My Wife BAB 23

624 Kata
Sandrevano. Inilah Keluarga yang dari dulu sangat kuinginkan aku bahkan sangat bahagia sekali dengan keluargaku dan wanita yang sangat aku cintai yang sekarang berhasil menjadi istriku seutuhnya walaupun terkadang masih saja ada perdebatan di antara kita tapi itu semua tak masalah bagiku karena aku begitu sangat bahagia bersamanya. Sherill. Aku mencintai nya Pria yang sekarang menjadi suami seutuhnya hanya untukku dan tak ada lagi bayang bayang dari wanita lain yang akan mengganggu pernikahan kami dan mengganggu keluarga kecil kami. semoga saja takan ada lagi wanita itu. Pov. Sherill Commpany. Aku masih menatap deaign ku sampai mendengat seseorang mengetuk pintu ruanganku. " Masuk."Ucapku seseorang membuka pintu ruanganku tapi aku masih sibuk dengan design yang sedang ku kerjakan dan tak sempat untuk menolehkan kepalaku padanya. " Sayang."Panggil seseorang padaku. Aku merasa mengenal suara ini tapi siapa. Aku menatapnya dan menemukan suamiku sudah berdiri menatapku dengan tersenyum hangat. Aku balas tersenyum padanya dan menghampirinya, ia pun memelukku dengan erat. " Kenapa datang kesini bukankah ada rapat penting?."Tanyaku saat ia sudah duduk di sofa ruang kerjaku ini. " Aku hanya sedang rindu dengan wanita yang berstatus sebagai istriku, aku heran kenapa ia selalu membuatku rindu padanya ya."Ucapnya kalian lihat suamiku ini begitu menyebalkan dengan bualan nya. aku menatapnya dengan pandangan datarku. " Kalau kau datang hanya untuk membual maka kembalilah Tuan karena sosok yang kau rindukan ini sangat begitu sibuk dan tak bisa di ganggu sekali sayangnya untuk hari ini."Ucapku menatapnya karena ingin tau apa respon yang akan ia keluarkan nanti. Di luar perkiraan ku ia hanya menatapku dengan senyumannya yang terpatri selalu di wajah tampannya dan itu membuatku kesal menatapnya kenapa ia sangat menyevalkan fikirku. " Begitukah?."Tanyanya. " Ya begitu."Ucapku " Baiklah aku akan menunggunya sampai ia selesai pada pekerjaan nya."Ucapnya dengan santai lalu merebahkan badannya pada sandaran sofa itu. Ckkk Pria ini membuatku jengkel setengah mati menatapnya. Aku masih sibuk dengan deaign ku saat kulihat ia mulai memejamkan matanya apa ia tertidur fikirku. Aku menghampirinya lalu duduk di sampingnya. " Sedang mengaggumi ketampanku Nyonya."Ucapnya yang membuatku kaget lalu menatapnya ckkkk lihatkan ia begitu narsis aku bangun dari dudukku lalu mengambil bantal dan memukulnya tepat di kepalanya agar kepalanya kembali seperti sedia kala. " Jangan memukul Suamimu nanti kalau kalau aku gagar otak bagaimana kau tidak mau bukan sayang."Ucapnya " Biar saja, aku tidak akan perduli terserah."Ucapku menatapnya kesal. Ia tersenyum menatapku dengan geli dan membuatku semakin jengkel setengah mati. Ia mendekatiku lalu memelukku dan mencium pipiku bertubi-tubi. " San lepaskan sekarang juga, kalau kau tidak berhenti kupukul lagi nanti."Ucapku padanya sambil terus melepaskan diri darinya. Pov. Sandrevano. Aku terlalu mencintainya dan selalu gemas melihatnya dan selalu ingin berada di sampingnya aku bahlan menciumnya sampai membuatnya kesal. Aku merasa seperti orang yang baru saja kasmaran bukan. " San lepaskan sekarang juga, kalau kau tidak berhenti kupukul lagi nanti."Ucapnya padanya sambil terus melepaskan diri darinya. Aku terus semakin memeluknya dengan sangat erat dan semakin menciumnya dengan brutal biar saja hahhahahahaha. Aku bahkan sangat senang mengerjainya dan membuatnya sampai kesal setengah mati padaku ia bahkan terus menyumpah serapahi ulahku tapi aku tak perduli dan sekarang menjadi hobiku untuk menjailinya. Bahkan putra kami pun begitu sangat suka mengerjai ibunya sendiri. Ini lah keluargaku yang sangat aku cintai dan sampai kapanpun itu. Pov. Sherill. " San kau ingin makan siang apa?."Tanyaku padanya saat ia mulai duduk kembali dengan santai saat berhenti menjahiliku. " Apapun yang kau pesan aku akan memakannya."Ucapnya. Aku memandangnya dengan tatapan ku karena aku sedang mengingat nya ketika pertama kali kami memutuskan untuk menjadikan pernikahan kami menjadi pernikahan sesungguhnya karena setiap aku bertanya padanya ia akan menjawab seperti barusan. " Sayang kau melamun."Ucapnya yang membuatku menatapnya. Aku tersenyum lalu memandangnya. " Tidak hanya sedang memikirkan sesuatu."Ucapku lalu kembali melihat menu apa yang harus di pesan. Pov. Tbc.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN