Petunjuk

793 Kata
"ENOFNO!" Rexford Benar-benar tidak menahan diri untuk meraung dan membuat burung-burung terkejut dan terbang melarikan diri. "Suami tampan." Aideen mengangkat kepala, mencoba berbicara lembut, meski sesungguhnya dia sangat ingin mendecakan lidah dan memukul seseorang. Didalam dia tidak lupa mengutuk si sialan Enofno, kenapa wanita kurang waras itu harus memilih gunung es besar, tampan dan menawan ini sebagai suami? Kenapa dia tidak memilih lelaki biasa saja, mulai dari wajah hingga dompet. Lelaki normal yang kurang merepotkan dan kurang mengintimidasi. Dan yang paling menjengkelkan dia masih sulit mengingat namanya! Tangan Rexford di pinggang Enofno dikencangkan, dia tertawa tiba-tiba, tapi tawa itu bercampur kedinginan dan amarah dimatanya, seolah kemarahannya hanya bisa di tenangkan dengan merobek-robek tubuh Enofno menjadi beberapa bagian. "Siapa?" dia bertanya lagi. Meski ditanyai dan diintimidasi sedemikian rupa, Aideen masih belum ingat siapa namanya! Ia mencoba mendorong Rex, tapi tubuhnya hanya bisa bergerak sedikit, membuat handuknya jatuh, dia tidak bisa melepaskan diri apalagi menyerang, kekuatan lemah tubuh Enofno benar-benar tidak cocok melawan gunung es besar ini. Aideen mengedarkan pandangannya mencari petunjuk, atau bahkan menyelamatkan hidupnya, setidaknya salah satu pelayan yang biasa mengingatkan nama hewan peliharaannya. Siapakah nama suami Enofno? Katakan lebih keras! Siapakah nama Suami Enofno? Tidak bisakah seseorang memberi petunjuk? Terkutuk! Penghianat! Aideen mengutuk pelayan kecilnya yang lebih dahulu kabur menyelamatkan diri, dan tidak memberinya sedikit penyelamatan. "Tampan, bisakah kau sedikit bermurah hati memberiku sedikit petunjuk? Apa awalannya?" Enofno berkedip, mencoba membujuk karena kehabisan akal sehat dan mengunakan otaknya sedemikian rupa. Kapan seorang pemalas Aideen pernah dihadapkan dengan situasi seperti ini? Tidak pernah sama sekali! Tidak pernah terjadi dalam dua dekade kehidupannya sebelumnya. Dia seorang wanita tanpa pengalaman nyata berhubungan langsung dengan lelaki, karena semua lelaki yang terhubung dengannya terhubung di Game dan ingatan asli Enofno yang dimilikinya sama sekali tidak bermanfaat. Meski ia nakal, kurang ajar dan suka menggoda di permainan, tapi itu hanya di dunia virtual, bukan nyata. Apalagi di game, semua lelaki itu sering nyeleneh, tidak marah di kutuk dan tidak mempermasalahkan namanya. Mata Rexford Howen makin dalam jatuh pada wanita di tangannya, tatapannya jatuh pada pundaknya yang terbuka, memiliki hickey dan bekas gigitan yang tidak perlu dipertanyakan lagi siapa pelakunya. Karena Enofno terus berusaha bergerak dan melepaskan diri, Kimononya longgar, apalagi kebiasaan aneh Aideen yang jarang mengunakan pakaian dengan baik dan benar, membuat kulit putihnya terekspos. Dia melihat tanda-tanda itu, yang cukup memikat untuk membuat satu orang manjadi gila. Matanya mengelap dan makin dalam, dia bertanya dengan suara yang seperti diperas keluar dari antara giginya yang bergemertak "Sayang sekali, pujianmu tidak menambah kemurahan hati dalam kamusku," "Bukankah kau hanya butuh menambakan kata?" erang Aideen dengan frustasi. Jangan salahkan dia! Siapa suruh dia tidak meninggalkan kesan mendalam padanya. Rexford mengangkat alisnya, tidak membalas. "Bisakah kau sedikit berbaik hati? Lepaskan aku kali ini, aku pasti memberimu sesuatu yang imut dan cantik." Aideen masih mencoba tawar menawar. Dia ingat Axolotl yang imut dan lucu, dan yang paling diingatnya, binatang kecil itu mahal. "Tidak," Rexford menolak tanpa ragu. Mengutuk! Aideen menggertakkan gigi, kesabarannya habis "Bukankah itu hanya nama, jangan membuat masalah untuk hal-hal kecil." Menyebalkan! Menyebalkan! Bukankah itu hanya nama? Apakah perlu mengintimidasi dia sedemikian rupa? Lelaki busuk! Penuh kebencian! Aideen mengutuk dan penuh keluhan. Rexford mengulurkan tangan dan menarik kimono wanita itu kebawah, sehingga sebagian tubuh bagian atasnya tersingkap. Dia bilang melupakan namanya hanya masalah kecil? Orang ini jelas-jelas gatal dengan pemukulan dan hukuman keras! "Apa yang kau lakukan?" Aideen berteriak dan mencoba melepaskan diri. Dia benar-benar tidak mengerti mengapa gunung besar ini menatapnya dengan kejam dan menarik kimononya. "Memberimu petunjuk." suara rendah yang dingin itu menjawab, mengirim hawa dingin pada punggungnya, dan hawa panas pada cuping telinganya yang sangat sensitif, dan tidak berselang lama lidah tebal dan licin sudah mampir di sana. Tindakannya membuat Aideen tertegun, terkejut dan kehilangan akal. Ketika ia sadar kembali, dia menggeliat tidak berdaya dibawah intimidasinya, menelan dengan susah payah "Mengingat pantatmu! b******n! Lepaskan aku!" "Kau meneriakkan namaku sepanjang malam. Melakukannya lagi akan membuatmu mengingat namaku dengan benar," Suara Rexford Howen makin serak dan dalam. "Tidak! Biarkan aku pergi!" Aideen masih berteriak dan menggeliat mencoba melepaskan diri, jangan ingatkan dia bagaimana lelaki busuk ini mengintimidasinya sepanjang malam, membuat pinggangnya hampir patah "Rex kau b******n!" dia tidak menahan lagi untuk mengutuk. "Lihat, kau mengingatkannya." Rexford tersenyum di lehernya, terus menjilat, mencium dan menggigit area-area sensitifnya. "Sialan! Rex b******n! Biarkan aku pergi!" Enofno memukul d**a Rexford dengan marah dan berhasil melepaskan diri. Rexford melepaskan Aideen dan tertawa kecil. Aideen duduk di bagian kursi terjauh dari lelaki itu dengan terengah-engah. Wajahnya merah karena marah dan melototi Rexford yang masih tertawa. "Apa?" tanya Rex main-main, sama sekali tidak marah dengan kutukannya. Bahkan ia merasa sedikit terhibur dengan ekspresi frustasi dan marahnya ketika dia membenarkan kimononya penuh kebencian. Perubahannya yang tiba-tiba, walau Rexford curiga tapi dia pikir sekarang wanita itu cukup menarik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN