"Sorry, Vi, sepertinya aku harus melakukan ini." Rustam menatap nanar ke arah istrinya yang sudah terlilit tambang di kursi dengan mulut yang dibungkam dengan lakban. Rustam terpaksa melumpuhkan Viola dengan mengikatnya di kursi, karena Viola mengamuk dan merusak fasilitas-fasilas yang ada di ruangan monitor cctv. Siapa yang nggak sedih, sih, anak dan suaminya dibunuh? Eh, Ralat, mantan suami. Rustam hendak keluar dari ruangan itu menuju ke tempat mayat Erwin berada. Namun, langkahnya terhenti karena ponselnya berdering. "Hay, sir, how are you?" ucap seseorang di seberang sana. Rustam memencet lift menuju ke lantai bawah sambil terdiam. "Who is this?" tanyanya dengan suara berat. "We will meet soon," ucap suara perempuan di ponsel itu santai. Tut! Rustam meremas-remas ponselnya g

