[3]~Dihukum bareng

2423 Kata
Selamat Membaca Kisah Gengsi Makan Hati **** Seangkuh apa pun diriku Aku tetaplah seorang manusia Yang memiliki sisi lemah dan butuh pelukan untuk bisa merasa tenang ••••^^•••• Pagi sangat cerah, dengan tanda langit tampak biru bersih dan sinar matahari dengan hangatnya menyinari bumi dan isinya. Semestinya dihari yang cerah itu,akan menimbulkan perasaan hati yang ceria juga. Namun tidak halnya dengan Albian, Hatinya entah kenapa gelisah tak menentu. Dengan rasa gelisah Albian melirik jam yang melingkar di tanganya, jam 08.44 guru pengajar baru saja meninggalkan rung kelas, Karna jam mengajarnya telah selesai dan akan digantikan oleh pelajaran selanjutnya, yaitu pelajaran Kimia. Beberapa saat lagi Bu Susi, guru Kimia yang cantik dan sedikit seksi itu akan muncul dengan segudang rumus dan latihan-latihanya yang bikin sel-sel otak kepala kram karna harus bekerja super cepat dan Ekstra. Sehingga bisa menimbulkan rasa pusing,pening, dan juga muntah-muntah wkwkw. Segan benar Albian mengikuti mata pelajarannya Bu Susi. Karna itu, dia harus segera minggat dari kelas yang kini sudah mulai terasa gerah, pengap dan juga menyebalkan fiks dia harus kabur dari sindiran-sindiran tajam yang akan diperolehnya kalau ternyata dia memperoleh giliran untuk maju ke depan. "Gelisah amat sih lo, Al" Tegur Rifaldo sambil merangkul bahu Albian. "Lagi anu, ya?" Tanya Rifaldo lagi. Albian menoleh dan menatapnya kesal. "Otak lo sange banget sih Do!" Bentaknya jengkel sambil berdiri, membuat Rifaldo mengerutkan keningnya tak mengerti. Namun sebelum Rifaldo sempat bertanya, Albian telah kembali berkata. "Eh Do, kalok Bu nekopoi nanyain gw bilang aja gw sakit perut di UKS,ya" Ujar Albian membuat Rifaldo menatapnya bingung. Albian memang sering menyebut Bu Susi adalah guru nekopoi karna ya karna kalian tau sendiri lah. "Lo mau kemana?" Tanya Rifaldo. "Ngabur lagi?" Rifaldo berusaha mengingatkan teman sebangkunya itu. "Sebentar lagi Bu Susi dateng, nanti kalau lo papasan gimana, Al?" Albian hanya mengangkat bahunya tak acuh. Lalu dengan sedikit bergaya, ia melangkah meninggalkan ruang kelas sambil melambai pada Rifaldo sambil berkata. "Jangan Kawatir,sayang. Gw gak bego, sehingga harus mengalami hal seperti itu..." Kemudian dengan langkah cool khasnya Albian berjalan mengitari sekolah dan berhenti di depan kantin. Dua bungkus roti rasa coklat, semangkok bakso, sepiring somay, Sebotol minuman bersoda dan beberapa makanan ringan... Ya ampun! Albian tertawa terbahak-bahak, akan jadi apa nanti jika semuanya bercampur aduk didalam perutnya? Hm, sebaiknya dia cuek saja untuk sementara ini. Yang penting sekarang mengobati rasa laparnya dulu! Perduli amat itu makanan dan minuman nanti mau bagaimana bereaksi di dalam perutnya. Sambil mengamati anak-anak kelas lain bermain basket di lapangan, dikunyahnya pelan-pelan bakso sesendok demi sesendok. Dan pada saat sendokan terakhir di lemparnya kedalam mulut, tiba-tiba dia tersedak. Matanya membelalak lebar-lebar melihat pemandangan didepannya. Oh...God! Setan mana pula yang telah menggiring lenggak-lenggok Bu Susi ke arahnya! Dengan perasaan tenang Albian memutar Otaknya, ia harus segera pura-pura sakit perut tapi bagaimana dengan makanan sebanyak ini? Atau dia harus pura-pura tidak kenal, Ah sangat bodoh pasti nekopoi itu tahu dia tidak akan pernah melupakan cowok tampan dan populer bernama Albian Tama Zailino yang pernah dengan sengaja menaruh cat warna merah di kursinya,dengan sengaja mengumpulkan pembalut di buku tugas nya dan Berulang kali membuat gaduh disaat Bu Susi mengajar dikelas. Bingung mencari alasan, akhirnya Albian memutuskan untuk lari saja, Dikebut langkahnya tanpa memperdulikan wajah-wajah melongo di sekitarnya. Lo harus lari, Albian, kalok lo gak mau  beradu bacot seharian penuh dengan si nekopoi itu pikirnya. Tikungan demi tikungan dilaluinya. Satu tikungan... Dua tikungan... Tiga... ti Gubrakkk! Albian melotot kesal dengan seseorang yang tubuhnya terduduk dilantai, karna dia menabrak tubuh Albian yang tegak dan menjulang. "Heh, biji ketumbar liat-liat kalok jalan" "Mata lo di taro dimana sih, di dengkul kali ya!" Maki Albian sudah seperti Bom waktu yang meledak ledak. "Heh yang ada lo tuh, yang nabrak gw kan lo" Kesal gadis itu. "Iya, gw kenapa? Mau berantem lagi kayak kemarin" Tantang Albian melihat Gadis didepannya yang melompat berdiri. Setengah mati ditahannya rasa gelinya. "Ayo gw gak takut" Tantang Marsya balik. "Setan cilik" desis Albian gemas sendiri. "Eh, enak aja kalok ngomong! Elo tuh jin tomang! Ngaca makanya jangan cuma bisa ngatain orang" Ujar Marsya tak mau kalah. "Dasar cewek Cerewet! enak aja nyuruh-nyuruh orang ngaca, ngaca aja sendiri... Biar sadar tu muka gak lebih cakep dari panci gosong! Kaya yang kecakep aja" Ujar Albian dengan dongkol. "Elo yg sok kecakepan" Bentak Marsya sewot. Tiba-tiba Albian tertawa "Emang Gw cakep kok" Ujar Albian PD. Merasa salah ngomong, Marsya bersungut kesal. "Enak aja! Muka lu kaya botol kecapnya mang Abdul tukang somay noh" Senyum di bibir Albian segera hilang. Berubah dengan rona kecut menghiasi di wajahnya. "Badan lo kecil kaya ketubar, udah kecil kagak ada yang menarik sama sekali" mendengar ledekan Albian yang semakin mengebu, Marsya semakin sewot dengan gagah dia melangkah mendekat. "Rata!" "Lo ngomong Apa! Lo pikir..." Mata Albian menyipit  seketia ia samar-samar melihat Bu Susi, Di dekapnya mulut Marsya. "Sssttt ada Bu Susi" Bisik Albian. Mata Marsya Membelalak lebar mendengar apa yang baru saja Albian tuturkan. "Seriusan lo?" Tanya Marsya meyakin kan. "Ngumpet...ngumpet...ngumpet" Ajak Albian menarik Marsya masuk kedalm UKS. "Huftt... aman" Marsya bisa bernafas lega setelah berhasil kucing-kucingan degan Bu Susi. "He biji ketumbar, Lo kenapa gak di kelas?" Tanya Albian heran. Marsya nyengir kuda sembari menggaruk kepalanya yang ia rasa tidak gatal. "Tugas gw ketinggalan dari pada gw di suruh pulang ngambil jadi gw kabur aja" Jelas Marsya. "Gw pikir Marsya si biji ketumbar yang sok pinter,sok rajin,ternyata tukang bolos juga" Kekeh Albian. "Ihh gw bolos baru sekali ini dugong, Itu pun karna gw lupa masukin buku tugas gw" Kesal Marsya. "Tapi kan tetep sama aja lu bolos" Ejek Albian "Ya tapi kan gw gak kaya lo yang...." Tiba-tiba, "Albian....! Marsya...! Ada apa ini?" Suara yang menggelegar marah itu membuat Albian dan Marsya tersentak terbungkam seribu bahasa. Wajah keduanya seketika berubah. Bu Susi tersenyum menatap kearah Albian. "Rifaldo bilang kamu sakit, betul begitu Albian?" Tanyanya sinis dengan mata menyelidik. "Tadi Sela bilang kamu ketoilet karna sakit perut, Betul begitu Marsya?" Kali ini Bu Susi bertanya pada Marsya. "Hm, Rupanya kalian mulai bikin janji ya disini? Ck...ck...ck...pasangan baru rupanya" Marsya tersentak mendenger sindiran Bu Susi. "Kita gak buat janji kok Bu" Protes Marsya, Marsya merutuki dirinya sendiri mengapa tadi ia tidak ketoilet saja agar Bu Susi tidak curiga. Bu Susi melotot marah. "Saya tidak menyuruh kamu berbicara,Nona! Sekarang juga kalian berdua ikut saya ke kantor" Dengan lesu Marsya melangkah mengikuti Bu Susi ke kantor Guru. Albian mengeluh pelan. Lebih baik dia mati saja dari pada harus di ceramahi panjang lebar oleh Bu Susi. Bel Istirahat berdering nyaring dari ruang kelas Rifaldo keluar dengan langkah ringan. Saat dia mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling, dia melihat Albian dengan langkah lesu menuju kantor guru. Dengn wajah menunjukan rasa heran, Rifaldo berlari mendekat. "Kenapa lo,Al?" Tanyanya dengan nafas memburu. Albian menoleh tak b*******h untuk ditanya-tanya bak tersangka Narkotika. "Biasa" Mendengar jawaban Albian, Rifaldo menoleh Marsya yang berada di samping Albian. "Gara-gara anak t***l satu ini" Albian menunjuk dengan dagunya. "Siapa yang t***l" Desis Marsya dengan nada marah. "Lu lah" Jawab Albian ketus "Heh... Mentang-mentang lo t***l, bukan berarti lo bisa seenaknya mencari pengikut begitu" Cletuk Marsya yang sudah kesal setengah mati. "Gw? t***l? enak aja" Protes Albian tak terima. "Emang kan" "Heh Dugong! Lo kan t***l" Sambung Marsya. Albian Melotot makin lebar Marsya membalas dengan sengitnya. "Lo t***l" "Lo" "Gw masih punya otak dri pada lo" "Dih Dugong t***l" "Eh sadar diri Otak lo cuma sekecil biji sawi sama kayak badan lo yang rata" "Lo nya aja Babon" Ketus marsya. "Ya, Ampuuun... apa-apaan ini!" Bentak Bu Susi melerai. Matanya melotot seperti mau keluar. "Kalau mau bertengkar di dalam! Jangan bikin keributan di sini" Dengan perasaan sebal Marsya menatap biji mata Albian, Albian tak mau kalah. Dia pun balas menatap Marsya sehingga untuk beberapa saat lamanya, mata mereka terus beradu sampai akhirnya Marsya tak tahan lagi menahan amarahnya. "Lo jelek" Cletuk Marsya. "Lo yang jelek" Balas Albia  kesal. "Ish...Elo" "Elo" "Biji ketumbar" "Dugong laknat" "Albian! Marsya!" bentak Bu Susi menghentikan adu mulut mereka. Setelah hampir setengah jam lamanya  menghadapi introgasi dari Bu Susi, akhirnya Albian dan Marsya pun diperbolehkan pergi. Tetapi tentu saja dengan syarat dan sangsi, syaratnya Albian dan Marsya tidak boleh lagi melakukan hal yang sama sebagaimana yang baru saja mereka lakukan, sedangkan sangsinya kalau mereka kembali melakukan perbuatan yang sama maka akan kena skors selama 1 minggu. Dengan wajah lesu, Marsya melangkah menuju kelasnya dia langsung di sambut hangat oleh sahabatnya Sela yang langsung menyerbunya dengan banyak peryanyaan yang justru membuat otak di kepala Marsya bertambah pusing tujuh keliling. "Al mana Sya?" Tanyanya Sela ketika Marsya sampai hanya seorang diri. "Lo tau kan dia itu musuh bebuyutan gw, ya kali gw bakal bareng sama dia" Jawab Marsya. "Kok musuh sih Sya" Ulang Sela mengerutkan keningnya. "Iya lah emang lo pernah liat gw sama  Al akur? Enggak kan!" Jelas Marsya menghela nafas niatnya menghindari Bu Susi malah jadi begini ini juga salah dirinya mengapa tugas nya tertinggal di rumah dan sialnya dia bertemu Albian ketika hendak bersembunyi dari Bu Susi. *** Pulang sekolah kali ini Albian memiliki janji akan jalan bersama Vinola, dan acaranya hari ini dia makan bersama di sebuat caffe tempat langganan Vinola dan mengantarkan Vinola ke Apotik. Setelah mengantarkan Vinola pulang seperti janji Albian tadi ia akan bermain PS di rumahnya dengan Kenan. "Kemana aja lo, lama banget?" sindir Kenan "Gue kan udah bilang gue cuma anter Vinola ke apotik terus pulangin dia" jelas Albian. "Al! gw denger-denger tadi lo di hukun lagi yak?, ngapain coba " cibir kenan "Ia emng kenapa? Kepo lu" Tanya Albian malas. "Lo kagak kena kasus pencabulan anak orang kan" Ledek Kenan tak terkondisi. "Anjing bacot lo ya Ken" Kesal Albian "Lah kenapa?" Tanya Kenan balik sambil tertawa "Al, Tante pergi dulu ya" ujar Sofi Adik dari Papa Albian, Setelah Mamanya meninggal dan kebetulan sekali Tante Sofi bercerai dari suaminya, karna Tante Sofi sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Papa Albian jadi lah ia kembali tinggal di rumah Erwan alias Papa nya Albian, Namun terkadang Sofi tinggal di apartemen nya sediri. Dia merasa tidak enak jika harus menumpang Papa Albian terus. "Mau kemana Tante?" tanya Albian sedikit basa-basi. "Tante mau arisan" Ujar Sofi pada keponakanyanya itu. "Kenan di enakin ya, tante tinggal bentar" Sofi beranjak meninghalkan Kenan dan Albian. "Iya tante!" balas Kenan sopan. "Al mana pesenana gue" pinta kenan "Bentar!" Albian berjalan menuju kulkas dan mengambil beberapa cemilan dan minuman kaleng. "Udah mulai yuk" ajak Albian memainkan ps nya, mereka berdua memainkan pertandingan sepak bola yang greget,3 kali permainan Albian kalah. "Yes gue menang lagi!" terik kenan "Al! Tumben-tumbenan lo kalah?mikir apaan lo?" tanya kenan melahap cemilannya. "Lagi gak mood gw tapi pengen maen" Ujar Albian malas. "Alah ngaku aja deh lo" "Vinola?" sambung kenan menebak, Albian hanya menggeleng. "Mantan lo itu? Siapa? Kaeryla?" Tebak Kenan dan lagi-lagi Albian menggeleng. "Trus?" kepo Kenan "Kepo banget dah lo Ken kaya ceuwe" Cibir Albian. "Ya trus lo mikirin apa? Gak seru tau gak lo main kalah-kalah mulu" "Jangan-jangan lo Mikirin temen sekelas lo tadi ya?" tebakan Kenan kali ini pasti benar, Albian menatap Kenan dengan mata elangnya lalu mengangguk. "Lo suka sama dia?" cibir Kenan menepuh bahu Albian. "Ya enggak lah!,Masa iya gue suka ama setan cilik itu! gue udah punya Vinola secara body beda jauh dari si sapu lidi itu" Oceh Albian mengunggulkan Vinola. "Loh kenapa? Setau gw siapa namanya?" jeda Kenan "Marsya" Sahut Albian Cuek. "Nah iya Marsya! baik, lucu, cantik, ramah, juga gak kalah gaul dari Vinola, gak ada larangan punya pacar lagi kan" kicau Kenan smabil tertawa. "Iya juga, tapi Sayangnya gue gak minat kalok pilihannya Marsya" Ujar Albian acuh. "Yakin lo gak minat?" Kenan menatap Albian dengan sebelah alis terangkat. "Trus Lo ada something kah sama dia" Tanya Albian menatap Kenan. "Enggak gitu juga" Balas Kenan menonyor Kepala Albian. "Eh Al bokap lo aja bisa jatuh cinta lagi" Cletuk Kenan tiba-tiba. "Ken itu bokap gw bukan Gw, Bokap gw berhasil dapetin wanita yang menurutnya tepat untuk menggantikan posisi mama kandung gw, sedangkan Gw? Gw belum berhasil mencari pengganti yang tepat!" Ujar Albian dengan pandangan yang sedikit kosong. Hanya Kenan yang tau suka dukanya selama ini. "Iya gw tau tapi apa salahnya di coba Al? contoh Papa lo dia bisa mencintai calon mama baru lo" Desak Kenan. "Jujur Ken awalnya gw sedikit gak bisa menerima tiba-tiba Papa bilang kalok dia punya pengganti mama ya meski sampe sekarang kita belum di pertemukan secara langsung" "Kenapa gw sempet gak bisa terima karna dengan Bokap gw menikah lagi itu tandanya dia akan melupakan Mama Kandung gw! Wanita pertama yang paling gw sayangi" Matanya serasa Memanas jika harus mengenang Mamanya. "Gw juga pernah merasa Kehilanga Al dan gw tau gimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat berarti" Ujar Kenan ikut trenyuh, Kenan kehilangan Kakak yang selama ini menjadi panutannya. Kakaknya bunuh diri entah karna apa tidak ada yang tau. "Kenapa jadi melo gini sih" Kekeh Albian. "Udah lah main lagi aja sampe gw bosen" Timpal Albian. "Ah gak seru ah lu main kagak ada moodnya mending gw pulang" Kenan melemparkan snack kedalam mulutnya. "Ya udh sono lo" Usir Albian dengan wajah kesal. "Ngusir lo" Kekeh Kenan. "Gw ada urusna Bentar tar gw balik lagi santai aja" Kenan beranjak dari duduknya. "Lo kagak balik pun gw kagak nyari lo monyet" Albian juga ikut terkekeh. Setelah kepergian Kenan, Albian memilih untuk keluar rumah mencari hawa segar dari pada harus dirumah membuat dirinya semakin suntuk meski ia tau ia baru saja dirumah beberapa jam bersama kenan namun ia sudah merasa gatal ingin kelur rumah mencari suasana lain. Toh dirumah dia sendirian hanya ada Bi Siti dan Mbak Narsih alis pembantu rumah tangga yang sudah bertahun-tahun kerja di rumahnya. Rumah sebesar ini selalu kosong hanya di tempati oleh Bi Siti dan Mbak Narsih yang tugasnya bersih-bersih, sudah sejak Albian masih bayi Bi Siti dan Mbak Narsih yang sedikit Konyol itu menjadi Art dirumahnya. Dulu Bi Siti dan Mbak Narsih masih sering di temani Mama kandung Albian namun kini, Semuanya telah berubah. Papa Albian juga Asistennya Mas Agam dan Tante Sofi  sibuk dengan urusanya masing-masing dan Albian sendiri masih senang jika Kelayapan kemana pun dia suka. Meskipun di kategorikan anak nakal tapi Albian tidak pernah ikut tawuran antar pelajar atau pun kenakalan remaja lainnya seperti menggunakan Narkotika,Partysex dia hanya Bandel lebih tepatnya, Dia senang Kelayapan hingga tengah malam baru pulang, nongkrong di Bar, menggoda wanita-wanita malam hanya sebatas menggoda saja. Dia masih waras dan masih memikirkan masa depan dan juga Papanya makanya dia melakukan kenakalan dalam taraf wajar. Dia juga tidak mau mamanya menangis di surga sana ketika melihat putranya berprilaku buruk bahkan sampai merepotkan atau mencoreng nama baik Keluarganya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN