Aideen tertegun dan menelan ludah. Awalnya ia berencana sarapan dengan ditemani diskusi tanpa henti dengan Wolf untuk persiapan bermain game bulan depan karena komputernya akan segera tiba.
Tapi, hal yang tidak terdapat dalam rencananya adalah kemunculan lelaki itu, suami Enofno, eh sekarang suaminya, yang telah duduk di sofa kesayangannya tempat dia biasanya duduk hongkang-hongkang kaki, di layani Miya untuk mengeringkan dan menyisir rambutnya.
Persetanan! Ia teringat satu masalah besar! Ia tiba-tiba tidak dapat mengingat nama suami Enofno. Apa namanya? Rey? Rui? Alex? Tirex? Atau Forex? Jangan bilang bodrex?
Dia berkedip mencoba sekuat tenaga mengingat nama lelaki itu, yang sekarang mengangkat kepala, memandangnya dan membuat Aideen panik bukan kepalang, meski lelaki itu tidak mengatakan apa-apa tatapannya terlalu kuat dan menawan.
Kata 'Cantik' seketika muncul di kepalanya.
Pelayan kecil ekor Aideen, Miya, yang berada di belakang Nyonyannya, membawa handuk kering dan sisir di tangannya membelalakkan mata terkejut dengan kehadiran Tuannya, Rexford Howen, yang sangat tiba-tiba.
Dia belum menyiapkan jantung untuk menerima kejutan luar biasa itu, Miya menatap mentari pagi yang masih berada di timur, bukan di barat, jadi dia yakin belum kiamat.
Tuannya yang gila kerja benar-benar duduk santai di balkon tempat Nyonyanya biasa sarapan. Benar-benar keajaiban untuk seorang Rexfor Howen yang selalu terbang pagi-pagi ke kantornya.
Aideen melihat sekeliling dan yakin tidak menemukan kamera tersembunyi, dia yakin kehadiran suami Enofno bukan prank.
Dia berdiri kaku dan tegak sesaat dan menyapa kecil. "Hei."
Lelaki itu mengenakkan setelan jas bersih berwarna biru gelap, kaki bersilang nampak sangat santai, sosoknya sempurna hingga tidak ada yang bisa menemukan kesalahan dan wajah datarnya memikat dan menarik.
Jika saja saat ini Aideen berprofesi sebagai desainer game, sudah di pastikan dia menjadikan suami Enofno, eh suaminya, menjadi salah satu karakter Hero, mungkin dengan rok-rok cantik yang berkibar, berwarna pink, membawa pedang panjang atau busur, rambutnya bisa di buat panjang, berwarna platinum, diikat tinggi dan melambai-lambai juga ia menambahkan efek binar seperti kembang api di sekitarnya, Aideen bertepuk tangan didalam untuk idenya.
"Hmm." Rexford Howen membuat gumaman kecil, menatap wanita itu yang mengunakan kimono tipis dengan handuk kecil terlampir di bahunya, rambutnya yang basah mengalirkan air pada lehernya yang putih dan jenjang.
Pelayan kecil dibelakangnya yang menatap takjub dan bingung, sangat kontras dengan Enofno yang masih tampak acuh tak acuh, sikapnya yang cuek dan santai membuatnya tampak menarik dibawah sinar matahari pagi yang hangat.
Aideen tidak terlalu memikirkan alasan kemunculan suaminya yang dia masih lupa namanya, karena ini rumahnya dia bebas berada di manapun ia suka, itu bukan urusannya.
Jadi Aideen berjalan mendekat dengan santai menuju kursi lain. Sayangnya, sekali Aideen tetap Aideen, kebiasaan unik atau lebih tepatnya kebiasaan buruknya muncul dengan bunyi gaduh ketika kakinya memberikan ciuman selamat pagi pada kursi, dan kaki yang lain pada kaki meja.
"Nyonya hati-hati... " Miya menjangkau, mencoba menyelamatkan Nyonyanya dari kemungkinan terjungkal.
"Ah~" Aideen berteriak ngeri ketika tubuhnya tidak seimbang, dan entah bagaimana berakhir dan mendarat di atas tubuh lelaki itu.
Kejadian itu tidak hanya mengejutkan Miya, tapi juga Rexford Howen yang tidak memikirkan apapun selain bergegas meraih wanita itu.
Ia melirik tubuh lembut yang menempel di dadanya, akan aneh jika melepaskannya pada saat ini, tapi jika ia tidak melepaskannya makin aneh dan canggung.
Akhirnya dia berdeham lalu bertanya, terdengar datar dan ringan "Apakah kau harus memberikanku sambutan selama pagi yang begitu luar biasa?"
Aideen mengangkat kepala, matanya melebar dengan wajah lelaki itu yang diperbesar didepannya, ia menggeliat dan bergerak acak karena terkejut. "Kau, kau, Lex, eh, Ren, Rui, Kau... Kau lepaskan aku," semburnya acak.
Rex menyipit, tatapannya menajam "Kau sebut siapa aku?" tanyanya dengan dingin. Tidak hanya lupa nama pelayan dan teman-temannya, tapi sekarang dia bahkan lupa nama suaminya sendiri?
Aideen tertegun dengan suara magnetis yang terdengar suram dan menakutkan, bahkan sampai lupa bahwa ia tengah berusaha melepaskan diri dari lelaki itu. "Eh?"
"Siapa aku?" tanya Rex sekali lagi.
"Serius, siapa kamu?" tidak menjawab, Aideen malah balas bertanya.
Miya yang berada di belakang berkeringat dingin. Semoga Tuan menyelamatkan kehidupan Nyonyanya kali ini.
Nyonya saya, apakah anda waras sehingga lupa nama suami sendiri?
Dimana anda tinggalkan otak anda pagi ini? Dia menurunkan kepala menatap kolam renang infinity yang berada di lantai bawah, bertanya-tanya apakah otak Nyonya tertinggal ketika berenang.
"Bagus. Sangat bagus." Rexford menggentakkan gigi dengan marah.
"Apa yang sangat bagus?" Aideen bertanya dengan bingung.
Miya menepuk jidat.
Rexford tidak tahu apakah harus marah atau tertawa.