Ana menatap tajam laki-laki yang berani menggodanya lewat Yoga. Sudah tak dapat dipungkiri lagi kalau ada laki-laki buaya yang tidak punya malu. Ana sangat membenci laki-laki yang seperti itu. Dia tidak begitu yakin jika nanti dirinya akan merasakan aman karena saat ini saja menjadi pusat perhatian lagi. Ana memutuskan untuk memalingkan muka ke arah samping kirinya. Namun, bukannya mendapatkan sebuah keberuntungan malah mendapatkan sebuah musibah lagi. Dia melihat di samping kirinya ada hantu kakak kelas yang sejak kemarin menguntit dirinya. Namun, yang membedakan bahwa rambut dia sangat panjang dan wajahnya ada yang sedikit terluka.
Masih agak bingung dan tidak masuk akal karena di siang bolong seperti ini masih saja ada makhluk halus yang mau menampakkan wajahnya. Tubuh Ana sedikit merinding, dia membaca beberapa mantra-mantra dan do'a yang sudah diajarkan oleh kakek dan neneknya untuk menghindar malapetaka yang tidak bisa terlihat oleh mata secara langsung, kecuali mata batin yang memang sudah terbuka atau bisa dikatakan sebagai indigo. Agak tidak nyambung, akan tetapi memang itulah yang pada saat ini Ana rasakan. Dia sengaja diam dan pura-pura tidak tahu, berharap bahwa hantu kakak kelas tersebut tidak benar-benar mengejar dirinya. Setelah itu, Ana memutuskan untuk diam diri dan fokus ke depan dengan mulutnya yang masih saja berkomat kamit.
"Ana, ada yang mau kenalan tuh," kata Yoga dengan senyum khasnya. Bukan suatu senyuman istimewa, akan tetapi senyuman yang biasa digunakan dirinya untuk menggoda beberapa perempuan yang sudah menjadi incarannya. Ana hanya bisa tersenyum getir yang memang itu sangat dipaksakan. Dia tidak sedikitpun mengucapkan kata.
Respon pahit sudah biasa Ana berikan untuk orang-orang yang mengenal dirinya dengan cara menggoda. Padahal dia lebih suka mereka berkenalan secara langsung tanpa menyindir. Justru jika dengan cara itu maka kesan yang didapatkan adalah kurang sopan karena tidak sesuai dengan etika. Andai saja mereka memperlakukan Ana dengan baik maka Ana akan mau menerima mereka. Ana berpikir demikian karena dia belajar dari sebuah kesalahan. Dia tidak sukai kalau hidupnya dipenuhi dengan tingkah aneh maupun tidak sopan dan dia juga tidak mau kalau memulai sesuatu dengan cara keburukan, ya memang terkadang hal itulah dilakukan dengan cara tidak disengaja. Oleh karena itu, dia sangat merasakan aneh saja dan mungkin memang sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil. Dia tidak mau hal-hal yang ribet, mungkin bisa hal lain yang berkaitan dengan permasalahan tersebut, sehingga Ana pun bisa melakukan apa yang dirinya inginkan.
"Na, dari tadi diam mulu," kata Ola yang baris tepat di depan Ana.
"Nggak apa-apa," jawab Ana, otomatis dia tidak membaca mantra tadi.
Seketika tubuhnya merinding karena dia berdiri kaku dan bahunya seperti ada tangan yang menggantung. Dia tidak menyangka saja kalau ternyata dirinya benar digoda kembali oleh makhluk halus. Mulutnya terasa berat ketika ingin berkata seakan terasa seperti ada perekat di antara bibir atas dan bibir bawah. Kakinya juga sedikit terasa sakit.
"Oh tuhan, cobaan apa lagi ini?" Tanya Ana di dalam hati. Dia pun memejamkan kedua matanya menahan rasa sakit yang amat mendalam. Padahal selama ini, dia tidak pernah digoda makhluk halus sampai seberat ini. Di dalam hati dia kembali mengucapkan mantra dan do'a. Setidaknya dia butuh kefokusan agar bisa mengusir godaan tersebut. Memang agak sulit sih, akan tetapi memang itulah yang Ana rasakan, hal ini juga demi dirinya sendiri agar tidak terlalu terbawa suasana dan juga keanehan yang memang cukup sulit untuk dijelaskan.
Cukup lama Ana membaca mantra dan do'a di dalam hati, hingga pada akhirnya dia pun berhasil melawan hantu tersebut. Untung saja Yoga sejak tadi masih ngobrol bersama temannya, sehingga apa yang dilakukan Ana tidak terlalu dicurigai orang lain. Ana hanya terdiam dan juga memilih untuk tutup mulut membiarkan beberapa temannya bingung sendiri.
"Ana, kamu kenapa dari tadi gitu, apakah kamu sakit? Dari tadi diam mulu dan sekarang bibir kamu sangat pucat," kata Ola sangat khawatir melihat kondisi Ana yang tidak seperti kemarin. Kali ini dia kebanyakan diam dan bahkan lebih pendiam daripada di hari kedua. Ola yang menjadi teman satu kelompok dan baris di depannya pun sampai merasa canggung sendiri, meskipun Ana tidak mempermasalahkannya.
Saat ini, Ana hanya diam dan sedikit merasakan sedih karena apa yang diinginkannya itu tidak ada yang mampu memahami dirinya. Saat ini, yang Ana inginkan adalah terbebas dari godaan setan yang terus menghantui dirinya. Ana tidak tahu lagi apa yang harus dirinya lakukan karena memang saat ini dirinya seperti sedang dibuat merasa gila lagi.
Kali ini Ana terus berusaha untuk menyadarkan dirinya, sehingga dia was-was agar dirinya tidak masuk ke dalam perangkap makhluk tersebut. Dia sangat yakin bahwa sekali dirinya ngelamun maka akan ada banyak sesuatu yang masuk ke dalam dirinya, termasuk hantu kakak kelasnya tersebut yang memang sejak tadi sedang mengincar dirinya. Sebenarnya Ana sangat penasaran mengenai hantu tersebut karena sampai saat ini, Ana belum mengetahui hal apa yang membuat hantu tersebut seringkali mengincar dirinya, seakan Ana adalah orang yang paling memiliki kesalahan terbesar kepadanya. Ana menatap Yoga yang tak kunjung selesai. Entahlah apa yang mereka bicarakan, sedikitpun Ana tidak mengetahui hal tersebut.
"Apakah kalian sudah paham?" Tanya Yoga secara tiba-tiba, hal itu cukup membuat beberapa anggota kelompok 1 terkejut.
"Apaan sih, Kak? Bisa selow nggak sih? Untung aku nggak punya riwayat penyakit jantung, huft!" Omel Zea yang tidak terima, lebih tepatnya dia cukup malu ketika dirinya terkejut di hadapan orang banyak. Andai saja bukan karena sedang mengikuti kegiatan wajib MPLS, maka Zea tidak akan segan-segan menghabisi Yoga yang memang dia sangat terlihat kebanyakan gaya.
Tidak cukup itu saja, kini beberapa teman Yoga juga ada yang menahan tawa dengan cara menggigit bibir bawahnya. Rasanya entah mau ditaruh mana mukanya karena saat ini dia merasakan antara kesal dan malu, bisa dikatakan seperti permen nano-nano. Zea sudah tidak sabar melihat kelakuan Yoga dan teman-temannya yang cukup menyebalkan, hingga akhirnya dia pun memukul lengan kiri Yoga karena sudah tidak kuasa menahan kesal.
Bugh!
"Rasain tuh!" Umpat Zea setelah memukul lengan tangan kiri Yoga.
"Gila nih anak, lo butuh obat atau perhatian sih?" Tanya Yoga sangat sinis.
"Aku nggak butuh semuanya karena yang aku butuhkan sekarang adalah jalan, lanjutkan perjalanan. Kamu lihat di belakang sudah terlihat kelompok dua?" Jari kanan Zea menunjuk ke sebuah barisan dengan jarak cukup dekat yang diyakini bahwa mereka adalah kelompok dua.
"Oh iya, hehehe."
"Tanpa dosa banget sih, gila hari ini aku apes banget dapat pendamping yang seperti ini modelnya," kata Zea lalu memutar bola matanya malas.
"Lanjut kali, Kak, nggak usah cengengesan gitu, heran deh orang macam Kakak kok bisa jadi anggota OSIS," ujar Sintia terheran-heran karena semenjak dia mengenal Yoga memang dia sudah merasakan ada aura yang tidak beres. Bisa dikatakan bahwa hal tersebut sangatlah sulit untuk dimengerti oleh setiap orang, lagi pula jika Sintia banyak omong malah takutnya dianggap sok tahu. Jadi, lebih baik Sintia pura-pura tidak tahu karena dia yakin bahwa yang namanya keburukan tentu akan tercium juga pada akhirnya, seperti apa yang dialami Yoga pada saat ini.
"Enak saja kalau ngomong, gini-gini gue jadi idaman para wanita kali," sangga Yoga memuji dirinya.
"Hilih, Kak Dafa tetap nomor satu di sekolah ini kali," cletuk Elsa dengan gaya sok cool nya, pada saat ini dia hanya ingin dipandang terbaik di hadapan kakak kelas.
"Kalau itu nggak usah ditanyakan lagi, Elsa!" Ketus Yoga yang raut wajahnya langsung terlihat kesal.
"Kak Dafa, kok tahu namaku? Pasti sering stalking aku ya? Oh, atau ternyata diam-diam suka sama aku? Nggak nyangka banget ternyata ada kakak kelas yang ngefans sama aku. Lain kali bilang dong Kak, jangan diam-diam saja macam anak kucing yang malu tapi mau, hahahaha," goda Elsa lalu menyenggol lengan Yoga.
Hampir saja kelakuan Elsa membuat Yoga tersungkur di atas tanah. Untungnya Yoga bisa menyeimbangkan tubuhnya, sehingga dia hanya hampir saja, belum kejadian. Andai saja Elsa bukan perempuan maka Yoga tidak segan-segan akan membalas perbuatan Elsa. Dia sadar, dengan dirinyalah melawan Elsa maka sama halnya seperti menjatuhkan harga dirinya sendiri karena melawan yang tidak seharusnya menjadi lawannya.
"Idih, sok tahu banget sih lo! Asal lo tahu dan mungkin memang perlu gue ingatkan bahwa apa yang menggantung di leher lo itu ada papan nama bertuliskan nama lengkap serta nama panggilan lo. Gila sih, cita-citanya ingin jadi seorang artis, pantas gayanya sok banget," kata Yoga dengan senyum sinisnya. Gara-gara kelakuan Elsa, dia menjadi sedikit risih terhadap kelakuan Elsa yang memang terlihat menyebalkan. Kalau bercanda sih memang seharusnya ada batasannya, sehingga hal buruk yang bisa memperlakukan diri sendiri pun tidak akan terjadi. Percaya diri memang perlu, akan tetapi jika berlebihan juga tidak baik.
"Ngegas banget jadi cowok, belum sarapan, Mas?" Tanya Elsa sengaja ikut meninggikan nada bicaranya agar tidak kalah saing dengan Yoga, lagian di jam siang gini masih sempat-sempatnya mengeluarkan banyak tenaga. Sebenarnya sih ini masalah simpel, hanya saja sedang agak sensitif saja. Untung saja Elsa dan Yoga masih bisa mengontrol diri, kalau tidak maka mereka berdua tentu akan bertengkar hebat. Apalagi kalau sudah tidak bisa mengontrol diri, entahlah akan bagaimana nanti akhirnya. Orang kalau sama-sama keras kepalanya sama halnya seperti baru dengan batu yang jika dipertemukan akan sedikit hancur mengeluarkan serpihan mirip pasir.
"Nggak usah sok gitu deh kalau mau terkenal di sini. Dih, apaan terkenal kok karena kelakuan lo yang sok banget, harusnya lo itu sadar diri bahwa terkenal itu lebih baik pakai prestasi bukan malah sensasi."
"Gini nih kalau nggak punya kaca, perlu dibawa ke kamar mandi biar bisa ngaca. Oh, atau aku ajak kamu ke toko kaca sekalian saja biar puas mengaca?" Tanya Elsa sedikit membelalakkan mata.
"Kalian ini pada kenapa sih? Katanya mau lanjut, tapi malah ribut sendiri. Nggak malu dilihatin kelompok sebelah yang sangat kompak apa?!" Ketus Sintia yang cukup jengah melihat keributan antara Yoga dan Elsa. Mereka berdua bagai kucing dan tikus. Tak wajar saja ketika seseorang yang sudah tumbuh remaja akan tetapi tidak memiliki sedikitpun rasa malu hingga berbuat keributan di depan kelas lain. Padahal hal itu lah yang malah menjadi pusat perhatian.
Satu hal yang aneh adalah ketika yang ribut tidak terlalu mendapatkan pujian, sedangkan yang paling belakang malah mendapatkan pujian, siapa lagi kalau bukan Ana. Bahkan tatapan baik laki-laki maupun perempuan terlihat sama, yaitu sama-sama mengagumi. Bahkan ada yang lebih histeris ketika tahu siapa Ana sebenarnya.
"Wow, gila nih anak cantik banget," puji kakak kelas berambut pendek dengan bandana warna hitam di kepalanya.
"Iya nih, gue yang perempuan saja sampai terpukau, apalagi yang laki-laki. Ah gila, gue ingin banget jadi gitu. Putih, bening, manis, imut, ah pokoknya semacam dia deh," sahut kakak kelas yang rambutnya dikepang kuda dengan kacamata tebal. Biasanya sih dia dianggap sebagai si cupu karena gayanya yang seperti anak kutu buku.
"Lo mah jelas beda jauh, Cupu!" Ketus perempuan yang dilihat seperti ketua geng, tapi entahlah Ana juga tidak begitu mengerti bahwa dia ketua geng mana. Ana masa bodoh karena dia memang tidak suka kalau berteman ada kelompokan maupun geng, meskipun Ana seringkali untuk diajak gabung oleh ketua geng. Biasalah hanya dimanfaatkan ketenarannya saja.
"Tuh kan di sini jadinya ramai, lo sih kelamaan!" Bisik Elsa tepat di telinga Yoga sedikit dengan penekanan.
"Oke sebentar," sahut Yoga dengan cara berbisik. Setelah itu, dia menatap teman-teman yang sedang mengerubungi dirinya dan juga kelompok 1, lalu dia berkata, "Mohon semuanya harap minggir ya karena di sini sedang kegiatan MPLS. Nah kalau nanti kalian ingin bertemu sama itu si cewek yang barisannya paling belakang, maka tunggu sampai acara ini selesai atau kalau kalian mau ngasih hadiah boleh ketika nanti ada acara KBO, tepatnya pada acara api unggun. Buat acara semenarik mungkin karena disitulah puncak hiburan kegiatan KBO!"
"Siap!" Sahut mereka bersamaan lalu memberikan jalan kepada Yoga dan anggota kelompok 1. Baru beberapa langkah, mereka kembali berhenti karena mendengar suara Ana.
"Aduh!" Pekik Ana menahan sakit. Dia pun menengok ke belakang, rupanya ada tangan yang menggenggam kakinya. Dia memastikan keadaan di belakangnya. Baru sempat berbalik setengah badan, dia pun langsung menjerit, "Kya!"