My Wife BAB 14

1261 Kata
Bisakah aku berhenti berharap untuk sesuatu yang terkadang tidak pasti. Dan Bisakah sekali ini saja kau berhenti memberikan sebuah harapan yang dimana nantinya akan sangat menyakitkan jika sampai hancur. Sherill pov. Sandrevano pov. Aku sungguh tahu bahwa ini telah terlambat tetapi aku berharap barangkali engkau kembali. Satu hal yang mendorong hingga saat ini adalah karena mencintaimu. Aku mencintaimu, aku mencintaimu , terluka atau sakitpun, aku baik- baik saja ) sangat mencintaimu Bisakah dan bisakah aku berharap kalian kembali kepadaku?????? Kumohonnnnnnnnnnnnnnnnnnnn. Sandrevano pov. At Sandrevano apartemen. Sherill pov. Aku mengerjapkan mataku saat kurasakan sinar mentari mulai terbit. Dimana ini????? Pertanyaan yang berada dalam benakku, ini bukan kamar ku dan bukan kamar di rumah orang tua ku. Saat aku sedang bergelut dalam fikiran ku, aku melihat seseorang masuk ke kamar ini.................. Sandrevano. Ini apartemen nya. " Kau sudah bangun???." Tanya nya padaku dan kemudian duduk di tepi ranjang dan menatap ku dengan lembut. " Emp, aku ingin pulang." Ucap ku tanpa menatap nya. " Bersihkan kan dirimu lalu sarapan, baju mu ada di dalam tas itu." Ucapnya yang kemudian berlalu. Pov. Meja makan. Di sinilah kami duduk dan memakan sarapan kami dalam kebisuan. Kami bergelut dengan pemikiran masing masing, dan tak lama aku merasakan handphone ku bergetar. " 000.765******* " Bisakah kita bertemu ada yang ingin aku bicarakan, ku tunggu jam 9 di Caffè samping perusahaan mu From. Winda Mau apa wanita ini ( fikirku dalam hati) saat aku melihat jam ternyata sudah pukul 08.30. Aku pun bergegas membereskan peralatan makan ku dan kurasa Sandrevano juga bangkit dan membereskan piring nya. " Aku antar. " Ucapnya saat aku memakai sepatu. " Tidak terimakasih, aku akan naik taksi." Ucap ku dan keluar dari apartemen nya. Kurasakan seseorang menarik pergelangan tanganku dan menarikku. " Tak ada penolakan dan aku tak suka di tolak." Ucapnya dengan tegas dan mulai menyeret ku menuju mobilnya. Di dalam mobil pun kami hanya saling diam, tak ada obrolan yang keluar hanya terdengar suara mobil. Saat sudah mendekati perusahaan ku, aku memintanya untuk berhenti tepat di depan restoran yang di maksud wanita itu. " Turunkan aku di depan restoran itu saja. " Ucap ku tanpa menatap nya. " Untuk apa ." Ucapnya menatapku. " Berhenti saja di situ aku ada janji dengan seseorang." Ucap ku menatap nya sekilas. " Kalau yang kau maksud orang itu adalah pria itu, jangan harap aku akan menurunkanmu di Situ." Ucapnya dingin. Shittttttt ada apa dengan pria ini??? fikirku " Bukan dengannya, iya seorang wanita klien ku, jadi turunkan aku sekarang juga aku tak ingin berdebat, jika kau tak mau berhenti aku akan lompat sekarang juga." Ucap ku sedikit membentaknya. Sandrevano pun memberhentikan mobilnya tepat di depan restoran yang ku maksud, dan aku pun bergegas keluar tanpa mengucapkan apapun. Aku tidak perduli ia sudah pergi atau belum karena yang aku fikiran adalah untuk apa wanita itu mengajakku bertemu. Aku melihatnya yang sedang duduk sendiri, dan aku pun mulai berjalan menghampiri nya. " Maaf aku terlambat, apa kau sudah menunggu dari tadi. " Ucap ku Padanya dengan sedikit tersenyum. " Ah tidak, Duduklah mau memesan sesuatu?? ." Tanya nya padaku. " Tidak terimakasih." Ucapku. " Apa yang ingin kau katakan." Ucapku langsung to the point. " Baiklah. " Ucapnya yang berusaha terlihat santai. " Bisakah kau bercerai dengan Sandrevano." Ucapnya yang kemudian menatapku. Degggggggggggggggggg itulah yang kurasakan saat kalimat itu ia lontarkan padaku aku menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan dan ia balas menatapku. " Ada apa sebenarnya ." Ucapku yang sebisa mungkin terlihat santai tapi kenyataan hati ku sedikit perih mendengar keinginanya barusan. " Aku sudah cukup berkorban untuk mu Sherill, aku membiarkan Sandrevano menikah denganmu dan mempunyai anak darimu , aku tau kau juga terluka tapi kita sama sama wanita yang dapat mengerti bagaimana rasanya di hianati karena adanya orang ketiga, kau seorang ibu bukan fikirkanlah bagaimana hidup anakmu tanpa adanya seorang ayah terlebih ia harus menyaksikan ibunya di hina karena merusak rumah tangga orang lain bahkan semua orang membenci ku karena mu, karena aku merusak rumah tanggamu dan harusnya kau tau jelas jelas kau merebut Sandrevano dariku." Ucapnya yang setengah berteriak padaku untuk saja restoran sedang sepi jadi kami tak terlalu jadi bahan penglihatan irang otlrang sekitar aku masih menatapnya. Cobaan apalagi yang kau berikan Tuhannnnnnnnnnnn Ucapku dalam hati dan sebisanya mungkin menahan emosi ku dan air mata ini agar tidak jatuh di depannya. " Fikirkanlah , karena aku sudah cukup tersiksa selama ini, aku hanya ingin hidup dengannya itu saja keinginnaku." Ucap nya yang kemudian memegang tanganku. Apakah ini jawaban Tuhan untukku Apakah aku harus kembali mengalah lagi apakah aku harus berkorban lagi, jika iya maka biarkanlah karena mungkin aku dan dia sampai kapanpun tidak akan bisa bersatu kalau ia bukan jodohku. Aku menatap kosong kerahnya, ia memikirkan anaknya. Lalu bagaimana dengan putra ku yang notabennya adalah anak kandung Sandrevano sendiri mirissssssss bukan?????????? Boleh kah sekali saja aku bersikap egois... Bolehkah.... Boleh kah aku mengatakan bahwa aku tak rela membagi Sandrevano padanya karena biar bagaimanapun rasa cinta itu masih tersemat dihatiku untuknya. Aku hanya bisa terdiam. Hahhhhhhhhhhhh. " Baiklah kalau itu keinginanmu............ Aku akan." Ucap ku terhenti saat tiba tiba ada suara lain yang berbicara. " Tidak. " Ucap seseorang. Sandrevano menghampiri kami dan menatap nya dengan tajam. " Tidak ada perceraian karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah sudi menceraikan istriku sampai kapanpun." Ucapnya dengan Mantap. " Mas. " Panggil Winda dengan lirih. " Kita sudah berakhir Winda, kita sudah berakhir sejak Sherill pergi meninggalkanku, aku tau kau sakit tapi jangan lupakan bahwa aku juga sakit bahkan lebih sakit karena harus kehilangan istri dan anakku hanya karena kesalahpahaman yang kau buat, sudah cukup aku mohon, sudah cukup aku tidak ingin mereka kembali pergi meninggalkanku. Aku tidak ingin mereka mengabaikan ku dan membuat semua orang benci padaku bahkan Ayahku sendiri tidak ingin melihat wajahku sampai sekarang, sudah cukup aku tidak ingin lagi itu terjadi." Ucapnya. Aku menatapnya dengan sendu ini kah yang kau rasakan apa benar semua orang membencinya. " Kenapa , aku mencintaimu " ucap Winda sambil menangis. " Maaf aku tak bisa." Ucap Sandrevano dengan wajah menunduk. Aku hanya bisa diam dan tak terasa air mata yang ku tahan akhirnya jatuh tanpa ku sadari. Kenapa ia tidak mau menceritakan semuanya kalau memang ini hanya kesalahpahaman semata tapi aku ingat ia bahkan berpuluh-puluh kali ingin menjelaskan tapi aku tak mau mrndengarkan apapun maafkan keegoisaan ku San.............. Bahkan aku sangat membenci nya tanpa tau fakta sebenarnya, dan ia rela di caci maki bahkan dibenci tanpa tau apa kesalahannya. Ya Tuhannnnnnnnnnnn apa aku sekarang yang jahat , astaga dadaku sungguh sesak air mataku bahkan semakin deras. Aku terus menatap nya dengan nanar. " Carilah pria lain yang baik untukmu, karena aku tidak bisa mencintaimu maafkan aku, setelah ini kau boleh sangat membenciku tapi ini yang terbaik karena aku hanya mencintai 1 wanita yaitu Sherill." Ucapnya. " Tapi kau sudah berjanji." Ucap Winda. " Ya aku memang pernah berjanji tapi itu dulu sebelum aku memiliki keluarga, tapi sekarang berbeda aku sudah punya mereka yaitu anak dan istriku, bahkan aku sudah berjanji pada tuhan saat mereka pergi. Bahwa saat mereka kembali nanti aku akan menjaga dan mencintai mereka dengan segenap jiwa dan ragaku, aku bahkan rela kehilangan harta, martabat bahkan nyawa ku sendiri hanya untuk membahagiakan istri dan anakku itu janji ku sampai saat ini dan takan pernah berubah, jadi kumohon berhenti lah dan cari kebahagian mu sendiri " Ucapnya menangis. Astagaaaaaaa hatiku sangat sakit Tuhannnn orang yang selama ini ku benci bahkan mencintaiku dengan tulus. Dan kulihat Winda menangis terisak, dan tak lama kulihat Sandrevano menatap ku dengan sendu lalu kembali berucap. " Karena aku sangat mencintai istriku dan aku bahkan tidak bisa berpaling darinya sedikitpun." Ucapnya yang masih menatap ku dengan sendu. Dan kurasakan air mataku kembali jatuh. " Cari lah kebahagian mu, aku pergi." ucapnya yang kemudian menarik ku untuk ikut dengannya keluar dari Restoran ini. Ia pun mengantarkanku sampai depan kantor ku. Pov.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN