Zahra terbangun dari tidurnya tatkala hembusan napas hangat menerpa kulitnya, terdengar rintihan kecil dari bibir Erwin. "Re... Rena...." Zahra mengucek-ngucek mata sayunya, kemudian menatap Erwin yang masih meracau tidak jelas. "Mas?" Zahra menempelkan punggung tangannya ke dahi Erwin. Hangat! Zahra terbelalak. Sepertinya Erwin begitu kelelahan karena melakukan aktivitas ekstra seharian penuh. "Re..., Rena..." lirih Erwin yang bibirnya tak henti-hentinya merintih. Zahra menggigit jari telunjuknya bingung. Malam-malam begini mau cari obat ke mana? Zahra kembali memegang kening Erwin. Suhu tubuhnya semakin meninggi. Zahra buru-buru berlari menuju dapur. Mengambil baskom kemudian menunggu air pada dispensernya mendidih, panas. Zahra begitu panik. Perempuan itu mengambil karet gelan

