"Lama sekali, mobil jemputannya?" Erwin melirik jam tangannya. Sudah hampir satu jam mereka berdiri di depan Bandara Internasional Beijeng, namun mobil jemputan yang dijanjikan belum juga datang. "Sudah kami sengaja," jawab salah satu lelaki yang bersamanya sejak dari Jakarta, menghisap putung rokoknya santai. "Maksudnya?" tanya Erwin menaikkan sebelah alisnya. "Untuk mengantisipasi adanya kedatangan bala bantuan Anda yang menyusul ke kota ini," jelas lelaki itu. Erwin terdiam beberapa saat, kemudian menghela napas. "Tidak ada." Lelaki itu menghembuskan asap rokoknya ke udara, kemudian tersenyum. "Semoga ucapan Anda benar." Erwin kembali melirik jam tangannya. "Saya mau solat dulu." "Anda tidak boleh kemana-mana!" sergah lelaki yang satunya, mencengkram tangan Erwin dengan erat. "S

