My Wife BAB 15

1242 Kata
Hanya penyesalan dan penyesalan yang bisa ku rasakan saat ini........................... Sherill pov Sandrevano. Tidak apa apa yang terpenting aku tau bahwa kau masih mencintaiku dan akan selalu mencintaiku sampai kapanpun. Pov. Sherill Pov. Aku menahan nya yang akan pergi dari kantor ku. lalu menatapnya saat kami masih berada di dalam mobilnya. " Kenapa, kenapa kau menutupi semuanya. " Ucap ku Dan kulihat ia menatapku dalam lalu membuang pandangannya kearah lain. " lalu harus bagaimana, kau pun tidak pernah mau memberikan kesempatan untukku menjelaskan semuanya dan saat aku menjelaskan kau pun tidak pernah percaya bukan." ucapnya. " Maaf. " Ucap ku menunduk. Aku benar benar bodoh bukan. " Maafkan aku San. " Ucap ku lagi. Dan kulihat ia hanya diam. " Sudahlah lupakan aku tidak apa apa hemmm." ucapnya padaku. Aku menangis terisak masih tetap berada disampingnya. Ia menatapku lalu menarikku kedalam pelukannya dan memelukku dengan erat. Ya tuhan apa yang aku lakukan, apa aku egois aku bahkan selalu berfikir bahwa disini hanya aku yang menderita tapi nyatanya...................ya Tuhan maafkan aku. Maaf kan aku. " Sttt tak apa-apa sayang, aku mencintaimu."Ucapnya masih dengan memelukku, aku balas memeluknya erat pelukan yang sangat aku rindukan. Pov End. Sandrevano Pov. Astaga ya tuhan apa aku menyakiti nya, apa dia menangis??? Maaf kan aku sayang. Aku memutuskan kan untuk menariknya ke pelukanku dan memeluknya dengan sangat erat. aku lalu memgantarnya sampai depan lobby lalu pamit untuk kembali ke kantorku. " Aku pergi hmmm, kalau ada apa apa hubungi aku."Ucapku padanya ia menganggukan kepalanya padaku, aku mengusap pipinya lalu mencium keningnya dalam tanpa ada penolakan darinya aku tersenyu di sela ciumanku karena aku berharap ia dapat kembali kepelukanku. Pov. @Kantor. " Oh kau dari mana. " Ucap seseorang padaku dan ternyata Andreas. " Hahhh mengantar istriku. " Ucap ku yang kemudian duduk di tempatku. " Kau ada masalah???, hei." Ucapnya menatap. " Sherill ia minta maaf padaku. " Ucap ku, bahkan aku sudah tidak bisa menahan air mataku dan kemudian aku menutup wajahku dan menangis di depan Andreas. " Kau menjelaskan semuanya. " " Hmmm." Dan kurasakan ada yang memegang pundak ku seolah memberi kekuatan ya siapa lagi kalau bukan Andreas. " Perbaiki lah hubungan kalian kalau nyatanya kalian masih saling mencintai satu sama lain. " Ucapnya lagi " Hari ini kau pulang lah, istirahat dan ingat tubuhmu butuh istirahat kau bisa sakit. " Ucapnya yang kemudian keluar dari ruangan ku. Aku bergegas pulang keapartemen ku. Pov End. Sherill. " Mom." Panggil Ivan padaku saat aku sedang melamun di ruanganku. " Mom kau tidak apa apa ???." tanya nya putra ku yang sekarang berdiri di depanku dengan tampang khawatir saat melihatku. " Tidak, Mommy tidak apa apa sayang." Ucap ku yang kemudian menghampirinya lalu menariknya kepelukanku. " Mom, apa Mommy dan Ayah Bertengkar???." Tanya nya. " Tidak. " Ucap ku. Dalam pelukan nya. " Yasudah aku tidak akan memaksa jika Mommy belum ingin bercerita. " Ucapnya yang kemudian memeluk ku erat. Pov. Ivan Pov. Aku berharap kalian kembali bersatu. Aku memutuskan menemui Ayahku, aku mendatangi apartemen Nya karena kata secretarisnya ia sudah pulang dari tadi siang. Aku berdiri tepat di depan apartemen nya................ Apakah dia ada. Fikirku. Aku terus memencet Bell sampai pintu terbuka dan aku melihat nya berdiri tepat di depanku, dan aku rasa ia terkejut atas kedatanganku. " Ayah. " panggilku padanya. " Van, dengan siapa kau kesini???. " Ucapnya yang kemudian menatapku. " Aku datang sendiri. " " Masuklah sayang ." Akupun masuk ke apartemen nya. " Ayah apa kau bertengkar dengan Ibu????."Tanyaku lalu menatapnya . " Tidak. " ucapnya menatap ke arah lain. " Kalau Ayah tidak bertengkar lalu kenapa Ibu menangis ????." Tanya ku lagi dan kulihat ia hanya diam. " Selesaikan lah masalah kalian, kalau pada kenyatanya kalian bahkan masih saling mencintai maka kembalilah bersatu jangan egois, aku sungguh sedih ketika melihat keadaan yang seperti ini dan..... Harus Ayah tau bahwa Ibu bahkan masih mencintai Ayah jangan bertanya dari mana aku tau karena aku begitu tau segalanya tentang kalian karena kalian orang tua ku dan aku tidak ingin ikut campur, perbaiki lah sifat keras kepala kalian jangan mau menang sendiri dan egois kalau pada dasarnya masih saling membutuhkan. Perbaiki lah Ayah, aku berbicara seperti ini karena kalian orang tua ku, Sudah malam sebaiknya aku pulang dan Ayah fikir kan kembali ya. " Ucap ku dan bersiap untuk pulang. Aku melihat Ayah masih terdiam kaku di tempatnya dan kuputuskan untuk menghampiri dan memeluk nya. " Aku pulang." Ucap ku dan kemudian Ayah membalas pelukan ku dengan erat. " Ya Ayah akan fikirkan semuanya, Ayah bangga padamu kau tumbuh menjadi anak yang baik dan cerdas, maafkan Ayah mungkin Ayah belum bisa menjadi Ayah yang baik untuk mu selama ini tapi percaya lah Van Ayah selalu mencintai kalian melebihi Apapun. " Ucapnya dan mencium kepalaku berulang kali " Ya aku percaya, baiklah sudah malam aku akan pulang. " Ucap ku yang kemudian melepas kan diri dari pelukan nya. " Ini sudah larut sebaiknya besok saja, Ayah yang akan mengantarmu ." Ucapnya dengan menetapku. Memang sekarang sudah larut yaitu pukul setengah dua belas malam, tapi kalau aku tidak pulang pasti Ibu akan memenggal kepalaku fikir ku. " Tidak Ayah, bukannya aku menolak tapi kalau aku tidur disini maka kupastikan besok Ayah akan mendapat berita yang tidak mengenakan." Ucap ku dan menatap nya sambil menahan tawa ku dan kurasakan Ayah menatap ku dengan dahi berkerut " Maksud mu???. " tanya nya padaku. " Mommy selalu mengancam akan membakar Apartemen kami jika aku tidak pulang kerumah, dan aku tidak ingin itu terjadi jadi lebih baik aku pulang dan pasti ia sedang kalangan kabut mencariku karena aku hanya pamit untuk kesuper market sebentar." Ucap ku yang kemudian tertawa. Dan kulihat Ayah juga ikut tertawa. " Ayah antar ya." Ucapnya bergegas Dan akupun pulang ke apartemen bersama Ayah. POV End. Sherill Pov. Tak terasa hari sudah malam dan Aku masih berdiam diri dikamar ku, aku terus memikirkan masalah ini yang begitu Rumit sampai aku teringat akan putra ku yang pamit ke luar tapi belum kembali sampai sekarang Dimana dia akupun mencoba menghubungi nya tapi handphone nya tidak aktif, aku hanya mondar mandir di depan pintu apartemen ku, apa aku menyusul nya saja saat aku ingin pergi kekamar untuk mengambil dompet dan kunci mobil tak lama pintu apartemen ada yang membuka ya siapa lagi kalau bukan tersangka utamanya yaitu Putra ku. Aku menatap nya dengan tajam sambil melipat tanganku di depan d**a, " Jam berapa sekarang Tuan muda." Ucap ku padanya tanpa melepas kan pandangan ku darinya. Kulihat ia hanya berdiri kikuk dan menunduk. " Maafkan aku Mom. " Ucapnya. " Dari mana dan kenapa handphone mu tidak aktif " Ucap ku padanya " Aku tidak sengaja bertemu dengan teman dan kami mengobrol. " Ucapnya yang kemudian menatapku " Mengobrol lalu lupa waktu " Ucap ku Sedatar mungkin. Dan kulihat ia kembali menunduk. " Baiklah kali ini Mommy maafkan tapi lain kali jika kau mengulangi nya Mommy yang akan menyeret mu pulang paham ." Ucap ku " ya Mommy maafkan aku, aku janji ini yang terakhir. " Ucapnya lalu menghampiri ku dan memeluk ku dan aku pun balas memeluk nya dengan erat. " Mommy marah karena khawatir, bukan karena yang lain okay maafkan Mommy." Ucap ku yang merasa bersalah karena telah mengintimidasi nya dan kemudian aku mengajak nya untuk tidur karena hari sudah semakin larut. Pov.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN