Part 40

1760 Kata
"Na, ngapain dari tadi diam mulu sih?" Tanya Dewi sedikit kesal melihat Ana yang seperti tidak memiliki selera. Sejak tadi wajahnya terlihat murung dengan tatapan mata sedikit sinis. Setiap kali ada Dafa yang lewat di sampingnya maupun sedang menjadi pembawa acara maka dia memilih untuk membuang muka. Tidak sedikitpun ada rasa tertarik dan dia masih ingat kejadian tadi pagi. Ana memang orangnya lebih suka santai, tapi dia akan mudah marah ketika dirinya tersinggung soal pribadinya yang cukup aneh. Dia masih belum terima jika dirinya dianggap aneh orang lain. Padahal dia tidak menginginkan itu semua, yang dia inginkan adalah hidup normal seperti yang lainnya. Bukan hanya itu saja, hidup di lingkungan aneh hanya akan membuatnya sedikit lesu, apalagi jika ada banyak orang yang memperhatikannya. Terkadang Ana mikir saja, bagaimana pendapat mereka, bagaimana respon mereka, dan bagaimana pikiran mereka ketika mengetahui soal hal keanehan ini. Dalam waktu singkat, dia ingin sekali bisa menemukan orang yang bisa mengobati dari hal yang cukup horor ini. Dia selalu berdoa akan ada keajaiban maupun kedua orang tuanya dan kakek neneknya bisa segera menemukan paranormal yang cukup hebat. Lebih tepatnya Ana itu seringkali kesal dengan dirinya sendiri. Bahkan terkadang dia tak segan-segan diam seharian dan berbicara hanya seperlunya saja. Apalagi kalau sudah menyangkut keselamatan maka terkadang bisa sedikit membuatnya syok. Bayangkan saja hal ghaib yang datang secara tiba-tiba, sedangkan tubuh Ana belum siap. Tubuhnya seringkali terasa sakit. "Iya nih si Ana, dari tadi diam mulu," kata Sintia yang sejak tadi mengamati Ana. Tidak sedikitpun Ana menjawab kata-kata mereka. Tatapannya hanya lurus ke arah depan, tepatnya kepada si pembawa acara. Bukan hanya itu saja, terkadang Ana juga merasakan sangat lelah pada bagian kepala karena terlalu fokus dalam mengikuti kegiatan MPLS ini. Andai saja tadi pagi tidak bertemu dengan Dafa maka mood nya pasti tidak akan sehancur ini, mengingat bahwa ini adalah hari ketiga yang katanya acaranya cukup menyenangkan. "Ana, apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Ola cukup khawatir. Sejak tadi dia yang berada di samping kanan Ana merasa ada hal yang janggal. Kali ini mereka duduknya membentuk barisan horizontal perkelompok, sehingga anak laki-laki yang biasanya berada di samping, kini barisnya berada di depan perempuan. Hal ini pula yang mampu memancing emosi Ana, sejak tadi ada beberapa yang memang sengaja curi-curi pandang dan bahkan sedikit menggoda Ana, sedangkan Ana hanya menanggapinya dengan tatapan mata sinis. Ola sudah cukup lama menunggu jawaban, akan tetapi tidak sedikitpun mendapatkan respon. Akhirnya dia mengibaskan tangan kanannya di depan wajah Ana untuk memastikan arah pandang Ana menuju mana. Lalu dia pun berkata, "Jangan ngelamun, Ana!" Baru dengan cara teguran itulah yang membuat Ana mau angkat bicara. "Aku nggak apa-apa." Akhirnya Ola pun bernapas lega, dia tidak terlalu khawatir mengenai kondisi Ana karena dia sudah mau menjawab pertanyaan. Begitupun teman-teman kelompoknya. Namun, sedikit berbeda pada raut wajah Elsa, dia sedikit tidak suka melihat Ana yang mendapatkan perhatian banyak dari teman-teman kelompoknya, sedangkan dirinya tidak sedikit pun. Dia merasa kalau sedikit-sedikit Ana yang diperhatikan dan dipuji-puji. Dia ingin sekali berada di posisi Ana. Hanya saja dia sadar diri bahwa dirinya tidak akan mampu. Lagi pula memang sejak awal memang Ana lah yang menjadi pusat perhatian dan bahan perbincangan. Elsa sangat menyadari hal itu, bahkan dia mengetahui dan mendengar secara terang-terangan bisikan dari orang lain ketika sedang menggunjing. Awalnya Elsa tidak begitu yakin jika Ana yang akan menjadi primadona, tapi dia sangat yakin bahwa dirinya yang menjadi primadona karena cantik dan kaya mengingat dulu ketika SMP dirinya yang memang menjadi primadona di lingkungan sekolahnya. Namun, pada kenyataannya itu hanya sebuah mimpi ketika sudah masuk di lingkungan SMA karena bisa dikatakan ada pesaing yang memang lebih dari dirinya. Apalagi hanya dengan penampilan Ana yang sangat simpel saja mampu menarik perhatian orang lain, apalagi dengan penampilannya yang sangat anggun. Elsa tidak dapat membayangkan hal itu. Jika dia boleh jujur secara terang-terangan maka dia akan mengatakan bahwa dirinya merasa sangat bosan dan juga telinga nya merasa jengah ketika mendengar pujian di orang yang sama. Padahal di SMA nya sekarang yang cantik bukan hanya Ana saja, melainkan ada beberapa siswi lain. Namun, lagi-lagi malah Ana. Tak lama kemudian datanglah si pembawa acara setelah pengisi acara selesai. Pembawa acara kali ini adalah Gibran. Dia memang cocok menjadi host karena gaya bicaranya yang suka ngelawak membuat beberapa penonton tidak merasa bosan. Sejak di hari pertama kegiatan MPLS memang banyak sekali perempuan yang lebih menyukai Gibran karena dengan adanya Gibran membuatnya tidak merasa kantuk. Perlu diketahui bahwa segala kegiatan yang hanya duduk saja tanpa melakukan kegiatan apa pun hanya akan membuat mata kantuk, begitu pun di saat rebahan saja, pasti lama-kelamaan akan tertidur. Namanya juga orang lelah. Beda lagi di saat merasa kantuk akan tetapi melakukan kegiatan kontak fisik yang bisa dengan mengalami perubahan tempat. "Hay teman-teman!" Sapa Gibran. "Hallo Kakak ganteng!" Sahut beberapa siswi yang suaranya lebih keras dibandingkan dengan laki-laki maupun beberapa anak yang hanya lurusan saja. Bisa dikatakan bahwa tadi beberapa siswi ada yang mengatakan bahwa Gibran ganteng adalah golongan siswi yang agak sedikit modus karena dia berani menggoda Gibran secara tidak langsung. Untung saja Gibran orangnya tidak mudah baper, tidak kebayang saja jika dia mudah baper maka akan ada kemungkinan bahwa mentalnya mudah down. Satu hal lagi keberuntungan bagi Gibran bahwa dia terlalu percaya diri sampai lupa dengan urat malunya, mungkin sudah putus kali ya. "Wow, terima kasih sudah mengingatkan kegantengan saya," sahut Gibran dengan gaya sok cool nya. "Sama-sama, Sayang!" Sahut salah satu siswi yang berada di tengah-tengah. Seluruh pandangan mata malah menuju ke arahnya. Bukannya merasa malu, perempuan tersebut justru malah melambaikan tangan sambil senyum-senyum sendiri tidak jelas. Gibran sangat kenal dengan perempuan tersebut, dia adalah adik kelasnya ketika dulu duduk di bangku SMP. Bahkan saat ini kedua mata Gibran membelalak cukup lebar. Dia tidak tahu apakah bertemu dengan adik kelasnya tersebut menjadi sebuah bencana atau malah sebuah keberuntungan. Akan tetapi mengingat masa lalu sih lebih banyak pada bagian bencana karena dia seringkali memalukan Gibran di tempat umum. Dia bernama Vika. Tiba-tiba saja Gibran merasakan firasat buruk, akhirnya dia memutuskan untuk mempercepat acara ini. Sebenarnya dia sedikit gemetaran ketika mengetahui hal tersebut, padahal semenjak hari pertamanya, dia tidak pernah melihat keberadaan Vika. Dia pun menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Tidak sedikitpun ada niat untuk merespon Vika. Dia memilih untuk membahas hal lain karena memang masih ada hal yang lebih penting untuk dibahas, sehingga dia memutuskan untuk masa bodoh. Soal perasaan Vika ya ditanggung sendiri entah itu malu maupun tidak. Setidaknya bukan Gibran yang meminta kepada Vika untuk memujinya di hadapan teman-temannya. "Cie, Kak Gibran kelihatan gugup tuh, Vik!" Sorak perempuan yang duduk tepat di sebelah kanan Vika menjadi provokator kali ini. "Cie!" Sahut peserta MPLS hampir satu kelas. Vika tertawa puas, sedangkan teman-teman OSIS dan beberapa aktivis lain ikut tertawa, kecuali bagi teman dekat Gibran, mereka hanya berani menahan tawa saja dengan cara senyum-senyum tidak jelas. Lebih tepatnya mereka takut kalau nanti Gibran malah marah-marah. Hari ini adalah hari yang paling sial kalau menurut Gibran, harga dirinya seakan anjlok begitu saja. Dalam hatinya dia mengumpat Vika dengan berbagai kata kasar. Mungkin inilah yang dinamakan musuh bebuyutan. Sejak dulu memang mereka seringkali bertengkar hanya hal-hal kecil saja. Gibran begitu cukup kesal dengan Vika dan bahkan dia tidak segan-segan ngerjain Vika dengan cara apapun yang sekiranya membuat penampilan Vika tidak percaya diri. Namun, bagi Vika sih biasa saja, dia malah terlihat santai dan membalas Gibran hanya dengan godaannya saja, seakan dirinya adalah pacar maupun wanita teristimewa Gibran, padahal sih tidak ada sedikitpun rasa dalam diri Vika untuk Gibran. Konyol sih, tapi dengan hal itu saja cukup membuat Gibran sedikit emosi. Kini Vika tersenyum sinis karena merasa puas bisa membuat Gibran mati kutu di depan para peserta. "Rasain tuh, makanya jadi cowok jangan suka belagu!" Gerutu Vika lirih, tapi masih bisa didengar oleh teman yang duduk di sampingnya. "Itu tuh teman kalian memang sukanya ngelawak, mungkin dia keturunan dari luwak, hahaha," kata Gibran garing. "Krik-krik krik-krik," sahut anak laki-laki yang seakan dirinya adalah jangkrik. "Hahahaha," semua peserta pun tertawa terbahak-bahak karena menganggap lelucon Gibran sangatlah garing dan dengan suara jangkrik lah yang cocok untuk ditertawakan karena dirinya gagal dalam ngelawak. "Niatnya bikin kalian tertawa, eh malah ditertawakan, nasib-nasib. Jadi seperti ini kalau nasib jadi seorang pelawak." Semua peserta pun kembali tertawa. "Hahaha." Ini tidak bisa dibiarkan, lama-lama malah nanti Gibran menjadi bahan bullyan. Akhirnya dia memutuskan untuk langsung menuju ke acara selanjutnya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Bisa dikatakan menyelamatkan diri sendiri dari godaan. "Oke, kita lanjut ke acara selanjutnya ya, yaitu pengenalan lingkungan sekolah. Jadi, teknisnya itu kalian keluar urut sesuai dengan nomor urut kelompok. Nanti kalian akan dipandu oleh masing-masing anggota OSIS untuk berkeliling di sekolah ini. Dimulai dari laki-laki lalu lanjut perempuan. Nah, setelah kalian selesai keliling sekolah maka kalian langsung kumpul di lapangan sesuai dengan tempat yang telah disediakan, nanti kalian lihat masing-masing nama kelompok karena setelah ini adalah acara pembekalan untuk KBO. Jadi, hari-hari sebelum KBO itu agar kalian sudah agak santai, capeknya sudah diselesaikan di awalan," jelas Gibran. Sorot matanya menatap dari belakang hingga ke depan, lalu dia bertanya, "Apakah kalian paham?" "Paham, Kak!" Jawab seluruh peserta MPLS secara kompak. "Ok, langsung saja dimulai dari kelompok satu laki-laki dan di depan sudah ada pendamping yang berbaris. Semua melakukan apa yang sudah diinstruksikan, kini giliran kelompok Ana yang keluar dari aula. Betapa terkejutnya Ana ketika mengetahui bahwa pendampingnya adalah Yoga. Mood nya kali ini benar-benar hancur dan ditambah lagi dengan adanya Yoga. Menurut Ana sih Dafa, Yoga, dan Gibran sama-sama menyebalkan. Andai saja mood nya kali ini sedang tidak hancur maka dia akan bersikap biasa saja. Sejak pagi hingga sampai siang ini, Ana tetap merasakan hal yang sama. Sayangnya dia tidak bisa marah karena setiap kali marah malah bawaannya ingin nangis. Malu lah kalau tidak bisa menahan tangisnya, sehingga lebih baik dia memutuskan untuk diam saja. "Hay, Ana!" Sapa Yoga, sedangkan Ana menanggapinya dengan sebuah senyuman. Satu hal keberuntungan bagi Ana adalah dirinya sebagai wakil ketua kelompok, sehingga barisannya pun berada di paling akhir, sedangkan Yoga berada di depan karena sebagai pendamping yang mengarahkan jalan menuju tempat yang akan diperkenalkan. Jadi, Yoga berada di samping Elsa yang menjabat sebagai ketua kelompok. Setiap ada ruangan maka Yoga menjelaskan tujuan ruangan tersebut, seperti halnya ruang laboratorium maupun tata usaha yang biasa digunakan sebagai tempat pembayaran. Setelah itu, mereka melewati segerombolan laki-laki yang berada di depan kelas. Nampaknya sih dari kalangan kelas 12, karena dia mengenal Yoga. "Ini barisan ruang kelas dua belas IPS, bisa kalian lihat di pintunya sudah ada tulisannya," jelas Yoga menunjuk ke arah ruang yang dipenuhi segerombolan laki-laki tersebut. "Yog, yang paling belakang boleh juga tuh!" Teriak salah satu di antara mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN