Mom Kau tau bahwa aku selalu merasa kau adalah ibu terhebat yang pernah ku punya.
........
" kalian tau mungkin aku dulu tidak pernah percaya bahwa sesungguhnya karma berlaku, tapi sekarang aku percaya" Ucap Sandrevano. Akupun hanya bisa terdiam.
" Tapi aku percaya bahwa keajaiban pasti ada entah itu akan datang sekarang atau nanti di kemudian hari, tapi aku selalu percaya bahwa Tuhan akan selalu mendengar doa doa ku yang aku panjatkan di setiap waktuku." ucapnya kembali.
" tidak mungkin tidak ada kan??? " Ucap ku.
Ia menatap ku dan aku pun begitu.
" aku hanya ingin mereka tau satu hal bahwa sesungguhnya aku mencintai mereka melebihi aku mencintai diriku sendiri." ucapnya.
" dan terakhir aku hanya ingin mengucapkan terimakasih untuk kalian yang ingin mendengarkan curahan hatiku. " Ucapnya yang kemudian turun dan keluar dari Aula.
Aku hanya menatap nya.
" Mom aku ingin ke toilet sebentar. " Ucap Ivan Padaku.
" Ya, baiklah, jangan lama ya. " Ucap ku.
Pov.
Ivan Pov.
Aku sengaja izin dengan Ibu ku untuk ke toilet, maaf aku berbohong aku hanya ingin berbicara pada Ayah karena selama ini aku tidak pernah berbicara banyak padanya.
Aku menyusuri lorong demi lorong untuk menemukan ruangan Ayahku . Saat tiba di depan pintu aku pun masuk dan melihatnya sedang berdiri menatap ke arah jendela.
Dan di ruangan itu aku bisa melihat bahwa ia tidak sendiri ada sekretaris nya dan wanita itu. Dan aku juga melihat anak dari wanita tersebut dan kebetulan kami satu sekolah.
" Ayah." Panggil ku padanya.
Kulihat ia pun menengok ke arah ku.
" Van Kamu disini." Ucapnya dan kemudian menatap ku, aku bisa lihat raut wajah yang seakan baru mengeluarkan air mata, apa sesedih itukah????.
Aku berjalan menghampiri nya dan berdiri tepat di depannya.
“Bisa kita bicara, hanya berdua ???."Tanyaku pada Ayah, dan kulihat ia menatapku lama dan mulai menganggukan kepala nya tanda setuju dengan permintaanku.
“ Keluarlah, tolong keluar saya mau bicara dengan anak saya hanya berdua.” Ucap ayah pada sekertarismya .
“Baik pak,saya permisi.”
“Kamu juga win tolong pergi,karena urusan kita sudah selesai.” Ucap Ayahku, tanpa memandang nya.
Tak lama wanita tersebut pun juga keluar dan di ikuti oleh putranya.
“ Baiklah Katakan yang ingin kau katakan ayah siap mendengarkan.“ Ucapnya memandangku lekat.
Aku menatap ayah dan kemudian berdiri menghadap ke kaca di ruangan ini .
“Seseorang pernah berkata padaku, bahwa ketika masalah besar menimpamu kau hanya perlu berdoa, dan berusaha menyelesaikan segala urusan tersebut agar dapat teratasi dengan baik dan lancar tanpa orang lain harus tau, dan jika kehidupan yang kau jalani terlalu rumit dan kau ingin menyerah maka menyerahlah jangan pernah di tahan karena kalau kau terus bertahan maka kau tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi nanti.”
“aku selalu berfikir aku tidak pernah seberuntung anak di luar sana yang dapat memiliki keluarga secara utuh, bahkan dulu aku selalu menyalahkan Takdir Tuhan yang ia berikan padaku dan ibu kenapa dan kenapa ??? Tuhan jahat pada kami, tapi lambat laun aku mengerti bahwa sesungguhnya takdir yang di berikan Tuhan sungguh sangat indah walaupun ia hanya memberikan ku seorang ibu tapi ibu adalah malaikat untukku, ibu adalah hal terindah yang kumiliki ia bisa menjadi sosok ibu ,teman, Ayah untukku di waktu yang bersamaan.”
" Kau tau, dulu aku memang benci padamu karena kau menyakiti hati Ibu, dan aku merasa kau adalah orang yang memang benar benar tidak punya hati. Kau pergi disaat kami membutuhkan mu, aku membutuhkan kasih sayang mu sebagai seorang Ayah dan Ibu membutuhkan kasih sayang mu sebagai kepala Keluarga dan seorang pelindung di keluarga kita, Tapi kau pergi dengan wanita lain dan membiarkan kami hidup tanpamu, kau tau selama ini yang selalu berkorban untukku adalah Ibu dia yang mendidik ku dan membesarkan ku dengan kasih sayangnya, terkadang aku iri melihat mereka yang pergi dengan ayahnya bisa tertawa bersama, mengobrol dan melakukan kegiatan lainnya, tapi nyatanya aku tidak mendapatkan itu semua darimu,dulu aku ingat sekali pertama kali aku melakukan sebuah pertunjukan di sekolah, di acara pementasan ku waktu itu aku ingin sekali melihatmu duduk di barisan para orang tua yang lain dan tersenyum padaku menyemangati tapi itu hanya khayalan ku karena aku hanya selalu melihat Ibu yang melambaikan tangan padaku dan kemudian tersenyum. Aku memang sedih tapi aku tidak pernah ingin terlihat lemah dihadapannya karena aku tau ia akan sedih. terkadang aku bertanya pada diriku sendiri apa kau begitu membenci ku dan tak menginginkan kehadiran ku, sampai kau pergi meninggalkan kami.”Ucap ku padanya sambil menangis .....
Dan kulihat ia juga menangis.
Pov.
Sherill
Aku mengikuti Ivan karena aku tau ia tidak benar benar pergi ke toilet. Ia pergi keruangan Sandrevano Ayahnya.
Aku hanya bisa menangis begitu mendengar percakapan nya,dekat pintu.
Pov.
Sandrevano.
Aku hanya bisa menangis mendengar penuturan putra ku sendiri, apa ini rasa sakit yg selama ini ia simpan. Aku menariknya kepelukanku dan memeluk nya sangat erat.
" Tidak Van Tidak, Ayah tidak pernah membenci mu dan Ibu, Ayah justru membenci diri Ayah sendiri karena tidak bisa menjadi yang terbaik untuk kalian." Ucap ku menangis dan terus mencium puncak kepalanya.
" Maaf kan Ayah, Ayah bersalah." Ucap ku dan kurasa kan ia membalas pelukan ku dengan erat. Aku pun terus memeluk nya seakan tidak ingin melepaskan.
Saat mataku melihat ke arah pintu ruangan ku yang tidak di tutup rapat aku bisa melihat seorang wanita yang sedang berdiri menatap kami, itu Sherill. Tak lama ia pun membalikan badannya lalu pergi.
Pov........
Sherill Pov.
Aku melangkah kan kakiku pergi menjauh tak kuat untuk melihatnya. ya aku mengikutinya dan ia berjalan menuju ruangan sandrevano ayahnya.aku terus mendengarnya berbicara dan itu membuatku menangis dan tak lama aku memutuskan untuk menjauh dari ruangan tersebut dan kembali ke aula.Aku kembali duduk dan bergabung dengan laurent kaka perempuan sandrevano.
"Hei dari mana ??."Tanyanya padaku ia memang sangat perhatian padaku karena kami begitu dekat sampai saat ini walaupun pada kenyataannya aku telah berpisah dengan adiknya tapi ia tak mau ikut campur atas masalah kami dan lebih memilih mendukung apapun keputusan yang kami buat dan tak lupa memikirkan Ivan putra ku.
"Toilet."Ucapku
"Kau tidak apa apa ."Tanyanya aku menatapnya dan tersenyum,aku tau ia pasti sudah tau semuanya .
" Bisakah kau memelukku."Tanyaku dan tanpa kusadari ia sudah menarikku kepelukannya dan aku menangis, mengeluarkan semuanya padanya.
"Tak apa honey keluarkanlah hmmm jangan di pendam aku tau hatimu amat terluka ."Ucapnya dengan terus memelukku.
saat aku sudah merasa agak baikan aku melepaskan pelukanku darinya dan mulai merapihkan penampilanku yang sedikit berantakan.Ia masih menatapku, lalu memegang tanganku hangat.
"Aku tau hatimu masih terluka tapi kau tak boleh egois dan memikirkan perasaanmu sendiri,fikirkanlah ivan putramu dan sandrevano .Kau tau aku juga pernah ada di posisimu setiap hari aku merasa seperti orang yang akan stress dan aku selalu berfikir aku tak bisa menjadi ibu yang baik untuk anakku tapi aku lebih memilih untuk mengalah dan kembali pada mantan suamiku demi masa depan anak kami memang awalnya berat tapi lambat laun kau akan mengerti bahwa keputusan yang kau ambil untuk kembali bersama itu adalah keputusan yang tepat karena anak masih butuh kasih sayang dari kedua orang tuanya ."Ucapnya yang membuatku terdiam.
"Sherr jika aku bertanya padamu apa kau bisa memaafkan adikku,apa jawabanmu?."
aku diam sejenak lalu menatapnya.
"entahlah akupun tak tau."Ucapku
aku sungguh benar bebar bingung harus bereaksi seperti apa dan bagaimana karena memikirkannya saja sudah membuat kepalaku sungguh sangat sangat sakit.
"tak apa jangan terlalu di paksakan hmmm ,ivan datang ."ucapnya ,akupun menengok ke arah belakang dan kulihat ivan kembali tapi tak sendiri dia bersama ayahnya aku kembali menatap ke depan .
"Mommy."Panggilnya saat sudah duduk di sampingku.aku menatapnya lalu mengusap kepalanya perlahan.
"ada apa hemp?."Tanyaku.
"Mommy baik baik saja ??."ucapnya
aku terus mengusap kepalanya .
"Tak apa apa ."Ucapku.
aku terus memegang tangannya lalu tak lama aku menatap ke arah depan dan tanpa sengaja tatapan ku tertuju pada sandrevano yang sedang menatapku juga, pandangan kami bertemu dan kami saling menatap satu sama lain , aku bisa melihat tatapannya padaku ada sarat akan kerinduan terpendam tapi aku tak ingin terlalu larut menatapnya dan aku memutuskan untuk kembali menatap ivan yang berada di sampingku.