"Vilan, maafin aku, ya?" Zahra menunduk di hadapan pria tampan itu. Vilan tersenyum, walaupun dadanya terasa sakit. "Aku yang harusnya minta maaf karena sudah mengganggu rumah tanggamu." "Kamu nggak benci sama aku, kan, Lan?" lirih Zahra dengan tatapan sendu. Vilan tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Enggak,"jawabnya sambil memegang kedua bahu Zahra. "Terimakasih sudah mau dateng, ya?" Mata Zahra sudah mulai berkaca-kaca menatap wajah mantan kekasihnya yang sudah pasti sedang terluka tak bisa disembuhkan. "Kamu jangan mencintaiku lagi," pinta Zahra dengan suara serak. Vilan memejamkan mata sambil mengangguk lemah. Kesedihan benar-benar menyelimuti mereka berdua. "Aku ngajak ketemuan kamu sekarang. Karena ini yang terakhir." Suara Vilan terdengar bergetar. "Ak...,
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


