Part 43

1415 Kata
"Aku sendiri juga nggak yakin, Kak, tapi--" "Tapi apa, Ana?!" Tukas Diandra sangat penasaran. "Tapi Ana berharap kalau keluarga Ana ada yang bisa menutup mata batin Ana yang terbuka karena memang sejujurnya Ana cukup tersiksa dengan semua ini, rasanya cukup berat untuk dimengerti oleh orang lain. Ana juga sudah cukup lelah ketika dianggap aneh terus. Lagian ya, Kak, siapa juga yang ingin terlihat aneh seperti ini? Umumnya seseorang sih ingin terlihat biasa saja, akan tetapi di balik kata biasa tersebut banyak tersimpan hal yang memang cukup sulit dijelaskan. Sebab, tidak akan ada yang tahu apa yang Ana rasakan karena ini tentang hidup Ana, bukan orang lain," jelas Ana. "Gue juga berharap semoga cepat bertemu dengan orang pintar tersebut, gue nggak tega lihat diri lo yang terlihat tersiksa." "Ya mau gimana lagi, Kak, aku juga nggak tahu kalau akan jadi seperti ini. Kalau boleh ngeluh sih rasanya sangat capek dan bahkan ingin pasrah kepada keadaan." "Jangan seperti itu, Ana, di balik rasa sakit yang terus mengejar diri lo, ada seseorang yang berharap hal terbaik buat diri lo. Jadi, hidup ini jika terkena musibah menjadi hal yang wajar, bukan cuma diri lo yang merasa tersiksa, tapi di luar sana masih ada orang yang lebih tersiksa daripada diri lo. Ambil saja hikmah dari setiap kejadian." "Iya juga sih kalau mikirnya seperti itu. Ah, sudahlah, Ana juga nggak tahu lagi harus bagaimana selain hati-hati dan menunggu sebuah takdir keajaiban. Kak Diandra pasti tahu kan kalau KBO itu wajib." "Iya, wajib maka harus ikut." Ana menghela napas. Kedua matanya menyapu sekeliling ruang UKS. Kali ini pikirannya kacau karena terlalu memikirkan banyak hal. Setiap manusia memang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga apapun yang diinginkan belum tentu bisa terwujud dan Ana sangat takut akan hal itu, meskipun jika takdir dan sebuah keberuntungan tidak akan kemana-mana. Menatap wajah Diandra ternyata memang banyak misteri yang harus dipecahkan. Ana baru menyadari kalau wajah Diandra memang agak sulit ditebak. Mungkin hanya orang tertentu saja yang bisa memahami keadaan dirinya. Ana yang sama-sama memiliki kemampuan indigo pun tidak mampu mengetahui apa yang saat ini sedang Diandra rasakan. Mereka berdua sama-sama diam memikirkan setiap masalah yang ada. Perlu diketahui bukan hanya Ana saja yang memiliki banyak masalah, akan tetapi Diandra juga. Semakin bertambahnya waktu maka dia semakin dikenal sebagai cewek aneh. Kalau julukan itu didiamkan saja, maka lama kelamaan pun akan semakin menjadi-jadi. Ana ngesot ke belakang untuk menyandarkan punggungnya di tembok dengan kedua tangannya dijadikan sebagai penyangga tubuhnya. Dia masih sedikit trauma mengingat segala kejadian aneh yang menimpa dirinya. Andai saja kejadian tersebut bisa dihindari dengan cara cepat, maka Ana tidak akan sepanik ini. Ana pun tersenyum getir mengingat hal itu, kini hidupnya sudah tidak normal seperti sebelumnya. Hanya sebuah rasa tekanan batin yang ada dalam kehidupan sehari-hari, sayangnya kejadian tersebut bukan suatu pilihan. Jari telunjuk dan tengah kanan Diandra mengetuk meja berkali-kali, sedangkan tangan kirinya digunakan untuk menyanggah dagu. Kedua sorot matanya menatap lurus menuju ke pintu keluar masuk UKS. Di balik pintu tersebut langsung menyuguhkan pemandangan di lapangan basket. Jadi, di samping Diandra diam memikirkan masalah, dia juga curi-curi pandang kepada teman seangkatan dan adik kelasnya yang sedang bermain bola basket, lebih tepatnya karena Diandra tidak ingin terlalu stres, sehingga apa yang dilihatnya itu hanya sekedar penghibur saja. Setidaknya pada saat ini bisa menyeimbangkan apa yang sedang dirinya lakukan. Ana pun langsung tersadar dari lamunannya. "Aku nggak mungkin harus seperti ini terus." "Tadi lo ngomong apa?" Tanya Diandra yang tidak sengaja mendengar ucapan Ana, hanya samar-samar saja. "Kita nggak boleh bengong seperti ini, Kak. Hm, Ana mau ke lapangan depan aula dulu ya, Kak. Katanya akan ada pembekalan buat KBO," pamit Ana. "Sebentar, lo nggak ada keinginan buat muter-muter di sekolah ini biar tahu lingkungannya?" "Nggak sedikitpun, Kak, lagian nanti lama kelamaan akan tahu atau bisa tanya sama teman. Ya sebenarnya aku ingin istirahat di sini sih karena capek banget, tapi masalahnya kan pasti ada hal penting yang akan disampaikan pada saat pembekalan nanti." "Ya kan bisa tanya sama teman." "Iya, tapi tetap saja rasanya beda, Kak. Sebelumnya Ana mau mengucapkan terima kasih, Ana pergi ke lapangan dulu ya." "Oh ya sudah hati-hati," kata Diandra yang masih duduk di bangku UKS. Langkah Ana sedikit terseok-seok karena bekas cengkraman makhluk tadi. Ana kira tidak akan memberikan efek yang cukup berat, tapi ternyata di luar ekspektasi. Dia juga tidak tahu akan mengatakan apa kepada kedua orang tuanya ketika nanti sudah tiba di rumah. Andai langkahnya tidak terseok-seok maka tidak akan menjadi masalah karena kemungkinan Ana masih bisa menutupinya, meskipun itu bukan hal yang mudah. Akhirnya Ana pun sampai di lapangan depan aula. Awalnya tatapan beberapa anak menuju ke arah Ana, termasuk salah satunya ada Dafa, bahkan di antara mereka ada yang bisik-bisik. Dia tidak terkejut karena memang itulah sudah menjadi resiko. Terima nggak terima maka harus tetap terima. Untungnya barisan kelompok Ana berada di depan, sehingga dia sudah tidak perlu susah payah jalan ke belakang untuk menghindari tatapan penuh tanya dari beberapa temannya. "Ana, duduk sebelah sini!" Ajak Dewi yang menarik tangan kanan Ana agar duduk di sebelahnya. Ana pun menurut, lalu berkata, "Terima kasih, Dewi." "Sama-sama." *** Prang! Suara gelas jatuh yang tak sengaja tersenggol sikut Slamet. Tiba-tiba jantungnya berdebar. Pikirannya kali ini hanya satu, yaitu cucu satu-satunya yang bernama Ana. Tak lama kemudian datanglah Tumi dengan raut wajah panik dan napasnya sedikit memburu. Dia berdiri di ambang pintu ruang dapur. Kulit wajahnya memerah menatap serpihan beling akibat pecahan gelas tersebut. "Mas, apakah kamu nggak apa-apa?" Tanya Tumi. Slamet menatap istrinya dari jarak cukup jauh karena ruang dapurnya memang cukup luas. Slamet pun menjawab, "Aku nggak apa-apa, tapi Ana--" "Ana kenapa?!" Tukas Arumi yang datang secara tiba-tiba di samping Tumi berdiri. Mereka berdua saling menatap memberikan tatapan nanar. Pikiran mereka diselimuti rasa takut yang amat mendalam, apalagi kali ini soal keselamatan yang artinya bahwa nyawa itu hanya satu, tidak ada tambahan nyawa ketika sudah mati, kecuali sebuah takdir keajaiban. "Ayah nggak tahu, tapi yang jelas pasti ada sesuatu yang terjadi pada Ana dan gelas ini sebagai tanda peringatan bahwa keadaan Ana tidak baik-baik saja," jelas Slamet. "Loh, kenapa kesannya malah seperti film sinetron, Yah?" Tanya Tumi sedikit mengangkat sebelah alisnya. Senyum di bibirnya itu terlihat seperti orang bingung. Dia memang seringkali memanggil suaminya dengan panggilan Mas maupun Ayah, semua itu tergantung situasi dan kondisi sekaligus moodnya. Bagi Tumi sih tidak akan menjadi masalah selagi panggilan tersebut masih menghormati suaminya. "Ayah nggak tahu, hanya saja tiba-tiba pikiran Ayah menuju ke arah itu, seperti ada yang mengarahkan." "Aduh, bagaimana ini Ayah? Aku sangat khawatir banget sama dia," ujar Arumi sangat panik. Satu hal yang ada di dalam pikiran Arumi hanyalah keselamatan putri semata wayangnya. Apalagi kini suaminya sudah berangkat kerja. Rasanya Arumi sangat ingin menghubungi suaminya, akan tetapi dia masih agak takut kalau suaminya tidak akan fokus kerja maupun akan pulang dalam keadaan panik dikhawatirkan terjadi sesuatu ketika berada di perjalanan. "Ibu juga khawatir banget, Arumi," sahut Tumi. Tak lama kemudian datanglah Bibi Sanah, dia pun sama-sama ikut terkejut melihat wajah panik mereka ditambah pecahan beling yang mengelilingi Slamet. Dia pun langsung mengambil sapu dan serok sampah untuk membersihkan pecahan beling tersebut, takut kalau nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, meskipun majikannya menggunakan sandal ketika berada di dalam rumah. Perlu diketahui bahwa sandal hanyalah alat untuk menghindari benda bahaya tersebut, akan tetapi jika ada pecahan yang runcing maka bisa membahayakan keselamatan, mungkin akan tembus ketika tanpa sengaja terkena injakan kaki. Terutama jika sandalnya terbuat dari bahan gabus. "Mohon maaf, Pak, saya mau membersihkan pecahan beling ini," izin Bibi Sanah sambil membungkukkan badan ketika berada di depan Slamet. "Nggak usah membungkuk seperti itu, Sanah, di sini kita ini sama-sama manusia," kata Slamet sambil membantu Bibi Sanah agar berdiri tegak. Setelah itu, dia melangkahkan kaki menuju istrinya. Tangan kanan Slamet mengelus puncak kepala Arumi, lalu lanjut kepada istrinya. Dia pun berkata, "Tak perlu risau, ada aku di sini yang akan mengurus semuanya." "Bagaimana nggak risau, dia itu cucu kita satu-satunya, Mas," ujar Tumi agak kesal karena seakan suaminya itu malah membuat hal aneh menegangkan seperti ini malah dibuat menjadi bahan candaan. "Sekarang gini saja, biasanya Ana pulang jam berapa?" Tanya Slamet. Arumi menatap jam dinding. "Biasanya sih jam segini sudah pulang, Yah." "Ya sudah kalau seperti itu, Ayah mau langsung ke sana sama Pak Tarjo." "Aku ikut," ujar Arumi dan Tumi secara bersamaan. "Nggak perlu, kalian tunggu di rumah saja, semoga tidak terjadi apa-apa pada diri Ana karena ini masih hanya firasat ayah saja. Kalian di sini do'akan yang terbaik buat Ana. Ayah mau berangkat ke sekolah Ana sekarang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN