Prolog
Selamat Membaca Kisah Gengsi Makan Hati
****
Benci itu beda tipis sama cinta!
Jadi kamu harus pandai-pandai untuk membedakan Rasa.
Seorang cowok tampan tengah berjalan santai di koridor sekolahnya, dengan sedikit siulan untuk mengiringi kakinya melangkah menuju kelasnya.
Dia tak perduli jika dia sudah terlambat masuk kelas dan pastinya akan mendapatkan hukuman dari guru yang mungkin sudah mulai memberikan materi di dalam kelas.
Dan benar sesuai dugaan ketika ia telah sampai di depan kelas, seorang guru tengah memberikan materi di depan papan tulis.
"Siang pak" Sapa cowok itu.
Guru itu pun sontak menoleh mengamati cowok tadi dari atas sampai bawah.
"Kamu tau sudah jam berapa ini? " tanya guru itu.
Cowok itu terdiam lalu melepas jam yang melingkar di tanganya, di perlihatkannya pada sang guru.
"Bapak bisa liat kan jam berapa".
"Saya heran sama bapak, Bapak sendiri kan pakek jam tangan. Kenapa masih tanya jam sama saya? " lanjut cowok itu santai sembri berjalan menuju bangkunya.
Sontak sangguru murka dan kembali menegurnya,
"Siapa yang suruh kamu buat duduk?"
"Saya belum mengizinkan kamu untuk duduk" sambung sang guru.
Dengan tenang cowok itu kembali ketempat semula setelah memdengar perkataan sang guru barusan.
"Hak saya pak!, Saya ini yang mau duduk" Tukasnya tenang.
Tiba2 terdengar langkah kaki dari arah pintu membuat si Guru dan cowok itu menoleh.
"Siang... pakk" Sapa seseorang dengan nafas terengah-engah.
"Kamu juga kenapa baru datang?" tanya guru itu menatap seorang gadis yang baru saja muncul dengan setitik kringat di dahinya.
"Maap Pak!, karna sebelumnya saya belum izin sama bapak jika saya akan sedikit terlambat mengikuti materi bapak " Jelas si Gadis.
" Lalu?" ujar guru itu mencoba sabar menghadapi 2 orang muritnya.
"Saya membantu Bu Wina di Lab untuk menyelesaikan laporan" Imbuh sang Gadis.
Sedangkan cowok tadi hanya tersenyum mengejek sembari sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar penjelasan gadis itu.
"Tetapi tetap saja kamu terlambat" ujar guru itu.
"Tapi pak saya benar-benar bantu Bu Wina di Lab" ujar gadis itu kesal.
"Cihh drama" Ujar cowok itu mengejek.
"Diem lo" Kesal gadis itu mendengar cibiran si cowok.
"Pak saya benar-benar minta maaf, Saya pikir Bu Wina akan meminta izin pada Bapak" Lagi-lagi cewek itu memastikan bahwa ia tidak akan mendapat hukuman dari sang guru.
"Pak maaf-maaf sebelumnya, Bukan saya mau ikut campur tpi bapak harus adil." Ujar seorang cowok tampan yang sedari tadi masih setia berdiri menyimak percakapan antara guru dan salah satu siswinya itu.
"Bapak ini seorang guru masa iya ada siswi yang enggak menghormati bapak terus bapak biarin aja" Sambung sang Cowok mencoba mengompori sang guru.
Guru itu berfikir sejenak mempertimbangkan pendapat siswanya.
"Baiklah! Karna kamu tidak izin terlebih dahulu dengan saya, kamu harus di Hukum " final sang guru.
"Tapi pak saya..."
"Dasar cewek kebanyakan dialog" ujar cowok itu datar.
"Awas aja ya lo" kesal cewek itu dengan tatapan sebal.
"Sudah...Sudah sekarang kalian cepat bersihkan toilet yang ada di ujung lapangan sana! Setelah itu kalian jangan lupa salin materi hari ini di perpustakaan" ujar sang guru.
"Tapi pak..." ujar cewek itu hendak protes.
"Sekarang! Tanpa kata tapi" guru itu sudah membuat keputusan final jadi mau tidak mau mereka berdua harus menerima hukuman dari sang Guru.
"Ini semua gara2 lo" dumel cewek itu menghentakan kain pel pada lantai toilet yang kotor.
"Kenapa gw?" balas cowok itu santai sembari melihat cewek itu mengepel lantai kamar mandi.
"Heh! Dari pada lo cuma ngeliatin gw, mending lo bantuin gw" Sengit cewek itu geram dengan tingkat cowok di hadapanya.
"Dih ogah amat!" baru saja cowok itu mulai melangkah hendak pergi.
"Sampe lo pergi dari sini! Gw bakal siram lo pakek aer bekas pel ini" ancam cewek itu.
Namun nampaknya si cowok tak menghiraukan peringatan dari gadis itu.
"Bener-bener Lo ya, Al!!" pekik gadis itu sangat kesal.
"Albian...!!!"
Albian tetap mengabaikan teriakan Marsya. ia tidak perduli Marsya akan berteriak sekencang apa pun.
Byuurrr
Albian sempat kaget ia tak percaya marsya akan menyiramnya dengan air kotor bekas lantai,
Albian menatap elang Marsya yang masih memegangi ember di tangannya tanpa wajah bersalah sedikitpun.
"Apa? Lo mau Marah? Salah lo sendiri! gw udah peringtin lo" Bukan Albian namun Marsya lah yang meledak ledak.
"Gara2 lo gw harus di hukum" Lanjutnya benar-benar dongkol.
Albian jadi takut sendiri dengan kekesalan Marsya, Kenapa jadi Marsya yang marah? harusnya Albian yang berhak marah karna bajunya jadi basah,kotor juga bau akibat air sialan itu, Tapi Albian harus tetap memasang wajah galak, ia tidak mau Marsya semakin menjadi jadi jika dia tau Albian merasa sedikit waspada dengan dirinya.
"Kenapa Jadi Lo yang marah?" ujar Albian menatap elang Marsya, wajah tampanya terlihat begitu sangar dengan kedua alis yang tebalnya .
"Gw yang berhak marah, lo liat sekarang!" sambung Albian kesal masih dengan mimik wajah yang cukup emosi.
"Lo pikir Gw perduli! Siapa suruh lo mu lari dari tanggung jawab lo" Marsya memelototi Albian yang tengah dirundung rasa kesal.
"Gw gk akan lari dari tanggung jawab gw, seandainya lo telat" Plenceng Albian membuat gadis didepanya bingung setengah mampus.
Marsya benar-benar bingung di permainkan seperti ini dengan ucapan Albian, apa sebenarnya maksut cowok tengil ini.
"Maksut lo apa sih, gw gk telat!" kesal Marsya lagi.
"Yaudah, kalok lo gak telat ya jangan minta pertanggung jawaban dri gw, Belum juga gw apa2in" ujar Albian jail membuat Marsya lagi-lagi berpikir .
"Atau lo mau gw apa2in sekarang?" goda Albian.
Mata marsya seketika melotot mendengar ucapan Albian barusan dengan kekesalannya yang sudah berada di ubun2 degan sekuat tenaga Marsya menendang tulang kering di kaki Albian membuat siempu mengaduh kesakitan.
"akh... Anjirr!" umpat Albian seketika merasa nyeri di bagian tulang keringnya.
"Lu jadi cewek liar banget sih" Albian kesal bukan main.
"Lu pikir Gw perduli? Enggak!" ujar Marsya sembri melemparkan gagang pel ke arah Albian dan lagi-lagi Albian harus merasakan sakit ketika gagang pel itu mengenai kepalanya cukup keras.
"Sya lu tuh emang niat mau ngebunuh gw ya" hardik Albian kesal.
Marsya mentap Albian tak perduli, jujur saja dia sangat kesal dengan cowok spesies Albian ini,yang setiap hari terus berulah.
"Gw cuma minta lo bantuin gw bersihin semua ini biar cepet kelar." Marsya melanjutkan lagi kegiatan ngepelnya yang tertunda tadi.
Tiba2 Albian berdiri menghampiri Marsya dengan sedikit tertatih menahan ngilu di bagian tulang kakinya.
"Bantuin lo? Gw gak akan pernah sudi!" Albian menatap elang Marsya sembari mencengkram erat pergelangan marsya dia sudah kesal sedari tadi menahan amarah.
"Akhh... sakit Al, lepasin" pekik Marsya mencobo melepaskan cengkraman tangan Albian.
"Ini salah lo sendiri Sya, lo udh buat gw marah" ujar Albian datar.
"Al lepasin sakit lo budek apa gimana sih?!" lagi-lagi Marsya mencoba melepaskan cengkraman tangan Albian.
"Gw gk perduli!"
Marsya semakin kesal dan benci degan cowok tengil seperti Albian akhirnya dengan inisiatif dia menggigit tangan Albian.
"Anjing..." Pekik Albian.
"Kenapa lo gigit gw t***l" omel Albian sembri melepaskan cekalannya dan menatap Marsya juga tangannya yang tercetak bekas gigitan Marsya.
"Lo tanya kenapa?" Pekik Marsya kesal.
"Salah lo sendiri,lo pikir tangan gw gk sakit!" bentak Marsya meniup niup pergelangan tangannya yang terlihat sedikit memerah akibat ulah Albian.
Albian merasa sedikit bersalah sudah membuat pergelangan tangan Marsya terluka tapi bukan Albian namanya jika dia terlihat menyesal, ia tak mau kelihatan bersalah atau terlihat perduli di depan cewek.
"Lebay lo cuman gitu doang" ujar Albian sambil melirik pergelangan tangan marsya yang memerah akibat ulahnya.
"Lo harusnya bisa bedain kekuatan cowok sama cewek" ketus Marsya.
"Oh lo cewek? Gw baru tau gw kira lo biji ketumbar" Seketika tawa Albian pecah.
Marsya menatap Albian geram,apa-apaan dia mengatakan bahwa marsya adalah biji ketumbar memang dia seganteng apa sampai-sampai berani-beraninya mengatakan Marsya seperti biji ketumbar.
"Heh Dugong! Nyadar diri dikit kalik, lo pikir lo ganteng?" Serka Marsya.
"Lahh Emang gw ganteng" Ujar Albian dengan penuh kepercayaan diri.
"Ngaca pakek cermin jangan pakek piring kantin, biar kagak halu Lo" balas Marsya lagi-lagi tak mau kalah.
"Lah gw emang ganteng dari lahir, lu aja yang gak terima kalok gw ganteng" sengit Albian.
"Iri bilang bos!, Dasar biji ketumbar" sambungnya lagi mengejek Marsya.
"Dugong fakboy" balas Marsya
"Dihh wajar fakboy gw ganteng" imbuh Albian dengan tingkat kepedean sesuai fakta.
"Dari pada lo Rata, cewe model apaan coba" Ejek Albian.
"Buaya macam lo itu pantes dapet karma paling tragis di dunia" Marsya sudah mulai kesal.
"Dihh dasar Betina nyrocos mulu" Protes Albian enggak terima.
"Biarin, kenapa lu nggak terima! Ha?" Ketus Marsya.
"Jelas lah, Lo betina rata yang brisik!" cerca Albian.
"Apa lo bilang heh, Fakboy j*****m sebelum lu ngatain orang alangkah baiknya lo Introveksi diri dulu!" Marsya berteriak tepat di telinga Albian.
"Beye" imbuhnya lalu pergi meninggalkan Albian dengan telinga yang berdentum nyeri.
"Sialan! Marsya Lo pengen banget ya gw mati muda"Teriak Albian sembari mengusap usap telinganya.
"Marsya! tunggu pembalesan gw" Teriak Albian kesal ia tendang ember berisi air di sebelahnya lalu pergi begitu saja.
Next...?