Part 39

1812 Kata
Awalnya Elsa mengeluh, tapi disaat dia membalikkan badan justru malah terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang memanggil Ana adalah ketua OSIS. Jantung Elsa langsung berdebar, padahal yang dipanggil adalah Ana, sedangkan Ana malah terlihat biasa saja. Semakin Dafa mendekat maka aura kegantengannya terlihat semakin jelas. "Ana!" Panggil Dafa di saat jaraknya dengan Ana kurang lebih 3 meter. Napasnya terengah-engah karena dia cukup lelah ketika tadi berlarian. Kesan yang di tunjukan Elsa ketika melihat Dafa dari jarak dekat adalah terpesona. Dia benar-benar menyukai Dafa dari awal pertama kali bertemu di saat acaranya MPLS di hari pertama. Namun, dia sadar diri bahwa dirinya siap dan rasanya seperti tidak mungkin jika Dafa menyukai balik dirinya. Tidak sedikitpun ada harapan lebih dalam diri Elsa, karena sadar diri lebih baik daripada terus berharap yang semakin akan membuatnya malah sakit hati. Ketika melihat Dafa memanggil Ana saja dia sedikit cemburu, tapi jika dipikir-pikir aneh saja. Ya kali cemburu dengan orang yang lebih dari pada dirinya, rasanya bagaikan langit dan bumi. Wajar jika Dafa malah tertarik kepada Ana dibandingkan dirinya. Namun, di balik itu semua dia ingin sekali merasakan bagaimana rasanya jika dirinya berada di posisi Ana yang selalu didambakan orang lain, khususnya bagi para laki-laki. Kini posisi Dafa justru malah berada di samping Elsa yang semakin membuat jantungnya terpacu dengan cepat. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa, rasanya seperti mati kutu yang tidak tahu apa-apa dan bahkan bergerak pun sangat susah. Kalau rasa canggung ya jelas nomor satu karena di sana terdapat rasa yang entah bagaimana akhirnya. Bahkan rasanya hal itu tidak bisa terungkap, sangat mustahil. "Ana, gue mau tanya," kata Dafa disela-sela napasnya yang tersenggal-senggal. Dia sedikit mengatur napasnya agar tidak kesusahan saat berbicara. Awalnya sih dia biasa saja, tapi ketika berhenti melangkah malah rasanya tidak karuan. "Tanya apa?" Tanya Ana dengan salah satu alisnya terangkat sebelah. Jika dilihat-lihat sih gayanya cukup keren tidak seperti perempuan yang lainnya. Bukannya langsung menjawab, Dafa malah tampaknya malah bingung. Dia menatap Elsa canggung lalu kembali menatap Ana agak ketakutan. Bayangan tadi malah masih terngiang-ngiang di kepalanya. Entahlah apa yang membuatnya semakin merasa penasaran karena dia tidak tahu mana yang kenyataan dan mana yang mimpi, keduanya sama-sama ada kejadian aneh dan bahkan salah satunya ada yang membuatnya sampai tak sadar diri. Kejadian tadi pagi sangatlah aneh, kalau penampakannya di dunia nyata sih bukan hal yang membingungkan, akan tetapi yang menjadi permasalahan ketika postingan foto berubah sendirinya menjadi makhluk halus, padahal posting tersebut bukan berupa video. Sebab, kalau dalam bentuk video maka dia tidak akan bingung sendirian. Lagi pula ketika pagi harinya dia memutuskan untuk mengecek kembali dan foto yang tadi malam berubah sudah tidak ada. Jumlah postingannya pun berkurang satu. Seumur hidup, Dafa baru mengalami hal aneh seperti ini. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa agar dirinya tidak ketakutan. Jujur saja tadi pagi dia merasakan merinding lagi. Andai dirinya anak kecil maka dia pun akan meminta pertolongan kepada orang tuanya. Sayangnya dia malu mengatakan hal tersebut, apalagi usianya yang sudah beranjak dewasa membuatnya semakin malu, apalagi jika nanti malah dianggap sebagai penakut maupun manja. Ditambah lagi bahwa Dafa adalah seorang laki-laki. Diamnya Dafa membuat Ana bingung. Ana pun mengibaskan tangan kanannya di depan wajah Dafa untuk menyadarkannya dari lamunan. Cara tersebut tidak membuahkan hasil. Akhirnya Ana pun memutuskan untuk menepuk bahunya. Awalnya dia ragu, tapi dia berpikir bahwa ini adalah kebaikan bersama, sehingga dia langsung menepuk bahu kanan Dafa karena ngelamun di lingkungan sekolah adalah hal yang sangat dilarang. "Kak!" Panggil Ana. Dafa pun terkejut lalu bertanya, "Ah iya, ada apa?" Ana berdecak, "Kak Dafa ini bagaimana sih? Katanya tadi mau tanya sama aku dan kenapa malah jadinya bengong seperti ini, heran bangat deh sama Kakak." Dafa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia juga tidak menyangka kalau dirinya malah jadi bengong, padahal tadi hanya sedikit memikirkan kejadian tadi malam saja. Rasanya memang lama-lama membuat dirinyalah gila. Bagaimana tidak gila jika segala sesuatunya dilakukan di luar kesadaran dan Dafa semakin yakin bahwa orang yang melihatnya pasti akan merasa sedikit aneh, terutama bagi orang yang biasa saja. Hal tersebut akan beda cerita ketika yang melihat adalah orang indigo. Secara dari kemampuan pun cukup beda, apalagi kalau sampai hal lain yang akan dibahas. "Duh bagaimana ya, Na, gue bingung banget mau cerita dari mana dulu karena ini kejadiannya nggak nyambung dan bahkan sulit untuk dipercaya," kata Dafa, terlihat wajahnya sedikit gusar dan sedih, mungkin karena dia banyak masalah tanpa jalan keluar, sehingga bingung sendiri. Kalau Ana sih berpikir simpel, apalagi Dafa adalah seorang ketua OSIS yang tentunya sangat sibuk. Jadi, wajar kalau dia sampai bingung mau cerita dari segi mana dulu. Di balik itu semua tentunya pasti ada sebab dan akibat. Ana tidak ingin kalau nanti apa yang dilakukannya justru malah merugikan orang lain. Selain itu, dia juga tidak ingin kalau nanti dirinya malah terbawa suasana yang membuatnya ikut masuk terhadap pengalaman di kehidupan Dafa. Ikut campur urusan orang lain adalah hal pantang bagi Ana, dia selalu menganggap bahwa orang yang suka ikut campur adalah orang yang suka menambah beban hidup saja. Di sisi lain, Elsa masih tetap diam mengamati Ana dan Dafa. Jika boleh jujur, tadi saja dia sedikit cemburu ketika tangan Ana menyentuh bahu Dafa. Ya dia memang sadar diri bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa Dafa, sehingga rasanya aneh saja jika cemburu, apalagi sampai membenci Ana yang tidak tahu apa-apa. Lagian Elsa sudah janji kepada dirinya sendiri akan fokus pendidikan demi keluarga dan orang tua. Selain itu, dia juga sadar bahwa Ana adalah teman kelompoknya, sehingga dia sedikit merasa aneh saja jika satu kelompok ada yang canggung hanya permasalahan laki-laki saja. Padahal di luar sana masih banyak laki-laki yang lebih layak untuk dijadikan pasangan. Pandangan orang pasti berbeda-beda, tentunya itu pun yang akan menjadi dasar modal untuk memberikan penilaian dan hak setiap orang. Hanya saja perlu pengharapan dan menghargai pada setiap diri seseorang agar tidak terjadi sebuah perselisihan. "Bingung kenapa, Kak?" Tanya Ana. "Ah, nggak usah dipikirkan deh, Na, gue nggak jadi ngomong dan cerita sama lo. Sudah sana lebih baik lo sama teman lo masuk ke dalam aula. Hari ini ada acara pengenalan lingkungan sekolah lalu dilanjutkan rapat KBO masing-masing kelompok," jelas Dafa. "Oh ya sudah kalau seperti itu, Kak. Kita mau masuk ke aula dulu ya," pamit Ana lalu langsung melangkahkan kaki berdampingan dengan Elsa menuju ke aula. Baru beberapa langkah, dia kembali dipanggil namanya. "Ana!" Ana pun membalikkan badan kembali lalu bertanya, "Iya, ada apa lagi, Kak?" "Gue mau menyampaikan pesan kalau diri lo mendapat salam dari Diandra. Katanya salam kangen buat Ana." "Oh ya? Kapan Kak Dia Diandra berbicara seperti itu?" Tanya Ana. "Kemarin," jawab Dafa singkat, tapi mampu menjelaskan semuanya. "Hm, minta tolong salam balik ya Kak," pinta Ana sedikit ragu karena dia takut kalau ternyata Dafa tidak mau. Ya memang sih salam itu bukan hal yang sulit, akan tetapi yang namanya pesan adalah hal yang harus dilakukan dan disampaikan kepada orang yang dituju. Perlu diingat bahwa pesan adalah amanat yang harus dilaksanakan. Nah, yang menjadi permasalahan adalah ketika tidak pernah bertemu dengan orang tersebut. "Boleh." Ana sangat girang ketika Dafa menjawab iya, karena dia tidak menyangka kalau Dafa tidak seburuk apa yang dipikirkannya. Dia baru menyadari bahwa sebenarnya Dafa itu baik hati, hanya saja sikap dan perlakuan dinginnya yang terkadang membuat orang lain sedikit canggung atau bahkan takut tidak mendapatkan respon. Padahal sih selama tidak aneh-aneh maka tidak akan membuat orang lain marah. Hanya saja beberapa orang terkadang ada yang salah pengertian, sehingga membuat asumsi sendiri. "Na, salamnya apa?" Bisik Elsa tepat di telinga Ana. Ana baru menyadari salam yang akan dititipkan untuk Diandra. Sedikit aneh saja jika hanya cukup salam, harusnya sih biasa saja yang ada kata dan tidak perlu canggung. Kalau seperti ini caranya maka percuma saja titip salam. Lagian Ana memang sudah tidak pernah bertemu dengan Diandra lagi semenjak kejadian pada saat itu. "Kak Dafa!" Panggil Ana. "Iya, Ana?" Sahut Dafa sangat lembut. Tidak sedikitpun mengisyaratkan bahwa dia terlihat seperti yang dibicarakan oleh orang lain, yaitu keras kepala dan dingin. Bukan hanya Ana saja yang terkesima, melainkan Elsa juga mengalami hal yang sama, seperti apa yang Ana rasakan. "Hm, aku titip salam kangen buat Kak Dia Diandra ya. Tolong sampaikan juga kapan-kapan main bareng atau bisa main ke rumahku," kata Ana lalu tersenyum. Melihat senyum Ana mengingatkan senyuman di foto akun media sosial i********: kejadian tadi malam. Ada sedikit rasa merinding, akan tetapi dia juga terkesima melihat senyuman Ana, persis seperti yang ada di foto. Tiba-tiba bulu kuduknya merinding. Pada bagian lehernya seperti ada hembusan angin dan lengannya ada yang mengelus. Sedikit geli, akan tetapi dia langsung menyadarkan diri dengan cara menyentuh bagian tubuhnya yang terasa aneh. Pada saat itu juga dia memutuskan untuk melihat ke arah samping lalu ke belakang, tidak ada sesuatu yang janggal, hanya suasananya saja yang cukup menegangkan. Dafa langsung memutar balikkan pikirannya, dia hanya berpikir bahwa apa yang terjadi pada dirinya hanyalah halusinasi saja. Dia yakin bahwa rasa takut tadi malam masih terbawa sampai pagi ini. Apalagi kali ini melihat senyumnya secara langsung. Kedua tangan Dafa mengacak rambutnya frustasi. Dia bingung dengan segala kejadian yang menurutnya tidak masuk akal. Hal itu membuat rambutnya acak-acakan, kesan yang didapat malah terlihat ganteng, Elsa sangat mengakui itu. Beda lagi pada diri Ana, dia malah bingung melihat Dafa yang seperti orang tertekan. "Kak Dafa kenapa?" Tanya Ana cukup khawatir. "Ana, tolong kali ini jangan tersenyum di hadapan gue bisa nggak?!" Sentak Dafa terlihat frustasi. "Loh kenapa, Kak? Bukankah senyum adalah ibadah?" "Iya, tapi senyuman lo itu bikin gue jadi gila. Gue butuh waktu buat menghilangkan rasa tekanan ini. Gara-gara lo, gue hampir saja gila atau bahkan malah mati," jawab Dafa sedikit meninggikan nada bicaranya. "Aku nggak tahu apa yang Kak Dafa katakan, maksudnya apa? Kenapa Kak Dafa malah menyalahkan aku secara tiba-tiba? Apakah aku punya kesalahan berat kepada Kak Dafa? Kalau ada, Ana minta maaf karena Ana benar-benar nggak tahu dan mungkin tidak sengaja. Ana pergi dulu," ujar Ana lalu pergi meninggalkan Dafa dan Elsa begitu saja. Mood nya kali ini benar-benar hancur. Baru kemarin dua hari sudah mengalami beberapa masalah, ditambah lagi ini hari ketiga juga mengalami permasalahan yang secara terang-terangan dengan manusia dan entahlah Ana juga tidak tahu hari ini akan mengalami hal yang berkaitan dengan makhluk halus atau tidak. "Ana, tunggu!" Teriak Elsa, dia menatap Dafa dulu sebelum pergi untuk berpamitan agar terlihat sopan sebagai adik kelas. "Kak Dafa aku pergi dulu ya mau menyusul Ana." Elsa langsung lari mengejar Ana tanpa meminta persetujuan dari Dafa. Lagi pula berdiri lama-lama di samping Dafa hanya membuatnya berkeringat dingin. Dari cara ini lah yang membuat Elsa bisa terbebas dari rasa tersebut. Setelah kepergian mereka, Dafa kembali mengacak rambutnya frustasi. Dia pun merutuki dirinya yang sedikit ceroboh ketika berbicara. "Bodoh banget sih gue, kenapa harus mengatakan segalanya, padahal sejak tadi sudah bisa gue tahan!" "Ngapain juga gue harus panggil Ana, argh!" Dafa kembali mengacak rambutnya karena kesal dengan dirinya sendiri. Dia hanya bisa menyesal karena sadar bahwa waktu tidak bisa diulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN