Xeren langsung mengaktifkan sihir gravitasinya tepat saat Dean mengisyaratkan pertandingan dimulai.
Selxi merasakan beratnya gaya gravitasi yang dibuat Xeren, tapi untungnya Selxi masih bisa menahannya.
Walau begitu, ia berpura-pura bahwa sihir gravitasi telah menekannya terlalu dalam.
Xeren melompat dengan cepat ke arah Selxi, ia membuat badannya lebih ringan agar pergerakannya bisa lebih cepat.
Di tangan kanannya sudah ada pedang dari sihir api.
"Mari kita selesaikan dengan cepat," bisik Xeren ketika dirinya sudah berada di dekat Selxi.
Ia langsung menebas cepat badan Selxi dengan kecepatan cahaya.
Selxi tidak menghindar sama sekali, ia memfokuskan pandangannya ke pergerakan Xeren.
Saat Xeren sudah benar-benar dekat dengan Selxi dan bersiap menebas, Selxi langsung berdiri dan menendang pergelangan tangan Xeren.
Tepat sebelum menendang, Selxi melapisi kakinya dengan sihir batu untuk memastikan bahwa tendangannya bisa menghentikan gerakan Xeren.
Walau sudah sedikit menduga bahwa Selxi tidak mungkin diam, tangan Xeren tidak sanggup menahan tendangan Selxi sehingga badannya berputar mengikuti arah tendangan Selxi.
"Sudah kuduga, ia tidak mungkin selemah itu," gumam Xeren sambil bergerak mundur beberapa langkah.
Intensitas sihir gravitasinya dinaikkan perlahan. Penggunaan sihir gravitasi berskala besar akan membuat pemiliknya menjadi lebih mudah lelah, tapi Xeren yakin bahwa ia tidak akan bisa memenangkan pertandingan jika hanya menggunakan sihir api.
Berbeda dengan Selxi yang belum pernah menonton pertandingan lawannya, Xeren sudah menonton pertandingan Selxi dan tahu bahwa Selxi tidak akan melakukan inisiasi terlebih dahulu.
Jika lawannya tidak melakukan apa-apa, maka Selxi juga hanya akan mengobservasi. Entah saat menonton pertandingan atau menjadi lawan pertandingan Selxi, Xeren tidak merasakan ambisi Selxi untuk memenangkan pertandingan, seperti pikirannya memang tidak ke pertandingan yang sedang dijalaninya.
Xeren mengatur jarak yang sesuai, ia mundur dan bergeser, sedangkan Selxi diam di tempatnya sambil memantau.
Tidak ada serangan selama satu menit dan Selxi merasa ada yang tidak beres.
Ia menoleh ke atas dan mendapati bahwa ada hujan meteor yang mengarah ke tempatnya berdiri.
Selama satu menit terakhir, Xeren mengatur jarak, berputar-putar tidak jelas sambil membuat bola cahaya dengan menggunakan sihir apinya. Ia membuatnya jauh di atas dan berniat menjatuhkannya dengan sihir gravitasi untuk meningkatkan daya hancurnya.
Hanya dalam sekali lihat, Selxi memahami rencana Xeren.
Ia membuat gelembung gravitasi lain di dalam area gravitasi Xeren dan bergerak mendekati Xeren, beberapa detik sebelum bola api yang dijatuhkan Xeren menyentuh badannya.
Xeren memanggil hewan pendampingnya, seekor burung phoenix yang langsung terbang menjadi penghalang antara Xeren dan Selxi.
Melihat burung phoenix api yang ada di depannya, Selxi juga memanggil hewan pendampingnya, Cryovale, seekor burung phoenix es yang bisa langsung membekukan apapun yang ada di sekitarnya.
Kedua burung phoenix itu saling berhadapan, mereka menyerang satu sama lain dan saling menyemburkan elemen masing-masing.
Selxi membuat beberapa sihir panah es lalu menembakkannya tepat ke jantung phoenix api milik Xeren.
Tembakannya sangat akurat, walaupun kedua burung phoenix itu terus bergerak.
Phoenix api Xeren langsung jatuh ke tanah dan berubah menjadi debu, lalu beberapa detik kemudian, abu itu berubah menjadi bayi phoenix api.
Xeren tidak bisa mengandalkan hewan pendampingnya lagi, ia tidak menyangka bahwa Selxi memiliki seekor phoenix es yang sangat langka.
Tanpa pikir panjang, Xeren membuat pusaran angin besar yang panas. Ia mengarahkannya langsung ke tempat Selxi berada.
Dengan menggunakan cara yang sama seperti pertandingan sebelumnya, Selxi membuat area hampa udara, khususnya di bagian pusaran angin yang dibuat Xeren.
Sihir dasar dari pusaran angin Xeren adalah api dan angin, sehingga di ruangan hampa udara, pusaran itu akan langsung lenyap.
Setelah membuat area hampa udara, Selxi melepaskan tiga anak panah es ke arah Xeren dan langsung mengenai titik vitalnya.
Xeren yang kelelahan karena menggunakan sihir gravitasi terlalu banyak dan mendadak kehilangan oksigen tidak bisa menghindari serangan anak panah Selxi walaupun ia menyadarinya.
Pertandingan selesai.
Keadaan lapangan yang hening karena semua orang fokus pada pertandingan yang berlangsung menjadi sangat ramai dengan sorakan.
Latihan terbuka resmi selesai.
D'VABER sibuk menyapa kenalan-kenalan mereka dari akademi lain dan menanyakan bagaimana pendapat mereka mengenai latihan terbuka yang baru saja selesai.
Di sisi lapangan lainnya, Selxi hanya tersenyum dan berusaha seramah mungkin menanggapi anak-anak yang menghampirinya. Tentu saja Selxi tidak mengenal sebagian besar anak-anak yang menyapanya, tapi ia tidak bisa kabur dari sana.
Saat pertandingannya selesai, Dean langsung berbisik ke Selxi untuk menunggu karena setelah ini mereka akan membicarakan mengenai kesepakatan yang sudah dibuat sebelumnya.
Mau tidak mau, Selxi mengurungkan niatnya untuk langsung berlari ke kamar.
Anna, Aida, dan Naomi sangat terkesima melihat pemandangan yang tidak biasa ini. Mereka menemani Selxi sambil melihat ke arah Selxi sesekali.
"Kejadian yang sangat langka," ucap Anna dengan wajah kagum.
Selxi hanya bisa terus tersenyum, ia tidak mungkin melakukan hal yang kejam ke ketiga teman sekamarnya itu karena banyak mata yang tertuju ke arahnya.
Walaupun dalam hatinya, Selxi ingin memasukkan beberapa buah cabai ke mulut ketiga temannya yang mulai mengoceh asal.
Meskipun jarak mereka cukup jauh, tapi Dean, Varen, Aeryn, Brenda, Elisya, Reita secara bergantian mengecek keberadaan Selxi untuk memastikan bahwa ia masih berada di lapangan.
Cukup lama acara bercengkerama dadakan ini terjadi karena ternyata ada banyak anak yang sangat senang dengan latihan terbuka yang baru diselenggarakan tahun ini dan ingin langsung memberikan pendapat mereka ke anak-anak D'VABER.
Entah sudah berapa ribu kali Selxi mengucapkan kata sabar ke dirinya sendiri setiap kali melihat anak yang datang ke anak-anak D'VABER semakin banyak.
Selxi sangat yakin bahwa sebagian anak yang mendatangi mereka hanya mencari kesempatan untuk berbicara dengan anak-anak D'VABER.
"Mau ke ruang makan aja nggak? Makan snack gitu," celetuk Naomi yang mulai kelaparan walaupun sudah tengah malam.
"Ide bagus," jawab Selxi yang sudah muak dihampiri orang-orang yang tidak dikenal.
Selxi langsung berjalan menembus lautan manusia yang mendekati D'VABER dan langsung mengatakan rencananya ke Dean.
"Aku ke ruang makan ya," ucap Selxi dengan senyuman formalitasnya.
"Oke," jawab Dean dengan sangat singkat, tidak seperti biasanya.
Selxi mewajarkan jawaban itu, mungkin Dean lelah menghadapi lautan manusia yang siap mengajaknya berbicara itu.
Dengan bersemangat, Selxi kembali ke teman-temannya dan menuju ruang makan.
Baru lima menit Selxi duduk dan mengunyah wafer coklat, tiba-tiba Dean duduk di sebelahnya.
Di sekitarnya juga sudah ada Varen, Aeryn, Brenda, Elisya dan Reita yang sudah mengambil snack juga.
"Bukannya masih ada banyak anak disana?" tanya Selxi bingung.
"Sudah diselesaikan Dean," jawab Aeryn dengan mengangguk-angguk dan menunjukkan jempolnya.
"Bukannya tadi kamu ngajak ke ruang makan?" tanya Dean dengan polosnya.
"Aku mengabari, bukan mengajak!" jawab Selxi dengan nada kesal. Ia menatap tajam ke arah Dean.
Varen, Aeryn, Brenda, Elisya, Reita, Anna, Aida, dan Naomi hanya diam melihat kelakuan mereka berdua. Sepertinya mereka mulai terbiasa melihatnya.
Di sisi lain, Selxi merasa seperti ketempelan makhluk bernama Dean, entah ia harus bersyukur atau tidak.