Slamet dan Pak Tarjo terkejut melihat Ana yang hampir saja terjatuh, sedangkan Ana mati-matian berusaha untuk menutupi rasa sakit yang ada dikakinya, dia sadar kalau kali ini ada Slamet dan Pak Tarjo. Kalau ketahuan ketika sudah berada di rumah sih tidak masalah, tapi yang menjadi masalah adalah ketika ketahuan sekarang juga. Sebab, Ana tahu betul bagaimana Slamet dan Pak Tarjo jika dalam keadaan panik. Ana sendiri tidak ingin kalau dianggap sebagai anak manja seperti apa yang dikatakan oleh teman-temannya ketika dulu duduk di bangku SMP.
Belum sempat Slamet dan Pak Tarjo berlari menuju ke arah Ana, dia memutuskan untuk kembali berlari agar Slamet dan Pak Tarjo tidak semakin mendekat. Senyum di bibir Ana pun palsu karena dia tidak ingin melihat orang tersayangnya khawatir. Lagi pula kasihan sama kondisi kesehatan kakeknya yang sudah terlihat tua. Takutnya malah nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Akhirnya dengan susah payah Ana berhasil berdiri di samping Slamet dan Pak Tarjo. Slamet memeluk Ana dengan erat seperti orang yang tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun, sedangkan Ana malah was-was takut dilihat teman-temannya, khususnya teman laki-laki, meskipun dia tidak begitu mengenal mereka. Hanya saja dia sadar bahwa sejak awal masuk dirinya sudah menjadi pusat perhatian dan bahan perbincangan. Bukan karena dia risih, hanya saja dia takut dikira malah suka sama om-om ataupun kakek-kakek. Jantungnya saja cukup berdebar, akan tetapi dia berusaha untuk terus menutupinya agar tidak menyinggung hati kakek tersayangnya.
"Kamu nggak apa-apa kan, Ana?" Tanya Slamet sambil menangkup kedua pipi Ana.
Rasanya cukup lelah dan muak ketika mengingat itu semua karena sejak tadi ditanya mengenai keadaan dirinya oleh teman-temannya dan sekarang giliran kakek sekaligus sopir pribadinya. Belum lagi kalau nanti dirinya sudah tidak di rumah, dia sangat yakin kalau nanti Mama, Papa, Bibi, dan Neneknya juga pasti akan bertanya dengan pertanyaanl yang sama. Akhirnya Ana pun sedikit tersenyum kecut agar tidak terlalu terlihat bahwa dirinya seperti orang malas maupun kecewa. Bukannya Ana tidak bersyukur karena diperhatikan oleh beberapa orang, hanya saja dia cukup merasakan bosan saja. Menjadi bahan perbincangan bukan hal yang begitu menyenangkan, akan tetapi menguji kesabaran karena belum tentu semua orang akan suka dalam hal yang sama. Di dunia ini banyak sekali netizen yang memang cukup menyebalkan, bahkan ucapannya itu terkadang seringkali tidak ngotak. Terkadang malah menyinggung maupun digoda dengan menggunakan sindiran.
"Ana!" Panggil Slamet dengan sedikit menggoncangkan tubuh Ana karena dia malah diam saja yang membuat Slamet jadi bingung sendiri.
"Ya Kakek, ada apa?" Tanya Ana.
"Pernyataan Kakek yang tadi bagaimana? Apakah kamu ada masalah sehingga membuat diri kamu jadi diam seperti ini? Kalau ada, tinggal cerita sama kakek karena yakinlah bahwa kakek akan selalu ada buat kamu. Jangan biarkan diri kamu depresi hingga membuat sakit kejiwaan kamu, Kakek tidak ingin hal itu terjadi pada diri kamu."
"Oh, aku nggak apa-apa kok," kata Ana lalu tersenyum manis. Senyuman itulah yang mampu membuat Slamet merasa nyaman, tenang, dan hangat. Dia akui bahwa Ana adalah gadis remaja yang mampu membuat suasana hatinya terasa terbolak balik. Entah itu takut, senang, sedih, dan yang paling sering terjadi adalah rasa panik. Bahkan beberapa kali hal itu terjadi, tapi tidak ada sedikitpun rasa kapok dalam diri Slamet. Pikiran dia selalu menganggap apa yang dirasakannya jika menyangkut Ana itu bukanlah hal yang terbiasa, akan tetapi seperti hal baru yang akan mereka lakukan, meskipun banyak yang sama. Namanya juga manusia, sifat tamak itu seperti sudah menjadi hal biasa. Bukan sekali maupun dua kali dan perlu diketahui bahwa mereka melakukannya pun seringkali tanpa kesadaran.
"Syukurlah kalau seperti itu," kata Slamet dengan tangan kanannya mengelus puncak kepala Ana.
"Kakek kok tumben ke sini?" Tanya Ana pura-pura tidak tahu, padahal dia tau yang sebenarnya tanpa diberi tahu. Setiap kali kakeknya terlihat panik maka dia sangat yakin pasti ada sesuatu yang terjadi. Sebab, beberapa kejadian seperti sebelumnya jika diamati memang seperti itu.
"Ya nggak apa-apa, kamu kan cucu satu-satunya Kakek, wajar dong kalau Kakek kangen sama kamu," jawab Slamet ngasal, padahal dia sangat jelas sedang berbohong. Ana hanya pura-pura tidak tahu lagi, daripada nanti malah membuat suasana keadaan menjadi canggung atau malah nanti dicurigai.
"Oh gitu."
"Setelah ini, kalau kiita makan sate dulu bagaimana?" Usul Slamet.
Kedua mata Ana langsung terlihat gembira, nampak sorot matanya yang terlihat sangat antusias, dan kini kedua tangannya menangkup kedua pipinya sendiri. Andai saja Ana tidak ingat umur maka dia pasti akan melompat layaknya katak maupun anak kecil yang sedang bahagia. Wajar sih karena dia adalah anak yang seringkali dimanjakan oleh keluarga, ditambah bahwa dia berasal dari kalangan keluarga berada. Perlu diketahui dan diingat bahwa menyesal itu pasti akan terjadi disebuah akhir kejadian. Apalagi menyesal karena berhubungan dengan kematian. Rasanya sangat tersiksa karena kematian adalah akhir di dunia.
"Boleh juga tuh, pas banget aku lagi laper karena banyak kegiatan," ujar Ana seraya menyeka keringatnya menggunakan punggung tangan kanan, sedangkan tangan kirinya mengelus perutnya yang sangat lapar.
"Pak Tarjo, kamu ikut kita juga ya! Makan sate pake lontong, enak banget loh," ajak Slamet.
"T-tapi, Pak, bukannya saya nggak mau, tapi masih ada istri dan anak saya yang butuh makan untuk biaya hidup. Jadi, lebih baik saya harus bisa mengirit demi mereka," kata Pak Tarjo sedikit terbata-bata. Dia merasa tidak enak hati sendiri, meskipun tidak berbuat kesalahan.
"Ah, kamu ini seperti sama siapa saja, tinggal ikut kita saja kali, Jo, masalah bayar itu gampang. Tenang saja, aku nggak akan potong gaji kamu dan aku akan mengatakannya kepada Arumi karena dia yang lebih berhak, ini tuh hanya karena kakak sate bersama kita. Satu hal yang terpenting di dunia ini adalah berbagi. Selama diri kita mampu maka usahakan lebih baik memberi bagi orang yang membutuhkan. Maaf bukannya aku merendahkan maupun menyinggung, tapi itulah yang seringkali aku dengar dari beberapa orang. Ada kalanya masa bodoh menghadapi netizen, tapi lama kelamaan jika sudah ngelunjak mana ada hati yang kuat," jelas Slamet.
"Iya, Pak, kalau masalah itu aku sudah tahu kok, tapi bagaimana dengan nyonya yang sudah nungguin sejak tadi di rumah?" Tanya Pak Tarjo karena mau bagaimana pun keadaannya, dia masih teringat Arumi dan Tumi yang selalu baik kepada dirinya. Mereka selalu ada, meskipun bukan saudara.
"Nggak apa-apa, santai saja, yang terpenting kita langsung ke penjual sate saja, terus nanti biar aku ngabarin rumah. Kelihatannya Ana juga tidak sabar ingin makan sate," goda Slametan lalu menusuk-nusuk manja pipi kanan Ana menggunakan jari telunjuknya. Hal itu dia lakukan sebagai bentuk rasa gemas.
"Kakek apa-apaan sih nggak usah jahil deh!" Ketusa Ana lalu menggembungkan kedua pipinya dengan tujuan agar tidak terasa sakit ketika jari telunjuknya Slamet yang sejak tadi menjahili dirinya.
"Gitu saja ngambek, nanti cepat terlihat tua loh, Ana."
"Nggak, aku nggak ngambek!" Jawaban Ana sangat terlihat dari raut wajahnya yang seperti ada kata-kata ikut. Biasalah, wajah-wajah orang yang suka berharap terlalu mendalam. Namun, itu semua bukan menjadi patokan karena pada kenyataannya hampir semua orang itu melakukan harapan. Jadi sebuah harapan itu bukan hanya soal anak remaja saja, apalagi jaman sekarang kan nggak terlalu bisa dan kenal.
"Halah, terserah kamu saja deh, yang terpenting kita berangkat sekarang."
"Mainnya terserah-terserah macam anak muda jaman sekarang yang kata-katanya kian hari makan semakin Aneh."
"Nggak kok, Ana sudah nggak seperti yang dulu. Sekarang ini Ana sudah berubah."
Slamet menghela napas. Dia sadar kalau seperti ini kejadiannya secara terus menerus maka sama halnya akan buang-buang waktu saja. Dia pun memutuskan untuk kembali buka suara agar beberapa orang yang terdekat jadi merasa sangat nyaman. Apalagi ketika dalam suasana dan keadaan lorong rahasia.
"Pak Tarjo, kita berangkat sekarang daripada nanti kelamaan ya," izin Slamet dengan cara baik-baik.
"Siap, Pak Bos!" Sahut Pak Tarjo sambil hormat di kepala.
Mereka bertiga pun jalan berjejeran dengan posisi Ana yang berada di tengah-tengah. Tidak peduli lagi apa kata orang. Kini seakan dirinya dijadikan sebagai hal biasa saja seakan tidak terjadi sesuatu.
Baru saja beberapa langkah, mereka bertiga berhenti berjalan ada orang yang tiba-tiba memanggilnya dari arah belakang. Oleh karena itu, mau tidak mau maka mereka tetap akan membalikkan badan karena takut dianggap sombong oleh seseorang, khususnya pada diri Ana yang memang anaknya sangat kalem dan pendiam. Mereka bertiga langsung membalikkan badan.
"Elsa," gumam Ana sedikit terkejut.
"Ana, aku mau ngomong sesuatu sama kamu, serius banget nih," ujar Elsa dengan raut muka panik dan napasnya yang sedikit memburu.
"Soal kelompok?" Tanya Ana sok tahu.
"Bukan, ini hal lain kok," jawab Ana ngasal ditambah dengan senyuman khasnya.