Selamat Membaca Kisah Gengsi Makan Hati
****
Jangan Menyakiti perasaan orang yang kamu sayangi karena sekalinya hati itu patah kamu belum tentu bisa memperbaikinya lagi
•••^^•••
Marsya Pov
Nama gue Marsya Syahila Arvia, kalian bisa panggil gw Marsya.
Kata orang-orang gw tuh orangnya asik kalok di ajak ngobrol dan satu lagi katanya sih gue ngangenin
PeDe parah bejir wkwkwk
Temen deket gw Armona Selailla, dia orangnya tuh pendiem tapi kalok udah sama gw mendadak jadi heboh,kepoan, sok polos, lodingnya minta ampun, apalagi kalok dia udah mulai bawel.
Tapi gue bersyukur punya temen kayak dia yang selalu ada buat gw.
Menurut gw gak ada hal yang Special dari diri gw sendiri, Gw cuma cewek biasa yang kebetulan dapetin bea siswa buat sekolah di Bhineka Bangsa, ya karna gw sadar gw juga gak pinter-pinter amat. Gw pikir menjadi bagian dari SMA Bhineka Bangsa itu cuma angan-angan tapi faktanya gw bisa sekolah disana yang notanen nya sekolah Favorit sekolahan kalangan atas.
Sedangkan gw cuma berasal dari kalangan biasa tapi gw punya mimpi besar yang harus gw wujudin sendiri.
Kalian tau hal yang paling gw benci adalah di bohongi paling paling benci!
Catat itu baik-baik.
Gw juga anti cowok Fakboy dan urakan contohnya kaya siapa kalian pasti tau lah. Ya Albian!
Gw berjalan santai menuju sekolah, hari ini gw jalan kaki sendirian. Ketika gw hendak menyebrang jalan tiba-tiba dari arah lain sebuah sepeda motor melaju cukup kencang hampir saja gw tertabrak olehnya jika saja gw enggak cepat mundur beberapa langkah kemungkinan gw bakal ketabrak sama tu motor, karna kaget dan kehilangan keseimbangan orang terjatuh tertimpa motornya.
Gw segara berlari menghampiri orang itu hendak membantu, gw khawatir jika terjadi sesuatu terhdap seseorang yang hampir saja menabrak gw, setelah seseorang itu membuka helem fullfacenya gw ingin menolongnya namun dengan pandangan kesal dia menatap gw.
"Lo bego banget sih jadi cewek, Kalok nyebrang hati-hati" Bentaknya memarahi gw.
"Kalok misal tadi lo gw tabrak trus mati gimana?" Bentaknya lagi-lagi dengan tatapan kesal.
"Eh elo yang salah, kenapa naik motor kaya dikejar setan" Bentak gw balik.
Gw memeriksa keadaan dia apakah ada bagain dari tubuhnya yang terluka atau lecet.
"Setiap ketemu lo pasti gw kena sial" Omelnya yang enggak gw perduliin.
"Ada yang sakit gak?" Tanya gw memastikan.
"Gak usah sok bersalah" Dumelnya masih kesal.
"Ada yang sakit enggak?" Tanya gw lagi.
"Gak ada" ujarnya namun sedikit merintih.
Gw terus mengamati anggota tubuhnya seketika gw melihat ada luka berdarah di telapak tangannya dengan cepat gw raih tangan kirinya tanpa meminta persetujuan dari sang pemilik tangan lalu membalutkan sapu tangan yang gw bawa ke telapak tanganya.
"Lain kali kalok naik motor hati-hati" Omel gw kesal sembari mengikat sapu tangan pada lukanya.
"Lo aja yang sembarangan main nyebrang" Ujarnya tak mau disalahkan.
"Selain ini, ada yang sakit dibagian mana lain?" Tanya gw lagi.
"Brisik lo ah" Seseorang yang tak lain adalah Albian itu langsung berdiri dan membangkitkan kembali motornya.
"Lain kali jangan teledor kalok nyebrang" Ujarnya kembalu menstater motornya lalu melaju kencang menuju gerbang sekolah.
Author Pov
Suasana kelas cukup sepi karna sebagian dari mereka tengah melihat pertandingan basket sebagai uji coba untuk kejuaraan besok.
"Marsya...." Teriak Sela sangat mengganggu.
"Apa sih Sel?" jawab Marsya males.
"Temenin gw liat kak Arfa main basket yuk" Ajak Sela nyengir kuda.
"Males lah Sel" Tolak Marsya halus.
"Ayo dong Sya tega banget sih lo sama temen sendiri" Sela mencabikan bibirnya.
Marsya menghembuskan nafasnya kasar.
"Ya udah deh ayo tapi jangan lama-lama ya" Ujar Marsya diangguki oleh Sela.
Marsya dan Sela berjalan menuju lapangan basket, setelah sampai mereka mengambil tempat duduk untuk menonton pertandingan yang tengah berlangsung tanpa di sadar ia duduk di sebelah Vinola dkk.
Pertandingan berjalan begitu seru, Susana juga terkesan sangat ramai. apalagi sang Most Wanted sekolah tengah bermain memperkuat tim basket disekolahnya, dengan pandainya ia mempermainkan si kulit bundar itu lalu memasukannya kedalam ring.
Setiap kali Albian berhasil memasukan bola dan mencetak skor semakin kencang pula teriakan yang bisa di dengar dari para Fans-fans Albian.
"Al semangat sayang" teriak Vinola memberi semangt pada Albian.
Baik Marsya dan Sela hanya menoleh dan menatap heran lalu kembali lagi pandanganya tertuju pada lapangan.
Ternyata gosip Albian dan Vinola sudah tersebar luas dan tentu saja menjadi trending topik 1 sekolah, Sejak saat itu Albian semakin tidak bisa bersekolah dengan tenang semuanya menjadi sangat rumit dan menyebalkan jika saja Vinola tidak mengiming imingi tentang siapa orang yang telah menyebabkan Kaeryla meninggal Albian tidak akan pernah sudi.
"Go Albi go Albi go"
"Aduh kak Al keren banget sih, apalagi kalok kringetan"
"Kak Al, kak Kenan semangat"
"Oper oper"
"Haduh kak Al keren bgt bikin meleleh"
"Oper Ken"
"Jangan kasih kesempatan Al dapet bola"
"Iya kak Kenan juga gak kalah keren"
"Jago banget sih Al mainya"
"Kapan ya gw bisa jadi pacar Albian"
"Gw juga mau kali jadi pacar kak Al"
"Al kan mantan gw ngapain kalian rebutin"
"Sumpah gw pengen banget jadi pacar kak Al"
"Gw pacar yang cocok sama Al"
"Kalian jangan pernah Halu ya, Albian itu cowok gw, Punya Vinona!" sentak Vinola.
"iya kak maaf"
"Ayo Al sayang semangat"
Prittt
Bunyi peluit terdengar begitu keras ketika pelanggaran terjadi kepada Albian, ia terjatuh di lapangan dengan kringat berkucuran.
Albian sang kapten tim telah dilangkar oleh anggota tim lawan kini saatnya ia menggunakan kesempatan ini untuk menambah skor di timnya, Meski ini hanya latihan uji coba dengan sekolahnya sendiri ia tetap harus sportif.
"Ayo sayang kamu pasti bisa" Teriak Vinola, semua penonton termasuk Marsya dan Sela menjadi tegang dan berdebar sendiri menyaksikan pertandingan dengan perolehan poin yang cukup tipis ini, Memng tidak di ragukan lagi Tim Basket SMA Bhineka Bangsa memang sangatlah berkualitas bahkan setiap tahunya selalu meboyong juara pertama.
Albian menatap sekeliling ia mengulur waktu sebelum memasukan bola kedalam ring, matanya tertuju pada seseorang di bangku penonton yang tengah menatapnya dengan ekspresi tegang, Albian menyeringai ia menatap sebentar tangannya yang terbalut dengan sapu tangan.
Albian fokus menatap ring lalu melemparkan bola itu dan membuahkan hasil untuk menambah skor di timnya, tak lama peluit kembali berbunyi tanda pertandingan berakhir.
"Kamu hebat banget sayang" Vinola tersenyum kearah Albian.Yang sudah menepi ke pinggir lapangan,
Albian balas tersenyum dengan malas menanggapi Vinola.
Sela dan Marsya menghampiri Arfa di pinggir lapangan. Sela sedikit ngobrol dengan Arfa sedangkan Marsya hanya menyimak percakapan keduanya.
Tiba-tiba dengan isengnya Albian melemparkan bola basket kearah Marsya, di peluknya bola itu dengan kondisi terkejut.
"Apa apaan sih lo" Kesal Marsya.
Albian hanya menyeringai atas kekesalan Marsya.
"Hampir aja gw kena sial gara-gara ada lo" Ujar Albian enteng.
"Kesialan lo gak pernah ada sangkut pautnya sama gw" Tuding Marsya tak terima.
"Jelas ada! Dimana pun lo ada di deket gw, gw pasti ketiban sial" Albian membalikan badanya hendak pergi namun baru saja ia berbalik badan sebuah bola sudah mengenai punggungnya ia kebali menoleh si pelempar bola.
"Heh! Cowok tengil, Itu tandanya hidup lo emang penuh kesialan, Mungkin itu karma makanya jangan jadi cowok resek, Permisi" Pamit Marsya pada Arfa, ia langsung pergi begitu aja di susul oleh Sela.
Albian menatap eleng kepergian Marsya.
"Udahlah sayang gak usah didengerin ya apa kata dia" Vinola mengelus elus lengan Albian.
***
Bel jam pertama dimulai
Semua siswa menyiapkan perlengkapan belajarnya, karna sebentar lagi kelas akan di mulai.
Seorang guru memasuki ruangan dan mulai memberikan materi untuk pasa siswa-siswinya.
"Albian! Kamu niat ikut pelajaran saya tidak?" tegur Pak Irwan.
"Niat kok pak!" balas Albian datar.
"Kalok niat, jangan seenak kamu sendiri" omel pak Irwan
"Ini sekolah untuk belajar bukan untuk tidur, semalam kamu bergadang?" lanjut Pak Irwan
"Saya tau pak, dan rumah saya juga bukan tempat untuk mengerjakan tugas sekolah" Jawab Albian santai.
"Albian Kamu ini benar-benar" Sang guru mulai tersulut emosi.
"Kenapa bapak mau hukum saya? Besok lagi aja deh pak kasih hukumnya saya lagi capek" balas Albian lagi-lagi seenaknya.
"Kamu ini siswa harusnya menghormati guru, bukan seenaknya seperti ini" suara Pak Irwan merendah,ia tau menghadapi siswa seperti Albian harus dengan kesabaran .
"Pak sekarang bapak bisa mikir enggak?, kita jadi siswa itu capek pak, setiap hari disuruh mikir pelajaran yang berbeda-beda bapak enak cuma mikir 1 materi dari sekian banyak mata pelajaran sedangkan kami puluhan materi harus bisa dikuasai" Ujar Albian enteng dan Pak Irwan hanya menggeleng-gelengkankan kepalanya setres menghadapi Albian.
"Kita ini manusia pak bukan Robot, Otak kita juga gak se encer Albert Einstein " Lanjut Albian.
"Kalian ini harusnya bisa berfikir buat apa kalian sekolah mahal-mahal kalok enggak buat belajar?" Ujar Pak Irwan mulai melunak.
"Saya udah pinter, Bapak aja yang belajar" Ujar Albian santai.
"Kalau kamu sudah pandai sekarang coba kamu kerjakan soal ini di depan papan tulis" Pak irwan memberikan 2 buah soal di papan tulis, Ia tau Albian akan merasa sedikit tertantang dengan ini, ya setidaknya Albian mau mengikuti materinya kali ini.
"Tapi ada syaratnya pak" Ujar Albian menantang sang Guru balik.
"Apa?"
"Kalok saya bisa pecahin dan menjawab soal itu dengan benar bapak harus memberikan jam kosong untuk kelas ini" Albian berdiri menuju papan tulis guru itu sedikit berfikir.
"Gak bisa kayak gitu" Tolak Marsya.
"Kenapa?" Tanya Albian sembari menunggu jawaban Marsya.
"Gw mau kelas berjalan seperti biasa, jangan karna kepentingan pribadi lo, lo bisa seenaknya gak mikirin temen-temen yang lain, Mereka mau belajar Al" Jelas Marsya.
"Ok kalau begitu 2 soal ini kalian kerjakan bersama siapa yang selesai terlebih dahulu dan benar"
"Albian! jika kamu bisa mengerjakan dan selesai lebih dulu sebelum Marsya kamu boleh tidak mengikuti materi saya hari ini, karna saya anggap kamu sudah mampu di BAB ini" Albian menatap Marsya santai.
"Yang lain silahkan boleh mencoba mengerjakan di bangku masing-masing"
Albian diam dan menatap soal yang ada di depannya, sedangkan Marsya sudah memulai menulis rumus-rumus dan mencoba memecahkan soal dipapan tulis. Selama Marsya menulis mencoba memecahkan soal tersebut Albian hanya memperhatikanya saja terjetak jelas senyum diwajah tampannya, Sesekali Marsya melirik Albian yang tak melakukan apa-apa.
Marsya hampir selesai tapi Albian belum juga memulai menulis ketika Marsya sudah benar-benar hampir selesai Albian baru mulai menulis Dan dengan mudahnya Albian menyelesaikan soal itu terlebih dahulu.
"Gw selesai dan Gw menang" Ucapnya Santai.
"Maksut lo?" Tanya Marsya tak terima karna sedikit lagi dia hampir selesai.
"Ya gw udah selesai lebih dulu dari pada lo" Albian menyeringai menatap Marsya.
"Tapi jawaban lo belum tentu bener" Marsya menatap Albian sengit.
"Jawaban Gw 100% Benar dan akurat, Boleh di cek pak" Pak irwan pun melihat pekerjaan Albian dan dia sungguh terkejut Albian mengerjakan soal yang cukup sulit hanya dengan waktu beberapa menit saja dan jawabanya benar meski cara mengerjakanya sedikit berbeda tetapi cara Albian mengerjakan dengan rumus yang lebih simpel dan mudah dipahami.
"Jawabannya benar" Ujar Pak irwan.
Marsya membuka mulutnya sedikit lebar dia masih tidak menyangka dan juga tidak terima degan mudahnya Albian mengalahkan dirinya, Marsya meneliti lagi pekerjaan Albian dengan sangat teliti ada setitik coretan di hasil akhirnya dan itu tidak seharusnya ada disitu.
"Eh sejak kapan mines ketemu mines jawabanya mines?" Hardik Marsya membuat Albian dengan santainya menghapus sedikit coretan di hasil akhirnya.
"See tetep aja gw yang menang" Ujar Albian sembari menyeringai.
"Mana bisa gitu jawaban lo salah" Protes Marsya.
"Dan Lo bahkan belum dapet hasil akhir dari pekerjaan lo" Ujar Albian dengan Santainya.
"Ya sudah begini saja Albian kamu boleh tidak mengikuti pelajaran saya untuh hari ini. Ingat hanya untuk hari ini!" Ujar pak Irwan tidak ingin mereka berdebat lagi.
"Bapak pikir saya bodoh, kalok hari ini saya keluyuran kelur kelas pasti saya akan di tegur sama kepala sekolah yang lagi patroli" Ujar Albian menatap sang guru.
"Ya sudah lah terserah apa mau kamu asal jangan mengganggu teman-teman mu yang mau belajar" Ujar pak irwan tak mau ambil pusing.
Tak ada suara siswa yang lain hingga membuat suasana kelas jadi tenang Albian hanya menyeringai dan meletakan kepalanya dia atas meja.
Ya, Dia memilih untuk tidur lebih baik begitu untuk saat ini. Pandanganya mulai kabur tak lama kemudian alam mimpi mulai menghampirinya.
Tak terasa pelajaran sudah berlangsung selama 2 jam dan seama itu pula Albian tertidur dengan pulas.
"Baik anak-anak sekian dari saya!kita lanjut di pertemuan berikutnya" Pak Irwan meninggalkan kelas
"Habis ini Akuntansi 1 jam kan" tanya Marsya Dan di balas anggukan oleh Sela
"Paling gak ada gurunya!" dumel Marsya berdiri
"Mau kemana Sya?" tanay Sela
"Toilet, Mau ikut?" Marsya memandang Sela.
"Ikut dong!" Sela berdiri dan berjalan mengikuti langkah Marsya.
Albian terbangun dari tidurnya akibat suasana kelas yang mulai terdengar gaduh dan ramai ia mencoba meregangkan otot-ototnya uang terasa kaku namun tiba-tiba.
Bruukk...
"Aa...aaww..." pekik Marsya
Ia terjatuh karna ulah kaki Albian yang seenaknya menghadang jalan.
"Jatuh?" tanya Albian dengan enteng sembari melirik Marsya.
"Lo ngselin banget sih,lo sengaja kan buat gue jatuh" omel Marsya
"Apa? Sengaja? Apa untungnya buat lo jatuh?" Albian berdiri mengacuhkan Marsya.
"Lo tu ya?iihh ngeselin banget jadi orang" Marsya berdiri seraya menunjuk Albian, mata mereka saling menatap namun dengan cepat Albian mengalihkan tatapanya. Aneh sepertinya akhir-akhir ini dia terlalu sering menatap mata Marsya dan itu membuat ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Minggir...minggir gue mau ke kantin" Albian menabrak bahu Marsya
"Albian....!ngeselin banget sih lo" teriak Marsya
"Udah Sya,jangan lo ladenin si Al" ujar Sela mencoba menyabarkan Marsya.
"Udah! Katanya mau ke toilet" Sela menarik lengan Marsya
Seletah dari Toilet Sela dan Marsya pun menuju kantin karna perut mereka minta segera di isi, dan benar saja 1 jam pelajaran kosong karna ada rapat para guru.
"Buk Sur nasi goreng sama es jeruk ya!" pinta Marsya
"Oke mbak" balas ibu kantin
"Buk saya bakso sama Jus mangga" kali ini Sela memesan
"Sya... itu Al bukan sih?" Sela menunjuk seorang cowok yang tengah duduk di pojokan bersama seorang gadis yang tak lain adalah Vinola.
Marsya melihat arah yang di tunjukan oleh Sela
"Itu tuh di pojokan sama Vinola"
"Tau, gak perduli" balas Marsya acuh
"Ternyata gosip mereka pacaran tu bener, ampe trending topik lagi di sekolah" Ujar Sela
"Bodo amat" lagi2 Marsya cuek
"Pas banget ya cowok populer ketemu sama cewek hits kaya Vinola" Sela lagi menatap mereka berdua dengan tatapan memuja.
"Ini mbak pesanannya" Bu Surti pedagang kantin meletakan pesanannya
"Makasih buk" ujar Marsya sedangkan Sela masih saja mengamati Albian di sebrang sana.
"Udah mending lo makan pesanana lo dari pada ngurusin Albian yang gak berfaedah sama sekali"
"Udah makan keburu dingin tuh bakso lo" Marsya menyuapkan nasgor ke dalam mulutnya.
"Iihhh tapi gue kepo bgt Sya!sejak kapan coba Al mau pacaran sama Vinola? Setau gw Al itu udah berulang kali nolak Vinola" oceh Sela tak henti
Marsya lebih memilih menikmati nasgor buatan Buk Surti pemilik kantin yang enak banget rasanya dari pada ia harus ikut campur kehidupan Albian.
"Sel! Albian itu Fakboy sama kaya Vinola yang cewek Klabang, paling besok- besok juga udah bubaran" ujar Marsya menanggapi ocehan Sela dari tadi.
"Kalok mereka langgeng gimana?" Tanya Sela.
"Ya bodo amat urusan mereka" Ujar Marsya tak perduli.
Setelah selesai makan kini saatnya Marsya membayar pesanannya tadi,
"Berapa buk?" ujar Marsya bersamaan dengan Albian yang ingin membayar segeas Cappucino pesanannya tadi.
"Bayarnya di jadiin satu aja?" tanya Bu Surti
"Em enggak buk, Ini bayaran Cappucino saya" ujar Albian
"Ehhh ini buk buat nasgor sama es jeruknya" kesel Marsya sembari menyodorkan uang pada Buk Surti.
"Lo apa-apaan sih kan gue duluan yang mau bayar" omel Albian
"Lo jadi cowok gak ngalahan banget sih" protes Marsya
"Gue ngalah sama Lo? gak akan" Albian menyentil jidat Marsya.
"Iihhh ngeselin banget sih lo" omel Marsya sembari mengusap jidatnya.
"Udah Buk biar saya aja yang bayar" Sela menyodorkan uang pada Buk Surti dan Bu Surti menerimanya dengan senyum halus.
"Sampe kapan sih mau ribut? udah gw bayar tuh" Ujar Sela melerai pertengkaran mereka.
"Sela kok lo sih yang bayar, Ngenakin si Dugong dong gak keluar duit" Omel Marsy pada Sela.
"Dihh Sela yang bayarin gw kenapa lo yang protes, Wlekk" Albian menjulurkan lidahnya sambil mengacak rambut Marsya, lalu pergi begitu saja.
"Dasar manusia Geratisan" Teriak Marsya kesal.
Sebenarnya bukan seperti itu konsepnya, Albian buka seseorang yang suka geratisan besok dia akan mengganti uang Sela karna baginya sangat tidak etis jika dia yang bisa membeli apa yang dia mau harus berhutang pada seseorang. Toh dia masih mampu jika hanya membayar segelas Cappucino seharga Rp. 30.000
Next....?