mereka. "Sheil gue pulang ya, udah malem. Ngga baik cowo sama cewe berduaan di apartement kek gini." Ucap Reyhan setelah mereka makan malam. "Makasih Rey udah mau kesini." Ucap Sheila sambil tersenyum. "Everything for you Sheil." Reyhan bangkit dan mengacak rambut Sheila. "Byee.... ati-ati..." ucap Sheila sambil melambaikan tangannya ke arah Reyhan. Reyhan pun membalas melambaikan tangannya ke arah Sheila juga. "Kok bete ya." Gumam Sheila Sheila membuka Smartphone nya dan membuka sosial medianya.                    ICE PRINCE                                                           online Qih lo dimana?  19.25 Read. Lo tadi pagi ngga jemput gue padahal lo udah janji kan harus anter-jemput gue selama seminggu 19.25 Read. Kok seharian ini gue ngga liat lo? 19.26 Read. Lo ngga masuk sekolah ya? 19.27 Read. Bales ngapa bang, jan sok ngartis. 21.18 Read. "Huffttt...." Sheila menghela nafas kasar. Sejak dari tadi ia menunggu balasan dari Faqih tetapi hingga saat ini Faqih belum juga membalas pesannya. Sheila menguap lagi, lagi, dan lagi. Tetapi ia tetap menatap layar ponselnya dan berharap bahwa orang yang berhasil memikat hatinya itu membalas pesannya. Tetapi nihil. Hingga saat ini pukul 23.50 Faqih belum juga membalas pesannya. Ketika ia ingin memejamkan matanya tiba-tiba sebuah notifikasi muncul di layar hpnya. Senyum Sheila merekah "yes." Ucapnya. Tapi ketika ia melihat siapa yang mengirim pesan kepadanya seketika senyum Sheila luntur. Reyhaaannnnn        Online Belum tidur Sheil? 00.21 Read. Belum 00.22 Read. Tiba-tiba Reyhan menelfonnya. I met you in the dark You lit me up You made me feel as though I was enough We danced the night away We drank too much I held your hair back when You were throwing up Then you smiled over your shoulder For a minute I was stone-cold sober I pulled you closer to my chest And you asked me to stay over I said, I already told you I think that you should get some rest I knew I loved you then But you'd never know 'Cause I played it cool when I was scared of letting go I knew I needed you But I never showed But I wanna stay with you Until we're grey and old Just say you won't let go Just say you won't let go I wake you up with some Breakfast in bed I'll bring you coffee With a kiss on your head And I'll take the kids to school Wave them goodbye And I'll thank my lucky stars For that night When you looked over your shoulder For a minute I forget that I'm older I wanna dance with you right now, oh And you look as beautiful as ever And I swear that every day you get better You make me feel this way somehow I'm so in love with you And I hope you know Darling, your love is more than worth its weight in gold We've come so far, my dear Look how we've grown And I wanna stay with you Until we're grey and old Just say you won't let go Just say you won't let go I wanna live with you Even when we're ghosts 'Cause you were always there for me When I needed you most I'm gonna love you 'til My lungs give out I promise 'til death we part Like in our vows So I wrote this song for you Now everybody knows That it's just you and me Until we're grey and old Just say you won't let go Just say you won't let go Just say you won't let go Oh, just say you won't let go Reyhan menyanyikan lagu Say you want let go dari James Arthur dengan gitarnya. "Sheill..."  panggil Reyhan dalam telfonnya. "Sheila....." panggilnya lagi. "Good night." Gumam Reyhan. Kemudian ia mematikan sambungan Telfonnya. Keesokan harinya.... Pagi ini Sheila sudah di buat marah karna ada yang mengganggu tidurnya dengan memencet bel apartementnya berkali-kali. Otomatis Sheila harus bangun se pagi ini untuk membukakan pintu. Sheila turun dari king sizenya. Sheila mengucek matanya. "Duh siapa sih pagi-pagi gini udah ribut aja." Omel Sheila, sambil berjalan untuk membukakan pintu. Ketika Sheila membukakan pintu untuk orang tersebut, betapa terkejutnya ia saat mengetahui siapa yang datang ke apartementnya se pagi ini. "Ya Allah. Lu ngapain Rey pagi-pagi gini di apart gue?? ..." omel Sheila. Kemudian Reyhan memperlihatkan kantung plastik putih itu di hadapan wajah Sheila. "Apaan tuh..!!" Ucap Sheila keras. "Hussttt." Reyhan menempelkan jari telunjuknya ke bibir "ntar tetangga pada bangun, jangan berisik." Kemudian Sheila langsung menutup mulutnya dengan tangan. "Oh iya lupa." "Yaudah nih gue cuman mau ngasih ini doang. Jangan lupa di makan." Ucap Reyhan. Sheila menerima makanan yang di dalam kantung plastik tersebut. "Makasih Rey, masuk dulu sini." Ucap Sheila. "Nggak ah, nanti si Faqih marah lagi." Ucap Reyhan sambil cengengesan. "Selo aja kali bang." "Nggak ah. Jangan lupa di makan tuh bubur, oh iya lu sekolah nggak sih?" "Iya pasti gue makan. Kek nya sekolah sih." Ucap Sheila. "Yaudah ntar gue jemput." "Tapi Fa..." Reyhan memotong pembicaraan Sheila. "Oh iya-iya gue lupa kan ada Faqih yang jemput lo jadi gue ngga usah jemput lagi ya?" Potong Reyhan. "Yaudah gue balik dulu." Lanjutnya. Ketika Reyhan membalikkan badannya dan bermaksud meninggalkan apartement itu tiba-tiba Sheila memegang lengannya. "Bukan gitu maksud gue Reyyy..." ucap Sheila. "Nggak papa gue ngerti kok." Ucap Reyhan sambil melepaskan tangan Sheila di lengannya. "Yaudah gue mau pulang, belom mandi juga nih." Lanjut Reyhan. "Ih bauuu...." ucap Sheila sambil  menutup hidungnya. "Bodo, yang penting ganteng." Setelah mengucapkan itu, Reyhan langsung pergi dari hadapan Sheila. Sakit??? Jelas. "Faqih mana sih??" Gerutu Sheila. Yap! Lagi dan lagi Sheila harus di buat marah oleh Faqih sebab Faqih tidak menjemputnya lagi.  Sedari tadi Sheila berusaha menghubungi Faqih tetapi... hasilnya nihil! Faqih tidak menjawab panggilannya sama sekali. Karna keterputus asaan Sheila menunggu Faqih akhirnya Sheila menelfon Reyhan untuk menjemputnya. "Halo Rey..." "Ada apa Sheil? "Gue ngga di jemput sama Faqih, kan kesel yak." "Mau gue jemput?" "Mauuu..., sini depan apart." "Yaudah otw ini." Reyhan POV Pagi ini Reyhan sudah berada dalam kelas nya, XI IPA 3. Kelas tersebut masih sepi sebab Reyhan datang jam 6.15 dan tiba-tiba handphone Reyhan bergetar menandakan ada panggilan masuk. "Halo Rey..." "Ada apa Sheil?" "Gue ngga di jemput sama Faqih, kan kesel yak." "Mau gue jemput?" "Mauuu..., sini depan apart." "Yaudah otw ini." "Kadang gue harus rela jadi bodoh buat lo ya? Cinta itu buta. Gue slalu ada buat lo, tapi lo? Lo ada cuman kalo lo lagi butuh sama gue." Reyhan menertawakan kebodohan dirinya sendiri sebelum ia bangkit dari duduknya dan menuju apartement Sheila.15 menit berlalu, kini Reyhan sudah berada di depan apartement Sheila. * "Naik Sheil." Ucap Reyhan. Dan Sheila pun segera menaiki motor sport Reyhan tersebut. Tidak lupa juga Sheila memakai helm full face nya. Walaupun ia di bonceng Reyhan teyapi Savety First bukan? "Gueee kangeennn FAQIHHHH........" Ucap Sheila di sepanjang jalan. "Lo tau ngga sih Rey, Faqih kemana?" Tanya Sheila. "Gue ngga tau." Jawab Reyhan. Oke mereka pun tak banyak bicara di perjalanan menuju sekolah karna mereka tau bahwa komunikasi mereka terhalang oleh helm. Sesampainya di sekolah ia pun turun dari motor Reyhan daan membuka helmnya. Dan yang pertama kali ia lihat adalah Faqih! Faqih yang berada jauh lurus di depannya dan sedang menatapnya! Seketika Sheila langsung berlari menghampiri Faqih dan ia meninggalkan Reyhan. "Qih! Lo kemana aja sih kemarin." Ucap Sheila kesal. Sedangkan Faqih hanya menatapnya dengan rahang yang mengeras. "Lo kemaren kemana aja? Kan udah janji mau anter jemput gue." Ucap Sheila sambil memegang lengan Faqih. "Apaan sih lo ganggu tau ngga!" Ucap Faqih sambil melepaskan tangan Sheila di lengannya. Dan kemudian Faqih melengos pergi dari hadapan Sheila dan menyisakan beribu tanda tanya di hati Sheila. Kejadian itu pun tak luput dari tatapan siswa maupun siswi SMAN 1 PELITA yang berada di sekitar area parkir dan  gerbang masuk. Oke sekarang siswa-siswi itu pun sedang membicarakan Sheila, lagi. "Kenapa sikap lo jadi kek gini ke gue." Batin Sheila. Sedangkan Reyhan yang melihat kejadian di depan matanya itu. Seketika ia merasa bersalah karna merusak kepercayaan Faqih terhadap Sheila. Reyhan pun berjalan menghampiri Sheila. "Kenapa?" Tanya nya. Dan apa yang di lakukan Sheila? Ia berlari pergi meninggalkan Reyhan dengan setetes air mata yang jatuh ke pipinya. "Gue salah. Seharusnya gue ngga jatuh cinta sama lo, gue bodoh." Gumam Reyhan menertawakan dirinya sendiri. Sheila berlari meninggalkan keramaian itu. Ia malu! Sangat malu! Entah hatinya sakit saat ini. Ia duduk termenung dengan kepala menunduk ke bawah,  ke dua tangannya ia jadikan untuk menutupi wajahnya. "Kenapa saat gue udah jatuh cinta sama lo, lo menjauh! Dulu lo jadiin gue prioritas, buat gue salalu bahagia setiap waktu gue sama lo, lo b******k! Dengan gampangnya lo terbangin hati gue dan lo jatuhin gitu aja saat hati gue udah ngomong bahwa gue jatuh cinta sama lo!" Ucap Sheila dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya. "AARRGGHHHHH!!!!.." Teriak Sheila sambil menjambak rambutnya. "Gue ngga pernah jatuh cinta sama siapa pun sebelumnya kecuali sama lo! Bahkan gue ngga pernah mencintai diri gue sendiri seumur hidup gue!" Ucap Sheila lagi. Sheila diam. Dengan pandangan kosong ke depan ia sama sekali tidak menyangka kalau Faqih harus berubah secepat ini. "Hidup lo enak ya. Bisanya cuman nerbangin hati orang sampe gue ngerasa ada di langit ke 7 dan terus tiba-tiba di jatuhin gitu aja, sakit tau ngga." ~Sheila yanuar gilbert~ Tiba-tiba sesorang memberikan ia coklat. "Ngelamun muluk, nih coklat biar ngga badmood." Ucapnya sambil mengulurkan sebatang coklat silverqueen chungky bar (nggak tau tulisannya asli:') Sheila melirik coklat tersebut tanpa minat. Kemudian orang itu pun duduk di samping Sheila. "Makan gih coklatnya." Ucapnya lagi sambil mengulurkan coklat itu. "Guee ngga mood." Ucap Sheila lusuh. "Oh... yaudah gue yang makan." "Terserah lo." Ucap Sheila kemudian ia menatap lurus ke depan lagi, kosong. "Eh lo kok ada di sini?!" Ucap Sheila kaget. Satu hal yang Sheila lupakan bahwa sedari tadi ia berbicara dengan orang itu!!!                                                                         tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN