Naya berlari menyusuri koridor rumah sakit, hingga kakinya itu berhenti di depan UGD. Terlihat Inara tengah menangis di pelukan abangnya. "Abang, Nara, gimana keadaan Mama? Mbok Arum kasih tahu gue kalau mama kecelakaan," ucap Naya dengan raut wajah cemas. "Mau ngapain lo ke sini? Pergi! Gue nggak mau mama makin kena sial jika lo ada di sini," cecar Inara. Tubuh Naya membeku seketika. Matanya berkaca-kaca, hatinya perih bagai tertusuk duri. Sampai sekarang kembarannya masih menganggapnya sebagai pembawa sial. "Gue cuma pengen tahu keadaan mama!" seru Naya. Apakah ia salah jika mengkhawatirkan wanita yang telah melahirkannya? "Jika mama tahu lo di sini, dia mungkin juga tidak akan suka. Pergi dari sini, dasar pembunuh. Seharusnya lo aja yang mati!" maki Inara. Tangis Naya pecah saa

