Selamat Membaca Kisah Gengsi Makan Hati
***
Pintar-pintar bedain mana Perhatian
Mana cuma mainan, Kurang-kurangin baperan siapa tau cuma Pelampiasan Bosan!
♥♥♥♥
Sambil menyilangkan tangan di atas meja, Rifaldo menikmati pemandangan menarik itu. Gila! Cewek itu sungguh-sungguh luar biasa.
"Do, Udah ngerjain tugas belom?" Tanya Albian.
Rifaldo semakin kelihatan asik, Sampai-sampai dia tidak mendengar bahkan mengacuhkan pertanyaan Albian, Hal itu membuat Albian jadi sebal dan kesal.
"Rifaldo...!" Bentak Albian kesal.
"Eh... iya? Apa? Kenapa?" Balas Rifaldo sedikit terkejut.
"Jangan berlagak t***l gitu deh!" Sungut Albian keki.
"Lo udah ngerjain tugas belum?" Sambung Albian, Rifaldo mengibaskan tangannya tak perduli.
"Ah... lo buat aja dulu, Entar gw nyalin aja deh! Lagian tumben-tumbenan lu mau ngerjain tugas"
"Nyalin?Pala otak kau! Lagi males aja di Hukum" Umpat Albian semakin jengkel.
"Makanya gw yang mau nyalin punya lu, Lagian lu ngapain sih?" Tanya Albian penasaran dengan apa yang tengah Rifaldo lakukan.
"Mengagumi pahatan Tuhan yang sedemikian sempurna tercipta" Celoteh Rifaldo, matanya tak mau lepas dari objek yang sedang ia lihat.
"Ha? Apaan?" Albian melongo mendengar celotehan Rifaldo barusan.
"Ciptaan Tuhan yang satu itu... ck... ck... ck.... Cantik Banget cih" Decak Rifaldo penuh perasaan sambil minunjuk Geta dengan dagunya.
Cantik? Dengan penasaran Albian mengamati wanita itu. Cantik? Hidungnya lumayan mancung, bibirnya merah sedikit lebar dan sedikit basah. Melihat bibir Geta, Albian jadi ingat komentar Kenan suatu kali yang mengatakan bibir Geta itu menantang, Albian benar-benar tak habis pikir mendengar kata 'menatang' yang diucapkan Kenan dengan penuh semangat itu. Menantang untuk di jambak? mengingat kalok dia berbicara tak pernah ada hentinya atau menantang untuk di tonjok? Atau
Menantang untuk di... Ahh, kayaknya Geta tidak sesangar itu! Kenan aja emng eng otak-otak sange ahh sepertinya begitu.
"Gimana?" Tanya Rifaldo.
"Husst... Lu diem dulu!" Sentak Albian ikut mengamati Geta.
Rambut hitamnya lurus nampak sangat lembut jika disentuh ia sanggul keatas memperlihatkan bagian leher jenjangnya beberapa anak rambutnya bersleweran karna tidak ikut terjepit. Matanya bulat karna menggunakan kontak lens, Kulitnya putih, Bodynya juga tak kalah goal berisi di bagian-bagian tertentu Tipe Albian sekali, Geta memang terkenal paling Seksi di antara teman sekelas Albian banyak sekali pria yang menggoda bahkan mengejar dirinya namun selalu ia tolak mentah-mentah, Albian sendiri tak pernah meperhatikan teman sekelasnya ia selalu bersikap bodo amat terhadap kawan-kawanya dikelas dia hanya akan mengusik seseorang yang di anggapnya menarik.
Ya... Mungkin itu yang dinamakan cantik. Tapi... Ah, dia tak pernah menyukai kecantikan Geta yang dipoles sana sini begitu. Menurutnya ada gadis yang lebih alami dan menarik dari itu untuk ia jadikan sebagai gadisnya secara mutlak.
Menarik... Lengkap dengan cibiran dan tingkah yang menjengkelkan hatinya, Seketika Albian kembali kedunianya apa yang barusan dia pikirkan. Albian tak pernah ada fikiran untuk mendekati bahkan memacari teman satu kelasnya karna baginya itu akan berakhir dengan kekonyolan.
"Cantik, kan?" Desak Rifaldo penasaran.
"Cantik? Bolelah" Jawab Albian ala kadarnya.
"Bolehlah?" Cetus Rifaldo sedikit tak mengerti.
"Heem" gumam Albian.
"Bisa dong jadi selingkuhan lo?" Cletuk Rifaldo.
"Selingkuhan?" Cibir Albian tak acuh alisnya terangkat sebelah.
"Enggak lah...Gak minat gw, sorry!" lanjut Albian.
"Gak minat atau gak berani?" Cibir Rifaldo mengejek Albian, Membuat Albian tersinggung dibuatnya. Seorang Albian Tama Zailino tidak berani mendekati wanita lain hanya karna setatusnya punya pacar? Tidak! itu bukan Albian, mungkin jika posisinya masih bersama Kaeryla dia tidak akan melakukan hal itu sebab dia benar-benar tulus menyayangi gadisnya yang kini telah di miliki Tuhan.
"Takut? Pada mahluk lemah begituan? Berani bertaruh apa lo sama gw?"
"Gw suka cara lo"
"Gw bakal tlaktir lu sebulan penuh kalau lu bisa one to night sama dia, Gimana?"
"Menarik, tapi gak ah! Lo tau gw bukan orang yang kekurangan duit!" Protes Albian cepat.
"Gimana kalok lo jadi pesuruh gw selama sebulan?" Tawar Albian dengan seringai menyebalkan.
"Kacung?" Rifaldo menatap Albian tak percaya taruhan macam apa itu bisa turun derajatnya jika ia ketahuan menjadi Kacung seorang Albian Tama Zailino dia termasuk cowok popoler sama seperti Albian dan mendadak ia akan menjadi pesuruh Albian semala 1 bulan, Muka tampanya mau diletakan dimana? Apalagi jika gadis incaranya itu tau.
"Itu sih lo niat banget mau mempermalukan gw, bisa-bisa anjlok harga diri gw!"
"Mau atau gak?" Tantang Albian ngotot.
Dia memang seseorang yang keras jadi siap-siap saja Rifaldo merasakan hidupnya seperti di neraka.
"Gak ada yang lain apa,Al?" Tawar Rifaldo menciba negosiasi berharap Albian berubah pikiran.
"Gak!" Jawab Albian final.
Dengan malas-malasan Rifaldo akhirnya mengangguk menyetujui Taruhannya dengan Albian.
Albian tersenyum menang sambil bangkit dari bangkunya dia sudah pastikan akan sangat mudah membuat Geta jatuh hati kepada dirinya dan ya kalian tau lah, dengan jalan digagah-gagahkan didekatinya Geta.
"Hay, Get! Lagi ngapain?" Sapanya penuh senyum.
Serentak Geta dan Olivia, teman sebangkunya mendongak kaget. Mereka menatap takjub, Terlebih Geta. Albian menyapa dirinya? Tuhan... Mimpi apa dia semalam sampai Albian yang terkenal cowok most wanted dan selalu bersikap masa bodo di kelas itu menyapanya?
"Eh lo kok bengong?" Masih dengan senyum mata Albian menelusuri buku Geta yang masih kosong melompong itu.
"Anjir gw rasa cewek ini cantik-cantik bego tingkat akut deh" Batin Albian sedikit menghujat.
"Eh kok belum dikerjain? Susah, ya? Mau gw bantu?" Tawar Albian.
Geta semakin melongo dibuatnya sejak kapan Albian perduli pada tugas orang lain? Tapi akhirnya dia menggeser tempat duduknya agar Albian bisa duduk di sisinya. Melihat itu Olivia langsung protes.
"Hei, gw juga mau diajari! Lo duduk di tengah dong" Albian gelagapan untuk beberapa detik, tamat lah riwayatnya dia laki-laki normal apa harus duduk diantara mahluk-mahluk terkutuk ini yang akan membangunkan sisi liarnya.
Tapi akhirnya dia mengangguk dan duduk di tengah dengan enggan. Terus terang saja dia menjadi mendadak memasang sinyal siaga derdekatan dengan cewek-cewek membuat otak normalnya dengan lancar berfikir yang tidak-tidak, apalagi yang seperti Geta dan Olivia. Tapi melihat lirikan Rifaldo yang penuh rasa iri itu Albian sudah tak perduli! Dia harus terlihat sangat beruntung bisa duduk diantara mahluk-mahluk tuhan yan seksi ini. Lalu, dia mulai mengambil pensil dari tangan Geta dan mulai meperhatikan soal dihadapanya. Tidak begitu sulit bagi dirinya untuk menyelesaikan persoalan seperti yang ada didepan matanya.
"Gini" Albian memulai dengan caranya sendiri.
"Untuk yang soal nomor satu ini kita pakai rumus yang ini ... harus bagini. Nah, dari situ lalu begini... Begini... terus begini! Gampang,kan?" Albian telah selesai mengerjakan 1 soal dengan sangat lincah jari-jarinya sudah berhasil menyulap buku kosong itu dengan coretan yang sudah pasti benar.
"Rifaldo sialan ini namanya gw yang ngerjain tugas, setan!" Rutuk Albian dalam hati.
"Awas aja lo!"
Serempak Geta dan Olivia menatap Albian kagum tuhan pasti sedang tersenyum ketika menciptakan pahatan yang nyaris sempurna ini.
Kedua gadis itu mengangguk berulang kali tanpa mengerti satu pun yang baru saja Abian jelaskan memang hanya membuang waktu. Tak ada yang lebih menarik untuk di perhatikan begi kedua gadis itu selain keseriusan Albian dalam mengajari mereka.
Sambil menopangkan dagunya pada kedua belah tanganya, Olivia asik memperhatikan gerak- gerik jemari Albian yang tengah sibuk menulis. Tulisan Albian yang khas cowok itu, ih, seandainya Albian jadi pacarnya seharin penuh akan dipegangnya tangan-tangan menarik itu. Kalau perlu akan dibungkusnya rapat-rapat supaya tak ada cewek lain yang bisa menikmati selain dirinya. Olivia lalu tersenyum sendiri membayangkan kalau khayalan konyolnya menjadi kenyataan.
Geta lebih berhalusinasi ngelantur, Sambil mengamati raut wajah Albian dari samping, dia mulai sibuk berfikir bagaimana caranya agar dia bisa menaklukan cowok yang terkenal angkuh itu. Sekali saja dilihatnya wajah Albian yang penuh wibawa itu dia sudah mulai merasa jatuh cinta! Bahkan perutnya serasa menggelitik sangat menggelitik.
Sudah berapa banyak cowok yang berhasil ia taklukan dengan kecantikanya itu, Lalu mengapa tidak dengan seorang Albian, Apa salahnya?
"Ya udah gitu aja!" Suara Albian yang tegas membuat kedua gadis itu gelagapan kaget.
"Ngerti kan?" Ulang Albian.
"Eh... Iya... iya ngerti kok" Jawab mereka hampir bersamaan.
Albian tertegun sebentar melihat wajah keduanya yang terlihat begitu memerah entah kenapa? Tapi akhirnya dia hanya mengangkat bahu sambil melirik jam tanganya.
"Sebentar lagi istirahat" Gumamnya perlahan.
"Gw mau ke kantin dulu" Albian tersenyum kikuk sembari menggaruk tungkuknya yang ia rasa tidak gatal.
Olivia berdiri nemberi jalan, matanya terus menatap punggung Albian sampai dia menghilang.
"Gila! rahim gw rasanya anget di senyumin sama Albian, lemah banget sih gw" Celetuk Geta ngelantur.
"Gak nyangka gw kalau Albian ternyata gantenggg banget, damage nya uhh" Ujar Olivia masih melamun.
"Ovarium gw rasanya meledak ledak sampe tuba falopi juga ikutan, Hamil gw kayaknya padahal cuma liatin Albian, belum juga di apa-apain gw udah basah, Liv" Ujar Geta makin ngelantur sembari terus memandangi punggung Albian Olivia mengangguk setuju.
"Seneng deh kalau liat cowok yang sedikit berantakan tapi Smart gitu. Enggak kaya Fero yang sok preman" Olivia bergidik pelan sambil melirik ke arah Fero yang kebetulan lewat didepan mereka.
"Pengen rasanya tuh rambut gw kepang jdi enam belas"
Geta tertawa mendengar celetukan Olivia barusan.
"Masa cowok di kepang" Geta tak berhenti tertawa.
"Itu kan cuma menghayal doang, menghayal itu enak lho,Ta. Enggak mahal dan kayaknya selalu mungkin saja. Nihh, misalkan Albian itu cowok gw" Ujar Olivia mulai mengawang.
"Lho,Dito gimana?" Tanya Geta.
"Itu kan cuma menghayal doang Geta" Olivia tersenyum genit.
Geta hanya tersenyum sambil menopang dagunya di atas kepalan tangan kirinya. Matanya menerawang jauh seperti tengah berfikir keras dan itu membuat Olivia curiga.
"Heh, Mikirin apa lo?"
"Enggak kok gw gak mikirin apa-apa" Elak Geta.
"Geta sayang ke kantin yuk"
Geta dan Olivia serempak menoleh mendengar ajakan Rifaldo.
"Emm, Gak ah males! Ajak Olivia aja" Olivia melotot merasa dirinya dijadikan tumbal oleh Geta, Tapi tak mampu membantah karena tak tega pada Rifaldo.
"Wahh... kalok gw ngajak Olivia, bisa-bisa gw mati dihajar habis-habisan sama Dito" Jawab Rifaldo nyengir.
"Emangnya kenapa sih males ngantin, Tumben amat?"
"Ya males aja, emangnya orang gak boleh males?" Rifaldo gelagapan. Geta memang sok galak dan Rifaldo tau itu tapi ketika dengan Albian tadi dia bersikap sok manis, Cuihh menjijikan.
"Ng...Boleh aja, Terserah lo lah ya udah deh gw pergi dulu" Lalu dengan Buru-buru Rifaldo pergi meninggalkan Geta dan Olivia.
"Kok lo gitu amat sih Ta sama Rifaldo, Kasian tau" Serbu Olivia begitu Rifaldo menghilang dari pandangan mereka.
"Gw lagi males liat dia"
"Lo pasti udah bosen ya sama Rifaldo, Padahal kan waktu itu lo bilang sama gw lo lagi ngincer Rifaldo buat jadi pacar lo" tuduh Olivia semakin sengit.
"Lo mau ninggalin Rifaldo padahal lo belum dapetin dia? Mau cari yang baru? Siapa korban berikutnya?" Tanya Olivia penasaran.
Geta diam saja. Kepalanga celingukan seperti mencari seseorang.
"Albian tadi dimana ya?,Liv"
"Perduli amat! Lo sama Al bisanya juga bodo amat"
Geta menopang dagunya sambil tersenyum kecil kearah Olivia.
"Cowok itu susah banget dideketin, gw jadi penasaran"
"Tumben biasanya lo yang minta di deketin"
"Olivia... kalok misalnya gw jatuh cinta sama Al gimana menurut lo?" Tanya Geta.
"Hah...?" Olivia yang tadinya acuh tak acuh berubah jadi bengong. Benar-benar bengong Geta jatuh cinta? Jatuh cinta, duluan? Dan pada Albian? YaTuhan!
Geta hanya akan menjadi Pesuruh Albian apalagi mengingat Albian sekarang menjalin hubungan dengan Vinola mau jadi apa nanti Geta!
Dia akan menjadi bulan-bulanan Vinola dan juga Genknya Geta akan di bully habis-habisan.
Bel tanda waktu belajar mengajar selesai berbunyi. Para siswa pun bergegas mengemasi peralatan sekolah dan bersiap-siap untuk pulang namun ada juga beberapa dari mereka yang masih mengobrol ringan sembari membereskan alat tulis amasing-masing.
"Eh lo tau gak Geta lagi jatuh cinta sama seseorang" Ujar Olivia pada Sela dan itu Otomatis membuat Sela kepo akut.
"Serius lo sama siapa?" Marsya hanya berdecak menanggapi obrolan Sela dan Olivia.
"Gw pikir dia gak pernah jatuh cinta selama ini, Setau gw akhir-akhir ini dia lagi deket sama Rifaldo." Sambung Sela.
"Iya sih Gw juga tau tapi kali ini beda Sel" Jelas Olivia.
"Bedanya dimana Olip?" Tanya Marsya memutar bola matanya.
"Kan Gw udah bilang dia lagi naksir cowok, ihh kupingnya pada di tarok mana sih" Olivia jadi kesal sendiri.
"Gw jadi bingung deh katanya Geta banyak yang naksir, katanya Geta lagi deket sama Rifaldo, katanya Geta suka ninggalin katanya Geta..."
"Aduh Marsya lo tuh pinter tapi Bego ya" Ujar Olivia jadi geregetan.
"Sabar liv sabar ngomong sama Marsya tu emang harus banyak-banyak istigfar" Ujar Sela.
"Buka lebar-lebar kuping lo Intinya kali ini Geta yang naksir duluan, Geta yang suka duluan. Dan ini gak pernah terjadi, Sya" Jelas Olivia.
Marsya hanya beroh ria pasalnya selama ini dia tidak suka ikut bergibah dengan teman-temanya yang lain apa lagi ikut campur dengan urusan orang.
"Tapi gw jdi takut deh" Ujar Olivia lagi.
"Takut kenapa Liv? Orang kan boleh aja jatuh cinta. Masa Geta gak boleh, Harusnya lo seneng, kali ini Geta gak main-main" Ujar Sela menatap Olivia.
"Tapi Sel cowok yang di taksir Geta itu lain dari pada yang lain"
"Maksut lo gimana liv" Sela jadi tidak paham dengan arah pembicaraan Olivia.
"Wah tu cowok pantes masuk Guinness Book dong" Kekeh Marsya menanggapi obrolan Olivia dan Sela.
"Atau cowok itu berasal dari planet pluto makanya lain wkwkw" Ejek Marsya lagi mencoba mencairkan suasana.
"Gak gtu juga kali,Sya. Gw cuma takut tu cowok gak bales cintanya Geta" Ujar Olivia merasa kasihan meski dia sering di buat kesal oleh Geta namun tetap saja Geta itu temannya.
"Lho... terus kenapa? Emangnya semua cowok harus suka sama Geta? Gak juga kan! Udah lah itung-itung sekali kali Geta itu ngerasain yang namanya sakit hati biar dia tau karma itu ada" Ujar Marsya bermaksut bercanda.
"Lo gak tau Geta itu gimana,Sya. aku..."
Tiba-tiba Geta yang di gibahkan datang menghampiri Olivia entah lah dia muncul dari mana perasaan tadi udah lebih dulu keluar kelas sebelum Marsya,Sela dan Olivia beres-beres.
"Liv, lo pulang duluan aja ya gw masih pengen disini"
Olivia,Sela dan Marsya berbarengan menoleh mendengar suara Geta di depan pintu. Olivia sempat gelagapan berdoa semoga Geta tak mendengar obrolanya tadi.
"Kenapa Ta?" Tanya Olivia ragu-ragu.
"Ya gw lagi males aja pulang, lo kaya gak pernah tau orang males aja sih" Ujar Geta santai.
"Ya pernah Ta, tapi kalau males yang gara-gara jatuh cinta dan merugikan kawan sendiri ya baru kali ini" Sindir Olivia.
Bukannya marah namun Geta malah menoleh dan memandang Olivia dengan tatapan berbinar.
"Lo pernah jatuh cinta, Sya? Maksut gw bener-bener jatuh cinta? Pernah? Gimana rasanya? Apa berdebar-debar? Males makan males minum? Jadi rajin belajar? Terus di perut rasanya kaya ada ribuan kupu-kupu yang terbang?" Geta senyum-senyum sendiri sambil memandangi Marsya yang tak tau apa-apa.
Marsya dan Geta itu jarang berbicara apa lagi ngobrol, Marsya jadi merasa keki tiba-tiba di beri pertanyaan bertubi-tubi seperti itu dengan Geta.
"Emm... mana gw tau! Gw enggak pernah... Eeehh... Maksut gw gw hanya sekali jatuh cinta" Jawab Marsya kikuk.
Sela menatap Marsya lekat-lekat sorot matanya seakan-akan bertanya sejak kapan Marsya jatuh cinta dengan siapa bocah ini jatuh cinta?
"Menurut lo Albian gimana?"
"Al..? Albian? Hmm... Hah?! Al? Lho! Lo naksir Al?" Marsya membelalak kaget.
"Lho Lip Geta naksir Albian?" Olivia mengangguk membuat Sela dan Marsya menatap tak percaya.
"Kenapa emangnya kalok gw naksir Al?" Geta menatap tak suka kearah Marsya dan Sela.
"Ya gak papa sih iya kan,Sya" Jawab Sela sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Gak papa gimana?"
"Enng... Perasaan baru dua minggu lalu gw denger lo ngomong cinta berat sama Rifaldo" Marsya mencoba membelokan pembicaraan.
"Sekarang udah gak lagi" Jawab Geta enteng.
"Enggak?" Tanya Sela terkejut secepat itu kah pikirnya.
"Kenapa?" Tanya Marsya iseng.
"Karna gw lagi cinta Albian"
"Nanti kalok cintanya cuma 2 minggu?" Sella ikut nimbrung.
"Enggak mungkin" jawab Geta yakin.
"Tapi Lo tau kan Ta, Al itu udah punya Vinola" Ujar Olivia.
"Terus? kalian pikir Albian itu cinta apa sama Vinola cewek Pansos itu,Enggak! asal kalian tau itu" Maki Geta dengan raut kesal.
"Tapi, Ta Lo tau sendiri kalok lo itu terus terang aja nih, cepet bosen. Lo aja pacara gonta-ganti mulu. Kalok cowok-cowok lo yang dulu sih gak papa lo tinggalin lo manfaatin! tapi ini Albian, Ta! yang ada lo yang di manfaatin dia" Olivia mencoba memberi pengertian terhadap Geta.
"Gw setuju sama Oliv, Apa lo udah siap jadi bahan bullyan Vinola in the genk?" Tanya Sella.
"Apa pun itu gw gak perduli" Kekeh Geta, Membuat Olivia menelan ludahnya.
"Kalok Al juga gak cinta sama lo?" Tanya Marsya yang langsung ditatap horor oleh Geta.
"Gak mungkin! Gw yakin kok gw bisa bikin Al jatuh cinta sama gw"
"Gw bilang kalok,Geta"
"Gak mungkin!" Kekeh Geta
"Kemungkinan kan selalu ada,Ta" Celetuk Marsya gemas.
"Ya lo kan tau sendiri Albian itu gimana, dia cowok b******k, Fakboy" imbuh Marsya.
"Gw gak perduli! Intinya gw cinta sama Albian!"
Seperti ada isyarat pertanda perang dimata Geta untuk Marsya.
"Lo dengerin gw ya Sya! Gw cantik! Gw menarik! Gw juga kaya gak mungkin Al nolak gw" Ujar Geta dengan sengit.
Marsya menarik nafasnya dalam, niatnya membatu memberi peringatan pada Geta malah menjadi seperti ini. Ini cewek seperti gak punya otak pikir Marsya, terlalu bucin. Marsya juga sudah hafal pemikiran kalangan atas pasti mereka selalu keras kepala untuk mendapatkan apa pun yang mereka inginkan tapi gak kaya gini juga kali. Cinta boleh tapi jangan Bodoh!
Lagi pula apa yang membuat banyak gadis tertarik degan laki-laki laknad macam Albian itu, Baginya Albian hanyalah seorang Playboy caper yang kurang belayan. Bagi Marsya tidak ada yang bisa membuatnya tertarik dari sosok Albian, Laki-laki dengan seribu tingkah konyol dan pembuat onar itu mana bisa membuat Marsya tertarik.
Keinginan Marsya hanyalah bersekolah dan menuntut ilmu dengan baik urusan cowok atau pun pacar ia tidak begitu memikirkanya cukup satu kenangan pahit saja yang pernah ia rasakan selebihnya ia belum jika kejadian itu terulang kembali.
"Kalok misalkan Lo cantik,menarik, kaya tapi tu si Dugong tetep gak cinta sama lo gimana?" Ujar Marsya menjadi kesal sendiri.
"Gak mungkin... Gak mungkin... Gak mungkin.... Lo liat aja gw bakal bisa dapetin Albian" Teriak Geta.
"Gw tau kenapa lo gak suka kalok gw naksir Albian sebenernya lo sendiri Naksir kan sama Al" Tuduh Geta.
Marsya menggeleng cepat mengapa Geta menuduhnya seperti itu. Naksir seorang Albian? Benar-benar sebuah lelucon jika itu terjadi, Dia menginginkan seorang pacar yang baik hati, Dewasa dan setia tidak menyebalkan juga fakboy seperti Albian.
"Lo kok nuduh Gw sih Ta" Kesal Marsya matanya mulai berapi api.
"Sekarang gini aja kalau lo gak suka sma Albia ya udah gak usah menghalagi gw" Kesal Geta.
"Yang menghalangi lo suka si dugong tu siapa? Gw cuma kasih ta niat gw tuh baik" Jelas Marsya.
"Udah Sya udah, Emm Lip, Ta kita pamit dulu ya" Sella segera membawa Marsya pergi menjauh dari mereka.
Jika dipikir-pikir tidak etis sekali jika mereka meributkan Albian, dihh sok keren sekali pasti cowok itu jika mendengarnya.
TBC
.
.
.
.
.
.