"Mas Erwin, kok, nggak diangkat-angkat, sih?" Zahra meremas-remas ponselnya resah. Berulang-ulang kali ia menelpon Erwin, tapi tak kunjung mendapat jawaban. Perempuan itu terlihat begitu khawatir. Tidak tau apa yang harus ia lakukan untuk menenangkan diri. Ia takut terjadi sesuatu dengan suaminya. Kini Zahra sedang duduk di sebuah kursi kayu panjang yang berada di depan rumah makannya. "Mbak Zahra kenapa, sih?" suara cempreng Vina membangunkan Zahra dari lamunannya. "Enggak, aku tiba-tiba khawatir sama Mas Erwin." Zahra mengusap-ngusap wajahnya yang kusut. "Ah, elah, Mbak, jangan dipikirin kenapa? Mas Erwin itu kuat dan pemberani, mana mungkin dia diapa-apain sama mereka? Jangan berperasangka buruk gitu, dong, Mbak." Vina mencoba menenangkan. "Nomornya nggak aktif, Vin?" "Hmm, siap

