Slamet berjalan menuju ke depan rumah. Di sana sudah ada Pak Tarjo yang menyiapkan mobil dengan sedikit mengelap kaca mobil untuk menghilangkan debu yang menempel yang membuat kaca tidak enak dipandang. Bukan karena disuruh oleh Slamet, tapi memang sudah waktunya untuk menjemput Ana ke sekolah.
"Pak Tarjo!" Panggil Slamet.
"Iya, Pak?" Sahut Tarjo.
"Ayo, kita jemput Ana ke sekolah sekarang!" Ajak Slamet membuat Pak Tarjo agak bingung karena tidak biasanya dia menjemput Ana di waktu yang sangat cepat karena dia harus memastikan kondisi mobil sebelum berangkat, itu semua demi keselamatan bersama, terutama bagi Ana dan keluarga.
Kini Pak Tarjo malah diam memikirkan sesuatu. Di dalam batinnya merasakan sedikit kejanggalan. Bahkan pikirannya pun seperti orang kacau, padahal kali ini dia tidak memiliki masalah, baik masalah pribadi maupun masalah keluarga. Semuanya dengan keadaan harmonis. Oleh karena itu, menurutnya ini hal aneh. Suatu hal yang tidak terbiasa terjadi dan tiba-tiba terjadi, maka itu perlu diselidiki. Nah, yang menjadi permasalahannya adalah ketika Pak Tarjo tidak tahu apa yang akan diselidiki karena realita keadaan terlihat biasa-biasa saja, seperti yang terjadi pada umumnya.
"Ayo, buruan jangan kebanyakan ngelamun, Pak," kata Slamet membuyarkan lamunan Pak Tarjo. Dia sadar bahwa Pak Tarjo pasti sangat bingung, akan tetapi lebih baik Slamet mengabaikan hal itu tanpa memberitahunya karena waktunya pada saat ini memang cukup dekat. Mereka berdua dikejar oleh waktu karena Slamet tidak ingin satu detik pun ada waktu yang terlewat. Nyawa dicabut dari raga maupun yang biasa disebut dengan kematian memang tidak akan ada yang tahu. Oleh karena itu, pikiran dia pada saat ini ditambah rasa takut kalau dirinya kehilangan putri kesayangannya karena kurang cekatan dalam menangani suatu hal. Suatu kejadian buruk memang tidak ada satu pun orang yang menginginkannya, dari hal itu lah dia datang tanpa izin dan hilang tanpa pamit. Sebab, suatu musibah itu pasti sudah tahu, ketika musibah datang maka semua orang pun akan menghindar dengan versinya masing-masing. Apa saja musibah yang menimpa maka setiap manusia akan menghindar. Wajar sih karena memang pada dasarnya bahwa musibah itu kaitannya dengan bencana dan tentunya tidak akan ada manusia yang mau menerima, kecuali dadakan maupun tanpa disengaja.
"B-baik, Pak," sahut Pak Tarjo terbata-bata.
Mereka berdua pun langsung masuk ke dalam mobil, Pak Tarjo duduk di depan sebagai sopir untuk menyetir mobil, sedangkan Slamet duduk di belakang sebagai penumpang. Wajar sih karena dia majikan, sehingga apapun yang dirinya mau pasti akan dilakukan oleh asistennya selama bukan permintaan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Setiap orang tentunya memiliki perasaan. Bersikap terlalu rendah hati sebagai bentuk rasa hormat saja tidak diperbolehkan oleh keluarga Rudi dan Slamet, apalagi sikap semena-mena. Dia hanya takut kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Dalam perjalanan, mereka diselimuti suasana tegang. Biasanya Pak Tarjo yang memiliki rasa ingin tahu tinggi pun kini hanya diam sambil fokus nyetir. Sebenarnya dia ingin bertanya, tapi melihat ekspresi Slamet saja cukup membuatnya mengundurkan niatnya karena merasa tidak enak sendiri, meskipun dia tahu bahwa Slamet tidak akan memarahi dirinya. Hanya saja ada kalanya suasana hati seseorang yang sedang kacau akan terlihat jahat tanpa disengaja. Orang panik itu biasa suka melupakan jati dirinya, dimana keadaan dan sikap yang biasa dilakukan di depan umum, sehingga apa yang dilakukan ketika panik itu bisa jadi ada sikap yang ditutupi yang selama komunikasi dengan orang lain tidak mudah untuk diketahui. Pak Tarjo tidak ingin berburuk sangka, sehingga dia memutuskan untuk diam saja dan menunggu majikannya cerita daripada banyak menduga yang belum tentu jawabannya benar.
Tanpa terasa, perjalanan mereka telah sampai di tempat tujuan. Kini banyak siswa yang duduk di depan pintu gerbang untuk menunggu jemputan dari orang tuanya, ada yang baris berjejer sambil naik motor untuk menyebrang jalan dengan dibantu oleh satpam sekolah, dan ada pula yang sedang beli jajan. Pak Tarjo memarkirkan mobilnya di depan samping kiri pintu gerbang agar tidak menutupi akses jalan. Setelah mobil terparkir, Slamet pun segera turun dengan membuka pintu mobil. Kedua matanya menyapu halaman depan sekolah untuk mencari cucu semata wayangnya. Namun, tidak ada sedikitpun tanda-tanda keberadaan cucunya.
"Pak Tarjo, kamu lihat Ana nggak?" Tanya Slamet yang kedua matanya masih tetap mencari Ana.
Apa yang dilakukan Pak Tarjo pun sama halnya apa yang dilakukan oleh Slamet. Dia menatap dari sudut barat sampai sudut timur. Memang satu pun tidak ada tanda-tanda mengenai Ana.
"Aku nggak lihat juga, Pak. Padahal banyak siswa siswi yang sudah berhamburan untuk pulang," jawab Pak Tarjo lalu menghela napas.
"Nah, maka dari itu, aku juga bingung kalau seperti ini caranya. Entah mengapa apa sangat merasa resah."
"Sama, Pak, saya juga khawatir banget, apalagi lihat raut wajah khawatir Pak Slamet yang tidak biasanya seperti itu," jelas Pak Tarjo yang tidak sadar akan kejujurannya. Dia terlalu jujur mengucapkan unek-unek yang sejak tadi dirinya simpan sendirian. Reflek tangan kanannya pun menepuk-nepuk mulutnya beberapa kali karena merutuki kebodohannya ketika beretika. Kebanyakan bercanda bersama Bibi Sanah malah membuatnya sedikit tidak fokus terhadap keadaan.
"Memangnya terlihat banget ya?" Tanya Slamet.
"Iya lumayan sih, Pak," jawab Pak Tarjo. Akhirnya dia pun bisa bernapas lega karena ternyata majikannya itu tidak seburuk apa yang dipikirkannya tadi karena saat ini dia pun malah bertanya kepada dirinya, dengan senang hati Pak Tarjo menjawab pertanyaan Slamet.
"Hm, bagaimana ya? Aku nggak bisa lama-lama seperti ini, bagaimanapun keadaannya, aku butuh jawaban yang pasti. Apakah kamu tahu ada cara lain selain dengan menunggu? Aku tahu, menunggu tanpa kepastian itu capek, sedangkan keberadaan Ana tidak ada bedanya."
"Nggak ada sih, tapi mungkin bisa dengan cara masuk ke dalam lingkungan sekolah langsung."
Slamet mengerutkan kedua alisnya hingga membuat dahinya membentuk gelombang-gelombang kecil, lalu dia pun bertanya, "Memangnya boleh?"
"Ya kalau biasanya sih boleh. Paling nanti cuma ketemu sama satpam sekolah dan nanti bisa tinggal jawab mau ketemu sama siswa yang statusnya sebagai anaknya."
"Oh, ya sudah kalau seperti ini, kita lanjutkan rencana ini. Kamu yang masuk dulu karena sedikitpun aku tidak mengetahui mengenai sekolah Ana ini."
"Baik, Pak," jawab Pak Tarjo tegas.
Mereka berdua pun jalan kaki untuk masuk ke dalam lingkungan sekolah. Untung saja tidak ada satpam yang tugas di tempat jaga, sehingga langkah mereka pun tidak ada yang menghentikan. Ya memang pasti akan diperbolehkan, akan tetapi yang namanya tamu itu pasti ditanya dan dilayani, sedangkan hal itu hanya dianggap Slamet buang-buang waktu saja di saat dirinya sudah mengetahuinya. Lagi pula satpam tersebut belum tentu mengenal Ana karena memang siswa di sekolah SMA Garuda bukan cuma Ana, tapi masih banyak lagi lainnya.
Kini mereka berdua pun berhenti tepat sebelum kerumunan yang dekat dengan aula. Slamet melihat beberapa anak yang memakai seragam biru putih yang artinya mereka adalah siswa baru. Pandangan Slamet lebih fokus mengarah ke masing-masing segerombolan yang memakai biru putih dan ternyata dugaannya benar karena sekarang ini dia menemukan Ana yang duduk baris di barisan paling depan.
"Nah, itu si Ana," kata Pak Tarjo menunjuk ke arah Ana dan teman-temannya.
"Iya, aku juga lihat," sahut Slamet.
Tanpa sengaja, tatapan Slamet dan Ana pun bertemu. Ana melambaikan tangan dengan senyum khasnya. Melihat dari jarak jauh saja cukup membuat harinya terasa nyaman, tentram, dan resah. Pada intinya terasa seperti permen nano-nano. Akhirnya kini Slamet pun bisa bernapas lega. Dia segera mengabari istri dan anaknya melalui pesan w******p bahwa Ana tidak apa-apa. Setelah itu, Slamet mematikan ponselnya takut dirinya diteror istri soal keadaan Ana. Dia tahu betul bagaimana kondisi istrinya ketika ingin tahu karena memiliki rasa ingin tahu tinggi.
Kurang lebih 15 menit, Slamet dan Pak Tarjo menunggu Ana pulang. Kini siswa baru pun berhamburan dengan membawa beberapa alat yang digunakan sebagai perlengkapan kelompok untuk KBO nanti. Ya memang sih di hari kedua disuruh membawa alat perlengkapan kelompok yang ringan.
Kini giliran Ana yang sudah ditunggu-tunggu. Cucu yang sudah ditunggu-tunggu kini datang menyambut kehangatan. Namun, tiba-tiba ada sesuatu yang terjadi hingga membuat Slamet dan Pak Tarjo sama-sama terkejut.
"Ana!" Pekik Slamet dan Pak Tarjo secara bersamaan.