DUA PULUH - IDENTITAS

1044 Kata
Selxi berjalan masuk ke sebuah ruangan. Sejauh yang Selxi tahu, ruangan ini adalah ruangan khusus untuk D'VABER dan hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk ke dalamnya. Anna, Aida, dan Naomi juga belum pernah masuk ke dalam ruangan ini. Saat tahu Selxi akan dibawa kesini, mereka sudah berpesan kepada Selxi untuk melihat setiap sudut ruangannya dan menceritakannya kepada mereka nanti. Dean, Varen, Aeryn, Brenda, Elisya, dan Reita langsung duduk di tempat duduk mereka masing-masing serta mempersilahkan Selxi untuk duduk di kursi yang tersisa. Selxi menurut dan duduk diam memperhatikan sekitar. Mereka langsung sibuk dengan tugas masing-masing. "Tunggu sebentar, laporannya sudah diminta pihak akademi, kami akan menyelesaikannya dengan cepat," ucap Dean tanpa menoleh sedikit pun ke Selxi. "Baik," jawab Selxi yang sibuk melihat kegiatan anak-anak D'VABER yang ada di depannya. Karena jarang keluar kamar, Selxi juga jarang melihat anak-anak D'VABER yang terkenal dengan kesibukannya ini. Sepertinya laporan yang dimaksud adalah laporan latihan terbuka yang baru saja selesai. Mereka menagih laporan langsung setelah kegiatannya selesai ya, mengerikan. Tidak diberi waktu untuk bernapas, pikir Selxi dalam hatinya. Tidak hanya satu jenis berkas yang mereka urus, ada cukup banyak jika dilihat dari jumlah dan jenis dokumen yang dibuka tiap anak D'VABER. Sejujurnya Selxi sangat menikmati pemandangan yang ada di depannya, ada banyak hal baru yang bisa ia pelajari dan ada banyak hal yang tidak bisa ia lihat sebelumnya. Sesuai dengan julukan mereka, kecepatan kerja D'VABER memang sangat menakjubkan. Mereka dipuji bukan tanpa alasan dan Selxi pun mengakuinya. Dokumen yang dibuat oleh mereka semuanya rapi dan efisien. Mudah untuk dibaca dan dimengerti, bahkan untuk orang awam sekali pun. "Oh iya, kamu belum memberikan pendapat mengenai latihan terbuka tadi. Langsung ketik saja disini. Sebagai penutup latihan terbuka, pendapatmu juga penting," ucap Dean, ia membuka layar baru di depan Selxi dan langsung membuka salah satu dokumen yang sedang mereka olah. Dokumen yang berisi umpan balik dari anak-anak yang tadi menonton. Mereka memasukkannya dengan cepat berdasarkan ingatan yang mereka miliki. Selxi hanya mengangguk pelan lalu mulai mengetik pendapatnya dengan sejujur-jujurnya. Ia tidak buru-buru mengetik apa yang ada di pikirannya, tapi berpikir sejenak agar asal-usulnya tidak langsung terungkap hanya karena cara penulisannya. "Sudah," ucap Selxi sambil memencet tombol simpan lalu memperhatikan anak-anak lainnya lagi. "Bagus, kami juga sudah selesai," ucap Dean lalu memencet tombol lain untuk menutup layar yang ada di depan semua anak. Selxi melirik jam dinding. Setengah jam untuk mengurus semua data yang berisikan realisasi kegiatan, umpan balik dan perencanaan tahun depan serta beberapa dokumen tambahan. Keadaan ruangan hening, anak-anak D'VABER menatap ke arah Selxi dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Setelah matanya berkelana ke setiap orang yang ada di ruangan, Selxi menatap Dean dengan tatapan datar. Ia tidak menunjukkan emosi apapun. "Aku akan langsung masuk ke intinya ... apa ada yang bisa kami bantu, Putri Runa?" Tiba-tiba Dean, Varen, Aeryn, Brenda, Elisya, dan Reita langsung berdiri serta membungkuk ke arah Selxi lalu kembali duduk. Selxi membeku di tempat duduk. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa, yang jelas ia sudah siap jika harus bertarung. "Pasti Anda kaget karena kami mengetahui identitas asli dari seorang Selxi yang tiba-tiba masuk ke Green Academy dan langsung berada di puncak turnamen hanya dam hitungan hari." Dean memulai percakapan kembali setelah keadaan hening selama beberapa menit. Selxi tidak menjawab, ia hanya menatap semua orang yang ada di ruangan tanpa berkedip. Selxi akan langsung bereaksi apabila ada tanda p*********n sedikit pun. Walaupun berusaha menajamkan penglihatannya, tapi Selxi tidak mendapatkan pergerakan yang mengancam dari manusia-manusia yang ada di depannya itu. "Olyver ...." Belum sempat Dean melanjutkan ucapannya, Selxi sudah berdiri dan membuat sebuah pedang sihir api saat mendengar nama kepala pasukannya disebut. Walaupun melihat reaksi Selxi, anggota D'VABER tidak bergerak sedikit pun. "Kami mengenal Olyver dan tentu saja kami pernah mendengar cerita mengenai Anda. Selain itu, kabar mengenai Dimensi Havendell sudah tersebar di antara para bangsawan kerajaan dan pemimpin pasukan, aku sendiri tidak sengaja mendengar kabarnya saat sedang menerima tugas. Lalu tepat setelah itu, aku mendapati ada seorang anak yang sangat kuat masuk ke Green Academy dan jenis kekuatan yang dikuasainya tidak masuk akal dimiliki oleh anak sepantarannya. Hanya anak-anak bangsawan dari kerajaan tertentu yang bisa menguasai sihir sebanyak itu di usia yang muda, jadi setelah berdiskusi dengan D'VABER, kami memperkirakan bahwa Falennor Kingdom mungkin mengirimkan putri kerajaannya ke dimensi lain, walaupun kami tidak bisa menebak alasan pastinya." Dean menjelaskannya satu per satu secara perlahan. Selxi masih menatap mereka dengan tatapan tajam. Pedang di tangannya masih berkobar dan siap menebas siapa pun yang mulai bergerak. "Perkiraan itu masih belum pasti, sehingga kami harus mengeceknya berkali-kali. Dari cara bertarung hingga cara berpikirmu, semuanya sesuai dengan apa yang pernah dikatakan Olyver. Cara mengambil keputusan dan sihir dominan yang selalu kamu pakai tanpa sadar, semuanya sesuai. Kami memiliki hutang nyawa dengan Olyver yang tidak bisa kami jelaskan secara rinci sekarang, tapi melihat kerajaannya bahkan mengirim putri satu-satunya ke dimensi lain sampai harus melakukan penyamaran, keadaan disana pasti sangat buruk dan sepertinya ini adalah saatnya kami membalas kebaikan Olyver." Selxi masih menatap tajam ke arah mereka. "Kenapa kalian yakin? Apa ada buktinya bahwa aku putri yang kalian sebutkan tadi?" tanya Selxi dengan sangat berhati-hati. "Nama penyamaranmu, itu dari margamu yang dieja dari belakang lalu dihilangkan satu huruf kan?" jawab Varen dengan wajah tengilnya. Tepat sasaran, Selxi merasa sangat tidak kreatif di saat-saat seperti ini. Rasanya ucapan Varen langsung menembus ke jantungnya. "Lalu, kenapa aku harus percaya pada kalian?" tanya Selxi lagi. Ia masih belum percaya sepenuhnya dengan apa yang mereka ucapkan. Secara serentak, Dean, Varen, Aeryn, Brenda, Elisya, dan Reita membelakangi Selxi dan membuka baju mereka. "Kenapa kalian membuka baju? Apa yang ingin kalian lakukan?" tanya Selxi kebingungan sekaligus kaget. Selxi terdiam sejenak, melihat punggung keenam manusia yang ada di depannya. Terukir dengan jelas, tato p********n sepuluh tahun silam. Perbudakan mengerikan yang terjadi di dimensi yang sudah hancur. Selxi masih mengingat dengan jelas, bagaimana pasukan kerajaan kembali dengan keadaan sangat hancur, banyak prajurit yang kehilangan nyawa saat menjalankan misi dan ratusan anak dengan tato mengerikan itu dibawa ke dimensinya. Tidak banyak orang yang tahu mengenai tato p********n itu, walaupun kekejamannya tersebar luas di antara dimensi-dimensi yang ada, tapi wujud tato itu disembunyikan untuk melindungi semua orang yang pernah menjadi b***k disana. Kerajaan yang menjadi pelopor utama penyelamatan p********n itu adalah Falennor Kingdom dan pemimpin pasukan yang ditugaskan memegang misi itu adalah Olyver.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN