Rustam mengelapi luka di lengan Caramel menggunakan tissue basah dengan tlaten. "Kenapa lo nekad banget nyerang tempat ini?" "Gue pengen bunuh lo!" ringis Caramel sebal karena lukanya sedang dibersihkan oleh Rustam. Rustam tersenyum tipis. "Lo udah menyeret diri lo sendiri ke dalam jurang kematian. Sebaiknya lo menyerah dan pulang sekarang. Cari misi lain yang lebih mudah. Jadi anggota intelijen itu juga harus mementingkan keselamatan." "Eh, tiap hari gue cuma dengerin temen-temen gue yang pengen memenggal kepala lo!" Caramel mengeraskan nada suaranya. Rustam mendongak, kemudian tersenyum. "Sadis!" ucapnya sambil berdiri dan mengibas-ngibaskan tangannya. "Kenapa, sih, lo menjalankan bisnis haram kayak gini?" Caramel kembali memakai seragam intelijennya yang sedikit robek-robek. "Sam

