Hampir saja Ana tersungkur di atas tanah, untung saja dia bisa menyeimbangkan tubuhnya sendiri, sehingga dia masih aman untuk bisa berdiri tegak. Namun, kaki kirinya terasa sangat nyeri karena ada sesuatu yang memang cukup berat. Bahkan sesekali terasa seperti ada tekanan yang amat mendalam, sehingga Ana memutuskan untuk diam diri dulu sambil sedikit memejamkan mata menahan rasa sakit.
"Ana, apa yang terjadi pada diri kamu?" Tanya Zea yang langsung berdiri di samping Ana. Lagi-lagi Ana menjadi pusat perhatian. Kini bukan hanya teman kelompoknya saja yang berada di sampingnya, akan tetapi juga ada beberapa dari kelas lain, yaitu kakak kelas yang juga ikut mengerubungi Ana. Sedikitpun Ana tidak menginginkan keadaan seperti ini, jika dia disuruh untuk memilih maka tidak sedikit pun dia akan memilih hal tersebut. Sejenak dia berpikir bagaimana caranya agar dirinya tidak malu. Kalau boleh jujur, dia merasa sangat malu karena apa yang dilakukan dirinya itu sangat jauh dari ekspektasi. Mau apalagi jika selain ekspektasi yang tinggi, lagian ini juga sedikit tidak masuk akal.
Ana sendiri tidak tahu apa salahnya sehingga mampu membuat hantu kakak kelas tersebut marah. Di sisi lain, Ana sedikit mencium bau-bau hal yang sepertinya memang sengaja untuk mengingatkan harus hati-hati dalam keadaan ini. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, bisa saja ada hal lain yang menyerang secara tiba-tiba, meskipun itu bukan suatu keinginan yang nyata. Bisa dikatakan tanpa sengaja. Ana pun menarik napasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan.
Kini Ana memutuskan untuk menengok ke belakang. Betapa terkejutnya dia ketika tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan sorot mata hantu kakak kelas tersebut. Kornea milik hantu kakak kelas tersebut berwarna putih, tak lama kemudian kedua matanya mengeluarkan darah yang bercucuran, bisa dikatakan bahwa hantu tersebut nangis darah. Ana tidak tahu apa yang membuat hal tersebut terjadi, sehingga terkesan sangat horor meskipun di waktu siang hari. Satu hal lagi yang mampu membuat Ana takut adalah beberapa belatung yang berada di wajah hantu tersebut. Namun, jika dilihat-lihat seperti ada sesuatu yang tidak beres, seakan hantu tersebut seperti meminta tolong kepada Ana, tapi entahlah itu hanya sekedar cara pandang Ana. Lagi pula memang dia seringkali menguntit Ana, tapi anehnya di hari sebelumnya dia malah seperti mau mencelakakan Ana.
Pikiran Ana benar-benar buyar, dia sangat takut dan hampir saja ingin menyerah dengan keadaan. Akan tetapi dia masih ingat perjuangannya dari awal yang merupakan bukan hal mudah, butuh banyak hal yang harus dilakukan dan dikorbankan untuk dirinya. Dia tidak pernah menyangka kalau nasibnya akan seperti ini. Lagi pula hal ini bukan hal yang cukup mudah untuk dimengerti, terutama bagi orang yang tidak mempercayai adanya hak ghaib.
Biasanya seseorang itu bisa percaya jika ada bukti, bisa dikatakan bahwasannya hal yang nampak adalah hal yang bisa dipercaya, lalu bagaimana kabar yang tidak bisa nampak? Ini merupakan hal yang sangat sulit. Ketika disuruh nampak pun akan tetap sulit karena hal itu hanya sementara maupun sebentar saja. Kondisi makhluk gaib sangat beda jauh dengan kondisi manusia pada umumnya.
"Ana, jangan malah diam mulu, jawab pertanyaan kita!" Suruh Elsa agak kesal. Oke, dari segi paras wajah memang Ana menang, tapi kalau untuk segi sikap maka Elsa akui dia sedikit kesal dan risih terhadap apa yang dilakukan oleh Ana, karena terkadang aneh saja. Bayangkan saja kalau cantik-cantik seperti orang gila.
Ana yang merasa sedikit disentak pun cukup merasa sakit hati karena kedua orang tuanya memang sangat jarang memarahinya, kecuali jika Ana memang sudah benar-benar keterlaluan. Mau bagaimanapun kondisi Ana, yang tetap mau menerima kondisi dirinya adalah keluarga, bukan orang lain. Oleh karena itu, keluarga adalah harta paling berharga.
"Aku nggak apa-apa," jawab Ana lalu tersenyum getir. Di balik senyumnya itulah ada air mata yang ditahan agar tidak jatuh menetes membasahi kedua pipinya. Rasa ini cukup sulit untuk dilawan, ditambah lagi dengan adanya banyak orang yang memang sangat perhatian, entah itu hanya sekedar cari muka, diam-diam mencari informasi, ataupun memang benar-benar serius dalam menolong.
"Kalau nggak apa-apa kenapa seperti itu mulu dari tadi sih?!" Napas Elsa memburu, dia benar-benar lepas kendali karena sudah tidak sabar ketika melihat tingkah Ana yang menurutnya semakin menjadi-jadi. Cukup melelahkan karena menurutnya lagi-lagi terjadi hal yang sama.
"Aku nggak tahu dan kalau bisa memilih maka aku nggak menginginkan ini semua, asal kamu tahu, kaki aku sakit. Kamu nggak tahu apa yang aku rasakan!" Ketus Ana yang juga lepas kendali. Semua orang tidak menyangka kalau ternyata Ana bisa berbicara dengan logat dan nada bicara agak tinggi. Mereka kira Ana hanya bisa kesal dan menahan diri, padahal setiap orang itu sebenarnya memiliki batas kesabaran masing-masing. Semakin diuji batas kesabaran seseorang maka semakin bahaya pula bagi kesehatan. Sebab, terlalu sering marah-marah bisa memicu timbulnya darah tinggi, sedangkan terlalu banyak memendam sendirian juga bisa membuat diri sendiri tertekan dan juga lama-kelamaan bisa depresi. Jadi, pada intinya lebih baik hidup itu yang normal-normal saja, jangan malah yang aneh-aneh.
Kini teman-teman kelompoknya saling menatap seakan bingung mencari jawaban yang memang sebenarnya sudah menjadi kejadian. Mereka tidak menyangka kalau hal sepele seperti ini bisa memicu timbulnya konflik. Apalagi mereka tahu betul bahwa Ana dan Elsa sangatlah dekat, ditambah lagi mereka berdua yang menjabat sebagai ketua dan wakil ketua. Seharusnya mereka harus kompak, bukan malah berselisih seperti ini. Hal yang sangat aneh ketika apa yang terjadi tidak sesuai dengan realita.
"Kenapa kalian jadi ribut seperti ini?" Tanya Yoga cukup panik.
"Ini semua juga gara-gara Kak Yoga!" Sentak Elsa menatap Yoga tajam.
"Apa-apaan ini? Semua lo anggap salah dan seakan-akan cuma diri lo yang paling benar. Ngotak nggak sih jadi orang?!" Yoga juga tak mau kalah karena dia merasa tidak memiliki salah.
"Kalau Kak Yoga nggak terlalu lama di sini, maka semua ini nggak akan terjadi."
"Lo pikir sakit kaki secara tiba-tiba hanya karena gue ngobrol sama teman-teman gue? Lo mikir nggak sih di luar sana ada yang kerjanya berdiri sambil menerima dan melayani tamu, tapi mereka nggak apa-apa tuh. Jadi, gue nggak tahu sama apa yang ada di jalan pikiran lo itu, gila tahu nggak?!"
Yoga tersenyum getir, dia sudah tidak mengingat siapa lawannya. Satu hal yang paling tidak disukai Yoga adalah ketika dirinya malah dipojokkan dalam sebuah permasalahan tanpa meminta keterangan terlebih dahulu. Padahal, suatu keterangan itu sangat penting karena akan dijadikan sebagai barang bukti ketika menuduh seseorang. Sebab, menuduh tanpa bukti sama halnya seperti orang fitnah, sedangkan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.
Tak lama kemudian Diandra datang dengan wajah panik, dia mencari keberadaan Ana. Setelah berhenti tepat di kerumunan, dia membelalakkan kedua matanya ketika melihat keadaan Ana yang terlihat kesakitan dengan makhluk kurang ajar yang tangannya masih mencengkram erat kaki Ana.
"Kurang ajar!" Umpat Diandra tiba-tiba membuat semua orang yang sedang berada di sana cukup terkejut dan heran, apalagi ucapan Diandra yang dituju untuk siapa.
"Hey! Lo tuh benar-benar sinting ya, datang tak diundang malah ngomel-ngomel sendirian," kata perempuan yang berada di sebelah Ana.
"Iya nih, gue juga heran kenapa orang gila bisa sekolah di sini."
"Jaga mulut kalian ya!" Sentak Yoga tidak terima karena dia sedikit tahu siapa Diandra. Semua anak pun langsung bungkam.
Diandra tidak peduli ucapan mereka, dia malah sangat geram kepada makhluk tersebut. Dia pun melangkahkan menuju ke belakang Ana untuk sengaja menginjaknya. Harapan Diandra ketika sama-sama melihat makhluk gaib maka bisa menyentuhnya. Dia juga tidak peduli akan belatung-belatung yang berada di tangan makhluk tersebut karena yang terpenting dia bisa membalaskan dendamnya.
Bugh! Pijakan pertama menggunakan kaki kanan.
Bugh! Pijakan kedua menggunakan kaki kiri.
Kini kedua kaki Diandra berada di atas tangan makhluk tersebut. Satu hal yang membuat tubuh makhluk tersebut tidak bisa gerak ketika akan diinjak karena Diandra sudah memberikan mantra dari jarak cukup jauh, karena insting dia benar-benar sangat kuat. Setelah itu, dia memberikan mantra-mantra kepada makhluk tersebut, lalu tak lama kemudian dia hilang.
"Semuanya bubar!" Suruh Diandra.
"Sana bubar!" Imbuh Yoga.
"Hu dasar!" Sorak semua anak yang berkerumun karena mereka tidak terima, sedangkan Diandra dan Yoga malah biasa saja.
"Ana, apakah lo nggak apa-apa?!" Tanya Diandra.
"Aku nggak apa-apa, Kak. Terima kasih ya sudah menolong aku lagi. Untung saja ada Kak Diandra yang datang tepat waktu," jawab Ana.
Teman-teman Ana pun langsung bungkam. Mereka saling menatap lalu mengendikkan bahu. Terutama Elsa, dia bingung karena merasa kalau kejadian ini seperti main-main saja dan bahkan seperti film keajaiban yang biasa tayang, sangat tidak masuk akal.
Tak lama kemudian, kelompok 2 pun melewati segerombolan kelompok 1. Awalnya mereka bingung dan memutuskan untuk gabung, akan tetapi Yoga menyuruh temannya untuk lanjut perjalanan. Dia hanya tidak ingin keadaannya semakin kacau.
"Lanjut saja, Bro, kita nggak apa-apa kok," ujar Yoga.
"Oh, okelah kalau seperti itu."
"Yoga, lebih baik lo sekalian yang melanjutkan perjalanan. Gue mau bawa Ana ke UKS, lebih baik dia istirahat dulu di sana. Ayo, Na!" Ajak Diandra menggandeng tangan kanan Ana.
"Tapi, Kak--"
"Sudah nggak apa-apa, Ana, ada gue yang mau jagain lo, lagian hari ini kelas gue jam kosong," tukas Diandra yang sudah mengetahui maksud Ana.
"Ya sudah hati-hati ya," kata Yoga melambaikan tangan.
Ana dan Diandra berjalan menuju ruang UKS, jantung Ana masih berdebar mengingat di saat hari pertama dirinya diganggu oleh makhluk tersebut, bahkan ketika di ruang UKS pun masih sama saja. Rasanya makhluk tersebut menginginkan dirinya. Ana tidak tahu pasti apa arti di balik semua kejadian ini. Terkadang Ana merasa ingin putus asa ketika dirinya diganggu oleh makhluk tak kasat mata, akan tetapi dia pun langsung teringat kepada dirinya sendiri yang merupakan anak semata wayang, dia tidak ingin membuat keluarganya khawatir, sehingga mau tidak mau maka dirinya harus memaksakan diri agar bisa melawan serangan yang seringkali datang secara tiba-tiba.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di UKS, Diandra membantu Ana untuk duduk di atas ranjang. Dia mengambil obat oles untuk mengobati luka memar bekas cengkraman hantu tadi. Ya memang tidak akan terlihat secara langsung, Ana saja hanya bisa merasakan rasa nyeri tersebut. Akan tetapi lain bagi Diandra, dia secara terang-terangan melihat warna kaki Ana sedikit keunguan.
"Diam, Na, biar gue olesin kaki lo dulu!" Suruh Diandra lalu jongkok tepat di depan kedua kaki Ana yang menggantung di atas ranjang.
"Hm, Kak Diandra, aku boleh tanya nggak?" Tanya Ana sedikit canggung.
"Boleh kok, tanya apa saja akan gue jawab selama gue tahu jawabannya," kata Diandra.
Ana menatap di sekelilingnya terlebih dahulu untuk memastikan keadaan. Setelah merasa aman, dia pun berkata, "Jujur saja aku heran banget, Kak, kenapa hantu tadi sepertinya sangat tidak menyukai keberadaanku, padahal aku nggak mengusiknya."
"Kalau itu sih aku kurang tahu, yang jelas ada sesuatu yang ingin dia sampaikan, tapi entah apa karena cara dia menyampaikan cukup kasar dan gue nggak suka dengan cara seperti itu. Harusnya gue yang tanya sama lo Ana."
"Tanya apa, Kak?"
Diandra pun berdiri menuju ke sebuah bangku dan meja kelas yang ada di dalam UKS, dia duduk di sana lalu menatap lekat sorot mata Ana. "Lo yakin mau ikut kegiatan KBO? Lo mikir nggak sih di luar sana tempatnya terbuka dan bahkan hantunya pun lebih banyak daripada di sini. Sumpah ya gue tuh juga heran sama diri lo yang nggak bisa ngendaliin diri sendiri. Bukannya gue mau ngerendahin diri lo, tapi gue ngerasa nggak yakin saja dan ini juga akan menyangkut keselamatan diri lo."