Dafa pun langsung membelalakkan kedua matanya, dia mengerjapkan kedua matanya berkali-kali sambil menatap langit-langit kamar. Dia baru sadar jika apa yang dirinya alami itu hanyalah sebuah mimpi saja. Pikirannya kali ini kacau tidak menyangka jika apa yang tadi dimimpikan terasa benar-benar menjadi kenyataan. Apalagi hal ini menyangkut Ana yang memang beberapa kali dia menyadari adanya hal janggal yang memang seperti harus diselidiki. Akan tetapi Dafa sedikitpun tidak ada niat untuk ikut campur urusan orang lain, meskipun dia sangat penasaran, kecuali jika dirinya benar-benar ingin mengetahui hal tersebut, yaitu yang sudah memiliki tujuan.
Dia bangkit dari tidurnya lalu menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Kepalanya mendongak memikirkan segala keanehan yang terjadi pada malam ini. Dia melihat jam dinding, rupanya sudah pukul 00.54 yang artinya 6 menit lagi sudah menunjukkan pukul 01.00 di mana dalam pukul tersebut keadaan dan suasana cukup tenang, bahkan suara dengan jarak cukup jauh pun bisa terdengar. Jauh berbeda ketika pada waktu siang hari.
Dia menatap ke bawah sebelah samping kirinya, kedua dia membelalakkan mata kembali karena terkejut melihat handphone nya berada tepat seperti yang ada di dalam mimpi. Setelah itu, dia meraih handphone tersebut membuka lock screen layar lalu mengisi sandi. Setelah layar terbuka, lagi-lagi dia dikejutkan oleh beberapa hal aneh lain. Dia mengerjapkan kedua matanya kembali untuk memastikan keadaan, akan tetapi apa yang dilihatnya masih sama. Inisiatif lain adalah dengan dia mengucek kedua matanya, akan tetapi masih tetap sama. Dia masih tidak menyangka jika gambar layar di handphone nya langsung berada di media sosial Ana, padahal dia tidak pernah stalking Ana. Dia juga masih ingat bahwa terakhir kali memainkan handphone adalah menonton YouTube. Jujur saja ini merupakan hal yang sangat aneh.
Sebuah mimpi yang terjadi seperti kenyataan adalah sebuah hal yang perlu diselidiki. Bertemu dengan Ana membuat hidup nya sedikit misterius, mungkin karena terbawa suasana oleh Ana. Sampai detik ini pun dia bingung terhadap hal-hal yang akhir-akhir ini terjadi kepada dirinya. Dia tidak tahu apakah bertemu dengan Ana adalah sebuah keberuntungan atau malah sebuah malapetaka baru.
Baru sampai pada detik ini saja hidup Dafa sudah sangat terasa terusik, padahal baru 2 hari bertemu dengan Ana. Tiba-tiba ada hembusan angin dan hawa dingin yang menusuk ke setiap pori-porinya membuat dirinya ketakutan. Dia tidak pernah menyangka kalau ternyata kejadian malam ini bisa serumit ini. Kali ini dia semakin merasakan merinding ketika ada hembusan angin yang cukup kencang melewati celah-celah jendela dan ventilasi. Hembusan angin tersebut menerpa gorden yang menutupi jendela. Samar-samar dia melihat ada orang yang berdiri di balik kaca jendela tersebut. Akhirnya dia memberanikan diri untuk melihat siapa sosok yang berada di balik kaca jendela tersebut.
Langkah Dafa pun sangat hati-hati. Ketika sudah berada di depan jendela tersebut, dia langsung memegang ujung gorden lalu membukanya dengan cepat. Tidak ada apa-apa di depan jendela tersebut. Akan tetapi di sedikit melihat seperti ada kilatan putih yang pergi begitu cepat.
"Tidak!" Pekik Dafa sambil mengacak rambutnya frustasi. Dia merasa kalau malam ini dirinya diteror oleh makhluk halus. "Jika lama-lama seperti ini, gue benar-benar bisa gila!"
Sekarang dia baru menyadari ketika seseorang melihat hal yang tak kasat mata maka hal yang terkesan adalah keanehan karena belum tentu orang lain mengetahui hal tersebut. Awalnya memang Dafa sedikit pun tidak percaya. Akan tetapi karena dia penasaran maka dia sharing pengalaman dengan Diandra yang pada akhirnya dia sedikit tahu mengenai hal tersebut. Kini dirinya malah merasakan apa yang pernah Diandra rasakan.
Sebenarnya yang Dafa rasakan pada saat ini malah sedikit penyesalan karena kini dirinya malah tahu mengenai hal yang seharusnya dirinya tidak tahu. Dia kembali melangkahkan kaki menuju ranjang untuk merebahkan tubuhnya di sana. Tangan kanannya meraih guling yang ada di sampingnya untuk dipeluk. Dia menghela napas karena di saat waktu tenang dan istirahat ini suasananya malah sedikit horor.
"Gue malah jadi heran sama diri gue sendiri yang malah menjadi seperti orang gila. Mana ini perut lapar segala, huft!" Lagi-lagi Dafa hanya bisa menghela napas. Suasana horor malam ini membuatnya merinding, sehingga malah membuatnya sangat malas untuk mengambil makanan di dapur karena kali ini dia memang sedikit ketakutan, meskipun perutnya sejak tadi berbunyi minta untuk diisi makanan. Akhirnya Dafa pun memutuskan untuk bermain ponselnya saja daripada bingung sendirian.
Entahlah dapat dorongan dari mana yang membuat dirinya ingin sekali stalking Ana, seperti halnya disaat mimpinya tadi. Awalnya memang ragu karena dia merasa bahwa hal itu bukan karena keinginannya sendiri. Akhirnya Dafa pun memutuskan untuk mengiyakan keinginannya tersebut daripada memendam rasa ingin tahu sendirian tanpa mendapatkan jawaban. Disaat jawaban tidak didapatkan maka stalking lah adalah jalan keluar. Ya memang dengan cara stalking bukan jalan keluar segala pertanyaan yang ada, tapi setidaknya dia bisa sedikit mendapatkan jawaban, sehingga dia bisa sedikit tahu informasi mengenai Ana.
Saat ini, tujuan Dafa sekarang adalah membuka i********: untuk melihat beberapa postingan foto maupun video milik akun Ana. Dia menghilangkan sedikit gengsinya, lagi pula stalking di rumah sendirian tidak akan ada yang tahu. Dia memilih i********: karena i********: merupakan salah satu media sosial yang bergengsi, di mana jumlah like, followers, dan komentar adalah penentu terkenal atau tidaknya orang tersebut, sehingga foto dan video yang diupload pun bagus semua, ketimbang di media sosial lain. Nah, salah satu keuntungan menjadi selebgram adalah mendapatkan endorse yang tentunya hal itu bisa menghasilkan uang.
Awalnya Dafa hanya melihat postingan milik Ana. Tak dipungkiri bahwa paras wajah Ana sangat cantik. Like nya mencapai ribuan dan komentarnya mencapai ratusan. Rata-rata dari komentar yang ada memuji kecantikan paras wajah Ana. Kalau hal itu sih tidak membuat Dafa heran karena di dunia maya memang sering seperti itu, sehingga tak jarang jika ada seseorang yang suka hanya lewat foto di sosial media.
"Gila nih anak, pantesan diidolakan banyak orang. Ternyata senyumnya bikin candu, apalagi ada lesung nya di sudut senyumannya. Gila nih, manis banget," kata Dafa kagum. Bahkan tanpa sadar pun jari-jarinya mengelus wajah Ana lewat layar ponsel.
"Oh iya, kira-kira ada berapa orang yang ngikutin dia ya?" Tanya Dafa kepada dirinya sendiri. Sejak tadi dia menggerutu sendirian karena bingung apa yang harus dirinya lakukan. Lagi pula dia juga sadar bahwa di kamar sendirian memang tidak akan ada orang yang akan menjawab gumamannya, sehingga dia masa bodo jika dirinya seperti orang gila yang berbicara sendiri, tanya sendiri, dan menjawab sendiri.
Kedua mata Dafa membelalak kaget ketika melihat jumlah followers milik Ana. "Hebat banget nih anak, pantas saja jadi sorotan banyak orang, ternyata dia selebgram. Nggak nyangka banget kemarin gue bisa ngobrol bareng sama selebgram. Andai saja gue foto sama dia maka ada kemungkinan gue akan mendapatkan banyak tambahan followers. Ah, gue lupa banget, ini bukan soal selebgram, tapi tentang keanehan yang beberapa kali gue jumpai pada diri Ana."
Dafa kembali stalking akun Ana, kali ini dia kembali ke postingan lagi hingga sampai pada akhir postingan. Terdapat foto Ana berambut panjang dan terurai lurus, warna rambutnya agak pirang dengan senyum menyedihkan. Dafa sangat penasaran mengenai foto tersebut.
"Foto siapa ini? Kenapa raut wajahnya seperti ini?"
Dafa agak janggal mengenai foto tersebut karena jika semakin diamati maka semakin aneh wajahnya. Dia pun memutuskan untuk mengezoom postingan tersebut. Terpampang jelas wajah perempuan tersebut yang kedua matanya malah nampak berkaca-kaca. Dafa mengucek kedua matanya untuk memastikan tidak ada hal aneh lagi.
"Kenapa mata gue jadi seperti ini sih? Apakah karena gue kebanyakan halu?"
Tangan kanan Dafa meraih kembali foto tersebut. Dia menatap lekat wajah wanita yang ada di foto. Perubahan yang cukup cepat hingga pada akhirnya foto tersebut berubah menjadi sosok yang mengerikan. Wajahnya rusak dengan dipenuhi belatung, darah, dan tangis air mata.
Ponselnya langsung dilempar ke depannya, bibir Dafa sulit digerakkan, pikirannya kacau, hanya jari telunjuknya saja yang bisa digerakkan. Dia tidak kuasa menahan rasa takut tersebut. Akhirnya pandangannya pun kabur, tubuhnya lemas, hingga dia terkapar di atas ranjang tak sadarkan diri.
***
"Satu hari lagi kita akan selesai kegiatan MPLS, nggak sabar banget buat ikut kegiatan KBO, pasti menyenangkan banget karena di daerah pegunungan itu pasti udaranya sangat segar," kata Elsa ketika berjalan berdampingan dengan Ana. Sejak tadi dia mengoceh sendiri menceritakan beberapa hal yang dia rasakan selama mengikuti kegiatan MPLS, sedangkan Ana hanya menanggapinya dengan senyuman, anggukan dan cukup mengatakan iya maupun masa. Memang dasarnya Ana yang cukup pendiam ketika belum begitu kenal dengan seseorang, lagian dia juga sedikit bosan ketika menghadapi beberapa orang yang cerewet.
"Na, bagaimana kalau kita ikut KBO nanti ya?" Tanya Elsa.
Ana mengernyitkan kedua alisnya karena bingung terhadap apa yang ditanyakan oleh Elsa. Akhirnya bukannya menjawab, dia malah balik bertanya, "Bagaimana apanya, El?"
"Ya kan kita ini akan mengikuti kegiatan KBO setelah MPLS ini, terus bagaimana kalau nanti kita ikut kegiatan KBO, pasti menyenangkan sekali ya. Tidur di tenda bareng-bareng dan tentunya tidak akan sepi," jelas Elsa.
"Ya kalau menurut aku sih biasa saja, malah cukup melelahkan," kata Ana dengan kedua tangannya memegang tali tas.
"Kenapa begitu? Kan enak sih, Na, apalagi saat kegiatan api unggun, ah senangnya pasti nanti akan senang sekali karena ada beberapa pertunjukkan. Nanti aku akan menampilkan pertunjukkan ah," ujar Elsa lalu menangkup kedua pipinya, sedangkan Ana hanya biasa saja, tidak ada sedikitpun rasa tertarik maupun semangat untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Ana memutuskan untuk melanjutkan langkah kaki tanpa memperdulikan curhatan Elsa lagi. Di hari MPLS yang ketiga ini cukup membuatnya bosan, meski besok adalah hari terakhir, yaitu di hari Kamis. Namun, hal yang paling membuatnya tambah bosan bahwa selisih satu minggu mendatang akan diadakan kegiatan KBO, rasanya sangat cepat seperti tidak ada sela waktu. Satu hal yang membuat Ana tidak semangat adalah ketika membayangkan jika nanti dirinya mengantri untuk mandi dan beberapa hal yang berkaitan dengan waktu. Segala kegiatannya akan dibatasi oleh waktu. Hal itulah yang membuat Ana merasa sungkan ketika dirinya dibatasi oleh waktu, sehingga sedikit santai pun rasanya cukup mustahil saja.
Elsa yang melihat langkah Ana semakin jauh, dia memutuskan untuk menyusul agar langkahnya bisa sejajar. Sedikit kesal sih ketika apa yang dirinya lakukan itu tidak mendapatkan respon baik. Akhirnya Elsa menghela napas dan mau tidak mau maka dirinyalah harus bisa mengikuti apa keinginan Ana, meskipun Ana tidak pernah meminta.
Baru beberapa langkah dia mensejajarkan langkahnya, tiba-tiba ada kakak kelas yang menghadang mereka. "Hai, Ana!"
"Hai, Kak!" Sapa Ana, dia adalah Yoga. Baru kemarin dia tahu kalau ternyata Yoga adalah salah satu buaya yang ada di SMA Garuda.
"Baru berangkat ya? Sudah makan belum?" Tanya Yoga.
"Ah, sudah kok," jawab Ana canggung.
Tak lama kemudian ada perempuan yang datang menggandeng tangan Yoga dan bahkan bergelayut manja di tangan Yoga. Dia memakai seragam yang sama seperti Ana dengan papan nama bertuliskan nama Ratih. Ana tidak peduli siapa perempuan tersebut, hanya saja dia sedikit agak risih terhadap perempuan tersebut karena tingkahnya yang tidak cocok untuk dilakukan di lingkungan sekolah.
"Ayo, kita ke sana!" Ajak perempuan tersebut lalu menarik paksa Yoga, meskipun sebenarnya Yoga tidak mau karena terlihat dari langkah Yoga yang sedikit terseret-seret.
"Siapa tuh, Na?" Tanya Elsa.
"Nggak tahu, pacarnya mungkin," jawab Ana.
"Oh."
"Ayo, kita langsung ke aula saja!" Ajak Ana. Baru beberapa langkah, ada yang menghentikan langkah mereka lagi.
"Ana!" Panggil seseorang dari arah belakang.
"Huft!" Keluh Elsa.