[1] ~Izin Jatuh Cinta Lagi?

2639 Kata
Selamat Membaca Kisah Gengsi Makan Hati **** Tak ada perasaan yang Pasti Karna setiap perasaan dapat berubah kapan saja seiring berjalanya waktu Albian Pov Kenalin gue Albian Tama Zailino, Kalian bisa panggil gue Al. Gw salah satu siswa yang cukup populer di SMA Bhineka Bangsa. Bukan sombong tapi itu memang fakta, jangan kaget kenapa cowok kayak gue yang dinotabenya pemalas bisa masuk di sekolah Unggulan. Dan jangan fikir keluarga gue nyogok pihak sekolah, Ya Enggak lah! Gue bukan tipe orang yang suka ngandalin harta orang tua gua. Gini-gini gue termasuk siswa yang Smart. Gue orangnya simple. Hobby gw Basket, basket udah kaya jiwa gw. Emm Ada sebuah pesan yang selalu terngiang ngiang dan melekat di diri gw sampe sekarang. Menurut gw kita hidup sekali ,mati sekali dan merasakan cinta juga harus sekali itu prinsip yang selalu 'Dia' tanamkan dalam diri gw tapi semenjak dia pergi semuanya berubah. Bagi gw pacar itu cuma sekedar alibi permainan untuk ngisi waktu remaja. Udah lah kayaknya gw banyak omong. Author Pov  Siang ini terasa matahari begitu menyengat kulit orang-orang yang berada di bawah teriknya, temasuk seorang laki-laki dengan tinggi 170-an cm dengan tubuh yang cukup berisi, rambutnya basah akibat keringat yang tak berhenti keluar, sedari tadi ia tengah sibuk dengan bola basketnya, beberapa kali bola itu ia masukan kedalam ring. Tiba-tiba terdengar suara yang sedikit mengganggu konsentrasinya ketika memasukan si kulit bundar itu ke dalam ring. "Tam" panggil seseorang dengan membawa sebotol air mineral. Yang dipanggil pun hanya menoleh tanpa menghentikan aktivitasnya. "Mau sampai kapan lo latihan basket? Gak capek lo?" tanyannya lagi sambil mendekat. Lagi-lagi Albian hanya menyeringai mendengar perkataan sahabatnya itu tanpa berhenti dari aktivitasnya. "Lo tuh udah jago! ngapain masih aja latihan?" Ujarnya sambil menyerahkan sebotol air mineral. Sejenak Albian berhenti ia duduk di samping orang yang baru saja mengganggu latihannya. Albian mengambil air mineral dari tangan si pemberi, lalu ia minumnya hingga habis tanpa sisa. "Meskipun jago kalau gak ada perkembangannya,buat apa?" tanggapan Albian membalas perkatan sahabatnya. Kenan hanya menyeringai, sahabat karibnya itu tidak pernah berubah dari dulu dirinya tetap seperti itu jika tentang basket. Dia tetaplah masih Albian yang dulu, selalu santai dan seenaknya sendiri ketika menjawab pertanyaan. "Gue tau! Tapi lo gak harus kuras tenaga lo juga kan Tam." Balas Kenan sahabat kecil Albian. "Lo bisa gak sih ken, gak manggil gw dengan nama itu" ujar Albian sedikit kesel. "Kenapa? lo belum bisa move on dari masa lalu lo itu?" ledek Kenan santai. Albian terdiam bagaimana pun juga Kenan adalah sahabatnya dari kecil ia sudah mengetahui seluk beluk dirinya dari A sampai Z Kenan tau semua. "Udahlah Tam cari yang lain, di luar sana masih banyak cewek yang ngantri!" Kenan menepuk pundak Albian. "Masih berat buat gw Ken ngelupain 'Dia' gitu aja" Ujar Albian sedikit sendu. "Al lo harus bisa lupain dia, Iklasin dia." Kenan menatap Albian yang kini pandanganya entah kemana. "Ken kalau pun gw bisa gw udh lupain dia pasti udah gw lakuin dari bertahun tahun lalu,Tapi gw bener-bener gak bisa lupain semua gitu aja, Asal lo tau kejadian itu tepat di depan mata gw dan gw gak bisa lakuin apa-apa" Albian mengusap wajahnya gusar. Kejadian masalalu itu berhasil mengingatkan dirinya kembali, masa kelam yang selama ini Albian kubur dalam2 seorang diri, masalalu yang ia selalu coba untuk lupakan namun ia sendiri tak pernah bisa. "Lo udah di kasih apa aja sama dia?" Gurau Kenan menaikan satu alisnya. "Maksud lo?" tanya Albian bingung. "Gak usah belagak bego deh Al, Iya lo udah di kasih apa aja selama pacaran sama dia?" kekeh Kenan meski ia tau Albian sangat tulus menyayangi si gadis masalalunya. Albian masih bingung dengan arah percakapan mereka. "Udahlah lo gak usah sok polos, gak usah sok bego, Najis...! lo pasti tau kan kemana arah pembicaraan gue". "Wah...nih anak dangkal banget otaknya, lo paling tau gimana Gw Ken, ketika sama dia gw bukan orang yang b******k kaya gini" Jelas Albian dan Kenan mengangguk. ia tau Albian berubah semenjak kejadian itu, Kejadian yang tidak pernah ia duga akan terjadi. "Gw tulus sayang sama dia, gw gak pernah sedikit pun punya niatan buat nyakitin dia, apalagi ngerusak dia" lanjut Albian dengan pandangan mengawang. "Ngaku juga lo kalok b******k," sindir Kenan sambil tertawa. Albian hanya memutar bola matanya dan menyeringai. "Al! udah 2 tahun lo di bayang bayangi sama masalalu lo, Banyak cewek disini yang gak kalah cantik dari Almarhum Kaeryla" kenan merangkul pundak Albian. "Gue belum bisa Ken! Rasa sayang gw masih sepenuhnya buat Kaeryla!" muka Albian mendadak datar. "Dan jangan pernah lo sebut dia Almarhum karna bagi gw Kaeryla masih ada dan Dia akan selalu hidup di hati sama otak gw" lanjut Albian. "Al terima kenyataan kalok Kaeryla udh gak ada, Lo inget kan lo sendiri yang anter Kaeryla ke tempat peristirahatan terakhirnya" Kenan mengusap punggung Albian ia tau sahabatnya ini memang masih sangat sensitif jika membahas tentang masalalunya. "Iya gw tau pasti berat bagi lo menggantikan posisi Kaeryla dengan orang lain, tapi takdir Kaeryla bukan untuk jadi cinta terakhir lo Al" Kenan masih mencoba memberi arahan pada sahabatnya yang keras kepala. "Gak ada seorang pun yang bisa menggantikan Kaeryla Ken" "Gw kadang suka ngerasa benci sama diri gw, Kenapa tuhan harus ambil orang-orang yang gw sayang" Lagi-lagi Albian tak bisa menghentikan memory kelam itu di otaknya. Kejadian yang membuatnya kehilangan kekasihnya terekam jelas dan mulai berputar-putar di otaknya kejadian bagaimana Kaeryla di tabrak lalu di lindas dengan mobil itu begitu hebat mengguncang pikiranya. Otaknya mulai terasa pening hatinya kembali merasakan sakit, Ia kecewa ia tidak bisa menyelamatkan kekasihnya di kala itu Albian tengah membelikan Ice Crem untuk Kaeryla di sebrang jalan namun tiba-tiba ketika Kaeryla ingin menghampiri Albian sebuah mobil mendadak melaju kencang lalu menabrak Kaeryla dengan sengaja karna mobil itu tidak berhenti setelah menabrak Kaeryla. Mobil itu melaju dan meninggalkan area taman, Albian tidak sempat melihat plat mobil itu kerna begitu kencangnya mobil itu melaju dia hanya bisa meratapi kekasihnya yang terluka cukup parah. Saat itu susana taman tidak begitu ramai polisi sudah mencoba melakukan pencari namun hingga saat ini pelaku belum ditemukan, Dan itu yang membuat Albian sampai sekarang merasa benci pada dirinya karna tidak bisa menemukan pelaku pembunuhan terhadap kekasih nya, Sejak saat itu ia bersumpah akan mendapatkan si pelaku. "Kenapa dengan tega tuhan ambil Mama dan Kaeryla, dari gw" sambung Albian dengan tatapan kosong. "Bro tuhan udah nyiapin sesuatu yang  sangat luar biasa buat lo dari kepergian mereka, Inget tuhan ambil orang yang lo sayang bukan tanpa alasan" Kenan tersenyum kearah Albian, Dan Albian juga tersenyum getir kearah Kenan. "Sampai kapan pun gw akan cari tau siapa yang udah tega menabrak Kaeryla" Ujar Albian Mantap Hening beberapa saat sebelum akhirnya kenan membuka pembicaraan. "Eh bentar gw mau tanya gimana ceritanya itu cewek-cewek yang kemaren bisa nangis gara-gara lo" Sambung Kenan memecah suasana dia tau pasti Albian kembali tertekan dengan pembahasannya tadi. "Biasa lah lagian salah mereka sendiri baper,orang gw cuma maen-maen" ujar Albian tanpa dosa. "Dasar lo ya Pakboy" Ejek Kenan "Sadar diri bos kaya lo kagak aja" celetuk Albian membuat Kenan nyengir kuda. "Sekarang gini aja lo belajar buka hati, gw yakin Kaeryla mau liat lo bahagia lagi" ucapan Kenan. "Gw gak tau Ken gw bisa buka hati lagi apa enggak, rasanya hati gw udh ikut terkubur bersamaan Kaeryla" "Lo pasti bisa Al, percaya sama gw" tak henti hentinya Kenan memberi suport untuk Albian sahabatnya. Selama 2 tahun ini Albian telah menyianyiakan waktunya mengharapkan seseorang yang telah tiada untuk kembali lagi sangat lah mustahil. Bukannya Lebih baik dia menikmati masa remajanya dengan banyak di perebutkan para gadis dari pada menunggu sesuatu yang semu. Kaeryla tidak akan pernah kembali kepelukannya lagi dan dia harus bisa terima itu. "Mungkin Kenan bener,gw butuh penjelajahan baru setelah sekian lama" batin Albian di sertai seringainya. "Kaeryla gw minta maaf selama ini udah buat lo gak tenang disana, sekarang gw iklas gw lepasin lo sepenuhnya, semoga lo bahagia disana" "Kaeryla izinin gw buat jatuh cinta untuk sekali lagi" Albian tersenyum setelah mengatakan itu di dalam dirinya. Albian bergegas bangkit dari duduknya lau pergi meninggalkan Kenan. "Mau kemana lo?" tanya Kenan. "Kantin" balas Albian tanpa menoleh. Kenan tersenyum sahabatnya itu pasti kini sudah mengerti apa yang orang-orang disekitar Albian harapkan. *** Kantin adalah tempat pelarian Albian berikutnya dia sangat malas melanjutkan hukumannya karna  guru itu terlalu killer dan membosankan, selalu membuat lelucon yang garing dan membuat siswa-siswinya serasa seperti penonton bayaran. "Buk cappucino" pinta Abian "Kayak biasa mas Al?" tanya ibu kantin yang memang sudah biasa membuatkan pesanan untuk Albian. "Iya!" ujar Albian mengangguk Sembari menunggu pesanan Albian mengecek ponselnya karna sedari tadi dia belum mengecek isi ponselnya. Sejenak Albian kembali termenung memikirkan percakapan dirinya dan Kenan barusan. Fikirannya terus memutar perkataan Kenan berulang-ulang. "Gw belum bisa menemukan seseorang yang bisa menggantikan lo ryla, tolong bantu gw" dumel Albian di dalam batin sembari di pandngnya foto Kaeryla. Baru saja memandangi ponselnya tiba2 seseorang duduk di hadapannya membawakan 2 gelas minuman dan salah satunya adalah pesanannya namun itu bukan si ibu kantin, Albian hanya melirik siapa yang membawakan cappucinonya dan kembali memainkan ponselnya tapi dengan tidak sopannya orang itu mengambil ponsel Albian sesenaknya lalu masukan kedalam saku seragamnya. "Balikin!" ujar Albian dingin "Al... jangan judes gitu dong jadi cowok" ujar cewek itu santai. "Lo mau kasih atau ..." ucapannya terputus "Atau apa? Kalok lo mau dapetin apa yang lo mau, ambil aja sendiri!" ujar cewek itu menantang Albian, Cewek itu pikir Albian tidak akan berani mengambil ponsel itu di saku seragamnya, namun dugaannya salah Albian begitu berani dan hampir saja ia mendapatkan ponselnya kembali jika tidak cepat-cepat cewek itu menghindar. "Agresif jga lo, mau ambil sendiri ya!gak akan semudah itu sayang" goda cewek itu. "Mau lo apa sih vinola?" ujar Albian malas. "Lo tau gw selalu mendapatkan apa yang gw mau, Dan sekarang Gw mau Lo! Albian!" ujarnya To the poin dengan manja Albian hanya menyeringai benar-benar tidak punya harga diri gadis ini pikirnya sudah berkali kali Albian tolak namun dia masih saja mencoba memperdaya Albian. Hah! Gadis? Albian rasa sebutan itu terlalu bagus buat jalang didepanya ini. "Trus?" tanya Albian meminum cappucinonya. "Ya Lo harus jadi milik gw! jadi bagian dari Vinola Collection" ujar vinola ikut menyeruput minumanya. "Gw bukan cowok bego kaya mereka yang mau bertekuk lutut sama lo" Ujar Albian santai. "Gw akan kasih apa pun yang lo mau dengan catatan lo jadi milik gw" Tawar Vinola. "Sayangnya gak ada yang buat gw tertarik dari diri lo" Albian mengatakan itu terang-terangan. Lagi-lagi Albian menyeringai, bodoh sekali wanita ini yang berkali kali datang dan meminta Albian untuk menjadi miliknya, Albian bukan cowok bodoh yang langsung mau ketika di iming-imingi sesuatu. Hidupnya tak kekurangan jadi untuk apa? Dia menerima tawaran-tawaran yang Vinola janjikan selama ini. Vinola memang gadis cantik juga seksi dia adalah Ratunya SMA Bhineka Bangsa cewek terpopuler, ia adalah cewek Famous siapa saja mengenal dirinya tapi Albian sma sekali tidak tertarik. mungkin akan terlihat sangat cocok sekali jika seorang 'Most Wanted' seperti Albian bersanding dengan Vinola sang 'Ratu Famous' di sekolah tapi kembali pada fakta Albian tidak pernah tertarik sama sekali dengan Vinola. Albian sudah tau apa tujuan Vinola hingga dia gencar sekali membujuk Albian, Hanya demi dirinya mendongkrak popularitasnya tapi Albian selalu berhasil menolaknya mentah-mentah, ia hanya tidak ingin menjadi trending topik disekolah dan mengganggu ketenangan hidupnya, sudah cukup dia bersikap biasa saja selama ini. Albian sedikit berpikir, ia tau wanita ini tidak akan pernah berhenti mengganggunya jika belum mendapatkan apa keinginannya. "Yakin?" Tanya vinola memastikan dan Albian mengangguk mantap. "Kalok gw kasih lo petunjuk tentang kecelakaan Kaeryla gimana?" Ujar Vinola santai. Deg... Albian merasa darahnya berdesir cepat, dadanya berdebar dengan hebat apa yang Vinola ketahui tentang kecelakaan Kaeryla. "Apa yang lo ketahui tentang kecelakaan itu" Albian menatap Vinola dalam. "Lo bilang gak ada yang membuat lo tertarik dari gw" Ujar vinola membuat Albian geram "Ok! Gw setuju" jawab Albian mantap dengan ia sudah memikirkan matang2 keputusanya itu, Albian buka tipe orang yang tidak punya plenning untuk kedepan. Apa pun akan dia lakukan untuk menemukan pelakalu pembunuh Kaeryla. "Good boy!,gue suka gaya lo!" puji vinola sembari tersenyum. "Gw tau  itu?" Albian menyeringai tanpa dosa,mampu membuat pipi vinola memanas. "Tapi inget Gw bukan cewek bodoh Al, yang akan ngebiarin lo dengan mudah mendapatkan apa yang lo mau" ujar Vinola dibuat sebiasa mungkin. Albian menatap mata Vinola, Ia tau vinola tengah ingin bermain licik dengan dirinya. Albian ini buaya mana mungkin bisa dikadali. Awalnya vinola menatap Albian juga tapi tiba-tiba dia langsung mengalihkan tatapannya, Albian menyeringan meliahat glagat Vinola "Vinola...vinola gw tau apa tujuan lo, lo juga harus tau satu hal bahwa gw akan mendapatkan apa yang gw mau apa pun caranya. Paham sayang" Albian menekankan kata sayang untuk membuat vinola semakin merona. "Asal lo tau gw minta lo jadi cowok gw, semua itu semata2 buat kepopuleran gw semakin meningkat" ujar Vinola langsung To the poin meski tak di pungkiri ia memang menyukai Albian sejak lama namun selalu di tolak mentah-mentah oleh albian hinggal secara tidak sengaja ia mendengar percakapan Albian dengan Kenan barusa, membuat Vinola memiliki rencana tersendiri untuk mendapatkan Albian. "Gw tau itu, sekarang saatnya bermain dengan cara gw" ujar Albian disertai seringai. "Why? Karna gw gak butuh keuangan dari lo dan lo tau itu" Tandas Albian karna dia tau Vinola adalah tipe wanita pengandal harta keluarganya. Vinola hanya mengangguk angguk faham, Albian termasuk orang dari kalangan berada semua yang Albian mau pasti bisa ia dapatkan dengan mudah sama seperti dirinya jadi mana mungkin ia akan mengemis pada Vinola untuk meminta uang seperti kebanyakan mantannya. "Lalu apa yang lo mau?" Tanya Vinola  "Gue akan turutin semua yang lo mau" ujar vinola tanpa ragu, Albian mengangguk. "Pertama lo harus turuti semua kemauan gue!karna setiap kemauan gue itu perintah dan gue gak terima penolakan, termasuk gw mau tau semua hal tentang Kaeryla" ujar Albian tanpa basa basi, Vinola sedikit menelan ludahnya sebab dengan begini dia benar-benar harus mencari tau seluk beluk kecelakaan itu bisa habis jika dia ketahuan berbohong pada Albian. "Kedua jangan sampe lo jatuh cinta sama gw, karna lo tau gw gak akan pernah bisa bales perasaan lo! ketiga lo gak boleh ikut campur soal kehidupan gue sekecil apapun itu" lanjut Albian. "Oke gue setuju!" ujar Vinola "Gw jga mau lo gak boleh putusin gue kalok bukan gue yang minta, lo juga harus berperilaku gw sebagai seorang pacar, lo bisa terima?" ujar vinola "Gw gak akan pernah setuju sama permintaan-permintaan lo" Albian menatap Vinola, Memang licik wanita ini pikir Albian ia ingin mengikat Albian dengan perjanjian memang wanita licik. Albian tidak bodoh jelas dia akan menolak, dia ini menjadi dominan dipermainan ini. "Apa maksut lo?" Vinola sedikit tidak terima. "Mau atau enggak itu terserah sama lo,sebelum gw berubah pikiran dan gak sudi nerima lo" jawab Albian enteng. "Lalu dengan begitu lo gak akan pernah tau tentang pembunuh Kaeryla" Gertak Vinola mencoba memojokan Albian. "Gw bisa cari tau sendiri" Enteng Albian. "Ok ok gw ikut apa yang lo mau" Vinola terpaksa lalu menjabat tangan Albian. Bel pulang sudah berbunyi Albian menggendong tasnya berjalan menuju parkiran sehrian ini tidak mengikuti pelajaran di kelas juga menyelesaikan hukumanya masa bedoh jika orang yuanya akan di panggil, Ya dia bolos dari pelajaran setelah di hukum tadi dan selama itu ia hanya duduk-duduk santai di kantin. Albian menstater motornya melaju dengan kecepatan sedang namun ketika ia hampir sampai di depan gerbang ia melihat Marsya tengah berjalan santai sendirian sambil melamun, ini saatnya Albian balas dendam dengan gadis menyebalkan itu. Tiinnn.... Albian membunyikan Klakson tepat di samping Marsya membuat Marsya kaget bukan main hingga membuatnya terjatuh. "Albian sialan" Makinya kesal. Sedangkan Albian hanya tertawa. "Jatuh ya, Rasain" teriak Albian sambil tertawa melajukan motornya dengan cepat. "Ihh nyebelin banget sih tu dugong sialan" kesal Marsya. Marsya mencoba bangkit lututnya terasa perih mungkin sedikit lecet. "Lo gak papa" Tanya seseorang membantu Marsya berdiri. "Gak papa kok makasih ya" Ujar Marsya. "Emm iya sama-sama, Kalok gitu gw duluan ya" Pamit nya meninggalkan Marsya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN