"Kamu mandi saja dulu, nanti akan Nenek kasih tahu," ujar Nenek.
"Baiklah, Nek."
Ana memberikan bungkus plastik tadi kepada Tumi dengan maksud meminta tolong untuk membawakan makanan kesukaannya tersebut menuju ruang santai maupun meja makan karena jika dibawa masuk ke dalam kamar maka nanti kamarnya akan bau tidak sedap. Sebab, di dalam kamar Ana kedap suara, ruangan, dan juga terdapat AC. Ana hanya berani memasukkan barang-barang ke dalam kamar yang berbentuk benda mati dan padat. Kalau soal makanan sih dia tidak pernah sama sekali.
Ana segera mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Di saat melewati ruang santai, rupanya semua keluarganya sudah kumpul di sana, termasuk Papanya yang sudah pulang dari tempat kerja. Hati Ana sangat senang karena selama ini Papanya sibuk dengan pekerjaannya karena bisnisnya semakin berkembang. Tanpa sadar bibir Ana tercetak sebuah senyuman manis. Setelah itu, dia melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
Kurang lebih setengah jam Ana mandi, dia kalau mandi memang lama karena seringkali melakukan ritual perawatan, termasuk luluran menggunakan body scrub lalu berendam di dalam air sabun yang sudah banyak busa sambil sedikit memijat tubuhnya dengan manja. Hal itu dia lakukan hanya semata-mata sebagai bentuk merawat diri atas nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan. Bukan untuk siapa-siapa karena memang pada dasarnya Ana senang merawat diri agar tampilannya terlihat bersih dan rapi. Tidak ada sedikitpun niat dengan tujuan memikat hati para laki-laki pada saat ini.
Setelah selesai mandi, Ana langsung menuju ke ruang santai. Dia langsung berhambur ke dalam pelukan Papa nya. Bisa dikatakan dia terlihat manja.
"Papa, Ana kangen banget!" Seru Ana disela-sela pelukannya.
"Papa juga kangen sama kamu," sahut Rudi lalu mencium puncak kepala Ana dengan kedua tangannya yang juga memeluk tubuh Ana. Mereka berdua memang sangat dekat tanpa ada sedikitpun ada rasa canggung. Terutama Ana yang selalu membuat Rudi merasa senang ketika pulang kerja selalu disambut dengan hangat.
Rudi masih menganggap bahwa Ana masih kecil sehingga dia masih sering memanjakannya, meskipun pada kenyataannya Ana sudah tumbuh menjadi gadis remaja. Cuti pekerjaan adalah impian setiap orang, termasuk Rudi. Setiap kali cuti, dia selalu mengajak anak istrinya untuk liburan. Namun, cuti kali ini berbeda, dia hanya ingin menghabiskan waktu bersama keluarganya di rumah, yaitu dengan mengadakan acara di rumah. Biasanya sih dalam hal bakar-bakaran.
"Papa pulang kapan? Ana kok nggak tahu? Biasanya Papa juga kabar-kabar dulu, lah ini macam tahu bulat saja," kata Ana menatap wajah Rudi curiga, terlihat jelas dari tatapannya yang menyipit seperti orang yang mencari tahu suatu hal.
"Ya kan ini namanya kejutan, Ana. Oh iya, bagaimana dengan sekolah baru kamu?" Tanya Rudi.
Ana pun menghela napas. Dia menatap Rudi agak lemas. Setelah itu, dia pun berkata, "Banyak masalah, Pa. Ana selalu diganggu makhluk yang tak kasat mata, padahal sedikitpun Ana tidak pernah mengusik mereka. Entahlah apa salah Ana sehingga mereka begitu membenci Ana. Satu hal yang membuat Ana malu adalah disaat orang lain menatap Ana dengan tatapan aneh karena mereka nggak tahu apa yang Ana lihat, Pa. Gila nggak sih, terkadang Ana tuh seperti mau stress sendiri. Capek kalau seperti ini terus."
Ana mengeluhkan segala sesuatu yang selama ini dirinya rasakan. Tidak ada tempat lain untuk mengeluh selain keluarga dan bagi orang yang juga memiliki kelebihan yang biasa disebut sebagai anak indigo. Ada sedikit rasa kesal dalam diri Ana, tapi dia tidak tahu bagaimana cara melampiaskannya, yang dia tahu hanyalah bagaimana cara seseorang dalam memperlakukan dirinya, meskipun itu cukup menyakitkan.
Setiap kali mengingat keadaan dirinya maka Ana pun seringkali merasakan sedih yang amat mendalam. Dia tidak mengetahui apa yang dirinya lakukan, bisa dikatakan bahwa yang terjadi pada diri Ana adalah salah satu hal yang diluar kesadaran. Rasanya cukup menyakitkan ketika dianggap aneh oleh orang lain. Namun, Ana pun tidak bisa mengelak hal tersebut karena memang dasarnya dirinya merasakan hal aneh.
"Kenapa bisa seperti itu, Ana?" Tanya Rudi cukup khawatir karena memang hal ini lah yang selama ini dia takutkan benar-benar terjadi pada diri Ana. Dulu mata batin Ana memang sudah terbuka dari jabang lahir, hanya saja Ana seringkali sakit ketika melihat makhluk tak kasat mata. Beberapa paranormal ada yang mengatakan bahwa Ana tidak kuat ketika melihat makhluk tak kasat mata tersebut berwajah rusak, sehingga pada akhirnya pun Ana jatuh sakit. Bukan hanya sekali maupun dua kali saja, tetapi semakin Ana tumbuh maka serangan makhluk halus pun semakin banyak. Semua itu butuh perjuangan yang amat mendalam, sedangkan Ana adalah anak balita yang tidak tahu apa-apa. Sebenarnya sih harapan Rudi tidak ingin menutup mata batinnya karena berharap kalau suatu saat nanti Ana bisa tumbuh menjadi gadis yang pintar, dimana dirinya bisa mengendalikan hal-hal ghaib. Namun, keinginannya tersebut sangat ditentang oleh istrinya, Arumi takut kalau Ana tidak kuat maka dia akan hilang. Hingga pada akhirnya mau tidak mau maka Rudi harus mau menuruti permintaan istrinya. Lagi pula hal tersebut juga demi kenyamanan dan keamanan anak semata wayangnya mengingat bahwa istrinya cukup trauma dalam melahirkan Ana menutup kemungkinan untuk bisa memiliki anak lagi. Ya meskipun hal itu bukan suatu patokan karena terkadang hal itu terjadi tanpa diduga maupun tidak sengaja, semua itu merupakan suatu takdir.
Lagi-lagi Ana menghela napas, pertanyaan yang cukup sulit dijawab. "Ana nggak tahu, Yah."
Jawaban Ana cukup membuat Rudi yakin bahwa saat ini batas waktu yang dulu paranormal ucapkan telah selesai. Paranormal pernah mengatakan bahwa mata batin Ana akan terbuka dengan sendirinya di saat Ana tumbuh menjadi gadis remaja. Rudi sangat khawatir jika nanti terjadi hal-hal aneh kepada anak satu-satunya. Sebab, sejak dulu Ana terkadang tidak bisa membedakan mana yang manusia dan mana yang makhluk halus. Rasanya cukup sulit untuk dijelaskan karena bentukan wajahnya saja terkadang hampir sama. Kalau sampai tidak menyangkut kesehatan Ana sih tidak masalah, tapi yang menjadi masalah ketika nanti Ana tidak kuat seperti dulu.
Kalau sudah tahu hal tersebut, maka satu-satunya harapan yaitu dengan menjaganya yang cukup ketat. Sebab, paranormal yang dulu menutup mata batin Ana kini sudah meninggal. Jika mau menutup mata batin itu bukan sembarang orang, sedangkan Rudi sampai sekarang belum menemukan orang yang bisa melakukan hal tersebut.
Setiap kali memikirkan kondisi Ana, kepala Rudi seringkali sakit. Hanya saja dia merasakannya sendirian tanpa melibatkan orang lain karena memang dasarnya yang terjadi pada diri Ana juga menyangkut keselamatan. Selain itu, Rudi memang sengaja menyembunyikannya sendirian takut jika nanti istrinya mengetahui justru malah kepikiran. Lagian berbohong demi kebaikan lebih baik daripada secara terang-terangan, tapi menyakitkan. Biasanya sih jika memiliki riwayat penyakit yang cukup serius maka tidak boleh mendengar kabar buruk, seperti hal nya Arumi yang memiliki riwayat darah tinggi. Rudi sangat menyayangi keluarganya, sehingga dia tidak ingin membuat mereka menderita.
"Coba deh seperti ini saja, kalau menurut Kakek, lebih baik kamu menjaga diri dengan tidak mengosongkan pikiran. Kalaupun ada hal aneh maka abaikan saja seakan kamu tidak tahu apa-apa dan juga tidak terjadi apa-apa. Hal ini juga berkaitan dengan mental yang cukup mendalam," jelas Slamet. Bukan hanya kedua orang tua Ana saja yang khawatir, melainkan kakek dan nenek Ana juga khawatir. Namanya juga masih ada hubungan darah, sehingga ikatan batin pun tak terlepas dari apa saja yang terjadi mengenai keluarga tersebut. Sekarang ini, Ana hanya bisa sedikit pasrah terhadap keadaan dan dia berharap adanya keajaiban, kecuali jika ada tanda-tanda jalan keluar maka dia akan kembali bersemedi dalam melawan berbagai serangan.
Mendengar saran dari Slamet ada benarnya juga, tapi sampai saat ini, Ana belum tahu bagaimana cara mengabaikan makhluk tersebut. Jika tanpa sengaja Ana melihat saja maka makhluk tersebut seperti mengikuti dirinya. Aneh, tapi memang itulah pada kenyataannya.
"Apakah cara itu akan berhasil, Yah?" Tanya Arumi mencoba untuk memastikan.
"Ya gimana ya, Ayah nggak begitu yakin sih, tapi nggak ada salahnya untuk dicoba," jawab Slamet.
"Tapi, Kek, Ana sudah pernah melakukan hal itu, tapi agak susah banget karena memang pada kenyataannya makhluk itu benar-benar ingin menguntit Ana. Terkadang ada yang baik seakan makhluk tersebut ingin mengajak berteman, terkadang ada yang diam saja seperti orang yang tidak peduli, dan satu hal lagi yang menurut Ana cukup bahaya adalah ada yang jahat sampai mengusik Ana, bahkan menyakiti Ana secara tidak langsung. Entahlah Ana sendiri tidak tahu salah Ana apa hingga membuat makhluk tersebut marah-marah," jelas Ana.
"Kalau itu sih ada kemungkinan bahwa makhluk tersebut mengalami masalah dalam kehidupannya sebelum mati, sehingga dia mati pun seperti belum ikhlas," ujar Tumi sedikit curiga. Selama dia kecil sih pernah mendengar mengenai mitos tersebut. Soal benar atau salah maka dia tidak tahu.
"Emang iya seperti itu selama aku tahu. Oh iya, Ayah kan punya kemampuan indigo, apakah Ayah tahu bagaimana cara menutup mata batin Ana? Aku harap sih Ayah bisa," kata Rudi.
Slamet menghela napas. Dia menatap Rudi dengan tatapan lemas seperti orang yang memiliki banyak masalah. "Kalau Ayah bisa, tanpa kamu minta pun maka Ayah pasti sudah akan menutup mata batin Ana sejak dulu. Sayangnya ayah cuma bisa melihat dan tidak banyak melawan makhluk gaib. Kondisi tubuh dan mental Ayah belum siap. Lagian Ayah memang belum siap menanggung resiko, sedangkan hal yang berkaitan dengan makhluk gaib memang harus siap menanggung setiap resiko yang ada."
"Aduh, susah banget ya posisinya," keluh Ana yang termasuk merasakan capek dalam menghadapi keadaan ini. Namanya juga manusia, terkadang ada fase lelahnya, meskipun itu kembali lagi pada diri sendiri.
"Ana, Kakek cuma minta kamu harus hati-hati, Kakek takut kalau nanti terjadi sesuatu pada diri kamu. Harapan Kakek sih semoga bisa menemukan orang yang bisa menutup mata batin kamu dalam waktu secepatnya. Apalagi beberapa hari lagi kamu akan mengikuti kegiatan KBO yang tentunya berada di tempat asing. Di tempat itulah banyak makhluk gaib yang menampakan wujudnya karena memang daerahnya luas dan terbuka. Apalagi di saat melakukan kegiatan mencari jejak yang tentunya berada di hutan, bahkan tempatnya pun jarang sekali digunakan oleh penduduk." Slamet benar-benar khawatir kepada Ana. Andai kegiatannya tidak wajib maka dia tidak akan memperbolehkan Ana untuk mengikuti kegiatan tersebut. Sebenarnya bisa sih melarang Ana untuk tidak mengikuti kegiatan tersebut, hanya saja pasti Ana tidak mau melakukan hal tersebut. Apalagi Ana anaknya sangat penurut.
"Yah, kenapa tiba-tiba firasat ibu nggak enak ya," kata Tumi dengan raut wajah khawatir.
"Nggak enak kenapa, Bu?" Tanya Rudi khawatir, pun pada diri Arumi. Biasanya kalau Tumi mengatakan hal tersebut maka akan ada hal buruk yang terjadi.
"Nggak tahu, tiba-tiba saja ibu merasa seperti kehilangan dan rasanya sangat sedih seperti ingin menangis," jawab Tumi, tatapan dia terlihat berkaca-kaca menahan tangis. Namun, tak dapat dipungkiri dan disembunyikan karena semburat merah di pipi Tumi benar-benar jelas terlihat.
"Sebenarnya sama sih, Ayah juga merasakan hal yang sama seperti ibu, tapi entahlah mengapa hal ini bisa terjadi," sahut Slamet yang cukup gelisah.
"Kakek! Nenek!" Pekik Ana panik.