Six

3789 Kata
"Gila-gila ice prince pedulian." "Gua baru tau Faqih bisa ngomong panjang lebar kek gitu ya." "Faqih senyum lo kok bikin candu sih." "Norak." "Jadian nggak sih?" "Sheila belajar? Nggak mungkin." "Lebay banget sih." "Alay sat." Pasti tau kan siapa yang ber argumen?  Yap anak-anak kelas XI IPS 2. kondisi kelas itu sekarang tidak kondusif karna kehadiran faqih dan sheila, semuanya membicarakan faqih dan sheila sekarang. Faqih telah berdiri dari posisinya dan telah menyelesaikan 50 kali push up tadi. "Udah kan bu? Jadi sekarang Sheila bisa ikut pelajaran ibu kan?" Tanya Faqih kepada ibu pipit. "Iya." Jawab ibu itu datar. "Belajar yang bener Sheil." Ucap Faqih sembari mengacak rambut Sheila lagi. ia idak peduli banyak atau tidaknya orang di ruangan ini, kalau sudah tentang cinta, dunia hanya serasa milik berdua. "Anjir Sosweetttt..." ucap Shela tanpa sadar dan langsung mendapat tatapan tajam dari Sheila. "faqih so sweet banget.'  "gue iri ya ampun...." "pacar geu ngga pernah gitu ke gue, iri sat.." Faqih langsung berlari meninggalkan kelas itu dan meninggalkan Sheila dengan pipi yang merona karnanya. Sheila segera duduk di tempat duduknya sedangkan Amel dan Shela sudah memutar tubuhnya menghadap ke belakang, tepatnya ke hadapan Sheila. "Eh Sheil gimana sih bisanya lo sama dia?" Tanya Shela penasaran. "Iya Sheil, ceritain dong." Timpal Amel. "Hussstt... diem gue mau belajar." Ucap Sheila sambil menaruh telunjuknya ke bibir setelah itu langsung mengalihkan tatapannya ke orang yang ada di depan lebih tepatnya sedang menerangkan pelajaran,siapa lagi kalau bukan ibu pipit. Selama 2 jam pelajaran itu Sheila berusaha fokus dan berusaha sekuat tenaga menahan kantuk yang menyerang dirinya. "Nih pelajaran kapan abis sih, bosen." Batin Sheila. Untung saja waktu berpihak kepadanya karna setelah itu bel istirahatpun berbunyi nyaring yang menandakan semuanya boleh keluar kelas untuk istirahat dan mengisi perut mereka. "Allhamdulillah." Ucap Sheila. "Sheil lo mau ke kantin? Bareng nyok." Ucap Amel. "Iya yuk. Udah lama juga ngga bareng BTW." Sheila terkekeh. "ya los ih bolos mulu, jadi kita makan berdua terus ya shel?' ucap amel.  "iya, ngga asik, ngga rame tau." jwab shela menimpali. sedangkan sheila hanya bisa terkekeh mendengar  ucapan temannya tersebut. Mereka melangkahkan kakinya keluar kelas. "Sheil kantin yuk." Ajak pria itu. "Tapi Qih.." saat Sheila ingin menolak ajakan Faqih tiba-tiba pembicaraannya terpotong oleh suara Shela. 'gue ngga nerima penolakan." ucap faqih datar.  "Udah Sheil, kita mah kaga papa ye ga mel?" Ucap Shela. "Yoi Shel." ucap amel "Yaudah kita duluan ya Sheil." Ucap Amel kepada Sheila. "Iya. Ati-ati ye." Ucap Sheila. "Yuk Sheil." Ajak Faqih sambil menggenggam tangan Sheila. "Jangan gandeng deh Qih berasa kek anak kecil gitu." Ucap Sheila "Biarin." Mereka melangkahkan kakinya menuju warung Ma'e. "Hallo Sheila lovers." Ucap Sheila menyapa teman-temannya. "Eh Sheila." Ucap Reyhan. "Sheil mau pesen apa?" Tanya Faqih. "Rokok." Tawab Sheila dengan cengiran tanpa dosanya. "Serius." Ucap Faqih dingin. Ntah kenapa Sheila merinding melihat Faqih yang kembali dingin kepadanya ini. "Nasgor." Ucap Sheila. "Ok." Jawab Faqih. Setelah itu Faqih langsung melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Sheila untuk memesan makanan mereka. "Sheil." Panggil Reyhan. Sheila yang merasa namanya di panggil itu seketika menengok ke sumber suara. "Eh ada apa Rey?" Tanya Sheila. Reyhan berjalan mendekati Sheila dan Reyhan berbisik tepat di telinga Sheila. "Gue mau ngomong tapi ngga disini, pulang sekolah kita ketemu di Rooftop." Bisiknya. Ketika Sheila ingin bertanya apa yang di bicarakan nanti ketika di Rooftop harus ia urungkan karna Faqih sudah kembali dengan 2 piring nasi goreng dan 2 botol air mineral di tangannya. Mereka menikmati makanannya dalam diam sampai bel masuk pun terdengar nyaring. "Sheil nanti gue jemput ke kelas, lo jangan kemana-mana." Ucap Faqih. "Okey." Jawab Sheila. "Qih gue ke kelas duluan ya." Ucap Sheila. "Mau di anter?" Tanya Faqih. "Ngga usah, gue bisa sendiri kok." Jawab Sheila. "Yaudah." Sheila pun meninggalkan Faqih dan berjalan menuju kelasnya. Ketika ia menginjakkan kakinya di dalam kelas tersebut, ia sudah di hadiahi pertanyaan-pertanyaan itu lagi. "Sheilaaaa...ceritain dong gimana lo bisa jadian ama si Faqih, secara kan dia  dingin gitu." Ucap Shela mendekati Sheila. "Siapa yang jadian lagi." Jawab Sheila sembari melangkahkan kakinya menuju bangku tempat duduknya. Shela menyetarakan langkah mereka. "Ih masa ngga jadian sih." "Emang ngga." "Tapi lo ada perasaan kan sama dia?" Sheila menghentikan langkahnya. Ia diam tak berkutik fikirannya ntah kemana. "Mm...nggak." jawab Sheila ragu-ragu. "Udah jelas deh dari sikap lo Sheil lo itu suka sama dia. Dia juga keliatannya suka sama lo." Terang Shela. "Ngga mungkin dia suka sama gue Shel. Ngaco lo." Elak Sheila. "Yee... kaga percayaan. Lo mah meragukan seorang Shela. Shela itu ngga pernah salah soal nebak-nebak gini." "Iyain." Jawab Sheila cepat. Dan seorang guru pun masuk ke kelas XI IPS 2 dan seketika semua murid-murid pun menghenrikan aktivitas nya dan mulai fokus terhadap apa yang guru itu terangkan. Sheila sukses mengikuti pelajaran hari ini dengan lancar walaupun ia selalu berusaha keras untuk menahan kantuknya. "Akhirnya pulang juga." Ucap Sheila semangat. "Rekor nih. Selama gue hampir 2 tahun sekelas sama lo. Baru kali ini lo ngikutin pelajaran sampe selesai good." Ucap Shela sambil mengangkat kedua jempol tangannya. "Iya dong Sheila gitu." Ucapnya bangga. "Oh iya lo mau pulang bareng sama kita?" Tanya Shela dan Amel kepada Sheila. Seketika itu Sheila ingat akan janjinya kepada Reyhan. "Gue lupa ada janji. Gue duluan ya." Ucap Sheila terburu-buru. "Yaudah ati-ati." Ucap Shela. Sheila berlari menyusuri koridor dan menaiki tangga dengan terburu-buru. Setelah ia sampai di atas ia membungkuk memegangi lututnya dan mengatur nafasnya. "Gila-gila cape parah." Ucap Sheila dan setelah itu ia menyeka ketingatnya. "Sheil." Panggil Reyhan. Sheila mendongakkan kepalanya dan bangkit dari posisinya dilihatnya Reyhan yang sudah di hadapannya. "Gue mau ngomong sama lo." Ucap Reyhan lagi. "Ngomong apa Rey?" Tanya Sheila sambil berusaha meneralkan jantung dan nafasnya karna lari tadi. Reyhan menjauh dan dan duduk di bawah sedikit saja Reyhan lengah ia akan terjatuh ke bawah.  Sheila yang melihat Reyhan menjauh pun mengikuti langkah Reyhan dan duduk di samping Reyhan. "Gue mau tanya gimana rasanya jatuh cinta?" Tanya Reyhan. Sheila heran dengan pertanyaan Reyhan. Kenapa ia menanyakan hal itu? "Gue ngga tau. Pastinya sih kalau orang jatuh cinta setiap dia deketan sama yang dia cintai rasanya beda, kalau dia pegang tangan yang dia cintai pasti jantungnya deg-degan gitu, apalagi di peluk hehe." Terang Sheila. Entahlah kenapa ia mengatakan ini sembari senyum dan membayangkan saat Faqih memeluknya dan menggenggam tangannya. Tiba-tiba Reyhan memeluk Sheila sangat erat. Sheila sungguh heran dengan ini. "Maksud lo apa Rey." Ucap Sheila berusaha melepas pelukan itu. "Sebentar aja tetep kaya gini dulu." Di lain tempat... "Lo tau Sheila?" Tanya Faqih kepada teman-teman Sheila yang ada di depan kelas Sheila. "Katanya Sheila ada janji tadi gue kira sama lo." Terang Shela. Faqih menjauh dan meninggalkan teman Sheila itu. "Lo ada janji sama siapa Sheil, kenapa lo nggak ngomong sama gue." Batin Faqih. Faqih melangkahkan kakinya menuju Rooftop entahlah feelingnya mengatakan bahwa Sheila ada di Rooftop. Faqih menaiki tangga itu dengan tergesa-gesa sampai ia benar-benar tiba di Rooftop. "Oh jadi ini." Faqih tersenyum miris. Faqih meninggalkan Rooftop itu dengan penuh amarah. "Apa lo ngerasa perasaan beda saat ini Sheil?" Tanya Reyhan masih dalam pelukan nya. "Maksud lo apa Rey." Tanya Sheila. "Gue jatuh cinta sama lo." Ucap Reyhan Spontan. "Nggak Rey... Ini salah!" Sheila berusaha melepaskan pelukan itu dan berhasil! Ia berusaha melepaskan peukan itu. Sheila bangkit dari duduknya. "Apa mencintai lo itu salah Sheil?" Tanya Reyhan sudah bangkit dari duduknya. "Tapi gue ngga cinta sama lo." Ucap Sheila lirih. "Gue tau pasti lo cintanya sama Faqih kan?" Tebak reyhan. "Ii..iya." jawab Sheila lirih. "KURANG APA GUE HAH! APA YANG DIA MILIKI DAN NGGA GUE MILIKI SHEIL! DIA CUMAN ANAK YANG NGGA GUNA SHEIL! DIA ANAK BROKEN HOME SHEIL! DIA CUMAN BISA NYUSAHIN ORANG TUANYA! SEDANGKAN GUE SHEIL, GUE BERUSAHA BUAT LO BAHAGIA, APA YANG DIA MILIKI DAN NGGA GUE MILIKI!!" Bentak Reyhan. "CUKUP REY!!" Sheila sudah tidak kuat untuk menahan air matanya. "Lo ngga nyadar kan apa yang lo barusan bicarain? LO BILANG DIA NGGA GUNA, DAN DIA ANAK BROKEN HOME! satu hal yang lo lupain gue juga anak broken home." Ucap Sheila setelah itu ia berlari meninggalkan Reyhan yang menyesali perkataannya. Sheila berlari sekencang-kencangnya meninggalkan area sekolah menyusuri g**g-g**g kecil dengan berjalan kaki. Tiba-tiba petir itu bergemuruh menandakan hujan akan segera turun. Sheila takut akan petir. Petir itu mengingatkannya saat ia ditinggalkan sendirian di rumah dengan barang-barang yang pecah berserakan di rumahnya dulu akibat pertengkaran orang tuanya. Sheila duduk di halte bus. Ia duduk memeluk lurutnya berharap petir itu segera bergantikan dengan pelangi yang indah. Ia lagi-lagi menangis, ia benci dirinya yang lemah, ia benci di mana orang-orang bebas mengusik dirinya tentang Broken home. Seragamnya sudah basah karna air hujan itu. Sheila memaksakan berjalan lagi untuk sampai di apartementnya walaupun petir-petir itu belum juga selesai. Setelah menempuh jarak yang jauh dengan berjalan kaki, akhirnya ia sampai di apartementnya. Sheila segera membersihkan dirinya dan pergi ke alam mimpi. Mungkin tidur akan sedikit mengurangi masalahnya fikirnya. Saat pertama kali ia membuka matanya gadis itu merasakan pusing di kepalanya tetapi ia tetap memaksakan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.Sekarang gadis itu sudah rapih dengan seragam miliknya. Ia juga tidak lupa memoleskan make up tipis ke wajahnya yang terlihat pucat pagi ini. "Qih lo kemana." Gumam Sheila. Sudah lebih dari 30 kali ia menelfon Faqih untuk menjemputnya tetapi telfon itu sama sekali tidak di angkat oleh pemiliknya. Maka dari itu Sheila memutuskan untuk menaiki Taksi pagi ini karna ia merasa lemas dan di tambah lagi ia tidak ingin sarapan pagi hari ini. Sheila menghentikan taksi itu dan segera menaikinya untuk pergi ke sekolahnya. Setelah Sheila membayar uangnya Sheila segera turun dan melangkahkan kakinya untuk memasuki kelasnya. Kepala Sheila sangat pening luar biasa tetapi ia terus melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Ia juga tidak mau melanggar perjanjian yang ia buat dengan Faqih beberapa hari yang lalu. "Sheil muka lo pucettt!" Suara itu masuk ke indra pendengaran Sheila tetapi ia menghiraukan suara itu, ia hanya perlu sampai ke bangkunya sekarang. Sheila mendudukkan pantatnya ke bangku itu. Sheila memegangi kepalanya yang sangat-sangat pening. "Sheila kita ke UKS ya." Ucap Amel karna kasihan melihat Sheila yang pucat hari ini. "Ngga usah, gue kuat kok." ucap sheila sambil tersenyum "Tapi muka lo pucet banget Sheil." Ucap Amel lagi khawatir. "Gue ngga papa." Sheila memaksakan senyumnya. "Ya ampun Sheilaaaaa." Suara Shela menggema di seluruh kelas. Shela berlari ke arah bangku yang di tempati Sheila. "Sheil muka lo pucett." Ucap Shela panik. Sheila hanya memaksakan senyumnya menanggapi kepanikan sahabatnya ini. Tak berapa lama pun ibu Eka memasuki kelas mereka mereka dan menerangkan pelajaran matematika. Sheila hanya bisa diam dan mengikuti pelajaran itu dengan sakit kepalanya yang tak kunjung reda. Sheila mampu bertahan sampai 3 jam pelajaran itu habis. "Sheil makan yuk." Ajak Amel. "Eh tapi lo masih kuat kan?" Ralat Amel. Sheila berusaha bangkit dari duduknya s**l! Kepalanya sangat pening sampai ia merasakan semuanya menjadi gelap. "SHEILAAAA..." Teriak Shela panik. "WOY TOLONGIN b**o!!" Ucap Shela marah karna teman-temannya hanya diam melihat kejadian itu. "Mel, lo jagain Sheila ntar gue nyari Faqih ya." Ucap Shela setelah mereka berada di UKS dan mendapat anggukan dari Amel. Shela berlari menyusuri kelas-kelas sampai ia tiba di kelas X IPA 1. "Permisi..." Ucap Shela setelah mengetuk pintu kelas itu. Untunglah mereka belum keluar dari kelasnya jadi Shela bebas untuk mencari keberadaan Faqih di kelas itu. "Faqih." Panggil Shela. Faqih yang merasa namanya terpanggil itu mendekat ke arah Shela dan menaikkan satu alisnya.  "Sheila sakit Qih... dia sampe pingsan, dia sekarang di UKS." Ucap Shela lirih. Seketika hati Faqih merasa sakit ntahlah tapi sudah ada Reyhan kan sekarang? Jadi untuk apa ia peduli kepada Sheila? "Qih... kenapa lo diem, Sheila sakit dan lo masih diem!" Shela mengguncang lengan Faqih. "Faqih! Lo denger ngga sih SHEILA SAKIT!" Faqih menepis tangan Shela "GUE NGGA PEDULI!" Ucapnya setelah itu ia pergi dari hadapan Shela. Ntah kenapa setetes air mata itu jatuh dari pelupuk mata Shela. "Sheila punya salah apa sama lo Qih, Sheila itu sahabat gue yang paling baik dan lo ngga peduliin dia saat lagi sakit kek gini." Gumam Shela sambil mengusap air matanya. Shela berbalik hendak meninggalkan kelas itu. "Eh woy." Suara itu meghentikan langkah Shela. Pria itu berlari mendekatinya. "Gue denger Sheila sakit, apa bener?" Ucap pria itu. Shela hanya bisa mengangguk. "Sekarang dia dimana?" Tanya pria itu. "UKS." "Ayok anter gue ke UKS." Ucap pria itu sambil menggengam tangan Shela membawa mereka pergi ke UKS. Ntah kenapa hati Shela merasa lebih baik saat pria ini menggenggam tangannya. * Sheila mengerjapkan matanya, dimana ia sekarang? Kenapa kepalanya sangat pening? "Sheil lo udah sadar? Ini minum dulu, jangan lupa di minum juga obatnya." Ucap pria itu sambil menyodorkan segelas air putih dan obat itu Rizki juga membantunya untuk meminum. Sheila pun meminum segelas air putih itu dan meminum obatnya. "Thanks Ki." Ucapnya. "Iya Sheil sama-sama, BTW tadi temen lo yang cewek udah ke kelasnya karna ada pelajaran." "Oh gitu." Sheila mengganggukan kepalanya. "Eh Sheil gue mau nanya dong. Temen lo yang manis, rambutnya se bahu terus putih itu siapa namanya?" Tanya Rizki penasaran. "Hayo lo naksir ya." Tebak Sheila sambil terkekeh. "Mmm...gimana ya abisnya dia cantik sih." Ucap Rizki sambil menggaruk kepalanya tak gatal. "Namanya Shela." "Oh... namanya Shela." Gumam Rizki. "Gue dukung 100% deh." Ucap sheila sambil tersenyum. Diam-diam ada seseorang yang memperhatikan interaksi mereka. "Lo bisa bahagia tanpa gue Shil." Ucapnya, setelah itu ia pergi dari tempat itu. Sheila di perbolehkan pulang lebih awal dari pada anak-anak lainnya karna dokter yang memeriksanya di UKS tadi mengatakan bahwa Sheila butuh istirahat banyak hari ini. "Sheil biar gue anterin pulang oke?" Ujar Rizki. Memang sedari tadi Rizki yang menjaganya, ia tidak tau kemana perginya Faqih hari ini. Rizki memapah Sheila dan meninggalkan UKS untuk menuju mobilnya. Beruntunglah hari ini Rizki membawa mobil milik papahnya. Selama perjalanan menuju mobil Rizki itu, lagi-lagi semua pandangan mengarah ke arah Sheila dan Rizki. "Dasar murahan gonta-ganti laki-laki mulu." "Yayang Sheila kok mukanye pucet." "Dasar udah nakal, bandel, murahan pula. Najis banget." "Jangan di dengerin Sheil." Ucap Rizki menyemangati Sheila "Udah Kebal gue, ntar kalo gue udah sehat gue bales tuh orang-orang." Ucap Sheila sambil terkekeh. "Nah ini baru Sheila yang gue kenal." Rizki terkekeh. Lagi-lagi lelaki yang sama itu hanya memperhatikan mereka dari jauh tanpa mau mendekat, faqih. Faqih yang memperhatikan mereka sedari tadi. "Gue yakin lo bahagia tanpa gue Sheil. Gue selalu ada untuk lo, walau dari jauh."  Ucapnya. Ntah kenapa fikiran Sheila tidak tenang hari ini, apalagi ia tidak bertemu sama sekali dengan Faqih. Sheila berkali-kali melirik ke seseorang di sampingnya yang sedang mengemudikan mobil itu. Ia nampak serius dengan jalanan yang ada di hadapannya. "Eh Ki..." ucap Sheilla "Hm?" Jawab Riski masih dengan tatapan yang lurus ke depan memperhatikan jalan di depannya itu. "Lo liat Faqih ngga sih hari ini?" Tanya Sheila. "Emangnya kenapa sih?" "Gue telfon dari pagi ngga ada kabar, gue juga ngga ketemu dia di sekolah." Rizki menengok sampingnya tepatnya, Sheila. "Hayo lo kangen ya?" Ucap Rizki sambil terkekeh. "Apaan sih lo ngaco." Elak Sheila. "Alah bilang ae kangen ye kan susah amat." "Sok tau lo kek dukun." "Gue santet lo baru tau rasa." "Eh anjir." Ucap Sheila kaget. Sedetik kemudian Sheila berfikir dan melanjutkan ucapannya "tapi sebelum lo nyantet gue, gue bunuh lo dulu dong." "Sebelum lo bunuh gue, gue racunin dulu lo." "Sebelum lo racunin gue, gue jorokin lo ke sungai sampe mati hahaha." Sheila tertawa terbahak-bahak. Rizki bergidik ngeri karna tawa Sheila yang menurutnya seperti psikopat "Dasar psikopat lu anying." "Baru tau ye bang?" "t*i lo." Rizki berusaha serius lagi untuk mengemudi dan mengabaikan Sheila di sampingnya. "Ngambekan lo kek cewek pms." Ucap Sheila karna melihat Rizki yang mendiaminya. "Jadi lo mau tau kaga Faqih ada dimana?" Tanya Rizki. "Mauuuu...." ucap Sheila semangat. "Aduh..." Sheila memegangi kepalanya yang terasa berdenyut itu. "Eh lo kenapa sat?" Rizki langsung menepikan mobilnya. Setelah Rizki menepikan mobilnya, ia segera mengambil sebotol air mineral di tas nya itu dan ia menyerahkannya kepada Sheila. "Nih lo minum dulu." Ucap Rizki sambil menyerahkan sebotol air mineral itu kepada Sheila. Sheila pun segera meminum air mineral itu. "Thanks sahabat gue." Ucapnya sambil tersenyum. Rizki memutar bole matanya malas."Tumben gue di anggep sahabat." Ucapnya. "Yaelah gitu ae baper." "Makannye jangan semangat-semangat amat kalo soal Faqih jadinya tuh pala sakit lagi kan." "Suka-suka gue dong sat." "Heran gue, lo lagi sakit kok masih bisa ngoceh kek gini." Ucap Rizki. "Haha gue kan keturunannya Raja Salman." Ucap Sheila bangga. Rizki hanya memutar bola matanya malas dan Rizki pun segera menyalakan mesinnya dan melajukan kembali mobilnya karna ia tau debat dengan Sheila adalah hal yang sia-sia. Selama perjalanan pulang itu mereka sama sekali tidak ada yang membuka percakapan sampai Rizki pun melihat pedagang bubur ayam langganan Sheila di pinggir jalan. "Woy Sheil lu mau beli bubur ayam langganan lu kaga?" Tanya Rizki masih dalam keadaan fokus pada menyetirnya. "Woy sat." Ucap Rizki. Kali ini ia menengok ke sebelahnya. Ternyata ia menemukan Sheila yang sedang tertidur sambil melipat kedua tangannya di d**a. "Yaelah tidur." Akhirnya Rizki pun menghentikan mobilnya dan turun dari mobilnya untuk membeli bubur ayam tersebut. Setelah mendapatkan bubur ayam tersebut ia pun segera membayarnya dan melangkahkan kakinya menuju mobilnya. Rizki menghentikan mobilnya setelah sampai di apartement Sheila. Rizki menepuk-nepuk pipi Sheila berharap agar sang empunya itu bangun. Dan yang di sadari Rizki adalah badan Sheila sangat panas. Rizki langsung menggendong Sheila ala bridal style dan membawanya ke kamarnya. Rizki menepuk jidatnya "Anjir pin nye berapa lagi." Lagi-lagi Rizki menepuk jidatnya "g****k kenapa gue bisa lupa." "Uhukk....uhukkk.." Sheila terbatuk sehingga ia bangun dari tidurnya. "Syukurlah lo bangun, pin berape pin?" Ucap Rizki. Setelah di beritahukan pinnya itu, Rizki segera menekan digit angkanya dan membawa Sheila masuk ke kamarnya.  Sheila berusaha duduk dari posisi berbaringnya tadi di bantu oleh Rizki juga karna ia merasakan badannya yang tidak enak. "Pelan-pelan Sheil." Ucap Rizki sambil membetulkan letak bantal untuk Sheila. "Lah iya gue lupa kan." Rizki menepuk jidatnya lagi. "Lupa apaan?" Tanya Sheila. "Bubur buat lo ketinggalan di mobil." Setelah mengucapkan itu, Rizki pun segera berlari dan turun untuk mengambil bubur ayam yang di belinya tadi untuk Sheila. Seketika Rizki menghampiri Sheila lagi dengan nafas yang terengah-engah. "Mana buburnya Ki?" Tanya Shila. "Gue lupa kuncinya ketinggalan." Ia segera menyambar kunci mobilnya di nakas tempat tidur Sheila dan ia pun segera berlari untuk pergi ke mobilnya lagi. Sedangkan Sheila hanya bisa tersenyum melihat kelakuan sahabatnya ini. Beruntunglah ia masih mempunyai seseorang yang sangat peduli padanya walau ia mengharapkan orang tuanya yang merawatnya. Ah sudahlah kenyataannya sekarang ia tidak mempunyai orang tua bukan? "Ngelamun mulu neng." Ucap Rizki yang seketika membuyarkan lamunan Sheila. "Lah, lo kapan dateng ki?" Tanya Sheila karna ia tidak melihat Rizki yang memasuki kamarnya. "Masa segini gedenya gue kaga keliatan sih." Ucap Rizki heran. "Lo kan biasanya suka ngilang terus datengnya tiba-tiba." "Anjir lo pikir gue mahluk gaib apa." "Lo kan Syaiton." "Babang Rizki yang paling ganteng ngambek nih?" Ucapnya. "Kok gue Kek pengen muntah gitu dengernya." Gumam Sheila yang masih bisa di dengar oleh Rizki. "Ganteng gue sama Faqih mah ya." Ucap Rizki pede. "Dih pede." "Udah-udah lebih baik dan sangat baik kalo lo makan buburnya sekarang ya." Ucap Rizki menghentikan perdebatan itu. "Lah lu yang mulai." Ucap Sheila kesal. Rizki pun menghiraukan ucapan Sheila dan segera menyuapi Sheila untuk memakan buburnya. "Satu lagi Sheil." Ucap Rizki karena satu porsi bubur itu hampir habis. Sheila pun membuka mulutnya dan memakan bubur itu. Walaupun lidahnya pahit tetapi ia harus menghargai orang lain bukan? Apalagi Rizki yang sudah merawatnya selama hampir seharian ini. "Pinter." Ucap Rizki karna Sheila mampu menghabiskan satu porsi bubur tersebut ya walaupun sedikit di bantu olehnya. "Nih minum, abis itu di minum obatnya ya." Rizki meyodorkan air putih itu dan memberikan Sheila obat yang tadi pagi Dokter berikan padanya untuk Sheila. "Makasih." Ucap Sheila. Setelah itu ia pun meminum obatnya "Sekarang lo tidur lagi ya." Ucap Rizki setelah itu ia bangkit untuk membersihkan bekas makanan Sheila. "Ki..." panggil Sheila. "Iya Sheil, lo butuh sesuatu?" Tanya Rizki. Sheila menggelengkan kepalanya. "Makasih." "Makasih buat apa?" "Makasih lo masih mau ada di samping gue saat dunia menjauh." Ucap Sheila lirih. Rizki mendekati Sheila dan duduk di tepi ranjang "Maksud lo?" Tanyanya. "Kadang gue berfikir apa gue pantes untuk dapet kasih sayang? Gue hanya  berharap orang yang gue sayang juga sayang sama gue. Apa bisa? Rasa-rasanya gue terlalu hina untuk itu." Ucap Sheila lirih. "Sheil..." Rizki membelai rambut Sheila dengan sayang. "Gue hanya perlu itu ki ngga lebih. Gue hanya pengen ngerasain gimana rasanya jadi prioritas." "Ini terlalu sakit ki." Lanjut Sheila. Air mata yang sudah sedari tadi ia tahan akhirnya mengalir tanpa izin. Entah kenapa Sheila tidak mengeluarkan isakan setiap kali ia menangis. Rizki membawa Sheila ke pelukannya mengusap punggung gadis itu supaya tangisannya reda. "Gue hanya pengen masa remaja gue kaya anak-anak lainnya. Orang tua gue yang slalu ada di samping gue, dan orang yang gue sayang slalu ada buat gue." "Ki... apa gue bisa bareng-bareng ngejalanin hidup sama orang yang gue cinta dan lari dari keterpurukan tentang broken home?" "Sheila bisa." Ucap Rizki sambil tersenyum. "Tapi gue ngga yakin ki." "Hussttt.... udah ya Sheila ngga boleh sedih, Sheila harus optimis bahwa Sheila itu bisa." Rizki mengusap air mata Sheila dan membantunya untuk membaringkan tubuhnya. Rizki mengusap puncak kepala Sheila "nice dream Sheil." Ucapnya. Sheila pun memejamkan matanya berusaha untuk mengistirahatkan tubuhnya. Rizki yang melihat Sheila sudah tertidur pun segera keluar dari kamar itu untuk menuju ruang TV. Rizki segera menelfon seseorang karna entah kenapa ia merasa emosi melihat sahabatnya yang sedih itu. "Gue tunggu di markas njing!" Ucap Rizki di telfon. Lalu setelah mengatakan itu Rizki segera memutuskan sambungan telfonnya dan segera mengambil kunci mobilnya dan pergi dari apartement Sheila. "Woy ki, kemana aja lu." Ucap Reyhan setelah Rizki menginjakkan kakinya di markas. "Faqih mana?" Tanya Rizki dengan tangan yang terkepal dan rahang yang mengeras. "Di dalem." Ucap Reyhan. Ia tak mau banyak bicara sekarang, apalagi tadi Rizki menyebut nama Faqih bukan? Rizki langsung berjalan menuju ke dalam markas tersebut. BUGHHH!!! Rizki meninju wajah Faqih. Faqih mengusap darah yang keluar dari sudut bibir nya"MAKSUD LO APA NYET!!" Ucap Faqih karena ia tidak tau menau masalah ini. Rizki menunjuk Faqih dengan jari telunjuknya "lo tau?, lo udah nyakitin Sheila!" "Gue? Ngga salah?" Tanya Faqih dengan senyum miringnya. * Reyhan mendengar keributan yang ada di dalam markas itu, untuk memastikannya makannya Reyhan beranjak dari duduknya dan menuju ke dalam. "Sheila cinta sama lo g****k!" Ucap Rizki emosi. "Dia cinta sama Reyhan! Bukan gue." Elak Faqih. "Dia selalu mau tau tentang lo! Dia selalu nanyain lo Qih! Dia nyariin lo selama seharian dia ngga ngeliat lo! Lo ngga ngangkat telfon dia pagi tadi, dan gue tanya lo kemana!!!" Ucap Rizki menggebu-gebu. "Dia ngga butuh gue, dia butuh Reyhan!" "Lo salah." Ucap seseorang di belakang mereka. Rizki dan Faqih pun terkejut, siapa yang bersuara tadi? Makannya mereka menengok ke belakang dan betapa terkejutnya mereka bahwa seseorang yang sedang di debatkannya ada disini.                                                                                   tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN