Uang

774 Kata
"Miya." Aideen memanggil penghianat yang telah melarikan diri. Meski dikhianati, dia masih membutuhkan pelayan kecil itu untuk mengurus rambut panjangnya yang masih basah dan merepotkan. Di kehidupan sebelumnya, dia hidup dengan rambut pendek, jika ibu dan kakaknya tidak melarang memotong lebih pendek lagi, dia berencana menjadi botak, tidak perlu cuci rambut, mengurangi pengeluaran uangnya untuk sampo, kondisioner, dan pembayaran air tentu saja. Juga, dia tidak perlu menghadapi episode termakan rambut sendiri. "Ya, Nyonya." Pelayan kecil itu akhirnya datang dengan hair dryer tenaga baterai dan mengurus rambut panjangnya sepertu biasanya. "Paketku sudah sampai?" Aideen bertanya sambil memejamkan mata dengan sangat nyaman, menikmati layanan Miya yang sangat terampil, lupa bahwa ada keberadaan sosok orang lain di sana. "Sudah, Nyonya." "Hm, bawa ke kamarku nanti!" 'Tidak buruk menjalani kehidupan seperti ini, Villa besar di tepi laut, pelayan yang menyediakan kebutuhannya, hewan peliharaan yang akan diurus orang lain, sangat nyaman' pikirnya. Yah, jika dia keluar dari rumah ini, dia berencana membeli Apartment di daerah yang sama dan mengaji beberapa pelayan untuk melayaninya. Mungkin dia juga bisa meminta sejumlah tunjangan perceraian, hehe, Aideen tertawa kecil dengan licik dengan pemikiran itu. "Ehm" Aideen membuka matanya dan kaget, ternyata masih ada orang di sana ketika ia mendengar deheman itu. Oh, Tuhan. Dia agak malu, dengan pikiran liciknya. Mengigit bibirnya dengan canggung, semoga lelaki itu tidak bisa melihat melaluinya. Aideen menyentuh hidungnya, mencoba mencari fokus lain dari lelaki itu yang telah melepaskan jasnya yang basah karena air rambutnya tadi, dan melampirkan di lengan sofa, nampak santai dengan hanya mengunakan kemeja. "Kau butuh sesuatu?" Aideen terbatuk ringan dan bertanya. Kening Rexford Howen makin dalam dalam keheranan, sepertinya seseorang masih sadar dia berada di sana "Kartumu terblokir?" tanyanya. Dalam kesannya, meski Enofno selalu berkeliaran di luar, didepannya dia akan selalu rapi, jinak dan berpakaian dengan pantas. Penampilannya sangat kontras dengan Enofno yang sekarang berada didepannya, yang hanya mengunakan kimono pendek yang mengekspos paha putihnya ketika dia duduk, bahkan dia tidak mengunakan bra. Tidak hanya dia mengumbar paha, tapi juga belahan dadanya, dengan cara duduknya, dia nampak sangat santai dan kasar, seakan hal yang biasa dia lakukan, tidak ada ketidaknyamanan seorang wanita yang ditatap panas seorang lelaki. Apakah dia terbiasa seperti itu di club dan didepan teman-temannya? Pemikiran itu membuat Rexford agak terganggu. "Eh?" Aideen mengerjap bingung. Setelah berfikir singkat dan dia akhirnya mengerti. Enofno dan dirinya sangat bertolak belakang, Enofno asli adalah pembakar uang sejati, yang akan menghamburkan uang suaminya untuk berpesta, berfoya-foya, berbelanja bahkan bisa dibilang dia membayar harga mahal untuk pertemanannya, dia sering membelikan dan mentraktir teman-teman bajingannya. Sungguh wanita bodoh! "Oh itu, aku punya uang sendiri," jawab Aideen agak sombong dan bangga dengan dirinya sendiri "Juga, aku lupa pass-nya," lanjutnya asal, takut Rexford bisa melihat ada yang berbeda padanya. Bagaimanapun dia agak arogan, sebagai wanita kaya, meski tidak kaya raya, dia cukup makan tiga kali sehari untuk sepuluh tahun ke depan dan juga dia tahu cara cepat menghasilkan uang. Meski dia bukan pemain professional yang bertarung di turnamen, tapi popularitas Streaming langsungnya cukup untuk menunjang pasokan permen tangkainya seratus tahun ke depan. Mata Rexford menyipit, perasaan yang dia dapatkan dari Enofno yang dulu dan yang berada di depannya sangat berbeda, layaknya dua orang. Enofno selalu merasa malu ketika menatapnya, meski dia sering menunduk, dia tidak bisa menahan kekaguman dan ketergantungannya, bukan Rexford bermaksud narsis, tapi memang kenyataannya dia dikelilingi dan digilai banyak wanita. Tapi, Enofno yang berada di depannya sekarang tidak menempatkan dia dimatanya, tidak ada rasa tergila-gila, bahkan mungkin sedikit menghina. Bagaimana dia banyak berubah? Bisakah sebuah gosip mengubah seseorang? Atau mungkin selama ini dia hanya berpura-pura jinak, lemah lembut, dan berprilaku baik? "River mengirimi uang?" tanya Rex. Aideen ingin mencibir "Tidak," jawabnya. Keluarga River hanya tahu cara merecokinya. Bagaimana mungkin mereka punya waktu untuk berbaik hati padanya? "Dari mana asal uangmu?" Rexford bertanya lagi. "Kenapa kau bertanya?" Aideen balas bertanya. Dia akan dikira gila untuk menghabiskan uang hantu gentayangan yang telah mati setahun lalu. "Kenapa aku tidak bisa?" Rexford tidak mengalah, mendesaknya. "Kenapa kau peduli?" Suara Aideen makin keras. "Tidak bisakah aku peduli?" "Tidak!" jawab Aideen langsung. Ada apa dengan orang ini? "Kenapa tidak?" "Karena... "Aideen kehabisan akal. "Itu, hanya, ya, kupikir lebih baik kau tidak peduli seperti sebelumnya." "Sebelumnya kau menghabiskan banyak uangku." Aideen menggertakkan gigi, itu adalah Si k*****t Enofno, bukan dirinya. Dia merasa dianiaya atas kesalahan yang tidak ia lakukan, frustasi ia menampakkan cakar-cakarnya "Kenapa kau banyak bertanya? Apa pedulimu? Jadi jika aku menghabiskan banyak uangmu kau tidak akan peduli?" dia bertanya sambil mengulurkan tangannya. "Aku mengerti, beri aku kartumu." katanya mengangguk. Bagus-bagus, dia akan menghabiskan lebih banyak uangnya, agar dia tidak peduli. Tapi, sayangnya Aideen salah paham, cara dia memahami sesuatu berbeda dengan orang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN