Part 37

1927 Kata
Ana benar-benar panik melihat Slamet dan Tumi menitikkan air mata. Rasanya sedikit ngilu saja ketika melihat hal tersebut. Apalagi Ana tidak pernah melihat kakek neneknya nangis secara terang-terangan. Bukan hanya Ana saja, kini Arumi dan Rudi pun ikut panik. Mereka berdua langsung mendekati kedua orang tuanya untuk menenangkannya. Hati Rudi semakin hancur ketika melihat hal tersebut. Firasatnya semakin tak karuan, rasanya campur aduk dan sulit untuk dijelaskan karena dibalik rasa itu ada kebencian yang entah mau dijelaskan dari segi mana. Kali ini, Ana hanya bisa menutup mulutnya dan sebagai penonton. "Ibu sama Ayah kenapa tiba-tiba seperti ini? Apa ada yang menyakiti kalian?" Tanya Rudi, tatapannya terlihat ketakutan jika nanti terjadi sesuatu yang sulit untuk ditangani. "Ayah dan Ibu nggak apa-apa, kita juga nggak tahu kenapa air mata ini bisa keluar dengan sendirinya, padahal tidak ada sedikitpun hal yang membuat kita kesakitan," jelas Slamet disela-sela menyeka air matanya. Setelah itu, dia menatap anak dan cucunya. Tatapan sedih itu lebih mengarah kepada Ana. Entah apa maksud semua ini karena Slamet tidak sedikit pun menemukan tanda-tanda lagi. Seakan mata batinnya itu benar-benar tertutup, sehingga dia tidak bisa mengetahui hal apa yang akan terjadi pada diri Ana. Tidak biasanya dia merasakan hal aneh, kecuali di waktu-waktu tertentu yang memang sangat menyangkut kepada orang yang benar-benar dicintai dirinya. Lagi pula mana ada sih orang yang tega membiarkan orang yang dicintainya sakit begitu saja. Biasanya malah sebaliknya dan bahkan rasanya nyawa saja akan diberikan. Itulah pengorbanan yang benar-benar ikhlas karena beberapa memang ada orang yang berkorban, akan tetapi seringkali di bahas, disindir-sindir, dan diungkit-ungkit. Padahal di dunia ini saling membutuhkan dan jika ada masalah dengan tetangga tetapi tidak diselesaikan maka itu sama halnya seperti orang yang mau cari gara-gara. Namanya juga kehidupan, terkadang yang dianggap diri sendiri benar belum tentu di mata orang lain juga hal yang sama. Kemungkinan malah bisa jadi dianggap sebagai orang egois. Sebenarnya hal tersebut tidak bisa langsung dikatakan sebagai orang egois, hal yang paling baik adalah bertanya terlebih dahulu. Ya memang secara tidak langsung harus sabar. Tidak masalah jika sabar karena meskipun sabar itu menyakitkan, tapi akan mendapatkan hikmah yang memuaskan diri sendiri maupun orang lain. Menurut Ana, sabar bukan hal yang mudah karena saat ini dia sedang merasakan pikirannya kacau. Apalagi hal ini mengenai keselamatan, sehingga Ana pun tidak tahu lagi apa yang harus dirinya lakukan, terlebih disampingnya sudah ada kedua orang tuanya yang sedang berusaha untuk menghibur dan juga menenangkannya. Sebab, apa yang dikatakan oleh Tumi dan Slamet sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh mereka. "Nggak apa-apa bagaimana, Yah? Padahal Ayah dan Ibu terlihat seperti orang linglung loh. Apakah kalian masih mengenal kami?" Tanya Arumi mencoba untuk mengetes kedua orang tuanya. Ya siapa tahu memang benar-benar linglung karena tatapannya itu seperti orang bingung ketika menatap lingkungan baru. Tumi pun mengerutkan kedua alisnya menunggu jawaban dari kedua orang tuanya. Dia sebagai anak memang tidak berani dan takut pula kalau nanti memang terkadang suatu hal yang aneh dan sangat tidak wajar ketika seorang anak tidak peduli kepentingan orang tua. Hal itu Tumi anggap sebagai angin lalu saja karena buktinya itu sama dengan pendapat orang lain ketika mengalami kepanikan. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Rudi dan Tumi pun menatap lemas ke arah anaknya. Dia sangat sedih karena tidak banyak memiliki keluarga. Setiap kali akan ada acara pun dia sedikit bingung terhadap arahnya mau kemana. Ketika ambil keputusan pun harus dipertanggung jawabkan, sedangkan mereka malah bingung akan mengambil keputusan yang bagaimana dalam mengatasi hal ini. Akhirnya dia pun memilih untuk menghela napas saja karena pasrah adalah hal yang sudah paling ujung ketika sudah tidak tahu apa lagi yang harus dilaksanakan. "Kita benar-benar nggak apa-apa Arumi. Sudah ya kita mau istirahat saja daripada lelah," kata Rudi. "Ya sudah kalau itu mau Ayah." Arumi hanya bisa pasrah. Di saat kedua orang tuanya ingin melakukan sesuatu maka dia pun harus melakukan hal tersebut, selagi apa yang dilakukannya itu hal yang posisi. Namun, beda cerita jika yang dilakukan mereka itu hal negatif, jika hal itu benar-benar terjadi maka yang akan dilakukannya adalah menegur secara halus. Setidaknya apa yang dilakukan dirinya tidak menyinggung perasaan mereka. Di sisi lain, Ana masih tidak menyangka terhadap apa yang terjadi di depannya. Dia menatap punggung Kakek dan Neneknya yang semakin menjauh. Tidak tahu lagi apa yang terjadi sehingga membuat nya sedikit kebingungan. Namanya juga manusia yang tentunya terkadang penuh dengan teka-teki. Akan tetapi, Ana memilih untuk bungkam tidak ikut campur. Gelisah, bingung, khawatir, dan sedih adalah yang dirasakan oleh Ana pada saat ini. Bahkan makanan dan sesuatu yang akan diberi tahu oleh Tumi pun sampai Ana memutuskan untuk membiarkannya begitu saja. Dia tidak mau kalau nanti dirinya semakin bingung menghadapi keadaan yang entah nanti hasilnya akan bagaimana. Lagi pula selera makan Ana juga cukup hilang. Kali ini Ana memutuskan untuk menerima waktu dan membiarkannya begitu saja, dia tidak ingin kalau nanti apa yang dimilikinya malah membuatnya sakit hati. Tidak apa-apa karena sekali-kali dia juga ingin belajar untuk menjadi orang yang ikhlas. "Semakin bertambahnya waktu maka Papa makin bingung dengan keadaan ini," keluh Rudi. "Sama, Mama juga merasakan apa yang Papa rasakan saat ini," sahut Arumi menatap punggung kedua orang tuanya yang kini semakin jauh dari hadapannya. *** "Ana," gumam Dafa ketika menatap sebuah foto seorang perempuan yang berada di layar ponselnya. Malam ini dia sedang stalking media sosial i********: akun milik Ana. Dia begitu memiliki rasa ingin tahu lebih mengenai Ana yang seringkali membuatnya sangat penasaran. Di balik sifat anggung, pendiam, dan paras wajah cantiknya itu seperti menyimpan banyak teka-teki. Jika diamanati maka tingkah Ana seakan seperti orang dewasa yang selalu bersikap tenang. Namun, yang menjadi permasalahan bagi Dafa selama ini bahwa dia beberapa kali melihat Ana yang bertingkah aneh. Satu hal yang paling Dafa takutkan jika suatu saat nanti Ana terlihat seperti orang gila. Sayang saja sama paras wajahnya yang cantik. Ya kali cantik-cantik dibilang gila. Apalagi bahwa Ana menjadi pusat perhatian, baik dari kalangan kakak kelasnya maupun teman seangkatan Ana sendiri. Untung saja Ana itu orangnya cuek, sehingga citra sebagai playgirl sudah menghindar darinya. Awalnya Dafa juga sedikit tertarik kepada Ana, tapi dia langsung sadar dan segera menutup sebuah kemungkinan bahwa dirinya bisa menjalin suatu hubungan dengan Ana karena hal itu tidak akan pernah terjadi dalam diri Dafa. Dia selalu mengingat apa yang diinginkan keluarga karena berharap itu merupakan suatu hal yang luar biasa, dimana antara senang dan susah adalah patokan paling utama. Bisa dikatakan bahwa berharap adalah suatu hal yang paling rawan untuk merasakan sakit hati mengingat bahwa harapan yang tidak bisa terwujud adalah suatu hal yang benar-benar gagal. Namun, itu semua tidak langsung berakhir, apa saja yang gagal bisa dilakukan maupun diperbaiki kembali, kecuali suatu hal, yaitu kematian. Bayangkan saja bagaimana orang tersebut bisa melakukan apa yang dia mau jika kematian sudah benar-benar menghampiri. Oleh karena itu, Dafa ingin sekali fokus kepada pendidikan agar bisa melakukan apa yang sudah dirinya cita-citakan, yaitu membanggakan dan mengayomi kedua orang tuanya. Dia tidak suka mengandalkan harta milik kedua orang tuanya, meskipun mereka sangat kaya raya. Suatu bayangan di masa depan yang membuat dirinya berpikir seperti hal tersebut. Itulah hal yang membuat seseorang sakit hati adalah rasa kecewa. Terkadang rasa kecewa tersebut juga datang tak disengaja. Beberapa orang memang ada yang suka melakukan hal tersebut, bahkan yang terlalu sering adalah suatu hal yang tanpa disengaja dan hal itu pun seringkali di sadari oleh Dafa karena dia selalu berhati-hati ketika bertindak. Pada intinya dia juga takut pada sebuah karma karena dia selalu mengingat bahwasanya segala sesuatu itu pasti ada balasannya, meskipun itu hanya sebesar biji sawi. Setelah cukup menatap wajah Ana, dia sengaja mengscroll hal lain di akun Ana untuk mendapatkan informasi lebih. Cukup melihat satu foto saja membuat banyak pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Akan tetapi, dia juga tidak ingin kalau nanti ternyata dirinya malah terlalu terbawa suasana. Satu kata cukup saja bisa mendeskripsikan bagaimana perasaan dirinya. Dia tidak pernah stalking seseorang hingga menjadi penasaran yang amat mendalam. Dia memejamkan mata mengingat beberapa kata yang diucapkan Ana. Jika diteliti, beberapa yang dikatakan oleh Ana ada yang berkaitan dengan sebuah mitos orang Jawa. Akan tetapi Dafa sangat tidak mempercayai adanya sebuah mitos karena yang dia tahu bahwa mitos itu cerita yang belum tentu akan terjadi kebenarannya. Sejak dulu Dafa tinggal di kota yang tentunya sangat jauh terhadap hal-hal yang berkaitan dengan mistis. Suatu hal yang menjadi permasalahan adalah bahwa Ana sedikit sulit untuk diajak kompromi. Dia seringkali cuek terhadap laki-laki yang mencoba untuk mendekatinya. Terkadang di pikiran Dafa terlintas sebuah hal yang membuat dirinya seperti ingin mendekati Ana, akan tetapi dia sangat sadar bahwa apa yang dilakukannya itu bisa saja menjatuhkan harga dirinya. Ya dia memang sedikit gengsi, setiap kali berkomunikasi lama dengan perempuan saja cukup membuat dirinya jengah karena nanti dirinya dianggap suka terhadap perempuan tersebut, sedangkan perempuan tersebut malah salah tingkah sampai benar-benar kebawa perasaan. Dari hal itulah beberapa wanita menganggap bahwa Dafa orangnya sedikit mudah menyakiti orang lain tanpa kata gombal, tapi perlakuan yang bisa dikatakan lumayan sopan. Tidak dipungkirinya bahwa beberapa perempuan ada yang menyukai dirinya karena paras wajahnya yang sangat ganteng. "Gue nggak tahu banyak tentang diri lo, tapi lo berhasil membuat gue menjadi seseorang yang memiliki rasa ingin tahu tinggi ketika ingin mencari tahu asal usul orang lain, yaitu diri lo. Namun perlu lo ketahui bahwa ini bukan soal cinta maupun perasaan, tapi ini tentang keselamatan bersama," gumam Dafa ketika jarinya bergerak naik turun saat sedang melihat beberapa postingan. Dia baru menyadari bawah komentar di akun media sosial Ana cukup banyak, dengan begitu semakin membuatnya yakin bahwa Ana sejak dulu memang sudah menjadi pusat perhatian. Followers i********: Ana juga lumayan banyak, dia yakin bahwa beberapa hari kemudian akan ada banyak followers lagi karena saat ini, beberapa teman Dafa yang buaya belum sempat bertemu dengan Ana. Terkadang Dafa yang sebagian temannya saja sedikit sulit membayangkan hal tersebut. Dia cukup lelah jika disuruh melakukan hal tersebut karena bukan hal yang mudah bagi Dafa untuk membuka hati untuk seseorang. Di dalam pikiran Dafa yang nomor satu adalah bagaimana cara membahagiakan kedua orang tuanya yang semakin bertambahnya waktu maka semakin berkurang usianya untuk hidup di dunia. Dafa berpikir sejenak, memang tidak dapat dipungkiri bahwa dirinya ingin berteman dekat dengan Ana, akan tetapi dia tidak tahu bagaimana caranya mengingat bahwa sejak dulu memang dia jarang untuk mendekati beberapa perempuan, malah sebaliknya banyak beberapa perempuan yang suka dan mengejar dirinya. Secara jika yang mengejar perempuan memang itu cukup sulit membuka kemungkinan untuk dikejar balik oleh Dafa karena dia memang tidak akan mengejar jika dirinya tidak menginginkan hal tersebut, meskipun itu menjadi bayangan kesuksesan di masa depan, apalagi soal perempuan yang dia selalu dia anggap bahwa perempuan itu banyak, sehingga tidak perlu repot-repot memikirkan perempuan. Dia yakin disaat kesuksesannya mendatang maka nanti akan ada perempuan yang akan mau menerima dirinya. Kali ini hanya bicara soal realita saja dan Dafa sangat menyadari akan hal itu bahwa hidup juga perlu biaya. "Semenjak gue bertemu sama lo, gue memiliki rasa ingin tahu tinggi, kecuali beberapa mitos yang pernah lo katakan dan setelah gue cek di internet memang banyak sekali kepercayaan mitos oleh orang Jawa. Apakah lo itu--" Gubrak! Belum sempat Dia menyelesaikan ucapannya, dia terkejut mendengar suara seperti ledakan di dalam rumah. Dia pun membuang ponselnya ke arah sembarang tempat dan tentunya hal itu memang cukup aneh saja untuk dimengerti. Akhirnya Dafa pun memutuskan segera keluar dari kamar untuk memastikan bahwa keadaan dalam rumah. Dia segera bangkit dari ranjang lalu langsung menuju ke depan untuk mencari asal sumber suara ledakan tersebut. Baru saja membuka pintu kamar dan melangkahkan kaki beberapa langkah, dia pun menjerit ketakutan. Tak lupa memejamkan kedua mata dengan kedua tangannya yang menutup kedua telinga karena sangat terkejut. "Mama!" Teriak Dafa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN